
Dengan gerakan cepat Firman menendang wajah Jio, bahkan belum selesai mengatakan kalimat ancaman yang seharusnya keluar dari mulutnya.
Jio terbanting membentur dinding dan berakhir terkapar di lantai.
Firman segera beralih menatap Zie, wajah memar hingga mengeluarkan cairan merah pada sudut bibirnya benar-benar membuat Firman murka.
Zie masih terlalu penting, sehingga lebih memilih untuk membawa Zie keluar dari rumah tersebut.
"Kau akan membayar mahal!"
Firman menendang dada Jio, hingga kembali terjatuh. Baru saja berusaha bangun tetapi, sudah terkapar kembali.
***
Firman membersihkan wajah Zie, setelah di periksa oleh dokter baru lah Firman merasa lebih baik.
Sesaat kemudian Zie tersadar, seketika itu juga melompat dari atas ranjang sambil mencengkram erat selimut di bagian dadanya.
Zie panik merasa takut jika, Jio sudah melakukan hal kotor padanya. Mungkin saja itu sudah terjadi saat tengah tak sadarkan diri, pikirnya.
"Kamu sudah sadar?" Tanya Firman.
Zie menatap sekitarnya, merasa tak asing dengan kamar tersebut.
Zie tersadar kini berada di rumah Firman, kamar bernuansa hitam pekat itu cukup dikenalinya.
Kemudian, Zie menatap tubuhnya dengan perasaan cemas. Benar-benar takut jika saja Jio susah menodainya.
"Pak, Zie mau pulang ke rumah Ayah. Zie takut. Tapi, apa Ayah mau menerima Zie?"
"Ada aku di sini," Firman memeluk Zie yang cukup ketakutan, mungkin saja trauma karena, kekerasan yang baru saja di alaminya.
"Pak, Zie udah di apa-apain ya, Pak?" Zie begitu ketakutan sehingga terus menangis tanpa henti.
"Tidak ada yang di lakukan nya pada mu."
"Tapi, dia udah sempat peluk Zie. Zie takut Pak, gimana kalau.....Kan Zie lupa, apa Zie pingsan? Bisa aja, kan Pak?" Zie memeluk Firman dengan erat.
Rasa takutnya begitu besar, pertama kalinya Zie mengalami peristiwa yang sangat membuatnya ketakutan.
Pikiran buruk terus saja menghantuinya.
"Kamu tidak apa-apa, aku jamin."
Zie perlahan menjauh dari Firman, naik ke atas ranjang dan masuk ke bawah selimut dengan tubuh gemetaran.
Bayangkan saja jika benar Jio sudah menodai dirinya, mungkin Zie akan merasa jijik pada dirinya sendiri.
Ingin sekali Firman mengubur Jio hidup-hidup, melihat istrinya mengalami trauma karena, kekerasan yang baru saja di terima oleh Zie.
"Dia, akan membayar ini semua," gumam Firman.
Beberapa jam kemudian Zie terlelap, akan tetapi, bibirnya terus mengigau, sesekali berteriak meminta tolong karena, ketakutan.
__ADS_1
Mungkin insiden siang tadi benar-benar membuatnya menjadi trauma.
Firman memegang dahi Zie yang terasa panas, tanpaknya kini bocah ingusan itu demam.
Bibirnya sesekali memanggil Ayah nya yang mungkin juga sudah sangat di rindukannya.
Firman mengerti dan mungkin besok hari bisa membawa Zie bertemu dengan keluarganya, agar mengobati sedikit rasa takutnya.
Setelah menjaga Zie semalaman akhirnya Firman tertidur juga, saat waktu sudah subuh tiba dengan Zie yang memeluknya erat.
Zie terbangun, seketika melihat wajah Firman begitu dekat dengan nya. Kemudian merasa ada benda di kepalanya.
"Handuk?" Zie mengambil handuk tersebut lalu, bangun.
Sesaat kemudian terdengar suara benda terjatuh, Zie panik seketika masuk ke bawah selimut kembali.
"Tidak ada apa-apa," Firman tahu tanpaknya Zie masih begitu trauma.
"Pak, Zie pulang ke rumah Ayah, ya." Lirih Zie dengan ketakutan.
