Mantan Jadi Mertua

Mantan Jadi Mertua
Bab 33


__ADS_3

Setelah Darmawan menyerah, akhirnya Vano terpaksa harus berpikir keras mencari pengganti lainnya. Sebab Vano sudah mengurus semua pernikahan Zie ingin merayakan secara besar-besaran agar sampai di telinga Firman, bahkan ingin membuktikan bahwa sekalipun Zie sudah di tiduri dengan Firman tapi, masih banyak lelaki yang ingin menikahinya.


Setelah itu Vano akan tertawa lebar merayakan kebahagiaan yang tiada tara, melihat wajah pucat sambil mengakui kekalahan keluar dari mulut Firman.


Tapi anehnya setiap pria yang di pilihkan oleh Vano membatalkan sepihak, menolak menikahi Zie karena Firman terus membuat nya hampir tiada.


"Sialan!!!"


Vano menggebrak meja kerja nya, geram akan laporan para bodyguard yang menyatakan ini semua karena ulah Firman.


Sudah dua hari berlalu, bahkan sudah ada 20 Pria yang tak satupun tepat menjadi calon suami Zie, mereka semua malam bernasib sama seperti Darmawan. Babak belur menemuinya dan menyatakan mundur.


Zivanya pun hanya bisa mengusap punggung suaminya, mencoba menenangkan pikiran kacau Vano.


Vano memang tak akan bisa berpikir jernih bila menyangkut putri kesayangannya Zie, apa lagi beberapa hari yang lalu melayangkan tangan tepat di pipi mulusnya membuat Vano merasa bersalah selama-lamanya tapi tetap menunjukan wajah dinginnya hingga tak ada yang tahu kecuali Zivanya.


"Pak Presdir, ada yang ingin bertemu dengan anda."


Vano mendongkak menatap asistennya, belum juga sempat menjawab seorang pria sudah masuk tanpa ijin.


"Maaf Pak, Presdir dia memaksa masuk."


Vano menggerakkan tangannya meminta Asistennya segera keluar. Kemudian beralih menatap pria sialan itu.


"Selamat siang Pak, Presdir?" Sapa Firman, harga diri sudah di simpan saja untuk saat ini, Firman memilih untuk tetap tersenyum dan seakan biasa saja mungkin tanpa rasa malu.


"Cepat bicara lalu, pergi dari sini! Anda sangat tidak di inginkan!" Papar Vano.


Firman mengangkat bahunya dengan santai, kemudian duduk di sofa sekalipun tanpa ijin melipat kedua kakinya dengan santai.


"Tidak tau malu!" Vano mendesus sambil menyandarkan tubuhnya pada kursi kebesaran nya.


Menganggap apa yang di katakan Vano hanya anggun lalu, Firman sama sekali tak ambil pusing. Baiknya berbicara dengan baik, dari hati-kehati yang mungkin bisa menjadikan sebuah keputusan yang terbaik.


"Saya, ingin berbicara dengan Pak, Presdir dengan kepala dingin, kita bicara baik-baik dan mungkin bisa saling menerima," tawar Firman.


Vano menatap Zivanya yang berdiri di sampingnya, saat Zivanya mengangguk perlahan bangun dari duduknya dan berpindah duduk di sofa saling berhadapan dengan Firman.

__ADS_1


"Tanpa ada perdebatan, tanpa ada ke marahan, semua di selesaikan dengan cara dingin," pinta Zivanya mencoba berbicara.


Zivanya duduk di samping Vano, berharap kedua pria itu menemukan sebuah keputusan yang sama-sama tidak melukai satu sama lainnya.


"Terima kasih," Firman mengangguk mengerti, usia sudah tak lagi muda pendidikan pun sudah sama-sama tinggi rasanya tak mungkin masih menggunakan kekerasan seperti anak-anak.


"Kenapa kau ingin menikahi putri ku?"


Vano mulai membuka pembicaraan, ingin mengetahui secara pasti maksud dari Firman.


"Tidakkah kau malu, ataupun merasa ini gila karena menikahi anak mantan kekasih mu?" Imbuh Vano.


