Marriage With Dosen

Marriage With Dosen
Episode 13


__ADS_3

Stella berjalan dengan kesulitan dan menggerutu karena Bu Fanni, salah satu Dosennya yang menurutnya sangat menyebalkan memintanya membawakan beberapa buku ke dalam ruangannya. Selama perjalanan ia terus saja menggerutu sampai tak melihat jalanan yang ia pijak.


"Whuaaaaa!" ia memekik kaget saat sebelah kakinya anjlok karena tak sadar itu tangga membuat semua buku yang dia bawa berhamburan ke bawah tangga dan tubuhnya hampir saja ikut jatuh ke bawah kalau saja tangan kekar seseorang tidak menarik pergelangan tangan Stella dan menariknya hingga kepala Stella mendarat mulus di dada bidang seseorang.


Stella yang masih syock dan kaget hanya bisa mengatur nafasnya seraya memeluk erat tubuh ramping nan kekar di depannya. Tubuhnya mendadak panas dingin dan merinding, hampir saja ia terjatuh dari tangga dan entah akan bagaimana nasibnya.


"Sudah lebih baik?" seruan itu menyadarkannya ke dunia nyata. Dengan cepat Stella menengadahkan kepalanya dan tatapannya langsung beradu dengan suaminya.


"Dosen TMII!" pekiknya segera melepaskan pelukannya dan mundur menjauh. "Kenapa kau memelukku?"


"Bukan aku yang memelukmu, tetapi kamu sendiri yang memelukku. Dan lagi, tidak bisakah kau mengucapkan terima kasih, karena baru saja aku menyelamatkan nyawamu," ucap Adrian dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.


"Aku tak yakin kau ingin menyelamatkanku, mungkin kalau ini bukan di kampus, kau pasti akan mendorongku atau membiarkanku terjatuh supaya kamu bisa menjadi duda dan mencari wanita lain."


"Kamu keberatan?" tanya Adrian.


"Keberatan apa?" tanya Stella masih sewot.


"Apa karena ciuman pertamamu sudah aku dapatkan, dan sekarang kamu mulai posesife padaku dan takut aku mencari wanita lain?" tanya Adrian dengan senyuman paling menyebalkannya.


"Wha-what?" ucap Stella mendadak gugup saat kembali diingatkan soal ciuman mereka kemarin. "Tidak!"


Stella langsung memalingkan wajahnya karena merasa sangat gugup dan ia tak ingin Adrian menyadarinya.


"Benarkah?" tanya Adrian menaikkan sebelah alisnya.


"Benar! jangan ke geeran yah dosen Tmii, sesuai perjanjian kita tak boleh ikut campur kehidupan masing-masing. Dan akan aku buktikan kalau aku tidak menyukaimu dan bahkan bisa berkencan dengan pria yang jauh lebih tampan dan muda darimu!" ucapnya berapi-api.


"Begitukah? kalau begitu aku tunggu kabar baiknya," ucap Adrian menahan senyumannya.


"Kenapa ekspresimu begitu? Kamu meragukanku kalau aku bisa mendapatkan pria kencan lebih tampan darimu!" sewot Stella.


"Kamu juga mulai posesife dengan ekspresi wajahku? Apa aku harus menampilkan wajah cute di depanmu?" tanya Adrian menggoda Stella.

__ADS_1


"Kau terlalu percaya diri!" ucap Stella semakin kesal dan berlalu pergi menuruni tangga untuk memunguti buku yang tadi jatuh.


"Lain kali kerjakanlah segala sesuatu dengan ikhlas supaya menjadi pahala, jangan selalu mengeluh dan menggerutu," seru Adrian yang melewati Stella yang tengah memunguti buku. Adrian berlalu pergi tanpa membantu Stella.


"Huh! dasar dosen TMII, doain jomblo seumur hidup dan jadi bujangan lapuk!" ucap Stella. "Eh, tapi kan gue istrinya. masa iya dia di sebut jomblo."


"Tau ah!" gerutu Stella dan beranjak membawa semua bukunya itu.


***


"Adrian!" seruan itu menghentikan langkah Adrian yang baru saja hendak pergi meninggalkan meja informasi di AMI Hospital.


"Andara?" tanya Adrian berusaha meyakinkan.


