Mantan Jadi Mertua

Mantan Jadi Mertua
Bab 16


__ADS_3

"Bukan saya tidak berdamai dengan keadaan, hanya saja kenapa harus anak Ziva?"


Firman tidak habis pikir mengapa takdir terus saja bercanda.


Sudah sejak lama mengubur dalam-dalam perasaan cinta dan sudah mengikhlaskan tetapi, takdir seakan tidak ingin menjauhkan nya dari Ziva.


Sehingga sampai saat ini pun harus ada kaitannya dengan Ziva.


Sial.


Nasib malang apa yang menimpa.


"Mau bagaimana lagi, apa mungkin anda bisa mengubah keadaan agar Zie menjadi anak orang lain? Ada-ada saja," Rian mendesus dan juga merasa sedikit geli.


Bayangkan saja setelah menjadi kekasih ibunya kini Firman malah jatuh hati pada anaknya.


Apa jadinya bila keduanya menikah?


Rian memijat kepalanya karena memikirkan nya saja sudah pusing, apa lagi menjalankan nya.


"Anaknya tidak salah bos, dan anda juga tidak salah! Anda tahu siapa yang salah?"


Firman menatap Rian dan menantikan lanjutan dari apa yang akan dikatakan selanjutnya.


"Yang salah itu, perasaan! Kalau anda sudah berdamai dengan keadaan jangan membawa masa lalu dengan masa sekarang!"


"Sial!"


"Pikirkan Oma Aurora bos, pertimbangkan ingin menikah dengan Vika atau-"


Rian tersenyum melihat penderitaan Firman, bagaimana tidak.


Sudah lama tidak pernah tertarik pada wanita, kini ada wanita yang kembali membuat nya tertarik.


Tetapi, wanita itu adalah anak dari mantan kekasihnya sendiri.


Malang sekali!


"Baiklah, biarkan begini saja. Dia masih aku butuhkan."


"Nah, begini kan lebih baik. Oma sudah sangat menyukai Zie, saya yakin kalau anda mengeluarkan nya dari sini Oma orang pertama yang anda temui."


Firman mengusap wajah sampai beberapa kali, sungguh tidak pernah terbayangkan akan jatuh hati pada anak mantan kekasih nya.


Tidak, rasa itu baru hampir tumbuh dan Firman tidak akan membiarkan nya tubuh.


Saat ini Firman hanya ingin menjadikan Zie alat, tidak lebih.


"Jadikan dia OG!"


"Baik," Rian menurut dan tidak membantah, segera keluar dari ruangan Firman dan menemui Zie.


Zie berdiri di depan pintu, bersandar dengan memainkan ponselnya sambil menunggu tugas yang akan di berikan oleh Firman ataupun Rian.


Saat Rian membuka pintu tiba-tiba Zie terjatuh.


Brak!!!


"Aaaaah!!!"


Zie terpental dan meringis kesakitan.


Rian bingung mengapa ada manusia ceroboh seperti Zie.


"Apa yang kamu lakukan?"


"Hehehe, maaf ya Pak."


Perlahan Zie berdiri dan merapikan pakaiannya.

__ADS_1


"Sekarang tugas mu, bereskan ruangan ini!"


Apa?


Gila!


Zie sangat shock, bahkan sampai jantung nya hampir saja keluar.


"Pak?"


Ruangan Firman hancur berantakan lalu, apa mungkin tangan mulusnya melakukan itu.


"Iya, kenapa?"


"Pak, ini sangat berantakan!"


Zie melihat ruangan Firman sehabis di acak-acak, sungguh sangat ironis memang nasibnya saat ini.


"20 menit dari sekarang!"


Rian segera keluar menyusul Firman yang sudah terlebih dahulu keluar.


"Pak? Apa mungkin?"


Setelah menarik napas panjang akhirnya dengan rasa kesal Zie mulai bekerja, merapikan ruangan Firman.


"Zie?"


Aurora datang bersama dengan Vika di sampingnya.


Zie merapikan meja kerja Firman, sesaat ia memutar lehernya 80 derajat menatap Aurora.


"Oma?"


Zie memasang wajah lelahnya, padahal belum sampai setengah dari pekerjaan nya selesai.


"Kamu ngapain?"


"Sekarang dimana Firman?" Aurora berapi-api mendengar jawaban Zie.


"Di luar Oma."


"Kamu duduk, jangan kerjakan ini lagi!"


Setelah memberikan peringatan kepada Zie, segera Aurora mencari keberadaan Firman.


