
Nicho
Kamu dimana?
Me
Sudah di tempat makan, kamu dimana dan pakai baju apa?
Stella tengah mengintip di luar restaurant Jepang di salah satu mall. Ia sengaja belum masuk ke dalam dan ingin tau dulu bagaimana wajah teman kencannya itu hari ini. Saat mendengar suara pesan masuk, ia segera membukanya.
Nicho
Aku baru saja masuk, aku yang pakai hoddie warna biru.
Mata awas Stella berpencar menyusuri seluruh penjuru restaurant untuk mengetahui dimana pria bernama Nicho itu berada.
"Stella."
Panggilan itu mengagetkan Stella dari keterfokusannya. Ia langsung berbalik dengan sedikit meloncat dan mengusap dadanya sendiri karena kaget.
"Pak Dosen TMII!" pekiknya.
"Sedang apa kamu di sini?" tanya Adrian memicingkan matanya.
"Aku, aku sedang jalan-jalan saja," kekehnya.
"Benarkah?" tanya Adrian menatap sekeliling Stella. "Sendirian?"
Stella menganggukan kepalanya membuat Adrian semakin curiga. Stella sedikit melirik ke dalam restaurant dan membelalak lebar melihat pria memakai hoddie berwarna biru.
'Astaga amsyong, itu Nicho kenapa mukanya jadi kayak gilingan kue, banyak ukiran di wajahnya.' batin Stella.
Adrian mengikuti arah pandang Stella. "Oh, sedang kencan?"
Stella segera melihat ke arah Adrian dan menggelengkan kepalanya dengan segera. "Tidak!"
"Jangan bohong, seleramu unik juga," kekeh Adrian dengan nada mengejek membuat Stella kesal sendiri.
"Bukan!" pekik Stella dengan kesal dan berlalu pergi meninggalkan Adrian. Adrian hanya tersenyum dan berjalan mengikuti Stella.
"Angkat dong telponnya, kasian kan dia menunggumu terlalu lama," goda Adrian membuat Stella mendengus kesal.
"Kenapa Bapak terus mengikutiku?" tanya Stella.
"Memang kenapa? Oh aku tau, kamu malu yah karena aku ada di sini. Baiklah aku akan pergi, selamat berkencan," goda Adrian dengan jelas sekali memperlihatkan senyuman gelinya semakin membuat Stella kesal setengah mati.
Tanpa kata kini Stella yang mengikuti Adrian. "Kenapa?" tanya Adrian.
"Aku mau pulang!" Adrian hanya terkekeh saja melihat sikap Stella.
***
"Stella sayang, ini Mama buat kue kering," ucap Thalita menghampiri Stella yang duduk di ruang keluarga sambil membuka album-album yang ada di sana.
Stella tampak tersenyum pada Thalita yang kini duduk di sampingnya dan menyimpan nampan berisi kue dan minuman di atas meja.
"Itu foto zaman anak-anak Mama masih kecil," ucap Thalita membuat Stella semakin antusias membuka dan melihat-lihat.
__ADS_1
"Ini Kak Leonna dan Kak Leon yah Ma, ih lucu sekali mereka," kekeh Stella saat melihat foto Leon dan Leonna yang tampak lucu.
"Iya, itu saat mereka berusia 2 tahun."
"Kak Leon sudah tampan dari kecil yah Ma, inikah yang dinamakan tampan dari sejak lahir?" pertanyaan Stella membuat Thalita terkekeh.
"Kamu tidak penasaran dengan Adrian saat kecil?" tanya Thalita.
"Ada yah, mana Ma?" tanya Stella tampak antusias.
"Sebentar, ada di album satunya lagi. Itu sih milik twin semua," ucap Thalita mengambil album kecil bersampul hitam gold.
"Nah ini dia." Thalita menunjukkan foto Adrian saat kecil.
"Emm," gumamnya mengambil album itu dan membuka-buka setiap lembarannya.
"Ini, Huahahahahahahaha" tawa Stella meledak seketika. "Aduh, maaf Ma, ini beneran pak Dosen?" tanya Stella menunjuk pada potret seorang anak laki-laki berbadan gemuk dengan kepala pelontos, dia tampak cemberut dengan mulut penuh makanan, sunggu menggemaskan.
"Iya, dulu Adrian memang gemuk, berbeda dengan sekarang." Thalita berucap dengan lembut.
'Gak nyangka dulu Pak Dosen mirip boboho,' batin Stella.
***
Stella masuk ke dalam kamar dan melihat Adrian tengah mengerjakan sesuatu di depan laptopnya. Adrian melirik ke arah Stella sebentar dan kembali fokus pada pekerjaannya.
Stella berjalan perlahan ke arah Adrian dengan senyum yang di kulum. "Sibuk nih Pak Boboho," ejek Stella dengan senyuman ejekannya membuat Adrian menghentikan gerakannya dan menatap Stella dengan kernyitan di dahinya.
"Siapa?" tanya Adrian.
