
"Hey, ingat ya, lu dah kalah!!" Niken tersenyum penuh kemenangan melihat wajah Zie.
Kali ini saja Niken ingin menang, tidak bisa di katakan bertapa hatinya begitu bahagia.
Alma cukup takut jika Niken akan menjadikan Zie sebagai bawahannya selama satu bulan ini.
Bisa jadi juga kebebasan yang sudah mereka nikmati beberapa hari ini pun akan lenyap.
Tidak ada lagi hidup damai dan tentram, semua di mata-matai dan di kontrol seperti robot dengan remote control.
Alma tidak mau di awasi lagi oleh bodyguard yang siap mengawasi gerak gerik mereka, bahkan untuk berpacaran saja tidak pernah satu kali pun Alma merasakan nya.
"Hey, lampir, lu jangan sombong ya, menang-menangan segala, emangnya pernah selama ini kita kalah dari lu? Satu lagi otak lu itu busuk! Orang busuk otaknya enggak akan bisa menang!" Seru Alma.
Niken beralih menatap Alma, tersenyum miring dan merasa kemenangan sudah di depan mata.
"Lu, enggak usah ikut-ikutan! Atau lu mau gantiin dia jadi babu gue!" Niken tersenyum pada Zie, sekalipun ia menjawab kata-kata dari Alma.
"Alah enggak usah ngelak deh, kalah ngaku aja! Jangan jadi pecundang!" Timpal Clara.
"Kita enggak kalah!" Pekik Alma.
"Alma, udah," Zie memegang lengan Alma agar tetap tenang.
"Zie, lu enggak boleh kalah ya," pinta Alma dengan penuh harap, "gue enggak sudi lu jadi babu dia!"
Zie menarik napas dengan berat.
[Pak, tolongin Zie, kalau enggak Zie bilangin ke Oma] Zie.
Zie kembali mengirimkan pesan kepada Firman, berharap akan ada keajaiban.
Ting!
Ponsel Firman kembali bergetar, bibirnya tersenyum membaca pesan ancaman dari bocah ingusan yang sialnya dengan mudahnya mencuri hatinya.
[Katakan saja] Firman.
Firman tau Zie tengah berada dalam kesulitan lalu, bagaimana bisa wanita ingusan itu mengancam dirinya.
Bahkan Firman tidak tertarik untuk menolong Zie, kecuali ada imbalan yang setimpal.
Zie menggigit kukunya karena Firman sama sekali tidak perduli pada ancaman nya. Jari-jari indah Zie kembali mengirimkan pesan pada dosen sialan nya, tapi sangat di butuhkan saat ini.
__ADS_1
[Zie bakalan lakuin apapun, asal Bapak nolong Zie] Zie.
[Tidak tertarik, kau nanti bisa berhiyanat] Firman.
[Pak, Zie janji] Zie.
"Hey, gue lagi ngomong lu asik berbalas chatting, nggak sopan banget sih, lu?!" Geram Niken.
Zie menutup mata dengan tangan yang terkepal, apa yang akan terjadi jika Firman tidak menolong dirinya.
"Ada apa ini?!"
Terdengar suara berat seorang pria yang kini mulai masuk di antara kerumunan mahasiswa, semua mulai menatap pria tersebut.
Dosen cupu dengan kaca mata tebal dan sama sekali tidak di hargai oleh mahasiswa nya.
Tetapi kedatangan Firman membuat ketegangan yang luar biasa terutama Niken.
Jujur saja Niken sangat khawatir jika malah Zie yang memenangkan taruhan ini dan ia yang menjadi babu Zie.
Tapi bagaimana dengan Zie?
Zie malah merasa kesal melihat Firman, penampilan saat di kantor dan di kampus berbeda 1800 derajat.
"Ada apa ini?" Tanya Firman sekali lagi sambil menatap Niken dan Zie secara bergantian.
Firman seakan tidak tahu apapun padahal jelas tahu segalanya.
"Zie dan Niken jadiin Bapak bahan taruhan, mereka," jawab Nada, salah satu mahasiswa yang mengetahui perjanjian Zie dan Niken.
