
"Maksud mu apa?!"
Tatapan mematikan di layangkan pada Zie, mahasiswa yang sangat suka sekali mempermalukan dirinya.
Zie memeluk perutnya, tertawa terbahak-bahak tanpa perduli pada Firman yang menatapnya begitu tajam.
"Zie!!!"
Tegur Firman dengan suara dinginnya.
Zie terdiam sejenak namun, setelah itu tawanya pecah kembali.
"Sial!"
"Bapak juga ngapain ngaku-ngaku pacar Zie!"
Zie sampai berulang kali mengetuk meja, menahan tawa yang tidak kunjung bisa reda dengan begitu saja.
Apa lagi saat melihat wajah Firman yang semakin menatapnya geram, seakan membuat Zie tertawa penuh melihat penderitaan dosennya.
"Makanya menikah Pak, biar Oma tidak mengatakan Bapak itu tidak normal, dan tidak dapat gelar bujang lapuk," Zie terus tertawa tanpa henti.
Tangannya bergerak merapikan kerah jas Firman, menepuk-nepuk beberapa bagian seakan ada noda padahal tidak.
Zie hanya mengejek Firman, dosen sialan yang sudah menjadikan dirinya alat untuk membuat dirinya sendiri aman dari perjodohan yang di persiapkan Aurora.
"Bapak Firman BL!"
"BL?" Tanya Firman bingung.
"Bujang Lapuk!"
Zie tertawa sekencangnya karena bahagia melihat wajah Firman yang menatapnya geram.
"Kalau begitu kita anak menikah!" Papar Firman.
Uhuk-uhuk.
Zie mendadak berhenti tertawa hingga membuatnya tersedak.
"Ogah!" Zie menatap Firman dengan jijik, "selera saya itu bukan Bapak, saya sudah mempunyai pacar!" Omel Zie.
"Kita akan menikah, lihat saja!"
"Siapa yang mau sama lelaki tidak normal, tidak ada! Sampai sekarang alasan bapak enggak laku karena tidak normal!" Seru Zie.
"Kau mengatakan aku tidak normal?" Firman mulai mengepalkan tangannya.
Mengapa ada wanita seperti Zie?
Sangat senang mengundang emosi nya memuncak tanpa ampun.
Bahkan detik inipun bocah ingusan ini sangat menjengkelkan.
"Ya! Ini Fakta!" Zie tersenyum penuh kemenangan seakan kekesalannya terhadap Firman terbalaskan.
Langkah kaki Firman semakin pasti, melangkah dengan tatapan tajam semakin mendekat pada Zie.
"Hey!" Zie mundur selangkah demi selangkah.
Tatapan mata Firman membuatnya bergidik, pilihan yang tepat saat ini adalah melarikan diri. Lebih baik terlambat daripada pada tidak.
Tetapi saat Zie berlari tiba-tiba ada tangan yang mencengkram erat tangannya hingga terpaksa Zie harus berada dalam ruangan tanpa bisa pergi.
"Mau kemana?" Firman menarik Zie dan menyandarkan nya pada dinding.
Firman segera menghimpit dan mengunci pergerakan Zie dengan menggabungkan kedua tangannya nya Zie di belakang tubuh kecil Zie.
__ADS_1
Zie memang tinggi, putih, dengan hidung mancung dan kaki yang jenjang.
Tetapi di bandingkan Firman Zie masih terlalu kecil sehingga tidak mungkin bisa menang.
"Bapak mau apa!!!"
"Apa saja yang kau mau!" Tantang Firman.
Zie menggerakkan tangannya berusaha melepaskan diri dari Firman tetapi nihil, sulit dan tidak berhasil.
"Pak, lepaskan! Ini sakit!" Pekik Zie.
Firman tidak perduli, ia semakin mendekat dan tanpa jarak.
"Bapak mau apa?"
Wajah Zie mulai panik saat Firman tanpa ijin menyingkirkan jarak di antara keduanya, merasakan tubuh kekar itu tanpa ada jarak.
"Hanya ingin membuktikan bahwa kau salah menilai ku!" Bisik Firman.
Zie membuang pandangannya ke arah lain, peluh semakin bercucuran karena takut Firman malah melakukan hal buruk pada nya.
"Pak! Jangan kurang ajar!"
Firman tersenyum miring.
"Mulut mu yang kurang ajar ini harus di bungkam!"
"Enak aja mulut Zie kurang ajar!" Cerca Zie, "Bapak yang kurang ajar!"
Firman semakin mendekatkan wajahnya memanggut bibir lembut Zie, tanpa perduli dengan penolakan.
