
[Zie gue lagi nemenin Mom di rumah, Mom lagi sakit tolong bilang ke Pak Suhu, gue ijin] Alma.
Zie merasa malas untuk berangkat ke kantor untuk magang, bagaimana bisa pergi tanpa Alma.
[Siapa Pak Suhu?] Zie.
[Pak Cupu, bego!] Alma.
[Mana mungkin gue sendiri ] Zie.
[Kasihan Mommy gue Zie, entah sore Daddy baru pulang dari luar kota] Alma.
[Ya udah, semoga Mom Anggi cepat sembuh, gue doa in lu dapet adik bayi] Zie.
[Brengsek lu!] Alma.
Zie memasukan ponselnya pada tas, kemudian berdiri di depan cermin dan memandangi penampilan nya yang sudah cukup cantik.
"Pagi ini semangat Zie, harga diri harus di pertahankan," Zie berbicara di depan cermin sambil menatap pantulan dirinya.
Zie segera keluar dari kamar dan segera menaiki taxi yang sudah ia pesan.
Zie kini tidak memiliki mobil, selama masa percobaan mendapatkan kebebasan tidak diijinkan memakai barang mewah. Termasuk mobil.
Kecuali mobil sedan yang di miliki Alma, tentunya Zie lebih memilih naik taxi mengingat mobil itu sering kali mogok di jalan dan ia bisa berjuang sendiri nantinya.
Sampai di perusahaan Zie langsung menuju ruangan Firman dan kali ini ia menaiki lift khusus karyawan tidak seperti kemarin.
"Bismillah," Zie merapikan pakaiannya, sejenak berdiri di depan pintu.
Tok tok tok.
"Masuk!!" Terdengar suara Rian dari dalam sana.
Zie mulai mendorong pintu perlahan kepalanya yang masuk, setelah itu barulah kaki Zie melangkah.
"Selamat pagi Pak?"
Entah apa yang merasuki Zie tetapi, pagi ini ia terlihat sopan sangat berbeda dari biasanya.
"Ada apa Zie?" Tanya Rian.
"Pak, Zie di sini kerjanya ngapain ya?" Tanya Zie sambil menatap Rian.
"Belajar."
"Ya betul, Pak Alma hari ini ijin, Ibunya sedang sakit," kata Zie lagi.
Rian mengangguk.
"Pekerjaan mu gampang, kau cukup mencatat setiap jadwal Pak Firman, mempersiapkan segala sesuatunya dan ikut kemana dia pergi," jelas Rian.
Firman seketika menatap tajam Rian, tanpa persetujuan nya Rian langsung memutuskan segala sesuatu sepihak.
Rian tersenyum pada Firman, "Ini keputusan yang tepat Bos mengingat Oma," Rian tersenyum penuh kemenangan, tidak ada yang bisa di lakukan Firman jika sudah menyebutkan Aurora sebagai alasan.
Dengan terpaksa Firman diam dengan segala pikirannya.
"Selamat pagi."
Baru saja di bahas tetapi Aurora susah muncul saja.
Firman menatap Rian penuh tanya, seakan bingung dengan kedatangan Aurora tanpa mengabari dirinya.
__ADS_1
Rian menggeleng dan tidak menerima telpon terlebih dahulu sebelum Aurora datang juga tidak tahu sama sekali perihal kedatangan Aurora yang tiba-tiba.
"Selamat pagi Oma," sapa Rian dengan senyuman.
"Ada cucu menantu Oma."
Aurora menatap Zie dengan senyuman yang begitu hangat.
"Iya Oma."
Zie meremas tangannya sambil berdoa semoga saja tidak ada hal yang aneh terjadi di pagi hari ini.
Cucu menantu?
Bisakah Zie muntah saat ini juga?
Setelah mendengar Aurora menyebut cucu menantu mendadak perut Zie mual.
"Firman ayolah kapan kalian akan menikah?"
Glek!
Zie meneguk Saliva.
Menikah?
Dengan Pak Firman?
Bujang lapuk!
Zie semakin merasa horor.
Firman bisa melihat raut wajah Zie yang tampak jijik menatap dirinya.
"Oma, Zie akan menerima lamaran Firman setelah menyelesaikan skripsi nya," jelas Firman.
Mata Zie melebar, kakinya dengan cepat terangkat dan menghentakkan pada kaki Firman dengan sepatu.
"Sssssttt."
