
Dengan kemampuan Ziva yang hebat dalam meracik kopi, membuat Zie meminta pada Ziva untuk mengajari dirinya dalam membuat secangkir kopi.
Jadi pagi ini misi dalam membuktikan kepribadian Firman harus segera di ketahui, entah memang benar Firman tidak normal atau sebaliknya.
"Zie ini kopi rasanya aman enggak?"
Alma ragu akan kopi buatan Zie, bahkan kopi yang tersaji di atas nampan membuat Alma bergidik ngeri.
"Tenang, ini kopi sesuai dengan racikan Bunda," jawab Zie dengan percaya diri.
Zie langsung pergi, Alma masih saja sama berjalan setelah nya.
Tok tok tok.
Entah setan apa yang merasuki Zie, tapi pertama kali nya Zie mengetuk pintu.
"Bos, kopi nya sampai," ejek Rian menebak siapa yang kini mengetuk pintu.
Firman menatap ke arah pintu, matanya melihat dua mahasiswa aneh berjalan masuk. Awalnya Firman berpikir untuk mengerjai Zie dan Alma habis-habisan, tapi sampai di sini pun nyatanya justru ia yang di buat pusing oleh Zie.
"Pak Presdir, kopi spesial silahkan di coba," Zie meletakan secangkir kopi buatannya di atas meja tepat di hadapan Firman.
Firman diam sambil menatap secangkir kopi yang perlahan di letakan di atas meja, tidak tertarik sama sekali untuk meminum kopi tersebut.
"Pak Presdir," Zie berjalan mengitari meja dan berdiri di samping kursi yang di duduki Firman, "Di coba sedikit saja," Zie semakin mendorong cangkir kopi lebih dekat pada Firman.
"Bawa wanita gila ini pergi dari hadapan ku!" Titah Firman.
"Apa?!" Pekik Zie dengan suara yang lantang, "Gila?" Geram Zie.
"Zie, sebaiknya kau keluar dulu," Rian ingin memegang Zie dan membawanya keluar, tetapi Zie tidak ingin di sentuh.
Zie menatap Firman yang masih duduk di kursi kebesaran nya, "Kau katakan aku ini gila?! Kau tidak normal!" Papar Zie.
Zie langsung keluar bersama dengan Alma, mulut Zie terus saja komat kamit mengucapkan sumpah serapah untuk Firman.
"Lu tahu kan Zie, gue udah begini lho?" Zie memijat dahi yang terasa pusing, "Ini gue udah jatuhin harga diri di hadapan dia!"
Zie terus berjalan sampai tiba-tiba terdengar suara ponselnya berdering, Zie menghentikan langkah begitu juga dengan Alma yang ikut berhenti mendadak.
"Oma," Zie langsung menerima panggilan tersebut, "Assalamualaikum Oma."
"Waalaikumusalam salam," jawab Oma di seberang sana, "Apa sudah ada kemajuan?" Tanya Oma dengan tidak sabar.
"Oma, Pak Firman memang tidak normal!" Jawab Zie.
"Apa!!!"
Aurora menjatuhkan ponselnya hingga berantakan di atas lantai.
"Tidak mungkin," lutut Aurora seketika melemah dan langsung duduk di atas sofa.
Zie yang melihat panggilan sudah terputus memasukkan ponsel ke dalam tas kembali.
"Zie lu kok ngomong begitu?"
"Ya memang begitu kan Al!"
Kedua berjalan kembali dan tiba-tiba ada yang menabrak mereka.
__ADS_1
Bruk!!!!
Zie terjatuh di lantai.
"Aduh."
Alma langsung menolong Zie untuk kembali berdiri.
"Maaf ya, saya tidak sengaja," kata seseorang di hadapan Zie.
Zie menatap pria tersebut, "Iya tidak apa Mas," kata Zie dengan ramah.
"Tidak, panggil saya Indri," katanya lagi.
Zie dan Alma spontan saling tatap bingung, kemudian keduanya melihat sebuah benda yang tergantung pada leher orang tersebut.
"Indra?" Zie merasa matanya masih baik-baik saja dan kali ini pun ia seperti nya tidak salah.
Menyadari dua wanita asing di hadapannya tengah kebingungan pria tersebut langsung memajukan wajahnya.
"Indra itu nama kecil, tapi aku itu lebih suka di panggi Indri Jeng," bisik Indra yang lebih suka di panggil Indri kepada Zie dan Alma.