Sekedar untuk membuktikan bahwa apa yang di pikirkan oleh mahasiswa sialan di hadapannya tidaklah benar.
Seringkali sudah bibir itu berucap seenak nya, mengatakan tidak normal dengan lantangnya.
Zie berusaha melepaskan diri tetapi, sulit sekali
Sial!
Kenapa bibir wanita ini begitu manis!
Firman seakan terjebak dalam permainan nya sendiri, lupa bagaimana melepaskan wanita yang kini tengah dikungkung nya.
"Pak!!"
Zie terus berusaha lepas.
Tetapi gilanya Firman semakin menjadi-jadi dengan tangan yang berkeliaran tidak terkendali.
Melesat masuk tanpa perduli, mencari benda kecil yang kini membuatnya penasaran.
"Pak lepas!"
Zie seakan menahan amarah saat tangan Firman dengan sengaja memainkan sebuah benda miliknya.
"Ini hanya pembuktian, kau diam saja! Agar mulut mu itu bungkam!" Bisik Firman.
Sial!
Firman benar-benar terjebak dalam diri Zie, awalnya hanya ingin menggertak tetapi mengapa malah sulit untuk melepas diri.
"Pak Firman jangan kurang ajar!" Pekik Zie.
Firman tidak perduli, semakin lama terasa semakin menuntut. Bibir Zie masih dalam kendalinya hingga bahkan sulit untuk di lepas.
Tok tok tok.
__ADS_1
Suara ketukan pintu membuat Firman tersadar, seketika itu juga segera menjauh walaupun dengan perasaan kecewa.
Plak!
Tangan Zie langsung melayang di wajah Firman.
"Ini sudah pelecehan, Bapak sudah melakukan tindakan kriminal!" Sergah Zie dengan jari telunjuk yang mengarah pada wajah Firman.
Sial!
Firman ingin sekali melanjutkan nya kembali tetapi, suara ketukan pintu lagi-lagi menjadi penghalang.
Tidak seberapa tamparan Zie, yang lebih menarik saat ini aroma tubuh mahasiswa yang sangat di bencinya terasa begitu menggoda.
"Saya bisa melaporkan Bapak ke penegak hukum!" Ancam Zie.
"Dan kamu akan malu, karena orang-orang tahu kalau saya sudah menyentuh mu. Bahkan saya akan mengatakan kalau sudah sering berbuat itu, kamu tidak lagi suci! Apa kamu pikir masih ada lelaki yang mau menikahi mu? Tidak ada, yang ada kau semakin malu!" Papar Firman.
Glek!
Zie terdiam dan menimbang kata-kata Firman.
Tidak mau di anggap tidak lagi suci.
Tidak rela jika orang menilainya sudah kotor.
Zie malah terlihat bingung.
"Kenapa diam?!" Tanya Firman penuh kemenangan.
"Ish!" Zie meremas kedua tangannya dan menghentakkan kedua kakinya, Firman sangat membuatnya geram.
"Itu hanya membuktikan bahwa saya normal!" Tegas Firman.
Kakinya lagi-lagi semakin melangkah maju.
"Bapak mau apa lagi?" Zie mundur selangkah demi selangkah berusaha menjaga dirinya.
"Apa kau masih berani mengatakan aku tidak normal?!"
"Enggak Pak," Zie menyilangkan tangannya di dada, "ampun Pak!" Lirih Zie.
Firman mengangkat dagu Zie dan menatap bibir nya dengan pandangan yang bergairah.
"Pak!!!"
Firman menjauh dan kembali duduk di kursi kebesaran nya, menunjukan raut wajah datar seiringan dengan pintu yang terbuka.
Zie berusaha tenang dan merapikan pakaiannya yang berantakan karena Firman sialan.
"Bos maaf, tapi anda ada rapat 5 menit lagi!" Kata Rian.
Firman tidak perduli pada rapat penting sekalipun, otaknya kini sedang berputar berpikir untuk mendapatkan gadis yang ada di hadapannya.
"Kau!" Firman menunjuk Zie.
Zie tersentak dan takut jika Firman mengatakan pada Rian bahwa barusan ia sudah di pegang-pegang oleh Firman.
Firman tersenyum penuh misteri saat mengetahui ternyata mahasiswa nya sangat polos.
"Keluar!"
Zie segera pergi dengan secepat mungkin.
"Cari tahu siapa Ziezie Z! Aku mau dalam waktu dekat ini hasilnya!" Titah Firman, "dan aku ingin memilikinya!"
Rian shock mendengar nya.
__ADS_1