Mantan Jadi Mertua

Mantan Jadi Mertua
Bab 29


__ADS_3

Ponsel Zie berdering dengan segera ia melirik layar ponselnya, tertulis nama pujaan hatinya.


"Jawab, dan putuskan hubungan kalian!" Kata Firman dengan enteng.


Membaca nama Jio dengan emoji hati, membuat emosi Firman mendidih. Sekalipun tidak langsung mengatakan bahwa ia cemburu.


"Bapak, apasih?! Nggak jelas banget, ini masalah privasi, ya!" Zie mencoba turun dari pangkuan Firman.


"Pilih putus atau panggil orang tua?" Tawar Firman dengan santai.


Zie mendesus dan menatap wajah Firman dengan malas.


"Duduk," pinta Firman santai sambil menunjuk pahanya.


"Pak?" Zie menangkup kedua tangannya berharap Firman iba padanya.


"Pintunya ada di sana dan ini surat-" Firman menarik laci dan ingin mengeluarkan sebuah surat.


"Okey, Zie putus sama Jio," Zie panik dan menduga itu adalah surat yang akan di kirimkan untuk orang tuanya.


Zie tidak mau, ia masih ingin berkeliaran dengan bebas.


Firman kembali menutup laci tanpa mengambil apapun karena, memang tidak ada surat untuk pemanggilan orang tua Zie.


Dalam hati bersorak, gadis polos itu sukses membuat nya menjadi gila.


"Duduk!" Firman dengan santai tanpa rasa bersalah menunjuk pahanya.


"Bapak kenapa namanya Firman sih?!" Tanya Zie dengan malas sambil duduk kembali di pangkuan Firman.


Firman ingin tertawa mendengar pertanyaan Zie.


"Firman itu bagus, bahkan sangat bagus," ujar Zie.


"Bagus kalau kau sadar, seperti orang nya bukan? Ketampanan ini sangat menyiksaku," kata Firman dengan bangga.


"Tampan? Huekkkk!!!!Justru nama bapak nggak cocok Firman, cocoknya Firaun!" Papar Zie.


"Kau ini memang ya," Firman memasukan kepala Zie kedalam ketiak, agar gadis nakal itu tidak lagi berbicara asal.


"Ahahahhaha, bau Pak!!!" Seru Zie di iringi tawa yang menggelegar.


Semakin Zie tertawa lebar semakin membuat Firman tidak karuan, perasaan ingin memiliki Zie semakin bertambah kuat hingga membuatnya semakin berpikir keras cara agar mendapatkan Zie tanpa ada penolakan dari Vano dan Zivanya.


"Bapak, ngapain liatin Zie begitu, Zie memang cantik dan tidak ada yang menandingi kecantikannya Zie kecuali Bunda, kata Ayah begitu."


Firman menarik hidung Zie dengan gemas, mulut komat-kamit Zie membuat Firman tak bisa beralih.


"Bapak beruntung bisa mangku gadis tercantik nomor dua," kata Zie lagi dengan bangganya.

__ADS_1


"Nomor dua?" Firman malah penasaran.


"Iya, di rumah Zie paling cantik nomor dua, karena Ayah dan adik Zie semua laki-laki," jelas Zie sambil tertawa.


Firman diam dengan wajah datar hingga membuat Zie kesal.


"Ketawa kek, garing banget sih!!!" Pekik Zie sambil menarik jambang tipis Firman.


"Sakit!"


"Biarin!" Jawab Zie dengan bangga.


"Kamu berani minum ini," Firman mengeluarkan satu botol minuman dan meletakan di atas meja dengan sebuah gelas.


Zie menatap minuman perlahan di tuangkan Firman pada gelas, dan mengangkatnya.


"Berani minum ini?" Firman langsung meneguknya dan menunjukan gelas kosongnya pada Zie.


Zie tahu itu minuman apa tetapi, belum pernah satu kali pun mencoba. Tapi jika Firman tahu ia tidak pernah mencoba tentu harga dirinya akan sangat rendah.


"Sering," bohong Zie.


Firman tersenyum samar, tau bocah ingusan itu sedang berbohong, tapi tidak masalah asalkan tujuannya bisa tercapai.


"Waw, benarkah?"


Firman seakan kagum, tangannya kembali menuangkan minuman ke dalam gelas.


Zie meneguk saliva dan bingung cara menolaknya bagaimana.