Zie dan Alma masih diam mematung, keduanya seketika mengerti jika di hadapan adalah wanita jadi-jadian.
"Nambore yey, yey sapose?" Tanya Indri.
"Ampun dah," Zie mendesus kepala semakin bertambah pusing, "Al?" Zie menatap Alma dengan bingung.
"Alma," mengulurkan tangannya.
"Zie," Zie juga mengulurkan tangannya.
"Yey orang baru?"
"O," Indri mengangguk.
"Dia ini bisa berguna," Zie mendapatkan ide yang sangat bagus, "Kita bisa berteman?"
"Tentu."
"Kita tukeran nomer ponsel ya."
"Ok, Akika kerja dulu ya jeng," Indri langsung pergi setelah saling bertukar nomor ponsel dengan Zie dan Alma.
"Zie kamu ngapain minta tukeran nomer sama manusia begitu?" Tanya Alma penasaran.
"Udahlah dia ini sangat berguna," tersenyum dengan penuh misteri.
"Zie!"
Suara itu membuat Zie dan Alma memutar leher 90 derajat, menatap seorang pria yang memanggil nama nya.
"Zie kamu di panggil masuk," kata Rian.
Zie menunjuk dirinya, dan masih merasa bingung.
"Hanya kamu saja," ujar Rian.
Zie tidak tertarik sama sekali, bahkan ia sudah tidak berniat magang di tempat itu lagi.
__ADS_1
"Maaf Pak Zie mau pulang saja," tolak Zie.
"Iya, sebelum pulang kau masuk dulu. Setelah itu terserah pada mu," tandas Rian.
Zie merasa tidak ada yang salah, dengan wajah malas Zie kembali masuk.
Matanya menatap Firman yang tengah duduk santai sambil bersandar pada kursi kebesaran nya.
"Ada apa?" Ketus Zie.
Zie hanya berdiri di daun pintu yang tertutup tanpa ingin berjalan ke arah Firman.
Firman menatap Zie dan menunjuk kursi.
Dengan malas Zie langsung berjalan dan duduk saling berhadapan dengan Firman.
"To the point saja! Kalau Bapak mau ngusir saya bilang saja. Saya juga tidak ingin lagi magang di sini!"
"Pertama kau memanggil saya Pak Cupu!"
"Memang kau cupu!" Potong Zie.
Firman masih tenang, "Kedua, kau menjadikan saya bahan taruhan dengan teman mu," lanjut Firman.
Degh!
Zie mendadak terdiam, sebab ternyata Firman mengetahui itu semua.
"Ketiga, kau bekerja sama dengan Oma untuk menguji kenormalan saya!" Tambah Firman lagi.
"Keempat kau mengatakan saya tidak normal, dan ke lima barusan kau menelpon Oma lalu meyakinkan Oma saya benar-benar tidak normal!" Tandas Firman.
Mata elangnya terus menatap Zie dengan tajam, jika Zie berpikir Firman tidak tahu apa-apa maka salah besar.
"Kenapa diam?!" Suara dingin Firman jelas terdengar, bahkan dinginnya AC masih kalah dengan raut wajahnya.
"Em," Zie meremas kedua tangannya tidak tahu harus mengatakan apa.
"Saya......Saya......" Zie kehabisan kata-kata, bahkan kehabisan akal dalam sekejap saja.
"Kau harus bertanggung jawab!" Firman menggerakkan giginya dengan tangan mengetuk meja, artinya tengah menahan emosi.
"Aku tidak menelpon Oma," Zie masih mencoba berdalih.
"Baru saja Oma menelpon saya, dan mengatakan kalau kau sudah membuktikan saya memang tidak normal!" Pungkas Firman.
Glek.
Zie meneguk saliva, tampak nya kali ini sudah tidak ada lagi alasan untuk bisa melawan Firman.
Firman melihat ponselnya kemudian meletakan nya kembali, setelah itu ia bangun dari duduknya berjalan ke arah Zie.
"Bapak mau apa?"
Zie mendadak menegang, ia berdiri tetapi lengan Firman menekan bahu nya hingga terduduk kembali.
Firman mencondongkan tubuhnya dan menarik tengkuk Zie.
"Pak!!!"
__ADS_1
***
Tolong like dan Vote Kakak