
"Kopi macam apa ini?"
Rian juga sangat penasaran seperti apa rasa kopi buatan dua mahasiswa magang barusan, dengan perlahan meneguknya dan reaksi Rian pun sama saja.
Firman tersenyum miring saat melihat wajah Rian.
"Hueekkkk!!!"
Meletakan kembali gelas pada meja, dan menatap horor.
"Habiskan!" Titah Firman.
Rian dengan cepat menggeleng.
"Ini bukan kopi, lebih tepat di sebut oli," ujar Rian.
"Ambilkan tisu!"
Rian mengambil tisu dari atas sofa, kemudian meletakan nya pada meja kerja Firman.
"Jorok sekali!"
"Itu juga sepertinya noda kopi barusan bos," Rian membantu Firman membersikan sisa noda pada beberapa bagian jas Firman.
Pintu terbuka, seorang wanita shock melihat cucu kesayangan nya tengah bermesraan dengan asisten.
"Oh my God!" Seru Aurora.
Firman dan Rian seketika melihat kearah pintu, kemudian dengan cepat Firman mendorong Rian hingga terlempar.
"Firman?" Aurora merasa mendadak melihat bintang yang berputar di atas kepalanya, sesaat kemudian terjatuh tidak sadarkan diri.
"Oma," dengan cepat Firman mengangkat Aurora dan membaringkan di atas ranjang.
Rian merasa sakit pada bagian pinggang, mengingat bertapa kasarnya Firman barusan.
"Cepat panggil dokter!!!"
Wajah Firman begitu panik takut terjadi hal buruk pada Aurora, tidak ada orang yang di sayangi selain Aurora yang memberikan kasih sayang semenjak kecil.
Belum sempat Rian menghubungi dokter, Aurora mulai sadarkan diri dan melihat Firman yang begitu khawatir pada dirinya.
"Oma baik-baik saja?"
"Kau-" Aurora kembali jatuh pingsan, karena masih shock melihat Rian dan Firman bermesraan.
"Oma bangun!!!!"
Firman menepuk-nepuk wajah Aurora hingga wanita tua itu kembali membuka mata.
"Oma, tidak apa-apa?" Rian dengan cepat memberikan air mineral.
Merasa lebih baik setelah meneguk air, "Kalian berdua normal tidak?"
Firman langsung menatap Rian, begitu juga sebaliknya.
"Oma, Rian masih normal," lirih Rian dengan wajah pucat.
Firman mengusap wajah, menyimpulkan penyebab Aurora jatuh pingsan karena berpikir dirinya dan Rian bermesraan.
"Firman?" Aurora menggerakkan tangan Firman, butuh jawaban yang pasti.
Firman seketika berdiri, pertanyaan Aurora sangat tidak masuk akal.
__ADS_1
"Apa kau menyukai sesama jenis mu?" Tebak Aurora lagi.
"Oma, Firman masih normal! Jangan aneh-aneh!" Pungkas Firman.
Aurora masih tidak percaya dengan pengakuan Firman, "Ini bukan kali pertama kalian bermesraan seperti barusan!"
"Oma?"
Tidak mengerti menjelaskan seperti apa lagi, tetapi Aurora masih ragu sebelum Firman memiliki istri ataupun kekasih.
"Oma tidak percaya, pantas saja kau tidak mau menikah dengan Vika ataupun dengan wanita lain," Cecar Aurora.
"Oma, Firman masih normal!"
"Mana calon istri mu? Mana kekasih mu?"
"Menikah tidak semudah membeli kerupuk Oma."
"Kau memang tidak normal, mana ada pria normal yang tahan tidak menikah sampai menjadi lapuk seperti mu! Kalau kau tidak punya anak siapa yang menjadi penerus warisan Opa mu yang sudah tiada!"
Aurora langsung keluar dengan memijat kepala yang masih terasa begitu pusing.
"Bos, apa benar yang di katakan oleh Oma Aurora?" Tanya Rian dengan suara pelan.
Jujur saja Rian juga mulai merasa horor, mengingat ia masih berusia 29 Tahun tapi sudah ingin menikah. Lalu bagaimana dengan Firman.
Firman langsung memberikan tatapan tajam, lancang sekali pertanyaan yang di lontarkan kepada nya.
"Maaf Bos..." Rian meneguk saliva, entah kapan Firman bisa tersenyum bahkan sudah bertahun lamanya bekerja di perusahaan Sejahtera Group tidak satu kali pun pernah Rian melihat.
***
"Ya ampun nodanya bandel banget sih!" Gerutu Zie sambil melihat pantulan diri dari cermin.
