
"Pak, ngapain bawa Zie ke hotel?"
"Untuk membuktikan bahwa aku ini normal!!"
"Maksudnya?"
Zie tidak mengerti dengan maksud dari pembicaraan Firman, dengan tubuh yang terhuyung-huyung ia terus berjalan mengikuti langkah kaki Firman yang lebar.
Firman membuka pintu kamar dan menarik Zie masuk.
Setelah pintu tertutup rapat Firman mendorong Zie ke atas ranjang.
"Bapak mau apa?!"
Zie mulai panik dan kini tahu maksud Firman membawanya ke tempat itu.
"Tidak ada, hanya sekedar ingin membuktikan saja," Firman membuka jasnya lalu, melempar dengan asal.
"Pak?" Zie semakin panik dan ketakutan.
Firman tersenyum samar, jika Zivanya dulu begitu dewasa maka lain halnya dengan Zie.
Gadis polos dengan usia terpaut jauh dan juga sedikit gesrek bukan sedikit sebenarnya, mungkin memang ia.
Semakin lama wajah Zie semakin memucat dan Firman akan semakin bersemangat untuk menakut-nakuti gadis polos itu.
"Pak Firman, jangan bilang mau-" belum juga Zie selesai berbicara Firman sudah menindih nya.
"Kau mengatakan bahwa aku ini tidak normal?"
"Pak, saya bisa lapor ke polisi!"
"Kalau begitu kau harus aku tiduri dulu, setelah itu terserah mau melaporkan pada polisi atau pada siapapun!" Jawab Firman enteng.
"Bapak bisa busuk di penjara, Pak!" Seru Zie mengingatkan.
"Iya, tapi aku tidak begitu rugi karena sudah meniduri mu terlebih dahulu."
Semakin Zie mengancam semakin membuat Firman bersemangat untuk mengerjai Zie, mainan baru yang menjengkelkan tapi cukup membuatnya terhibur.
"Dasar gila!" Zie mendorong dada bidang Firman, tapi tidak berpengaruh sedikit pun pada sang pemilik tubuh.
Jika biasanya Mahasiswa dan Dosen saling menjaga jarak dan ada rasa segan maka lain halnya dengan Firman dan Zie.
Keduanya terus berdebat hal sepele bahkan tidak jelas entah apa yang tengah di perdebatkan dan anehnya tidak ada yang mau mengalah.
"Kenapa?" Firman benar-benar menindih Zie sekalipun di tolak bahkan membuat Firman semakin tertantang.
"Pak, Zie enggak mau! Jangan apa-apa in Zie," Zie mulai gemetaran saat Firman menggigit tengkuknya.
"Kenapa?" Bisik Firman.
"Ampun Pak, lepas, Zie janji enggak akan lapor polisi kalau sekarang Bapak lepasin Zie," Zie malah mengajukan penawaran pada Firman, seperti bocah kecil yang bisa di buat luluh dalam sekejap.
__ADS_1
Firman mengangkat sebelah alisnya, tidak perduli pada tawaran Zie.
Firman hanya merasa nyaman dengan posisinya yang berada di atas tubuh Zie.
"Pak lepas," Zie bergerak meronta-ronta minta di lepaskan.
"Jangan banyak bergerak Zie!" Pinta Firman, semakin Zie banyak bergerak akan membuatnya menjadi lebih sulit melepaskan bocah sialan yang selalu menantang jiwa kelakiannya.
Sial.
Sudah dua kali Zie membangunkan adik kecil miliknya dan kali ini pun sama, sulit sekali untuk melepaskan Zie.
"Pak lepas!"
"Kau mau aku lepas?!" Tanya Firman.
Zie mengangguk pasti.
"Diam sebentar!"
"Janji ya Pak?"
"Iya, diam sebentar."
Zie mengangguk dan menurut saja asalkan Firman benar akan melepaskan diri nya.
"Pak, kok ada kayu? Apa di saku celana Bapak ada kayu?"
Zie berusaha melepaskan nya, sampai akhirnya ia menggigit bibir Firman sekencang-kencangnya.
Firman tidak perduli, ia pun membalas dengan menggigit bibir bawahnya Zie dengan tubuh bagian bawahnya bergerak.
"Emmm," tangan Zie terlepas salah satunya dari kungkungan Firman, dengan segera ia mencolok hidung Firman.
