Marriage With Dosen

Marriage With Dosen
Episode 33


__ADS_3

Stella yang keras kepala memaksakan diri untuk bangun dari blangkar dan menenteng infusannya. Baru saja ia membuka pintu, tatapannya beradu dengan Adrian yang juga berdiri di sana dengan pakaian pasien dan sama-sama menenteng infusan. Keduanya saling bertatapan penuh arti.


"Hai," sapa Adrian


"Eh, hai," jawab Stella tersipu.


"Boleh aku masuk," ucap Adrian yang di angguki Stella.


"Hai Lenna," sapa Adrian saat sudah masuk ke dalam ruangan.


"Hai pak Adrian," jawab Lenna dengan sedikit canggung. Suasana di sana kini begitu hening dan canggung, membuat ketiganya kikuk.


"Ah Stell, gue balik ke UGD dulu yah, Kasian si Riska sendirian," ucap Lenna berlalu pergi meninggalkan Stella dan Adrian.


"Wajah Bapak masih babak belur, apa ini sakit," ucap Stella menyentuh pipi Adrian yang memar.


"Sudah tidak apa-apa, bagaimana kepalamu?" tanya Adrian menyentuh kepala Stella yang di perban.


"Tidak apa-apa," jawabnya diiringi senyumannya.


"Yakin?"


"Aww!" pekik Stella saat Adrian menyentil kepalanya yang di perban pelan.


"Ishh jahat," gerutu Stella memukul lengan Adrian.


"Aduhh," ringis Adrian.


"Kenapa?" tanya Stella merasa sangat khawatir.


"Lenganku kaku dan terasa pegal pegal," jawab Adrian.


"Ini pasti karena Bapak menggendongku dan berjalan cukup jauh. Ini pastilah kaku, kemarilah." Stella menarik tangan Adrian dengan tangannya yang tidak memegang infusan. Stella membawa Adrian duduk di atas brangkar.


"Kamu mau ngapain?" tanya Adrian.


"Sebentar, tadi Lenna sepertinya membawa minyak urut," ucapnya membuka laci meja di samping blangkar. Setelah menemukannya, Stella duduk di samping Adrian dan mulai mengoleskan minyak ke lengan kekar Adrian yang memakai kaos putih lengan pendek.

__ADS_1


"Tidak perlu Stella, kamu belum sembuh. Kamu harusnya beristirahat," ucap Adrian menolaknya dengan halus.


"Diamlah dan turuti saja," ucap Stella tidak ingin di bantah.


"Dasar kau pendek yang keras kepala, dasar kepala karang," seru Adrian membuat Stella mencibir.


"Diamlah Boboho, Dosen TMII, gorilla," ejek Stella dengan tetap memijit lengan Adrian.


"Mana ada gorilla setampan aku, juga segagah aku," ucap Adrian dengan begitu percaya dirinya.


"Tidak sadar body," kekeh Stella.


"Stella kenapa semalam kamu melindungiku, pukulan itu jadi mengenai kepalamu. Harusnya aku yang terluka bukan kamu," seru Adrian.


"Memang kenapa? Aku tidak ingin kamu terluka, kalau kamu terluka lalu bagaimana kita bisa kembali," serunya dengan memalingkan pandangannya tak ingin beradu pandangan dengan Adrian. Ia tidak mungkin berkata jujur kalau dia tidak ingin Adrian celaka.


"Kau ini," kekeh Adrian mengusap kepala Stella.


ΩΩΩ


"Hmm,"


"Gue merasa sikap pak Adrian itu aneh," seru Stella yang saat ini sedang berada di dalam kamarnya dengan Lenna. Ia sudah di perbolehkan pulang dan beristirahat di wisma.


"Aneh gimana?" tanya Lenna yang duduk di samping Stella.


