Mantan Jadi Mertua

Mantan Jadi Mertua
Bab 36


__ADS_3

Selesai dengan makan malam Zie kembali ke kamar, seketika ia mengambil ponsel dan mencari tutorial malam pertama.


Sebenarnya hatinya sedang tidak baik-baik saja, takut malah benar akan terjadi malam pertama bersama Firman.


Tapi Zie mengingat bahwa malam pertama tidak begitu sulit mengingat dirinya sudah tak perawan lagi.


Lagi pula Firman sudah menidurinya lalu untuk apa takut pikir Zie.


Tak berselang lama pintu terbuka, Firman masuk dan melihat Zie yang tengah berbaring di atas ranjang.


Tau Zie sedang berpura-pura tidur Firman memilih masuk ke dalam kamar mandi lalu membersikan diri.


Zie mengintip dari balik selimut saat Firman sudah masuk ke dalam kamar mandi, sejenak bernapas lega karena, tak itu naik ke atas ranjang bersama nya.


Tak berselang lama Firman pun keluar dari kamar mandi, setelah memakai pakaian santainya segera ikut naik ke atas ranjang dan berbaring di sebelah Zie.


"OMG," gumam Zie dengan perasaan was-was.


Sedetik kemudian lampu di matikan oleh Firman, membuat Zie berteriak ketakutan.


"Aaaaaaaaa!!!!"


"Diam!"


"Pak, Zie takut gelap. Zie nggak bisa napas kalau gelap Pak."


Firman kembali menyalakan lampu lalu, melihat Zie ke samping.


"Aku yang tidak bisa tidur dengan lampu menyala."


"Gelap tau Pak, lihat kamar Bapak juga gelap banget, kenapa, sih. Kita harus satu kamar?"


"Kamu mau tidur di luar?"


Zie menggeleng.


"Ya, sudah diam. Ini rumah ku, kalau kamu mau tidur dengan satpam di luar sana silahkan!"


"Kasar amat sih," gumam Zie.


Firman tersenyum samar mendengar gumaman Zie dengan mulut komat kamit yang lucu.


Firman kembali mematikan lampu, Zie masuk ke bawah selimut dan semakin mendekati Firman.


"Pak, Zie boleh peluk sedikit nggak?" Tanya Zie dengan ragu, "Pak, Zie takut, nyalain lampunya lagi dong."


Firman hanya diam, tidur terlentang dengan sebelah tangannya berada di atas kepala, tapi sesat kemudian terasa Zie memeluk sebelah lengannya.


"Panggil Mas! Kalau mau lampunya di nyalakan!"


"Mas?" Zie ternganga sekalipun dalam kegelapan rasanya masih membuatnya tidak bisa menutup mulut lebarnya.


Dalam hati rasanya pria itu lebih pantas di panggil Om, tapi malah minta di panggil Mas.

__ADS_1


"Pak, Bapak sadar diri dong. Bapak itu udah tua, cocok nya di panggil Om. Kok malah minta di panggil Mas!"


Tak ada kata lancar dalam berbicara dengan Zie, ada saja bantahan yang membuat seseorang merasa emosi. Tidak terkecuali Firman.


"Begini juga aku suami mu! Jangan lupa itu! Kamu sangat menjengkelkan sebaiknya tidak usah menyalakan lampu!"


"Iya deh, Mas tapi besok dekorasi kamarnya di ubah ya," tawar Zie lagi.


Firman tak perduli pada keinginan Zie, terserah pada istri bocah ingusan nya itu ingin membuat seperti apa.


Dirinya hanya sedang bahagia bisa memiliki Zie seutuhnya.


"Pak, nyalain lampunya lagi," pinta Zie sambil memeluk lengan Firman.


"Kamu tidak menurut!"


"Mas, nyalain lampunya, Ya." Zie merasa geli dengan panggilan barunya.


Mas? Ya ampun apa maunya lelaki itu, sudah tua masih ingin di anggap muda.


Firman yang mendengar panggilan Zie seketika menyalakan lampu kembali, dan melihat wajah Zie yang sedikit memucat mungkin takut akan kegelapan.


Tak lama berselang terdengar suara dengkuran halus, membuat Firman ingin tertawa terbahak-bahak.


Bukankah bocah ingusan itu baru saja mengomel? Lalu saat ini sudah terlelap.