Dengan terpaksa Firman melepas pautannya.
"Sakit bodoh!!"
"Bibir Zie sakit tolol!" Seru Zie tidak mau kalah, "bangun, ngapain bapak gerak-gerak di atas Zie?!"
"Ya ampun, baru begini saja sudah seperti terbang melayang," gumam Firman setelah mendapat puncaknya.
Setelah itu ia benar-benar turun dari atas tubuh Zie.
Zie juga cepat-cepat bangun dan segera berdiri.
"Kok basah Pak?" Zie menunjuk arah celana Firman penuh tanya.
"Dia benar-benar polos," gumam Firman, "berarti dari tadi dia tidak mengerti."
"Pak, jawab! Malah diem aja!!!" Pekik Zie, "atau Bapak tadi sedang melecehkan saya?!" Kini Zie mulai memikirkan hal aneh.
"Iya! Dan sebentar lagi kamu akan hamil!" Jawab Firman asal.
__ADS_1
"What!!!!!" Seru Zie.
Firman tersenyum penuh kemenangan, kapan lagi bisa bahagia melihat wanita polos di hadapannya.
Firman sangat penasaran seperti apa Vano dan Zivanya mendidik anaknya sehingga Zie bisa begitu polos.
Tidak perduli lagi siapa kedua orang tua Zie, yang penting Zie harus di dapatkan.
Sebelum meminta di nikah kan oleh Vano ia harus membuat Zie tidak bisa lepas darinya, termasuk meniduri sebelum menikah kenapa tidak asal bisa mendapatkan anak dari mantan kekasihnya itu.
"Pak, Zie enggak mau hamil anak Bapak, apa lagi kalau orang tua Zie tahu, Zie pasti di gantung," Zie menarik kerah kemeja Firman dengan sekuat tenaga.
"Kamu yang sopan sama saya, kalau tidak saya tidak akan bertanggung jawab kalau kamu benar-benar hamil!" Ancam Firman.
Perlahan Zie melepaskan kerah kemeja Firman, takut pada ancam Firman yang terdengar mengerikan.
"Kalau mahasiswa Bapak tahu, Bapak tidak punya muka di kampus!" Sedikit saja ada cela Zie akan melawan, begitu juga kali ini.
"Terserah, aku malu hanya sebentar! Sedangkan kalau kau hamil?" Firman tersenyum penuh kemenangan.
"Bapak harus nikahin Zie kalau Zie beneran hamil!" Teriak Zie sambil menangis tersedu-sedu.
'Ya ampun, dia menggemaskan sekali, memang kau harus aku nikahi aku sudah jatuh cinta padamu, dan tidak ada yang bisa memiliki mu selain aku,' batin Firman.
"Pak Firman gila!!!!"
Zie duduk di lantai sambil menggerakkan kedua kakinya dan menangis sejadi-jadinya karena takut hamil dan Firman tidak mau bertanggung jawab.
"Dasar bocah ingusan, bangun!" Firman berjongkok dan mengulurkan tangannya.
Zie memukul tangan Firman, lalu kembali menangis berteriak sejadi-jadinya.
"Zie, ayo cepat keluar dari sini!" Firman tidak ingin kelepasan sampai akhirnya Zie benar-benar menampung benihnya, sehingga ia ingin membawa Zie dari kamar tersebut.
"Janji dulu Bapak bakalan nikahin Zie, kalau Zie hamil!"
"Putuskan kekasih mu itu!" Pinta Firman dengan seringai liciknya.
"Enak aja!"
"Kau tidak mau?!"
"Iya!!! Iya, brengsek, iya!!!" Seru Zie sekencangnya.
Menurutnya Jio pun pasti tidak akan mau jika ternyata ia benar-benar hamil anak Firman.
Lalu apa mungkin Zie gadis polos itu bisa hamil?
Padahal apa yang di lakukan Firman hanya gerakan kecil dan tidak masuk kedalam diri Zie.
Sekalipun Zie begitu polos dan sedikit bodoh Firman sudah tertarik dan tidak akan pernah melepaskan Zie lagi.
Apa pun akan ia lakukan demi bisa memiliki Zie, padahal kedepannya sudah pasti akan banyak rintangan tapi, tidak di perdulikan sama sekali oleh nya.
__ADS_1