
"Zie," Firman menunjukkan raut wajah sedihnya, seakan ia adalah korban.
Tapi sejujurnya dalam hati, ini bukanlah akhir melainkan awal dari segala nya, percayalah setelah ini Zie tidak akan bisa lepas lagi dari pelukan nya.
Firman melihat Zie kini tersenyum bangga, bahagia karena, mempermalukan dirinya tapi sebenarnya Zie sedang masuk ke lubang jebakan Firman.
Di pastikan tidak akan pernah bisa keluar dari hidupnya lagi selamanya.
"Hey, semuanya, kalian dengar barusan kalau Zie dan Pak Firman itu memang pacaran tadi, kan!!!!" Seru Alma penuh kebahagiaan.
Kebahagiaan Alma tidak bisa di ungkapkan sekalipun Zie yang taruhan tapi ia yang paling bahagia melihat kemenangan sepupunya.
"Sayang, kamu serius pacaran sama Pak Cupu?"
Jio masih belum merasa puas, jika Firman dan Zie pacaran lalu, bagaimana dengan dirinya.
"Jio, aku sudah bilang kami sudah putus, satu lagi, aku dan dia pacaran cuman karena, taruhan setelah nya dia tinggal kenangan!"
Tegas Zie menatap Niken penuh kemenangan.
"Dengar ya, cupu," Jio menunjuk wajah Firman, "lu itu cuman bahan taruhan!" Jio menatap Firman dengan remeh.
Firman diam karena, tidak suka dengan tatacara Jio berbicara, tidak pandai menghargai orang lain.
Padahal ia adalah seorang dosen tetapi, Jio tampak menatap nya dengan remeh.
"Jio, udah," Zie tidak mau sampai terjadi keributan, ia tahu Jio tidak akan menang melawan Firman.
Dosen cupu itu bukan tandingan Jio, Zie tahu Firman adalah pria dingin dan tegas. Hanya saja sedang menyamar sebagai pria cupu.
Sedangkan Jio mungkin berpikir sebaliknya, Firman bukan lawan yang sebanding dengan nya.
"Dasar cupu sialan!" Gertak Jio.
Firman hanya diam saja, seakan tidak berani melawan mahasiswa yang membentaknya.
Padahal jika Firman mau, di pastikan Jio akan mendapat luka kenangan dari Firman seumur hidupnya.
"Niken, lu kalah!"
Nada tidak berpihak pada Niken, tidak juga pada Zie.
Hanya saja ia menjadi penengah dan mengatakan apa kini menjadi kebenarannya.
"Siap, jadi babu?" Zie tersenyum penuh kemenangan.
Niken mengepalkan kedua tangannya menahan rasa malu sampai di ubun-ubun, karena sampai detik ini pun Zie sama sekali belum bisa di jatuhkan.
"Lu, enggak akan biarin gue ngerasain ini sendiri kan?" Niken bertanya kepada Clara sahabat baiknya.
Clara menggeleng dan tidak akan mau menjadi babu Zie selama sebulan penuh.
__ADS_1
"Ahahahhaha......" semua tertawa melihat exspresi wajah Niken dan Clara, kini bukan lagi Zie yang di tertawa kan melainkan Niken dan Clara.
"Bawa tas gue!" Zie melempar tas berisi laptop di tangannya pada Niken.
Alma juga tidak mau ketinggalan, ia juga ikut meletakan tasnya.
"Bawa ya, BABU!" Ejek Alma setelah itu ia segera menyusul Zie yang sudah pergi terlebih dahulu.
"Clara bantuin," Niken berteriak, menangis meratapi kekalahan nya.
"Enggak, lu aja," Clara segera melarikan diri, tidak ingin terlibat dengan urusan Zie dan Niken.
Semua semakin tertawa lebar, menyaksikan Niken menangis kencang menahan rasa malu.
***
"Masih, ingat dengan perjanjian kita?"
Firman duduk di kursi kebesaran, seperti biasa nya ia akan tampil cool jika berada di kantor.
Saat kembali dari kampus, Firman langsung menuju kantor tidak sabar ingin menagih janji yang sudah di sepakati oleh Zie.
Begitu juga dengan Zie, sekalipun merasa terpaksa Zie harus ke kantor dengan segera sesuai dengan permintaan Firman.
"Masih!"
Zie langsung duduk di kursi sekalipun tidak dibersihkan oleh Firman, menatap mata Firman dengan menantang.