"Bocah, mana berani," Firman tersenyum penuh kemenangan dan meneguk untuk kedua kalinya.


Kemudian ia menatap Zie dengan meremehkan.


"Zie udah besar, Bapak jangan terus panggil Zie bocah!" Zie tidak akan menyerah begitu saja, begitu juga saat ini.


"Benarkah?" Ejek Firman.


"Lihat ini?" Zie mengambil botol minuman dan meneguknya dengan cepat, "hueekkkk!" Zie ingin muntah, rasa minuman itu sangat aneh tapi, mengapa banyak orang menyukainya.


"Sudahlah, katakan saja kau tidak pernah meminumnya, dasar bocah ingusan!"


Dengan cepat tangan Firman merebutnya kembali.


Zie tidak terima dan langsung meneguknya dengan cepat, menahan rasa nya yang sangat aneh.


Bahkan Firman yang mendadak menegang, merasa was-was.


"Lihat kan!" Zie bangun dari pangkuan Firman, ia berjalan dengan tidak seimbang, "Zie bukan bocah."

__ADS_1


Firman juga cepat-cepat berdiri menahan tubuh Zie yang tidak bisa berdiri tegak.


"Hidung bapak kok jadi bengkok, terus mata Bapak jadi empat," Zie tertawa terbahak-bahak melihat wajah Firman mendadak aneh.


Firman mendudukkan Zie di kursi kebesaran nya.


"Pak, Firman bujang lapuk kok punya mulut kayak cocor bebek?" Zie tertawa semakin kencang, melihat wajah Firman yang berubah-ubah.


"Dasar bocah edan, ngakunya sering minum."


"Zie, aman kan Pak, aman dong?" Tanya Zie dengan bangga.


"Aman apanya, kamu itu sudah teler, baru minum," Firman menatap botol minuman sisa di atas meja, "dia menghabisi dalam sekali tarikan napas?" Firman hanya bisa menggaruk kepalanya, mungkin ini yang pertama dan terakhir Zie meminumnya batin Firman.


***


Zie tertidur pulas sambil memeluk Firman, menjadikan dada bidang Firman sebagai bantalnya.


"Em," Zie mulai membuka matanya, tanpa sengaja ia menatap jam dinding.


Mata Zie melebar seketika setelah melihat jam menunjukkan pukul 20 : 00 seketika ia mengingat sebelum nya ia berada di kantor.


"Ya ampun!" Dengan gerakan cepat Zie bangun tapi tunggu, Zie merasa ada yang aneh, seketika ia menatap ke tubuhnya yang tertutup selimut.


Mata Zie melebar melihat diri tanpa sehelai benang pun, kemudian ia menatap ke samping ada Firman yang terlelap.


"Aaaaaa!!!!" Teriak Zie histeris.


Buk!


"Brisik!" Firman melempar sebuah guling tepat mengenai wajah Zie.


"Pak, kenapa Zie ada di sini, apa yang sebenarnya terjadi?" Setelah menyadari bahwa ia dan firman sama sekali tak mengenakan sehelai benang pun.


Dengan mencoba mengingat apa yang sudah terjadi tetapi tidak bisa sekuatnya pun mencoba tetap tidak satupun yang terekam di memori nya.


"Kau jangan berlaga lupa kau yang memaksanya tadi bukan?" jelas Firman dengan suara berat dan tertahan.


"Mana ada! Pasti Bapak yang udah ngapa-ngapain Zie, ya, kan?!" Zie tidak terima karena merasa sudah dijebak oleh Firman.


Zie menangis sejadi-jadinya merasa ketakutan yang tidak bisa dikendalikan, apa yang sudah terjadi pada dirinya sebenarnya tidak perlu dijelaskan lagi dengan sejelas-jelasnya keadaan keduanya tanpa sehelai benang di bawah selimut sudah menjelaskan segalanya.


"Sekarang kamu menyalahkan saya tadi kamu yang menggoda saya saat sedang mabuk, jangan lupakan itu. Saya tidak memaksa kamu untuk meminum minuman itu kamu sendiri yang meminumnya!"


"Pak apa Kita udah?"


"Bagaimana harus aku menjelaskannya kau sendiri yang memintanya! Bahkan kau yang merayuku memaksaku hingga sampai di sini dasar wanita aneh!"


"Enggak mungkin!!!!' Seru Zie histeris sambil menangis ketakutan.

__ADS_1


"Tidak usah takut, aku akan segera menikahi mu!"


__ADS_2