Vika berjalan mendekati Zie, menatap dengan remeh.


"Kamu, benar berpacaran dengan Firman?"


Zie tidak lantas menjawab, bahkan tidak perduli sama sekali dengan topik pembahasan yang di mulai Vika.


"Kamu mendengar saya kan?"


"Apa itu penting Bu?"


Vika tidak suka di tantang, apa lagi hanya seorang Zie yang terlahir dari keluarga rendah setahu Vika.


"Kamu menantang saya?"


"Enggak Bu, tapi masalahnya ini kan pribadi," jelas Zie santai.


"Kalau saya tanya jawab!" Bentak Vika.


Zie dapat menebak bahwa Vika menyukai Firman dan mungkin Aurora sudah tidak lagi berusaha menjodohkan keduanya.


"Bu, jangan gitu lah, itukan masalah pribadi," Zie masih bisa mentoleransi.


"Kedatangan kamu itu jadi masalah, jauhi dia. Karena kalau tidak kamu akan berhadapan dengan saya!"

__ADS_1


Zie memilih duduk di sofa dengan santai, tidak penting sama sekali membahas Firman.


Perjaka tua yang tidak memiliki ketertarikan pada wanita.


"Memangnya Ibu mau sama Pak Firman?"


Vika berjalan mendekati Zie.


"Maksud kamu apa?"


Zie tersenyum tipis, sambil menatap Vika.


"Dia itu cupu!"


"Heh, dengar ya. Kalau kamu masih dekat dengan dia, saya bersumpah kamu akan menyesal!"


Ancam Vika.


Sudah sejak lama Vika mendambakan memiliki seorang Firman tetapi, sampai saat ini pun semua belum tersampaikan.


Lalu, tiba-tiba Zie hadir sebagai kekasih Firman hingga Aurora sudah memutuskan untuk tidak lagi menjodoh-jodohkan nya dengan Firman.


Zie adalah masalah dari semua itu.


"Kalau Ibu mau, ambil aja, Zie juga enggak minat! Bujang lapuk aja di masalahin," jawab Zie santai, "Saya aman menyumbangkan!"


"Hey, hati-hati kalau bicara sama saya! Saya itu dosen kamu! Mau kamu saya buat menyesal!"


Vika mendekat dan mencengkram erat lengan bagian atas Zie.


"Bu," Zie berdiri dan melepaskan tangan Vika, "Ibu, kenapa sih? Tolong saling menghargai!"


"Kamu mau ngajarin saya!"


Zie lebih memilih diam dari pada berdebat hal yang tidak penting dengan Vika, dengan segera ia duduk kembali di sofa.


"Kamu akan menyesal, wanita seperti kamu pastilah cuman jual diri biar bisa hidup enak!"


Zie kembali berdiri dan menatap Vika.


Mengapa ada wanita seperti ini.


Mulutnya sungguh pedas.


"Memangnya saya wanita seperti apa Bu?"


"Wanita murahan yang menggoda lelaki karena ingin hidup enak, sampai mencari jalan pintas!" jawab Vika dengan penuh bahagia.


Zie mengepalkan tangannya yang menggantung, menahan emosi agar tetap tenang.


Menahan diri agar tidak menarik mulut Vika yang tengah tersenyum mengejek dirinya.


"Kenapa?!" Seakan merasa benar, Vika tersenyum penuh kemenangan.


"Saya tidak menyangka ternyata ibu tidak sebaik yang saya pikirkan." Tutur Zie masih berusaha sopan pada Vika.


"Dan kamu tahu? Firman itu tidak akan pernah bisa tertarik pada bocah ingusan seperti mu!" Banyak cara untuk membuat Zie pergi menjauh dari hidup Firman, salah satunya dengan menjatuhkan Zie.


Zie masih diam saja, walaupun sebenarnya ada amarah yang ingin meledak.


"Ya Bu saya menang bocah ingusan, lalu pak Firman tertarik pada wanita seperti apa?"


"Wanita cantik, dewasa, dan pastinya tidak seperti kamu!" Pakaikan murah yang di gunakan Zie membuat Vika sadar bahwa Zie bukanlah lawan yang sepadan dengan dirinya.


Harga diri di atas segalanya.


"Baiklah Bu, kalau begitu kita buktikan!"


Tidak menyangka jika Zie menantang diri nya, Vika tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


"Buktikan?" Tanya Vika remeh.


"Iya, kita lihat seperti apa saya. Bocah ingusan yang hanya mengincar uang Pak Firman menurut ibu." Tandas Zie.


__ADS_2