Mantan Jadi Mertua

Mantan Jadi Mertua
Bab 27


__ADS_3

"Unboxing? Apaan coba?"


Firman masih diam sambil menatap Zie dengan mulut komat Kamit.


"Pak, Zie enggak mau nikah sama Bapak! Apa coba, nikah-nikahan Zie masih pengen menikmati indahnya masa muda!"


"Brisik!" Firman mendorong wajah Zie.


"Ish!" Zie memukul tangan Firman sebagai bentuk perlawanan.


"Mulai hari ini kamu adalah kekasih ku dan kau harus menurut pada ku! Ingat itu!"


Zie terperangah mendengar penuturan Firman, enak saja membuat peraturan seenaknya.


"Bapak jangan asal dong!"


Zie berusaha untuk menolak, bagaimana pun ia punya hak atas dirinya dan Firman bukan siapa-siapa yang bisa mengatur dirinya.


"Kalau kau menolak aku punya bukti percakapan kita, kau yang meminta bantuan dari ku, kalau Niken atau teman-teman mu tau, maka kau yang kalah dan kau yang akan menjadi babu Niken, bukan Niken yang menjadi babu mu!"


Kalimat ancaman lagi-lagi keluar dari mulut Firman, apapun caranya dan resiko kedepannya Firman tidak perduli sama sekali.


Zie harus di milikinya, dua kali sudah gadis polos itu berhasil membuatnya basah padahal hanya dengan cara yang aneh.


Firman pun tidak akan melepaskan sampai kapan pun.


"Bapak apasih, ngancam, Mulu!" Zie kesal dan ia langsung duduk di kursi kebesaran Firman.


Di saat tengah ada keterangan yang terjadi terdengar suara ketukan pintu, Zie dan Firman menatap arah pintu keduanya yakin itu pasti Rian.


Tapi yang muncul ternyata Niken.


Zie tahu Niken ke sana untuk mengantarkan tas miliknya.


Tapi Niken terperangah melihat seorang pria tampan yang kini berdiri di dekat kursi yang tengah di duduki Zie.


Mata setajam elang, alis mata tebal, dada yang begitu besar, siapa pria tampan itu hingga membuat Niken terdiam tanpa bergerak.


"Woy!!!" Zie mengetuk meja hingga membuat Niken tersadar.


"A-iya, I-ini, tas kamu," Niken gelagapan karena tidak kuasa melihat pesona seorang pria yang sama sekali tidak perduli padanya.


"Bawa sini!" Zie mengetuk-ngetuk meja, meminta Niken mengantarkan tasnya.


"I-ini," Niken belum bisa melepas tatapan nya dari pria sialan yang tampannya sampai membuatnya panas dingin.


Berjuta-juta pertanyaan membuatnya penasaran, dan mungkin ia akan semakin bersemangat untuk menjadi bawahan Zie selama satu bulan kedepannya.


Sekalipun Firman hanya menunjukkan wajah datar tapi cukup membuat dada Niken kembang kempis.


Zie menyadari itu, ia tersenyum merasa mendapatkan ide brilian.


"Niken!"


"I-iya."


"Mulai besok Lo ikut gue, dan banyak kerjaan buat, Lo!"


"Iya, besok pasti ya, aku pasti ikut kamu," jawab Niken dengan bahagia.


Jika bisa Niken meminta sedikit saja Firman tersenyum padanya tapi sulit, saat ini bahkan Firman menatap lain arah seakan tak perduli sama sekali.

__ADS_1


"Ya udah, keluar!"


"Iya!"


"Apa lagi!"


Niken masih betah berlama-lama di ruangan Firman, menatap pria tampan itu dengan semaunya.


"Niken!!!"


Zie sudah berdiri di samping Niken, bahkan baru di sadari oleh nya.


Zie menarik Niken keluar, sampai di luar Zie memasang wajah seriusnya.


"Lo, tau dia tadi siapa?"


"Enggak," Niken masih menunggu Zie menjelaskan siapa pria barusan, pesona nya membuat Niken ingin tahu lebih jauh.


"Dia Pak Firman."


"APA!!!"


Niken shock berat, mana mungkin orang itu Firman.


"Brisik banget sih," Zie menggosok telinganya sampai beberapa kali karena suara Niken yang nyaring membuatnya tidak nyaman.


"Zie, lu serius?"