"Iya aneh saja, dia menjadi lebih lembut dari sebelumnya, lebih perhatian, dan sangat berbeda dari biasanya. Dia juga pernah mengatakan kalau dokter Dara itu cantik tetapi dia bukan tipenya. Akulah tipe wanita pak Adrian," ucap Stella. "Dia berbeda dari biasanya."


"Sudah jelas banget sih itu," seru Lenna dengan penuh semangat.


"Tuh kan lu juga pasti sepemikiran sama gue, pasti pak Adrian itu sedang mencoba menjahili gue. Dia pasti sedang mengambil ancang-ancang buat menjahili gue, dia pasti sedang merencanakan sesuatu, iya kan?"


"Ya salam," keluh Lenna. "Dasar miss gapek," ucap Lenna menoyor kepala Stella.


"Apaan sih lu, emang siapa yang gapek alias gak peka. Pan sudah jelas tanda-tandanya," keluh Stella mengusap kepalanya. "Masih sakit nih kepala."


"Bodo! Biar lu tau rasa, astaga Stella kapan lu peka dan pintarnya," seru Lenna dengan sangat gremet.

__ADS_1


"Terus apa dong menurut lu?" tanya Stella mengusap kepalanya sendiri.


"Pak Adrian itu menyukai lu, dia katuh cinta sama lu."


"What?" pekik Stella melotot lebar. "Hahahaha, lu ngelindur yah," kekeh Stella.


"Ya salam, ini bocah kapan pekanya," kelu Lenna menggemplak jidatnya sendiri.


"Pak Adrian menyukai gue? maksudnya cinta sama gue gitu? Hahaha mustahil, lu ngaco ah. Udah jelas yah dia tuh punya rencana buruk ke gue. Dia tuh lagi ngerencanain sesuatu buat ngejatuhin gue," ucap Stella mengetuk-ngetuk telunjuknya pada bibirnya.


"Astaga Stella sayang, peka sedikit. Lu ingat ingat lagi semua perlakuan pak Adrian sama lu, apa itu seperti sedang merencanakan sesuatu? Lu bayangkan saja kalau dia memang benci lu dan berniat jahat sama lu, kenapa dia harus berkorban berjalan kaki sejauh itu dengan menggendong lu. Apa itu di sebut merencakan sesuatu yang jahat atau dia cinta sama lu?" Kali ini ucapan Lenna membuat Stella merenung.


"Apa benar pak Adrian menyukaiku?" gumamnya. "Tetapi kenapa?" tanya Stella pada Lenna.


"Ya mana gue tau," ucap Lenna.


"Terus kalau begini gue harus apa?" tanya Stella mendadak gugup.


"Gue ada ide, Stell. Biar lu juga yakin dan percaya dengan apa yang gue simpulin," seru Lenna.


"A-apa?" tanya Stella entah kenapa dirinya mendadak gugup, salting dan hatinya terasa membuncak berbunga-bunga.


"Jangan cengar cengir dulu, ketauan banget kalau lu suka banget sama pak Adrian," goda Lenna.


"Apa sih lu," kekeh Stella merasa sangat malu.


"Kagak usah malu-malu dah sama gue," goda Stella. "Bener pan apa kata gue, kalau benci dan cinta tuh beda tipis. Ujung-ujungnya lu jatuh cinta juga kan sama dia," ucap Lenna.


"Hmmm!" geram Stella. "Jadi apa ide lu itu? Lama lu ah," keluh Stella.


"Sabar kali Bu," ucap Lenna. "Begini, lu coba pancing dia sampai dia mengungkapkan perasaannya sama lu," ucap Lenna.


"Begitu yah, tetapi pancing gimana?" tanya Stella tampak bingung membuat Lenna menghela nafasnya lelah. "Gue pan baru pertama kali begini, beda sama lu yang sudah punya banyak mantan!"


"Iya iya," ucap Lenna lalu membisikan sesuatu ke telinga Stella membuatnya tersenyum penuh arti.


__ADS_1


__ADS_2