"Saya mencintainya, mohon maaf jika cinta saya ini terdengar gila. Tapi saya memang sangat mencintai putri anda!" Tegas Firman.


"Kenapa harus putri saya, apa kau ingin membuka masa lalu, membalas dendam melalui putri ku?!" Tanya Vano penuh intimidasi.


Firman menarik napas panjang, sungguh ini semua harus di luruskan sebab tak ada sedikitpun dendam di hatinya.


"Apa pernah saya mengganggu rumah, ataupun mencoba menghancurkan rumah tangga kalian?"


Tapi bukankah cinta tak butuh alasan pasti, hati tak bisa menentukan pada siapa dia berlabuh. Menunggu, mencari siapa yang akan menjadi kekasih halal sampai saat ini pun belum di temukan.


"Tapi, apapun alasannya dia tidak mungkin menikah dengan anda!"


"Kenapa?"


"Karena itu mustahil dan gila, apa yang akan dikatakan oleh orang-orang di luar sana jika tahu kau dan istri ku....." Vano tak ingin menyebutkan nya itu sangat menjengkelkan.


"Saya pernah memberikan Zivanya tanpa perlawanan, tanpa kemarahan, tanpa perdebatan, kenapa anda tidak bisa memberikan anak anda pada saya, saya jadikan ratu di dalam istana sederhana saya dengan janji akan membahagiakan nya."


Sejenak semua diam, semua seakan larut dalam pikiran masing-masing sampai saat ini belum menemukan suatu titik terang dari segala permasalahannya.


"Ingat Zivanya, dulu kau mengatakan akan membayar semua kesedihan yang ku alami, dan apapun itu asal aku bahagia! Hari ini, saat ini aku menagih janji itu!"


Degh!.


Jantung Zivanya berdetak lebih keras dari biasanya, kenapa malah Firman mengingatkan akan itu semua.

__ADS_1


"Tapi tidak anak ku," jawab Zivanya.


"Tapi aku mencintainya, dan dia adalah kebahagiaan ku, saat mengenalnya aku kembali merasa apa itu cinta!" Papar Firman.


"Keputusan kami sudah bulat, kami tidak akan pernah merestui Zie menikah dengan mu!" Vano menimpali.


Tak ada cara yang mudah untuk kebahagiaan yang sebenarnya, begitupun saat ini.


Firman tak akan menyerah apapun rintangannya di depan nantinya.


"Jangan lagi berbuat curang dengan membuat semua pria yang akan menjadi calon suami putri ku babak belur!"


"Saya mencintainya, bagaimana jika anda di posisi saya?"


"Saya akan mundur dan memilih tidak udah menikah seumur hidup saya!!" Vano tersenyum penuh kemenangan merasa jawaban nya benar dan Firman akan merasa malu.


"Itulah bedanya anda dengan saya!"


"Maksud mu?"


"Anda rela meninggalkan istri pertama anda demi istri simpanan anda, dan saya pun rela memperjuangkan wanita yang saya cintai sekalipun anak mantan kekasih saya!" Firman tersenyum miring, senyuman penuh kemenangan.


"Bagaimana mau jadi menantu, bicara saja tidak sopan. Pergi dari sini, Vano mengambil selembar undangan pernikahan Zie dan seorang pria, memberikan nya pada Firman, "besok lusa, jangan lupa datang."


Firman menerima undangan tersebut membukanya lalu membaca nama Zie dan Aldo.


"Tolonglah, saya tidak main-main mencintai putri anda, lagi pula saya sudah tidak memiliki perasaan pada Zivanya, saya mohon berdamailah dengan keadaan ini."


Firman masih tidak ingin menyerah, baginya cinta tidak ada bandingannya kecuali ia tidak akan pernah menikah seumur hidup.


Rasa itu bagaikan mati dan sudah pada batas titik terendah hingga semua tak bisa menghalanginya.


"Sekali lagi saya mohon Tuan Zavano, ini cinta bukan dendam."


Vano menggeleng.


"Saya rasa pembicaraan kita sudah selesai, keputusan saya pun sudah bulat, silahkan keluar dari ruangan saya, dari kantor saya, dari hidup anak saya!" Vano meninju arah pintu.

__ADS_1


__ADS_2