"Iya! Ngapain gue boong!"


"Tapi-"


Sebenarnya Zie pun tidak tahu apa alasan Firman mengubah gayanya menjadi cupu saat sedang berada di kampus.


Sedangkan di kantor Firman tetap menjadi dirinya sendiri, yang tampan dan semua wanita bisa jatuh hati.


Kecuali Zie.


"Lo suka sama dia?" Zie menanyakan agar lebih pasti.


"Ya ampun Zie, dia ganteng gimana enggak suka coba?" Niken tersenyum membayangkan bertapa Firman di kantor sangat tampan.


"Okey, dan gue bisa bantu lu asal lu mau?" Tawar Zie.


Zie tidak ingin menikah dengan Firman, sehingga ia berpikir jalan satu-satunya adalah membuat Niken dan Firman memiliki kedekatan bahkan akan lebih baik bisa sampai menikah juga tidak masalah.


Dengan begitu Zie bisa bebas dari Firman, juga tidak perlu lagi ber-acting di hadapan Oma seolah mereka kekasih.


Zie bisa bebas!


"Gue mau Zie, mau banget," bibir Niken tersenyum bahagia, membayang Firman menjadi miliknya.


"Gampang, mulai besok lu jadi bawahan gue!"


"Iya!" Niken mengangguk setuju.


***


Firman melihat dari cctv apa yang tengah di lakukan dua wanita di depan ruangannya, melihat itu semua membuat nya ingin tertawa.


Mungkin Zie berpikir bahwa akan sangat mudah untuk bisa keluar dari jerat lingkaran yang sudah di ciptakan Firman.

__ADS_1


Padahal tidak, Firman tidak akan bisa melepaskan Zie.


Pintu kembali terbuka, Zie masuk dan tersenyum padanya.


"Pak Zie balik ya, capek," keluh Zie.


"Istirahat di sana," Firman menunjukan ruang istirahat nya.


"Zie mau pulang aja."


"Pekerja mu masih banyak lagi!"


"Apa?" Zie merasa pekerjaan nya tidak ada, bahkan setiap hari hanya menemani Firman saja.


"Temani aku tidur," Firman bangun dari duduknya dan mendekati Zie.


Zie shock bukan kepalang.


"Apa dosen gila ini tidak punya otak!" Pekik Zie.


"Brisik!" Firman merangkul pundak Zie sambil membawanya masuk keruang kerja istirahat nya.


"Pak, Zie masih punya harga diri ya," tolak Zie dan menjauhi Firman.


Firman diam sambil menatap wanita polos, cerewet, tapi sayang anak mantan kekasihnya.


Sehingga Firman harus mengatur cara yang lebih baik dulu agar Vano memberikan Zie menjadi istrinya.


"Siapa yang mengatakan kau tidak punya harga diri?" Tanya Firman santai.


"Terus kenapa Bapak ngajak Zie nemenin tidur, apa menurut Bapak, Zie wanita nakal?"


'Karena aku mencintaimu," batin Firman, "Karena kau mirip sekali dengan boneka lucu, dan bisa aku gunakan menjadi guling," Firman membopong tubuh Zie dengan paksa.


Zie memukul bagian pundak Firman, dengan kaki yang bergetar berusaha turun dari atas pundak kekar Firman.


"Turunin Zie!"


Pintu tertutup, Firman melempar Zie ke atas ranjang.


"Diam!"


"Bapak apasih," Zie berusaha bangun dari ranjang.


Firman ikut naik dan memeluk Zie dengan erat.


"Diam, ini juga tugas! Atau Niken tau perjanjian kita?" Ujar Firman.


"Mana ada tugas beginian, jangan gila ya!" Seru Zie meronta-ronta ingin bangun.


"Tidak usah berpikir aneh-aneh, kau hanya sebagai bantal guling, aku tidak tertarik pada bocah ingusan seperti mu!"


Zie terdiam menyerah, melawan pun percuma yang ada Firman semakin memeluknya semakin erat.


"Cuman nemenin enggak lebih ya Pak?!"


"Aku tidak selera pada mu! Tidak usah takut!"


Zie mengangguk dan ia terdiam, lima menit berlalu yang tertidur justru Zie bukan Firman.


"Dasar bocah aneh!" Firman menatap wajah Zie yang sudah terlelap, menatap dengan memuja.

__ADS_1


__ADS_2