Mantan Jadi Mertua

Mantan Jadi Mertua
Bab 39


__ADS_3

Seharian penuh Zie berada di dalam kamar, tanpa berani membuka pintu. Dirinya benar-benar trauma atas kejadian kemarin yang baru saja menimpa dirinya.


Di tambah lagi Zie baru tinggal di rumah Firman selama 2 Hari ini, membuatnya belum mengenal orang-orang yang bekerja di rumah besar tersebut.


Zie takut orang-orang tersebut akan menyakitinya, sehingga lebih memilih berada di dalam kamar saja.


Sore harinya hujan turun dengan derasnya, suara gemericik hujan terdengar keras. Bahkan suara petir pun bersahut-sahutan.


Saat itu tiba-tiba saja listrik padam, Zie semakin ketakutan saat sekitarnya mulai gelap.


Tak ada lilin sama sekali, hingga mendengar suara ketukan pintu.


Zie tidak membukanya sama sekali, dirinya takut jika listrik padam karena, ada orang jahat yang sengaja melakukan hal tersebut.


Mungkin juga Jio yang balas dendam padanya karena, kemarin sudah memberontak.


Pikiran Zie semakin tidak karuan, entah mengapa mendadak menjadi wanita lemah.


Zie masuk ke bawah kolong tempat tidur, bersembunyi di sana berharap tak ada yang menemukan nya.


Pintu terbuka, sesaat kemudian lampu menyala. Firman menatap setiap sudut kamarnya, mencari keberadaan Zie saat ini.


"Zie," panggil Firman.


Zie tersadar mendengar suara Firman, seketika itu berusaha keluar tapi, tidak bisa.


"Pak, Firman. Tolongin Zie," seru Zie sambil menangis, tubuhnya terhimpit hingga tak dapat bergerak.


Firman mendengar suara Zie dari bawah kolong tempat tidur, seketika mengintip kebawah dan benar saja ada Zie di bawah sana.


"Pak, sakit," lirih Zie sambil menangis.


Dengan segera Firman mengangkat ranjang hingga Zie merangkak keluar dari sana.


Setelah itu berdiri sambil merasakan punggungnya yang terasa sakit.


"Kenapa ada di sana?"


"Zie takut, gimana kalau Jio datang. Atau orang bayarannya?!"


Sial.


Bibir manyun Zie malah terlihat menggemaskan, bagaimana bisa berjauhan dengan Zie jika istri bocahnya itu begitu menggemaskan.


"Tidak ada, dia tidak akan pernah bisa menyakiti mu. Apa lagi berani bertemu dengan mu."


Firman melihat wajah Zie yang masih memar, seketika memegangnya.


"Sakit Pak!"


"Kenapa kamu tidak keluar dari kamar seharian, tidak makan, bahkan mengunci pintu?"


"Nggak papa," Zie tidak mau di anggap lemah oleh Firman, memilih diam tanpa mengatakan rasa takutnya.


"Em."


"Pak, Zie lapar."

__ADS_1


Firman tak tega memarahi Zie, segera memegang tangan Zie dan membawanya menuju meja makan.


"Oma mana?" Zie tak melihat Aurora hingga membuatnya bertanya-tanya.


"Pagi tadi Oma berangkat ke luar negeri, Oma sedang menjalani pengobatan di sana."


"Em." Zie mangguk-mangguk sambil terus menatap makanan.


"Ayo makan, jangan sampai mati kelaparan!"


"Bapak apa, sih. Doa nya gitu banget."


"Cepat makan."


"Iya."


Selesai makan malam Zie dan Firman kembali ke kamar, Zie merebahkan dirinya di atas ranjang.


Sedangkan Firman segera mengganti pakaiannya dengan pakaian rumahan yang lebih membuatnya menjadi terlihat segar.


"Bapak mau ke mana?" Zie panik saat melihat Firman akan keluar.


Firman diam dan menatap Zie.


"Apa kamu tidak bisa jauh dari suami mu yang tampan ini?"


"Apaan, sih! Nggak jelas banget! Ya, udah sana pergi!" Kesal Zie sambil melemparkan sebuah bantal.


Firman segera keluar dari kamar, meninggalkan Zie yang semakin kesal pada Firman.


"Pak, kok di sini, sih?!"


Zie berpikir Firman pergi entah kemana, ternyata hanya berada di sofa di depan kamar.