"Kamu kenapa sih?" tanya Adrian.
Stella mengeluarkan potret yang sejak tadi dia sembunyikan di balik punggungnya. "Itu?"
Adrian langsung berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati Stella yang langsung bersiaga mundur. "Kamu dapat dari mana foto itu?"
Stella menggerakkan kedua alisnya naik turun dengan senyuman ejekan. "uchhh menggemaskan, hahaha."
"Stella kembalikan!"
Adrian mengejar Stella yang langsung berlari menaiki kursi dengan mengangkat tinggi-tinggi foto itu di tangannya. Saat ia meloncat ke atas ranjang, bersamaan dengan Adrian yang berhasil meraih lengan Stella, tetapi tubuh Stella tak mampu menahan Adrian dan malah oleng hingga tubuh mereka berdua jatuh ke atas ranjang.
Tubuh Adrian tepat berada di atas Stella dan kedua mata mereka saling bertatapan satu sama lainnya. Keduanya saling tatapan cukup lama dan akhirnya keduanya sama-sama tertawa terbahak-bahak.
"Aku tidak menyangka dulu pak Dosen mirip dengan boboho," kekehnya.
"Berhentilah mengejekku," ucap Adrian beranjak dari atas tubuh Stella dan duduk di sampingnya begitu juga dengan Stella yang ikut bangun. "Aku juga akan mendapatkan foto kecilmu."
"Kalau begitu biarkan aku menyimpan ini," ucap Stella menunjukkan kembali foto di tangannya. "Ini sangat menggemaskan," tambahnya diiringi kekehannya.
Adrian hanya tersenyum. "Terserah." Jawabnya.
Seketika handphone Stella berdering nyaring membuatnya beranjak untuk mengambil handphonenya.
"Iya Ma,"
"....."
__ADS_1
"A-apa?" mendengar bentakan dari Stella membuat Adrian menatap ke arahnya. "Mama gak bohong?"
"...."
"Naani." Air matanya mengalir lembut membasahi pipinya.
"Ada apa?" tanya Adrian saat Stella menutup panggilan telponnya.
"Naani masuk rumah sakit," isaknya.
"Kita ke rumah sakit sekarang," ucap Adrian yang di angguki Stella.
***
Mereka sampai di AMI Hospital dan segera ke ruang ICU untuk melihat Naani Stella. Sesampainya di sana, mereka langsung di sapa oleh Ayah dan Ibu Stella.
"Mama, bagaimana Naani?" tanya Stella dengan air mata yang tak juga berhenti mengalir.
"Sedang di perksa Dokter," serunya.
"Tapi Naani kenapa?" tanyanya kembali.
"Naani terkena serangan jantung tadi," isak Mamanya Stella. Adrian tanpa permisi langsung masuk ke ruang ICU dan ikut memeriksa kondisi Naani Stella.
Saat masuk, Adrian melihat seorang Dokter sedang memacu jantung pasien untuk memancing detak jantungnya.
"Bagaimana?" tanya Adrian memebuat Dokter itu menoleh ke arahnya dan sedikit mengusap peluh di pelipisnya.
"Detak jantungnya semakin melemah," ucapnya.
Adrian segera memeriksa kondisi denyut nadi Pasien, lalu ia melakukan CPR dengan menekan dada pasien dengan kedua tangannya yang saling bertumpu.
Adrian berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan nyawa Naani Stella.
"Huft!" Adrian menghela nafasnya dan detak jantung itu semakin menghilang.
"Denyut nadinya berhenti," ucap Dokter yang berdiri di hadapan Adrian membuat Adrian menatap ke arahnya.
"Pasien meninggal pada pukul 17.00 WIB karena gagal jantung," gumam Adrian. Ia beranjak pergi dengan perasaan tak menentu, sedangkan Dokter di bantu suster mengurus jenazah tersebut dan melepaskan alat medis yang menempel pada tubuh pasien.
"Bagaimana?"
Pertanyaan itu langsung menyerbu Adrian saat ia keluar ruangan. Adrian menatap sedih Stella di hadapannya yang menatapnya dengan berurai air mata. Baru tadi siang mereka tertawa bersama.
"Pak Dosen bagaimana dengan Naani?" tanya Stella sekali lagi.
Adrian masih diam dengan kebingungannya. "Pak Adrian!" pekik Stella.
"Maaf, Naani telah pergi meninggalkan kita semua."
"Tidaakkkk!!! Naani!" jerit Stella menangis meraung-raung. Orangtua Stella saling berpelukan dan menangis dalam diam.
"Naani! Kamu kan Dokter, kenapa kamu tidak menyelamatkannya!" pekik Stella memukuli dada Adrian. "Kenapa kamu membiarkan Naani pergi, hikzzz... Naani, hikzzz"
Adrian menarik kedua tangan Stella hingga ia jatuh dalam pelukannya dan menahan tubuh Stella yang berontak dan meraung-raung menangisi Naani kesayangannya.
***
__ADS_1