"Astaga kau melupakanku, jahat sekali." Wanita berparas cantik memiliki wajah khas Indonesia Amerika itu terkekeh dengan rambut pirangnya yang diikat kuda.


"Dara, apa kabar?" tanya Adrian tersenyum lebar dan siapa sangka wanita di panggil Andara itu langsung memeluk Adrian.


"Miss you so much," bisiknya membuat semua suster dan beberapa orang yang berlalu lalang melihat ke arah mereka.


"2 hari yang lalu, aku mendapatkan surat rekomendasi untuk bekerja di sini. Dan tanpa pikir panjang aku langsung menerimanya," kekeh Andara dengan ceria.


"Dan baru mengabariku hari ini?" tanya Adrian memicingkan matanya.


"I'am sorry, kau tau saat datang ke Indonesia aku sudah di sibukkan dengan berbagai dokumen dan persyaratan yang harus aku urus mengenai perpindahanku ke Indonesia. Well, baru kali ini kita berjumpa," ucapnya dengan wajah menyesal.


"It's oke," ucap Adrian.


"Sudah lama sekali kita tak bertemu, kamu tau aku kangen banget," ucap Andara tersenyum lebar.


"Aku juga," jawab Adrian. "Kita lanjut berbincang di ruanganku. Kamu sibuk?"


"Let's go," kekehnya.

__ADS_1


Mereka berdua berlalu pergi meninggalkan tempat itu, dan menyisakan keribukan dari para suster dan perawat di sana. Pasalnya putra dari pemilik rumah sakit itu jarang sekali berbincang seakrab itu dengan salah seorang wanita di rumah sakit, selain saudaranya. Dan ini menjadi hot gosip untuk mereka karena Adrian bersikap berbeda. Mungkinkah dokter baru itu adalah kekasihnya.


"Coffee?" tawar Adrian.


"Yes, please." Adrian berjalan ke meja sudut yang berada di belakang kursi kebesarannya, ia memasukkan biji kopi ke dalam mesin pembuat kopi dan menuangkannya ke dalam 2 gelas.


"Aromanya wangi sekali, kamu masih mengingat kesukaan kita," ucap Dara.


"Ya begitulah," ucap Adrian menyodorkan gelas berisi kopi ke Andara dan dia ikut duduk di sofa tepat di hadapan Andara.


"Jadi apa di sini kau berhasil menjadi ketua tim operasi?" tanya Dara.


"Begitulah. Kamu sendiri, bagaimana?" tanya Adrian.


"Ehmm, aku akan menjadi anestesimu nanti pak ketua," kekehnya.


"Oh ya? benarkah itu?"


Dara mengangguk antusias. "Papamu yang merecomendasikan aku untuk menjadi anestesi di sini. Tetapi mungkin harus belajar dulu sebelum ikut terjun bersamamu di ruang operasi."


"Memang benar di sini kekurangan spesialis anestesi, itu juga terkadang menghambat jalur operasi apalagi kalau semua tim penuh."


"Aku senang bisa bekerjasama denganmu lagi, kita bisa bersama lagi seperti dulu saat kuliah." Adrian mengangguk diiringi senyuman lebarnya. Darapun ikut tersenyum dengan tatapan yang tak lepas dari mata Adrian.


***


Stella terus mondar mandir di dalam apartement, ia masih geram dengan ucapan Adrian tadi siang.


"Dosen itu sungguh meremehkanku, dia pikir dia tampan apa?" Stella berpikir sejenak. "Ya, aku akui memang dia tampan, tapi dia itu menyebalkan! camkan, tampan tapi sangat menyebalkan, ada nilai minusnya. Dan aku harus bisa mencari laki-laki yang sempurna tanpa cacat biar dosen mesum itu sadar diri siapa dia, berani sekali meremehkan seorang Stella!"


"Tapi," Stella menghentikan langkahnya dan wajahnya berubah lesu. "Di jaman ini bagaimana mencari pria yang sempurna tanpa cacat? Adakah yang mau merecomendasi?"


"Tidak Stella, jangan menyerah dulu. Kau pasti bisa mendapatkannya, ya dan harus bisa!" ucapnya penuh tekad.

__ADS_1


***


__ADS_2