Zie mengangguk keduanya menyambar tas tangan dan keluar beriringan dari toilet wanita, sampai di lobi tiba-tiba ada yang memanggil keduanya.
Awalnya Zie dan Alma tidak perduli dan mungkin bukan mereka yang di maksud wanita paruh baya tersebut.
"Hey, kalian yang cantik-cantik!" Seru Aurora sambil berjalan dengan langkah cepat.
"Ibu memanggil kami?"
Zie sudah terbiasa di didik sopan pada siapa saja yang lebih tua darinya, begitupun pada Aurora.
"Iya, bisa kita bicara sebentar?"
Zie dan Alma saling memandang.
Restoran yang terletak saling berhadapan dengan perusahaan Sejahtera Group adalah pilihan yang tepat untuk duduk dan berbincang-bincang hangat.
"Kalian mau pesan apa, nanti saya yang membayar," kata Aurora dengan ramah.
"Sebenarnya Ibu ada perlu apa dengan kami?"
Zie bukan menolak traktiran dari Aurora, hanya saja ia masih bertanya-tanya mengapa Aurora ingin berbicara dengan nya.
Aurora mengibaskan tangannya, meminta pramusaji untuk meninggalkan mereka.
"Panggil saya Oma, nama saya Oma Aurora dan Firman adalah cucu saya satu-satunya," Aurora sejenak diam untuk melihat exspresi wajah Zie.
"Lalu?" Zie sudah tidak bersemangat jika membahas Firman.
"Kamu mahasiswa Firman?"
__ADS_1
"Maaf Oma, nama saya Ziezie Za-"
Zie tersadar saat Alma menginjak kakinya, hampir saja mulutnya mengatakan identitas diri yang harus di tutupi.
"Nama saya Zie, dan saya tidak tertarik membahas Pak Firman Oma," Zie berdiri, "saya permisi Oma," pamit Zie ingin pergi.
"Tunggu," Aurora juga berdiri dengan cepat, kemudian memegang lengan Zie, "Coba duduk dulu, jika setelah saya bercerita kamu tertarik maka lanjutkan. Jika tidak....." Wajah Aurora terlihat serius.
Zie mengangguk dan kembali duduk.
Aurora merasa lega paling tidak Zie mau mendengarkan dan berharap bisa membantunya.
"Terima kasih."
"Oma, bisa langsung ke topik pembicaraan?"
"Bisa, tentu," Aurora mengangguk dan suka dengan gaya bicara Zie, wanita tegas yang tidak suka ber basa-basi.
Alma hanya duduk diam di samping Zie menjadi pendengar setia tanpa bicara.
"Nama kamu siapa?" Aurora menatap Alma.
"Alma Oma."
"Singkat nya kalau kalian bisa menjalankan tugas dari saya, kalian akan mendapatkan imbalan," ujar Aurora.
Zie menatap Alma, mendengar kata imbalan bukan hal yang menggiurkan bagi keduanya.
Aurora merasa dua wanita di hadapannya bukan wanita yang haus akan uang, sejenak ia mulai bingung.
"Saya akan memberikan Rp.300.000.000 kalau kalian mau membantu saya!" Tambah Aurora lagi.
Zie dan Alma kembali saling menatap, dan keduanya masih menunjukkan exspresi wajah biasa saja.
"Jadi tugas kalian adalah menguji, apakah cucu saya normal atau tidak," Aurora mulai merasa garing, karena Zie dan Alma terlihat tidak tertarik pada jumlah nominal yang ia tawarkan.
"Maaf Oma sebelumnya, tapi Oma cari wanita lain saja."
"Rp.500.000.0000!" Aurora berusaha memberikan penawaran menarik lagi pada Zie.
Zie menggeleng.
"Rp.700.000.000!"
Zie sama sekali tidak tertarik.
Ting!
Suara notifikasi pada ponsel Alma.
Sejak tadi ponselnya terus bersuara mungkin ada pembahasan yang cukup menarik di grup, dan ternyata benar teman-teman nya tengah membahas perihal taruhan Zie dan Niken.
Alma memberikan ponselnya pada Zie.
Ada banyak chat dan isinya tentang pembicaraan kekalahan nya dalam taruhan bersama Niken.
"Baik Oma Zie setuju!"
Aurora tersenyum penuh kemenangan, "Terima kasih banyak, saya akan segera mentransfer uang nya!"
"Tidak perlu Oma, saya akan membantu kalau Oma tidak membayar saya!"
***
__ADS_1
Mohon like, vote dan komen ya BESTie.