Mantan Jadi Mertua

Mantan Jadi Mertua
Bab 37


__ADS_3

Zie masuk ke kelas, sampai di kelas bukan duduk tenang tapi malah di ejek habis-habisan oleh teman-temannya.


Mereka semua sudah tahu perihal pernikahan Zie dan Firman, bahkan ada yang sampai melemparkan kertas hingga mengenai wajah Zie.


"Nggak nyangka ya, cewek tercantik, paling di idolakan di kampus ternyata menikah dengan Pak Cupu," ejek Clara.


Semua tertawa terbahak-bahak melihat wajah Zie, tapi tidak dengan Niken.


Niken sudah tahu wajah asli Firman saat di kantor, sehingga ia hanya diam tanpa bicara.


Bahkan dalam hati berdoa agar Zie dan Firman bercerai, jujur saja Niken pun ingin menjadi istri Firman sekaligus pemilik kampus.


"Caelah, diem aja! Istri Pak Cupu!" Dara ikut menimpali.


"Zie, apa nggak ada cowok yang lain?" Tanya Kanaya.


"Jio, kalah saing sama Pak Cupu!" Clara benar-benar tertawa terbahak-bahak melihat Zie yang kini menjadi istri Firman.


Zie menyambar tasnya, setelah itu keluar dari kelas.


Firman yang berdiri di ambang pintu pun disenggol oleh Zie, seketika melengos pergi.


Firman seketika mengejar Zie, merasa tidak enak karena, sudah membuat Zie di permalukan satu kelas bahkan mungkin satu kampus.


"Zie tunggu!!"


Firman berusaha mengejar Zie, akan tetapi, Zie sudah masuk ke dalam mobil Jio dan mobil itu melaju dengan kencang.


"Kamu kok, naik ke mobil aku?" Tanya Jio bingung.


"Cepat jalan!" Pinta Zie.


Jio pun tidak pikir panjang, segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


"Jio, aku turun di sini aja," Zie meminta Jio untuk menghentikan laju mobil, tetapi, Jio terlihat biasa saja dan tetap melanjutkan mobilnya dengan santai.


Zie kembali bersuara, meminta Jio untuk berhenti.


"Zie, kamu kok, mau nikah sama Cupu itu?" Tanya Jio tanpa mau perduli dengan keinginan Zie.


"CK!" Zie berdecak kesal dan malas sekali membalas hal tersebut.


Perlahan mobil Jio memasuki sebuah gerbang, dan turun dari mobilnya begitu juga dengan Zie.


"Kok, kamu bawa aku ke sini, sih?"


Zie menatap sekeliling rumah tersebut, cukup besar dan terlihat begitu mewah.


"Kenapa? Ini rumah aku, kebetulan orang tua aku lagi di luar kota. Kita bicara di dalam aja," Jio menarik tangan Zie dengan cepat dan membawanya masuk.

__ADS_1


Zie ingin menolak, tetapi, belum sempat menolak tubuhnya sudah terhuyung-huyung karena, Jio terus menariknya. Hingga keduanya berada di ruang keluarga.


"Jio, kamu ngapain bawa aku ke sini? Aku mau pulang," Zie merasa suasana rumah begitu sepi, tak mau juga nanti orang yang melihat menganggap mereka berbuat mesum.


Hingga Zie lebih memilih keluar tapi, sayangnya sampai di pintu utama Jio sudah mengunci pintu.


Dengan terpaksa Zie kembali ke ruangan sebelumnya, ternyata Jio duduk santai sambil menyalakan televisi.


"Jio, kuncinya mana?" Zie menadahkan tangan meminta kunci agar di berikan pada nya.


"Santai, sayang. Kita ini pasangan kekasih, duduk dong," Jio menepuk sofa kosong di sampingnya, meminta Zie duduk di sana.


"Aku mau pulang!!"


"Ngapain pulang? Kamu juga nggak suka, kan sama suami mu itu? Atau kamu rindu dia?" Ejek Jio.


"Terserah! Aku pengen pulang, kamu ngapain bawa aku ke sini?"


Tiba-tiba Jio memutar sebuah film dewasa, dan menarik Zie dengan paksa untuk duduk di sampingnya.


"Kamu apaan sih. Ini film apaan coba?!" Gerutu Zie.


