Mantan Jadi Mertua

Mantan Jadi Mertua
Bab 35


__ADS_3

Pernikahan sudah selesai, hanya acara akad nikah dengan berfhoto keluarga lalu bersalaman dengan tamu. Setelah itu tak ada lagi acara perayaan seperti yang direncanakan, seharusnya pada malam hari akan ada pesta, tapi mood keluarga sudah rusak dan di tunda dengan alasan Zie sedang sakit, akan di adakan kembali setelah sembuh.


Firman langsung memboyong Zie ke rumahnya, tinggal bersama dirinya dan juga Oma Aurora.


Tidak mungkin tinggal bersama dengan Vano mengingat keadaan kini tidak baik-baik saja, sebagai seorang pria dengan harga diri Firman tak mau di anggap rendah bahkan di pandang sebelah mata.


Baginya kini Zie adalah tanggung jawabnya artinya semua kebutuhan adalah tanggung jawab Firman tanpa membebani keluarga.


"Selamat datang di rumah kita," Aurora mempersilahkan Zie untuk masuk, hunian mewah dan nyaman membuat suasana semakin bertambah ramai dengan kedatangan Zie.


Zie mengedarkan pandangannya, melihat rumah Firman yang begitu luas tapi sebenarnya di hati kecilnya belum siap untuk menikah. Andai saja ia menurut pada pada yang di tetapkan oleh Ayahnya dulu untuk tetap memiliki bodyguard ini tidak akan pernah terjadi.


"Hey, kamu ngelamun?"


Aurora menepuk pundak Zie, tampaknya tahu perasan cucu menyatunya saat ini.


"Ini sudah hampir malam, kamu juga pasti lelah, ayo ke kamar, Firman bawa Zie masuk ke kamar kalian."


"Pak, kita sekamar?!" Zie menganga mendengarnya, sungguh ini terasa sangat menjengkelkan.


"kalian sudah suami istri, kalau beda kamar kapan Oma punya cicit?" Goda Aurora dengan senyuman bahagia.


Apa? Cucu, Cicit? Oh tidak!


Zie merasa geli saat baru mendengar kata cucu dari mulut Aurora.


"Oma, Zie mau lulus kuliah dulu," jawab Zie.


"Kuliah juga kuliah, cucu, cicit, juga dong," imbuh Aurora semakin bahagia, "sudah-sudah, ayo ke kamar buat cicit untuk Oma secepat mungkin!"


Zie meneguk saliva, merasa tidak pernah bisa lepas dari keanehan. Menurutnya berjauhan dari Alma akan kehilangan sosok tidak waras tapi, ternyata Oma Aurora menggantikan posisi Alma yang sedikit aneh.


Firman segera membawa Zie ke kamarnya, Zie melihat sekeliling nya. Tak ada yang menarik dari kamar tersebut, dinding berwana hitam, tanpa dekorasi apa-apa bahkan terlihat polos, di tambah lagi tak ada meja rias.


"Ini kamar atau tahanan, sumpek amet kayak yang punya kamar!" Ejek Zie sambil berjalan semakin masuk.


Firman masih diam saja terserah bocah ingusan itu akan berkata apa, yang jelas saat ini sudah didapat.


"Pak, Zie nggak mau kita tidur satu ranjang!"


Pandangan Zie begitu tajam dan terlihat begitu dingin.


"Kita tidak akan tidur seranjang."

__ADS_1


"Bagus!"


"Aku tidur di atas tubuh mu saja!"


Wajah Zie memerah dan menahan kemarahannya, bahkan mungkin mengeluarkan tanduk dari kepala karena Firman memang sangat mengesalkan.


"Kita ini suami istri!" Firman memberikan peringatan, "kalau aku tidak menikahi mu, kau akan malu! Satu dunia akan tahu, bahkan teman-teman kampus mu, Ayah, Bunda, dan keluarga mu tidak akan sudi menganggap mu anggota keluarga mereka, jadi hargai aku sebagai seorang suami!" Tegas Firman.


Zie mendesus lemah kemudian duduk di sisi ranjang, mempertimbangkan kata-kata Firman dan membenarkan padahal tidak semua benar, sayangnya Zie masih terlalu polos dan mudah di kelabui.


"Brisik!" Zie langsung merebahkan diri lalu mengambil ponselnya, menghubungi Bundanya tapi sayang tidak satupun yang di jawab.