Bahkan Firman terus memandangi wajah indah Zie, sesaat kemudian tangannya menggaruk kepalanya karena, merasa lucu.


"Mantan Jadi Mertua," Firman sendiri merasa geli mengingat wajah Zivanya yang kini sudah menjadi ibu mertua nya.


Ini konyol.


Firman tak ingin terus menertawakan diri sendiri, ia memilih mencium bibir Zie beberapa kali dan ikut tertidur pulas di samping Zie sampai pagi harinya.


Zie mengerjabkan mata, kemudian melihat ada laki-laki yang tidur di sampingnya dan menguatnya shock.


"Hey! Kenapa kamu ada di kamar ku!" Zie memukuli Firman dengan bantal.


"Apa-apaan ini!" Firman memegang tangan Zie karena, terus saja memukuli dirinya.


"Bapak ngapain tidur di kamar Zie?"


Nampak bocah ingusan tersebut belum sepenuhnya terbangun dari mimpinya.


"Ini kamar ku!"


Zie seketika mengingat saat kemarin hari menikah dengan Firman.


"Huuuufff!"


Zie menarik napas dengan berat.


"Kirain, cuman mimpi buruk," kata Zie dengan kecewa.

__ADS_1


Firman bisa melihat wajah Zie yang murung, tampaknya Zie sangat tidak menginginkan pernikahan ini.


Segera Firman turun dari ranjang dan melakukan ritual paginya, selesai dengan mandinya Firman keluar dari kamar mandi sambil melilitkan handuk di pinggangnya.


Zie yang duduk di ranjang melihat perut kotak-kotak Firman tanpa berkedip sedetikpun.


"Kamu melihat apa?!"


Glek.


Zie meneguk saliva seperti maling ketahuan mencuri.


"Emang Zie ngeliatin apa?" Tanya Zie kembali.


Firman semakin berjalan kearahnya membuatnya Zie semakin meneguk saliva.


"Pak, ngapain?" Tanya Zie dengan tubuh bergetar hebat.


"Kau memanggil ku siapa??"


"Pak, eh.......Om......Maksudnya Mas," Zie benar-benar gemetaran melihat wajah Firman yang dingin.


Sekalipun mulutnya banyak membantah tapi tetap saja ia merasa takut pada Firman.


Firman tersenyum samar dan menjauh, sesaat kemudian ia segera menuju lemari dan memakai pakaiannya.


Zie merasa lega dan segera menuju kamar mandi, selesai memakai pakaian nya Zie segera keluar dan langsung berangkat ke kampus bahkan tanpa berpamitan pada siapapun menggunakan taxi online.


Sampai di kampus Jio langsung berlari ke arah nya dan memegang tangan Zie dengan erat.


"Zie aku mau bicara."


Zie melihat sekiranya dan mengangguk, sebab ia juga ingin berbicara dengan Jio.


Keduanya mencari tempat aman untuk duduk berdua saja, duduk di sudut kampus setelah memastikan tak ada siapapun melihat mereka.


"Zie, aku dengar gosip beredar kamu udah menikah, benar tidak?"


Zie mengangguk dan wajah Jio terlihat putus asa.


"Jio, aku juga terpaksa," Zie mengusap wajahnya dan merasa bersedih.


Padahal ingin sekali bahagia menikmati indahnya masa muda, lalu menikah dengan pria pilihan hatinya tapi malah nasib nya begitu buruk menikah dengan Firman.


"Kamu terpaksa Zie? Aku sayang sama kamu, aku akan rebut kamu dari pria itu, siapa pria yang menjadi suami mu?" Tanya Jio dengan penuh amarah.


"Saya!" Terdengar suara Firman dari arah lainnya.


Zie dan Jio segera menatap pada Firman, dan baru menyadari entah sejak kapan Firman berada di sana.


Jio terkejut melihat dosen cupu nya mengaku sebagai suami dari Zie.


"Zie?" Jio menatap Zie dengan penuh tanya, "sepertinya dia sedang gila?" Jio tertawa terbahak-bahak melihat Firman mengaku sebagai suami Zie.

__ADS_1


"Zie, ayo ke kelas!" Titah Firman.


"Apaan, sih!" Zie melengos pergi mengabaikan Firman.


__ADS_2