"Iya," Firman tak ingin egois. Sekalipun sebenarnya tidak bisa berjauhan dari Zie.
"Tapi, apa Ayah masih marah sama Zie?"
"Nggak mungkin, pasti dia sudah memaafkan kamu," sulit sekali Firman memanggil Vano dengan sebutan Ayah.
Rasanya bibirnya masih terlalu kaku untuk panggilan Ayah pada mantan saingannya tersebut.
"Tapi sebaiknya tidak usah pulang dulu, aku tidak mau nanti di anggap tidak bisa melindungi mu. Aku ini lelaki, tentunya akan melakukan berbagai cara untuk melindungi istri ku."
"Tapi Zie mau Ayah."
"Aku juga mau-" jawab Firman tanpa sadar.
"Bapak mau Ayah juga?" Tanya Zie bingung.
Firman ingin sekali mengetuk kepala istri bocahnya, tapi, sayangnya istrinya tersebut sangat menggemaskan.
"Mulai hari ini kamu harus menurut, bahkan ikut kemanapun aku pergi."
"Nggak mau! Zie nggak mau di ejek temen-temen. Bapak cuman bisa bikin Zie malu, ini terjadi juga karena, Bapak!"
"Kenapa menyalah aku?"
"Gara-gara Bapak, Zie di ejekin!!!" Teriak Zie, "Zie mau cerai aja, Zie nggak mau di ejek!!"
"Kamu mau jadi janda?"
Zie terdiam menimbang pertanyaan Firman, menyadari status nya bukanlah seorang gadis lagi setelah bercerai. Melainkan seorang janda.
"Kenapa diam?"
Zie menunduk dan menangis, meratapi nasibnya yang kini.
__ADS_1
Firman menyesal sudah berdebat dengan Zie, seketika turun dari ranjang dan menghampiri Zie.
"Zie nggak mau dekat-dekat, sana jauh-jauh! Mungkin juga Zie udah di apa-apain! Ini gara-gara Bapak! Kenapa sih, sejak nikah sama Bapak nasib Zie sial terus?!"
"Sekarang kamu mandi, lalu sarapan."
"Nggak mau."
"Ayolah Zie, menurut sekali ini saja. Jangan sampai aku yang memandikan mu."
Dengan terpaksa Zie harus menuruti keinginan Firman, seketika masuk ke dalam kamar mandi.
Saat sedang melilitkan handuk tiba-tiba botol shampo terjatuh, Zie seketika berlari keluar dari kamar mandi.
"Kamu kenapa?"
"Nggak papa," napas Zie benar-benar terdengar, dengan dada yang naik turun.
Kemudian ia menuju almari dan memakai pakaiannya.
"Kamu di rumah saja, aku ada urusan," pamit Firman.
Zie mengangguk mengerti, setelah selesai sarapan langsung kembali memasuki kamar dan mengunci pintu kamar.
***
Firman kini sampai di sebuah gudang, di mana barang-barang tak terpakai berada di sana.
Tak lupa Jio juga duduk di atas kursi, dengan kedua tangannya yang terikat.
Seketika Firman menyiram air satu ember penuh pada Jio.
Jio tersadar, seketika menatap ke depan.
"Ambilkan gunting pemotong rumput," pinta Firman pada Rian.
Rian memberikan dengan segera, Rian sudah tahu seperti apa Firman.
"Kamu siapa?" Tanya Jio ketakutan.
"Kau tak tahu siapa aku?" Firman tersenyum miring sambil menggerakkan benda di tangannya, "aku suami Zie, kini kau tahu bukan siapa aku?"
Jio melihat penampilan Firman jauh berubah, jika biasanya cupu maka kini terlihat begitu gagah.
Tak menyangka ternyata Firman bukan lelaki cupu seperti apa yang selama ini di lihatnya.
"Ada berapa jari-jari yang menyentuh istri ku?"
Jio merasa ketakutan melihat wajah Firman saat ini.
"Apa yang akan kau lakukan?!" Tanya Jio panik.
"Tidak ada, hanya ingin menghilangkan tangan kotor mu yang sudah lancang membuat wajah istri ku membiru!"
__ADS_1
Jio ketakutan setengah mati, bagaimana bila tangannya hilang karena, Firman.
Tapi, Firman tanpaknya tak segan melakukan nya.