Seketika menjadi kesempatan bagi Firman untuk menakut-nakuti Zie, gadis polos yang bisa membuatnya bucin tingkat dewa. Sayangnya Zie terlalu bodoh sehingga tidak tahu jika sebenarnya Firman sudah berada dalam genggamannya, bahkan rela melakukan sesuatu yang di inginkan oleh Zie.


"Lihat, kan?! Bahkan Bunda mu tak mau menjawab panggilan telpon dari mu?"


Zie melirik Firman sekilas kemudian membuang wajahnya ke lain arah.


"Mandi sekarang, dan kita akan makan malam."


Firman keluar dari kamar meninggalkan Zie yang akan membersihkan diri, tak ingin berdebat saat ini melihat wajah Zie begitu lelah.


Beberapa saat kemudian Firman kembali masuk, melihat Zie sudah menggunakan piama tidur berwarna pink dengan motif hello kitty, terlihat lucu tapi sepertinya terlalu kekanak-kanakan.


"Kenapa tidak turun? Oma sudah menunggu di meja makan."


"Nggak lapar!" Zie menarik selimut dan berbalik memunggungi Firman.


"Yakin?"


"Em!" Zie langsung menutup mata dan berharap segera tertidur.


"Padahal Oma masak, soto, opor ayam, banyak lagi kalau tidak salah itu semua makan kesukaan kamu," Firman tersenyum menatap tubuh Zie yang tidur di ranjang dengan memunggungi, semua sudah di selidiki sampai makanan kesukaan sekalipun.


Menantikan Zie berbalik tapi sampai kini pun belum juga.


"Ya udah, kalau nggak mau, aku habiskan saja semuanya. Memang semenjak kemarin aku tidak makan dan sangat lapar."


Zie meneguk Saliva, sebab dirinya juga tidak makan sejak kemarin hari.


Krukkkk!!!


Perutnya berbunyi, cacing di dalamnya sudah berdemo minta di isi.

__ADS_1


Firman semakin tersenyum, tahu Zie tengah menahan lapar.


"Baiklah aku makan dulu ya."


Zie segera melempar selimut dari atas tubuh nya lalu turun dari atas ranjang, berjalan mendekati Firman.


"Kalau ngajak makan jangan setengah-setengah dong, nggak serius banget, nggak niat ya!" Cerca Zie.


"Tapi tadi kamu tidak mau."


"Paksa dikit kek, apa kek!"


Firman tidak menyangka ternyata ada yang lebih gila, tak salah dengan pilihan Zie sangat menggemaskan sekali.


"Minggir!" Zie menyenggol pundak Firman lalu melenggang pergi.


Firman menggaruk kepalanya, hanya menatap punggung Zie perlahan menjauh tapi sesaat kemudian Zie kembali muncul.


"Ruang makan di sebelah mana?


Peltak!


Firman menyentil kepala Zie karena gemas dan bisa muncul dengan sesukanya.


"Makanya jangan sok tau!"


"Di mana? Zie nggak mau mati muda akibat kelaparan, kan, nggak lucu ada pemberitaan, 'seorang wanita mati setelah di nikahi bujang lapuk karena kelaparan, akibat tak di kasih makan' nggak Enak, kan Pak?"


"Iya, makan yang banyak malam pertama butuh tenaga!"


Firman berjalan terlebih dahulu menuju meja makan.


Sedangkan Zie masih diam meresapi kata-kata Firman barusan.


"Malam pertama?" Zie bergidik ngeri dan merasa begitu horor.


"Apa lagi?!" Seru Firman dari kejauhan berbalik sejenak menatap Zie yang belum bergerak dari tempatnya.


Zie tersadar dan segera menyusul Firman, keduanya berjalan dengan Zie yang berada di belakang.


"Cucu Oma, ayo duduk dan makan ya, lapar kan?" Kata Aurora menunjuk kursi meja makan.


Zie mengangguk lalu duduk, persetan dengan malam pertama saat ini harus makan agar memiliki tenaga kuat untuk menendang Firman bila memang malam pertama itu di inginkan oleh Firman.

__ADS_1


Firman merasa menang, dan sudah memiliki Zie tapi apakah bisa menghadapi bocah aneh dan konyol itu.


__ADS_2