"Masih nanyak lagi, sok bego," gumam Zie, ingin sekali mencongkel kedua bola mata Firman, tapi tidak saat ini.
Sebab, saat ini Firman si-dosen sialan itu masih di butuhkan nya.
"Saya, jadi bahan taruhan?!" Firman seakan terkejut dan tidak percaya dengan apa yang di dengar nya.
'Ya, acting ni orang,' Zie mulai membatin.
"Jadi gini Pak, Zie sama Niken taruhan kalau Bapak bertekuk lutut di bawah kaki Zie berarti Niken jadi babu Zie, tapi kalau tidak maka Zie yang jadi babu Niken," jelas Clara dengan sejelas-jelasnya.
Clara sudah yakin jika yang menjadi pemenang saat ini adalah Niken, lagi pula tidak mungkin dosen cupu itu sudah dekat dengan Zie pikir Clara.
"Sayang ini ada apa," Jio langsung masuk di antara kerumunan mahasiswa lainnya, ia terkejut saat mengetahui Zie dan Niken yang tengah menjadi bahan tontonan.
__ADS_1
Niken sangat membenci ini, kenapa semua laki-laki yang di sukai nya pasti akhirnya di menyukai Zie.
Termasuk juga Jio, padahal ia juga tidak kalah cantik, bahkan pakaian yang ia kenakan semua pakaian bermerek tidak seperti Zie.
"Sayang?" Tanya Firman seakan benar-benar bodoh, sekali dayung dua puluh tiga pulau terlampaui, lihat saja apa yang bisa di lakukan oleh seorang Firman.
"Ini ada apa?" Tanya Jio lagi, sambil memegang tangan Zie.
"Hey, jangan memegang tangan pacar saya," Firman menunjuk tangan Jio yang memegang erat tangan Zie.
Bagai bon waktu yang meledak pada waktunya, semua seakan terperangah mendengar pengakuan Firman.
"What's!!!" Zie sampai berseru karena shock sampai di ubun-ubun.
Alma cepat-cepat menutup mulut Zie, takut jika Zie malah mengeluarkan kalimat hinaan pada Firman dan nantinya itu bisa membuat dirinya sendiri yang rugi.
"Diem aja, ini cara biar lu enggak jadi babu Niken, ingat Zie kebebasan yang hakiki kita akan di hapuskan jika Ayah atau Daddy tahu kita jadi babu," bisik Alma.
Zie terpaksa mengangguk setelah itu barulah Alma melepas tangannya dari mulut Zie.
"Wahahahaha......" semua mahasiswa tertawa sampai terbahak-bahak karena pengakuan Firman.
"Zie, apa enggak ada cowok lain selain Pak cuku," seru Nada.
Firman menatap mata Zie dan menggerakkan sebelah alisnya.
Zie masih dalam kemarahan sehingga tidak mengerti maksud dari Firman.
"Zie, coba jelaskan semuanya," kata Firman lagi.
"Sayang ini maksudnya apa? Masa iya kamu milih dia dari pada aku?!" Jio masih tidak percaya, mana mungkin pria seperti Firman termasuk dalam tipe cowok idaman Zie.
'Sialan bocah ini, memangnya dia pikir dia pantas bersama Zie, kau tidak akan menang sialan,' batin Firman.
Firman kembali menggerakkan sebelah alisnya sambil menatap wajah Zie.
"Dengar kan semuanya, Pak Cupu sendiri yang bilang kalau gue dan dia pacaran," Seru Zie dengan nada yang cukup tinggi agar semua orang mendengar.
"Zie," Jio terlihat marah sampai menegur kekasih nya.
"Tapi, itu hanya untuk kemenangan taruhan ini! Ingat ya Pak Cupu kita enggak ada apa-apa lagi alias putus," Zie tersenyum penuh kemenangan, kapan lagi bisa memarahi bahkan mempermalukan Firman di hadapan orang banyak.
'Hebat sekali bocah ini ya, ada balasannya sayang,' Firman membatin sambil menatap Zie dengan senyum samar.
__ADS_1