"Bagus, aku pikir kau orang yang tidak tahu diri," Firman tersenyum miring, otaknya sedang memikirkan imbalan yang akan di terima nya setelah ini.
"Zie harus apa? Bapak mau apa?"
Zie memasang wajah dinginnya, tidak ingin Firman berpikir jika dirinya saat ini takut berhadapan dengan Firman.
Padahal tidak sama sekali, sekalipun Firman adalah monster yang mengerikan tidak akan gentar untuk menghadapi nya.
Ayahnya membesarkan dirinya dengan penuh kasih sayang, di tambah lagi Ayahnya mengatakan 'tidak boleh takut pada siapapun, tidak boleh lari dari masalah, harus pandai menyelesaikan masalah yang di buat sendiri'.
Hari ini Zie ingin membuktikan pada Ayah Vano secara tidak langsung, bahwa ia bisa menyelesaikan masalahnya sendiri untuk yang pertama kalinya tanpa ada campur tangan orang lain, terutama Ayahnya.
"Kau menantang' ku?!"
"Apa? Langsung to the point! Zie enggak suka basa-basi!" Papar Zie.
Firman suka dengan gaya bocah anak dari mantan kekasihnya itu, pemberani, cerewet, tapi sangat polos.
Sehingga banyak keuntungan yang di dapatkan dari kepolosan Zie.
Lihatlah saat ini pun Zie langsung meneguk kopi miliknya, kemana di cari bocah gila seperti Zie.
Mahasiswa gesrek yang berani keluar masuk tanpa ijin ke ruangannya, duduk tanpa di persilahkan, meminum kopi miliknya dengan tanpa rasa bersalah, apa lagi ragu.
__ADS_1
Hanya Zie yang berani, Zivanya sudah tinggal kenangan, mungkin kenangan nya pun sudah hilang bagai debu tertiup angin.
Tidak ada lagi cinta yang tersisa untuk nya, yang ada hanya cinta pada putri Zivanya yang kini berada di hadapannya.
"Benar kau masih ingat?!"
"Zie, ingat, Zie masih muda. Belum kawin, belum pikun apa lagi." Jawab Zie ketus.
"Kawin yuk," seloroh Firman.
"Apasih, dosen cabul, mesum lahir batin!" Zie langsung berdiri dan menarik dasi Firman dengan kencang hingga tercekik.
"Ahahahhaha," Firman benar-benar tertawa lepas karena, ulah Zie yang gila.
Pertama kalinya Firman tertawa lepas setelah bertahun lamanya.
Rian dari tadi hanya berdiri di depan pintu menyaksikan perdebatan dua anak manusia yang tidak jauh darinya.
Gilanya ia baru pertama kali melihat tawa Firman menggelar, awalnya Rian berpikir jika Firman tidak tahu caranya tertawa.
Ini sungguh mengejutkan.
"Kemarin Bapak udah lecehin Zie, hari ini bapak ngomong begini, isi otak Bapak sebenarnya apa sih?!" Zie berkacak pinggang di hadapan Firman menahan kemarahannya.
"Memangnya apa?"
"Dalaman semua isi otak Bapak kali ya," tebak Zie.
"Kau mahasiswa kurang ajar, berani merusak dasi ku yang rapi ini!" Firman merapikan dasinya yang rusak karena Zie.
Seketika Firman meneguk kopi sisa Zie tanpa sadar.
"Dasar gila!" Pekik Zie.
Firman menyandarkan tubuhnya menatap Zie dengan senyuman, tingkah bocah di hadapannya benar-benar membuat mood nya menjadi baik.
"Kau harus sopan, nilai mu di tangan ku!"
"Zie bilangin ke Oma, kalau Bapak udah lecehin Zie!"
Tidak mau kalah dan ditindas, kalah atau menang itu masalah yang ke 200 paling penting saat ditindas harus balas melawan sesuai ajaran Ayah Vano.
"Bilang saja, kemudian kita akan di nikahi secepatnya, dan kau akan tahu rasanya?" Firman menatap Zie dengan senyuman.
"Rasanya apa?" Seru Zie.
"Ya itulah pastinya."
"Dasar mesum, Bapak dosen mesum lahir batin!"
Awalnya Zie berpikir bahwa benar Firman bukanlah pria normal tapi, sampai sejauh ini malah Zie merasa takut saat berdekatan dengan Firman.
__ADS_1
"Ahahahahah......"
Tawa Firman kembali menggelar melihat wajah Zie yang menatapnya dengan kesal.