Mantan Jadi Mertua

Mantan Jadi Mertua
Bab 26


__ADS_3

Rian tidak ingin lagi menjadi obat nyamuk bakar yang kepanasan karena, gila melihat dua orang yang kadang berdebat, kadang berkelahi, kadang seperti kucing dan anjing hingga ia lebih memilih keluar diam-diam.


"Apanya yang mesum? Kau semakin ke sini semakin kurang ajar!"


Zie bangun dari duduknya dan melompati meja Firman, ia berdiri di hadapan Firman dengan amarah.


"Pak Zie udah enggak tahan, serius!" Zie mengeratkan giginya ingin mencekik leher Firman.


"Enggak tahan apa nya?" Tanya Firman di iringi tawa kecil.


Zie kembali menarik dasi Firman hingga tercekik.


"Kemarin Bapak melecehkan Zie, terus sorenya Bapak bilang masukin-masukin, dan sekarang-"


Belum selesai Zie meluapkan kemarahannya Firman cepat-cepat bertanya, memotong perkataan Zie dengan cepat


"Masukin?"


"Bapak ngomong, kalau begitu nanti saya masukin!" Zie menirukan gaya bicara Firman.


"O, kamu mau di masuki?" Tanya Firman dengan senyum penuh kemenangan.


"Dasar gila!" Zie semakin mencekik Firman.


Firman merasa tercekik karena, Zie dan membuat nya sedikit sulit bernapas.


Sebenarnya tidak sulit untuk melepaskan diri tapi, Firman lebih memilih diam seakan tidak berdaya melawan kekuatan Zie yang tidak seberapa itu


Lihat saja sekarang Zie merasa bangga karena sudah berhasil membuat Firman tercekik.


"Lepas dulu!" pinta Firman.


"Enggak!" Tolak Zie dengan tegas.


"Aku tidak bisa bernapas!"


"Biarkan saja! Biar cepat mati!"


Tangan Firman menarik Zie hingga duduk melingkar di pangkuan nya.


Zie berusaha turun tapi Firman menahan pinggangnya, hingga Zie terus bergerak dan membuat kembaran Firman bangun dari tidurnya.


"Lepas!!!" Seru Zie.


Zie tidak lagi mencekik Firman dengan dasinya berharap dengan begitu Firman akan melepaskan diri nya.


Tapi sayang, harapan Zie hanya angan-angan belaka Firman malah semakin mengeratkan tangannya yang melingkar di pinggang Zie.


"Pak lepasin Zie!"


"Sedikit saja!" Firman dengan cepat menarik tengkuk Zie dan melahap bibir manis bocah ingusan yang mampu membuat nya panas dingin.


"Pak Firman, gila, lepas!" Seru Zie sambil terus bergerak.


"Sial, kau tidak akan lepas lagi jika sudah masuk kedalam hidup ku," gumam Firman dan kembali melahap bibir manis Zie.

__ADS_1


Semakin Zie bergerak semakin menantang dirinya, semakin terasa gejolak aneh yang menuntut.


"Ingat kita punya perjanjian?!" kata Firman setelah melepas pagutan nya.


"Iya, tapi Zie mau turun!"


"Tidak bisa sayang, kau tetap di sini," bisik Firman di telinga Zie.


"Dasar gila, ini udah dua kali ya Bapak begini, ini udah kriminal!" Tegas Zie.


Firman tidak perduli ia hanya semakin memeluk Zie dengan erat, menekan wajahnya pada dua gundukan kembar milik Zie dengan erat.


Sampai akhirnya pada puncaknya, Firman mulai merenggangkan tangannya dan Zie mengambil kesempatan untuk turun dari atas pangkuan Firman.


"Dasar aneh, maksa banget mangku anak orang!" Omel Zie.


Tanpa sengaja mata Zie menatap celana Firman yang basah.


"Ahahahhaha, Bapak ngompol ya!" Tebak Zie sambil tertawa menggelegar.


Firman bangun dari duduknya lalu mengetuk kepala Zie setelah itu segera masuk ke dalam ruang pribadi nya.


"Sakit! Bujang lapuk sialan!" Pekik Zie.


Selang beberapa menit kemudian pintu terbuka Zie melihat Oma Aurora yang masuk.


"O, ada Zie," Oma Aurora tersenyum saat melihat calon cucu menantunya ada di ruangan Firman.


Zie membalas senyuman Aurora dan mencium punggung tangan nya.


Mata Aurora tidak melihat keberadaan cucu kesayangan nya, sehingga menimbulkan tanda tanya.