Firman menahan sakit tak kala merasakan hak sepatu tinggi Zie menginjak kakinya.
Zie tersenyum penuh kemenangan tahu Firman tengah kesakitan.
"Oma, Zie kan masih kuliah dan tunggu sampai wisuda," jawab Zie sambil tangannya mencubit perut Firman.
Walaupun terasa sulit tetapi, Zie tetap berusaha untuk menancapkan kukunya agar dosen sialan itu tahu bertapa ia sangat kesal di peluk.
"Em," Aurora tersenyum bahagia, "tidak apa, tapi kalau bisa jangan terlalu lama ya," pinta Aurora lagi penuh harap.
Firman harus membalas apa yang barusan di lakukan oleh Zie.
"Tidak Oma, mungkin Firman akan bicarakan ini. Mungkin bisa di percepat," ujar Firman.
Sial!
Zie tidak terima dengan perkataan Firman.
"Benarkah?" Tanya Oma Aurora.
"Benar Oma, karena Zie juga sudah tidak sabar menikah dengan Firman," bohong Firman.
"Apa!!!" Pekik Zie tidak sadar.
__ADS_1
"Sayang, santai saja ya," Firman mengelus lengan bagian atas Zie.
Dengan terpaksa Zie meredam emosi nya, setelah Firman berbisik.
"Oma punya penyakit berbahaya."
Zie menarik napas sebanyak-banyaknya dan mencoba untuk tetap tenang.
"Iya kan, Zie kamu juga tidak sabar menjadi istri saya?" Firman mengkedipkan sebelah matanya menggoda Zie yang dan kini tangan Firman beralih melingkar di pinggang Zie.
Sial!
Sial!
Pagi-pagi sudah mendapatkan nasib yang begitu sial, setelah ini Firman juga harus membayar ini agar ia menang taruhan dengan Niken.
"Iya itu benar, kalian sudah begitu mesra dan ini tidak baik," Aurora menatap tangan Firman yang terus saja berada di pinggang Zie.
Menurut Aurora mungkin saja Zie dan Firman selalu bermesraan, keputusan terbaik adalah menikahkan keduanya agar tidak mengundang banyak dosa.
"Tentu Oma, iya kan Zie?" Tanya Firman tersenyum puas saat melihat wajah Zie semakin memerah.
"Em," Zie tersenyum kecut.
"Kalau melihat kalian mesra begini Oma lega, berarti pikiran Oma salah. Firman normal."
Mmmmfffffpp!
Zie menahan tawa saat mendengar kata-kata Aurora.
Sial!
Firman rasanya tidak punya harga diri di hadapan Zie.
"Oma jangan berkata begitu!" Geram Firman.
"Zie apa Firman normal? Atau kamu merasa ada yang aneh pada cucu Oma?" Tanya Aurora.
Zie seketika mendongkak menatap Firman, ingin sekali Zie tertawa melihat wajah kesal Firman.
"Em," Zie menggaruk kepalanya dan menunduk sambil menahan tawa.
"Oma bicara apa?!" Firman sudah tidak sanggup mendapatkan ejekan dari mahasiswa nya yang sangat menjengkelkan.
"Tidak, Oma tidak salah Pak. Mengingat bapak sudah bujang la-" Zie menutup mulut karena menahan tawa, tidak kuasa lagi melanjutkan ucapannya.
"Oma sekarang sudah yakin, lagi pula kalian akan segera menikah bukan?!" Tambah Aurora.
Zie masih menunduk sambil menutup mulutnya, ingin sekali melepas tawa tetapi, rasanya tidak sopan mengingat ada Aurora.
"Zie!"
Firman menegur mahasiswa sialan yang sedang mengejek dirinya.
"Oma, dia normal lihat ini."
Zie menunjukkan tangan Firman yang terus melingkar di pinggang nya.
"Itu tanda bahwa dia normal Oma, dan nyaman," lanjut Zie dengan mengejek.
"Sudah-sudah, Oma tidak akan menjodohkan Vika dan Firman lagi. Oma tunggu kabar bahagianya, Oma pamit," Aurora segera pergi tidak ingin mengganggu Zie dan Firman berlama-lama.
"Iya Oma hati-hati," Zie menutup pintu dan langsung melepaskan tawa yang sedari tadi di tahan.
__ADS_1
"Saya juga permisi bos," Rian segera keluar, karena tidak ingin melihat peperangan dunia ke tiga.