"Nonton aja kali Zie," tangan Jio semakin bergerak, dengan sesukanya merasa bebas dan tak akan ada yang memergoki mereka.


"Jangan kurang ajar!" Zie menjauh dengan napas yang naik-turun melihat Jio penuh kemarahan.


"Udahlah, kamu nggak usah jual mahal. Semua cewek itu paling suka aku tidurin! Kamu sok jual mahal!"


"Kamu mau apa?" Zie panik melihat Jio semakin mendekati nya.


Tatapan mata Jio membuatnya merinding, menyesal rasanya menumpangi mobil Jio barusan.


"Ayolah, Zie. Kita sama-sama enak juga, kan?"


"Jangan macam-macam! Kalau orang tua aku tahu abis kamu!" Gertak Zie.


Zie menjerit sekencang mungkin meminta pertolongan. Tetapi, siapa yang dapat menolong dirinya.


Rumah itu terlalu besar, dan tetangga nya cukup jauh.


"Ayolah sayang, atau kau lebih suka di sentuh si cupu itu? Dia tidak akan sehebat aku sayang, percayalah," Jio mencolek dagu Zie, dirinya sudah sangat ingin menyentuh dada Zie yang besar itu.


Pakaian ketat Zie membuatnya selalu ingin menyentuh. Tetapi, tak pernah bisa. Dan kali ini tak boleh di sia-siakan kesempatan untuk bermain-main dengan Zie, idola kampus.


"Jio, jangan gila dong! Aku udah nikah juga!" Zie berusaha untuk menjauh.


Seketika Zie mengambil sebuah vas bunga dan melempar kearah Jio, hingga mengenai pelipis.


"Kau!" Jio mengepalkan tangannya dan menarik Zie dengan kasar, hingga melemparkan pada sofa.

__ADS_1


"Sssstttt....." Zie meringis merasa sakit, seketika ia bangun dengan cepat.


"Mau kemana?"


Jio kembali menarik Zie dengan kuat, hingga berada di bawah kungkungan nya.


Bruk.


Zie menendang bagian utama Jio.


"Aduh," Jio meringis kesakitan memegangi miliknya.


Mata Zie menatap kunci yang terjatuh dari saku celana Jio pada lantai, seketika mengambilnya.


Jio pun berusaha merebut kembali tetapi, Zie juga tidak akan memberikan dengan begitu saja.


"Jio, kamu ngapain? Jangan gila, aku mau keluar!!!" Teriak Zie sambil berusaha mempertahankan anak kunci di tangannya.


"Kamu akan keluar setelah membayar, kekesalan mu barusan, pada ku!" Zie mencengkram tangan Zie dengan kuat, bahkan mungkin memerah.


"Jio, sakit," ringis Zie.


"Berikan!"


Jio mendorong Zie pada dingin dan mencekik leher Zie, dengan perlahan tangan Zie merenggang hingga Jio berhasil mengambil kunci dari tangan Zie.


"Dasar sialan! Aku ajak baik-baik kau tidak mau? Mungkin kau suka dengan gaya sedikit memaksa!" Jio tersenyum sambil melepaskan cengkraman pada leher Zie.


"Huhuk uhuk-uhuk." Zie ter-batuk-batuk setelah Jio melepaskan cengkraman pada lehernya.


"Ayolah sayang, kita berpesta!" Jio menarik tengkuk Zie dengan paksa.


Zie menolak dan menendang Jio untuk yang kedua kalinya sehingga terjatuh di lantai.


"Kau sangat menguji kesabaran ku!!!" Jio mengepalkan tangannya dan mendekati Zie.


Plak plak plak.


Tangan Joi melayang di wajah Zie hingga berulang-kali.


Setelah itu Zie terduduk di lantai dengan tidak sadarkan diri, bahkan dengan wajah membiru berikut dengan sudut bibir yang mengeluarkan cairan merah.


"Siala!" Geram Jio.


Bruk!


Pintu terbuka dengan paksa, setelah berjuang untuk membuat pintu terbuka akhirnya ia berhasil.


"Cupu! Berani kau merusak rumah ku!" Bentak Jio saat melihat Firman.

__ADS_1


Firman menatap Zie yang tak sadarkan diri, seketika membuang kaca matanya.


__ADS_2