"Barusan masuk ke situ Oma, Zie juga enggak tahu sih itu apa," Zie menunjukkan arah Firman barusan, ada pintu saat sebuah buku di geser oleh Firman pada rak buku di dekat meja kerja Firman.


"O," Aurora mengangguk mengerti, "itu tempat istirahat, semacam kamar pribadi, kamu tidak pernah masuk ke sana?"


Tanya Aurora penasaran mengenai sejauh apa hubungan antara Zie dan cucunya.


"Enggak Oma."


Aurora menyimpulkan jika Firman dan Zie belum pernah melakukan hal melewati batas.


"Terus kenapa dia masuk?"


"Pak Firman abis ngompol Oma," jawab Zie dengan polosnya.


Bertepatan dengan itu Firman kembali dengan setelah pakaian bersih, mengganti pakaiannya nya barusan.


"Ngompol?" Aurora bingung dan seketika menatap Firman dengan penuh tanya.


Firman tahu pasti ada yang tidak beres, ia yakin pasti Zie sudah mengatakan hal aneh sehingga Aurora menatapnya begitu aneh.


"Firman, apa betul barusan kamu ngompol?"


Akhirnya rasa penasaran Firman terjawab sudah, tapi kini malah berganti menjadi rasa malu dan was-was.

__ADS_1


"Iya, barusan Pak Firman ngompol, makanya dia ganti pakaian," jelas Zie lagi dengan polosnya.


Firman mengusap wajahnya, terkadang kepolosan Zie bisa membuat kemenangan untuk dirinya.


Tapi terkadang juga bisa membunuhnya dengan secara tidak langsung.


"Oma enggak percaya?" Zie tidak ingin di anggap berbohong, melihat Aurora diam seketika membuatnya bingung.


"Firman?"


Firman hanya diam tanpa bisa menjawab.


"Kapan kalian akan menikah? Oma rasa semakin kesini semakin tidak beres! Usia mu sudah matang, kau pun sudah mapan, Oma tidak mau tahu dalam waktu dekat ini kalian harus menikah!" Tegas Aurora tanpa ingin dibantah.


Zie ternganga dengan kedua tangannya yang membekap mulutnya, tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Aurora.


Menikah?


Zie belum berpikir untuk menikah, kalaupun menikah tidak dengan Firman.


"Zie, berikan alamat kedua orang tua mu, Oma akan menemu mereka dengan segera."


Oh Tidak.


Zie meneguk saliva dengan berat, bahkan air liurnya sendiri saat ini terasa pahit.


"Oma, Zie akan menikah tapi enggak sekarang, Zie harus lulus kuliah dulu," Zie mulai mencari alasan yang tepat, takut jika malah Aurora akan menikahkan dirinya dengan Firman.


"Kuliah tetap di lanjut meski kamu dan Firman menikah dalam waktu dekat, bahkan semua biaya kuliah pun akan ditanggung oleh Firman, mungkin kamu mau lanjut kuliah S2 atau S3 tidak ada masalah, Firman mampu membiayai nya."


Sial.


Masalahnya saat ini bukan kuliah tetapi, Zie tidak mencintai Firman sedikit pun.


Lantas bagaimana cara menjelaskan nya pada Aurora.


"Firman, secepat mungkin kamu harus melamar Zie, yang gentle jadi laki-laki, temui orang tuanya dulu, jabat tangan Ayahnya baru di unboxing!"


Aurora menyindir Firman, tentu saja ia tahu mengenai Firman yang mengompol barusan di katakan oleh Zie.


"Oma," Zie tidak tahu lagi harus beralasan apa seakan semua jalan sudah buntu.


"Oma tidak usah mikir aneh-aneh!"


"Alah, kamu pikir Oma polos?! Ingat, nikahi dulu baru di icip-icip ya! Hargai kedua orang tuanya!" Setelah mengatakan itu Aurora langsung pergi.


"Pak?" Zie menatap Firman dengan bingung.


'Mungkin jika orang tua Zie bukan Zivanya dan Vano semua akan lebih mudah, tapi ini tidak segampang itu Oma,' batin Firman.


Otaknya tengah berpikir agar kedua orang tua Zie memberikan restu, meskipun akan cukup sulit bahkan Firman sendiri pun tidak yakin.


"Pak, Zie enggak mau jadi istri Bapak!!" Seru Zie.


'Aku tidak meminta persaetujuan mu, yang aku tahu kau harus jadi milik ku,' batin Firman dengan wajah datar menatap Zie.

__ADS_1


__ADS_2