"Kenapa? Kamu tidak bisa jauh dari ku?" Firman begitu fokus dengan laptopnya, bahkan menjawab pertanyaan Zie saja tanpa beralih dari laptop nya.


"Enak aja," Zie duduk di sofa lainnya, menutupi rasa takutnya, "Pak, Zie boleh pinjam ponselnya nggak?"


Ponsel Zie hilang entah ke mana, bersama dengan tas kecilnya. Tapi, Zie terakhir kali memegangnya saat berada di rumah Jio.


Kemungkinan besar ponsel dan tas kecilnya tertinggal di sana.


Firman memberikan ponselnya pada Zie, Sesaat kemudian Zie mengembalikannya setelah selesai menggunakan nya.


Dirinya mendesus kesal sebab, ponsel Alma tak bisa di hubungi. Tanpaknya Alma pun di hukum karena, kesalahan yang sudah mereka lakukan.


Firman masih fokus pada laptopnya tetapi, tiba-tiba melihat Zie yang sudah terlelap di sofa.


Awalnya memilih keluar dari kamar sebab, tidak ingin membuat Zie terganggu istirahat.


Namun, justru Zie ikut keluar dari kamar dan terlelap di sofa.


Firman tahu Zie masih takut karena, kejadian kemarin hari, sehingga Firman tidak bekerja di ruang kerjanya. Dan memilih berada di depan kamar.


Firman mengangkat tubuh Zie, membaringkan di atas ranjang dengan perlahan. Setelah menyelimuti segera keluar.


Waktu terus berlalu, hingga malam semakin larut.

__ADS_1


Zie terbangun dan melihat sekiranya, segera ia keluar dari kamar.


Ternyata Firman masih berada di depan kamar.


"Kenapa bangun?" Tanya Firman saat melihat Zie.


"Nggak papa," Zie menatap Firman dengan berusaha untuk tenang, dekorasi kamar Firman serba hitam membuat Zie merasa horor.


Hingga membuat rasa takutnya semakin jadi-jadi.


"Ya, udah. Tidur sana."


"Pak, pintunya di buka aja, ya. Nggak usah di tutup gitu."


Firman terdiam sambil melihat raut wajah Zie, kedua tangan wanita itu meremas baju bagian bawahnya.


"Ayo tidur," Firman tahu Zie sengaja meminta pintu di buka karena, ia takut.


Seketika itu lebih memilih masuk ke dalam kamar dan menemani Zie untuk tidur.


Zie mengangguk kemudian ikut naik ke atas ranjang setelah Firman.


"Pak, besok cat kamarnya sama isi kamarnya di rubah ya, Zie takut tau Pak. Itu juga," Zie menunjukkan sebuah fhoto di dinding.


Sebuah gambar monster yang sangat menyeramkan.


"Terserah pada mu saja."


"Pak, nggak ada niatan gitu kasih Zie nafkah?"


Firman menatap Zie dengan menaikkan sebelah alisnya.


"Maksud Zie, nafkah uang gitu, lho Pak," Zie mengulangi kata-kata nya, agar Firman tidak berpikir bahwa dirinya menginginkan nafkah batin.


Saat ini Zie tidak tahu meminta uang pada siapa, pulang ke rumah kedua orang tuanya pun sebenarnya Zie tidak memiliki keberanian.


"Tidur, sudah malam."


Zie mendesus kemudian, menutup matanya. Sepuluh detik kemudian kembali terlelap dalam tidur.


Firman pun ikut terlelap sambil memeluk Zie, tak menyangka bisa tidur satu ranjang dengan bocah ingusan tersebut.


Pagi harinya Zie terbangun, tak melihat Firman di sampingnya. Terapi, telinganya mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi, sesaat kemudian Firman keluar.


"Kamu udah bangun?"


"Dah, tau nanya," ketus Zie.


"Mau di kasin nafkah tidak?" Tanya Firman tak mau kalah.


"Mau, lah. Masa udah nikahin anak orang nggak di kasih jatah uang bulanan."


"Ini," Firman meletakan beberapa kartu pada ranjang, "jangan lupa jatah ranjang," goda Firman.


"Nggak usah main jatah bulanan kalau gitu!" Zie melompat dari atas ranjang dan cepat-cepat masuk ke dalam kamar mandi.


Firman tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan istri polosnya tersebut.

__ADS_1


__ADS_2