
"Ngelamun aja, kenapa sih lu?" tanya Lenna berdiri di samping Stella yang sama sama sedang jaga malam di UGD.
"Menurut lu gimana sih Dokter Dara itu?" tanya Stella.
"Dokter Dara? Dia baik kok, memang kenapa?" tanya Lenna.
"Dia juga cantik banget kan?" seru Stella.
"Iya, dia memang cantik," seru Lenna.
"Tuh kan jelas banget gak ada apa-apaya di bandingkan gue, dan lagian lu kenapa gak ada gitu bikin hati gue seneng. Komentarnya jangan jujur banget kek," ucap Stella dengan wajah cemberut.
"Maksud lu apa sih?" tanya Lenna yang benar-benartidak paham.
"Jadi lu setuju dan mendukung gitu kalau pak Adrian dengan dokter Dara, begitu?" ucap Stella dengan nada kesal membuat Lenna di buat bingung. "Kenapa lu gak sekalian katakan kalau mereka cocok, sesama cantik dan tampan. Terus lu sekalian saja bilang kalau pelakor lebih unggul daripada gue, istri sahnya!"
"L-lu kenapa sih Stel?" tanya Lenna di buat sangat sangat bingung.
"Lu yang kenapa Lenna! lu ini sahabat gue tapi kenapa lu belain dia!" ucap Stella. "Lu juga pasti akan mendukung kalau mereka berpacaran bahkan sampai menikah, jadi saat kami bercerai mereka akan langsung menikah! Lu itu sama sekali gak berpihak sama gue, lu tau gue gak suka kedekatan mereka, tetapi lu malah muji dokter Dara!"
"Stell!" Lenna memberi kode pada Stella.
"Apa? Ngapain tuh mata sok genit gitu? Dengar yah Lennong, harusnya lu itu bilang kalau Dokter Dara itu gak cantik dan gak cocok sama pak Adrian."
Stella menghentikan ucapannya karena Lenna terus memberi kode padanya. "Apa sih?" tanya Stella.
"Di belakang lu," gumamnya membuat Stella berbalik dan betapa syocknya dia bahkan tubuhnya sampai oleng ke belakang saat ia melihat Adrian berdiri di belakangnya dengan bersandar pada dinding dengan melipat kedua tangannya di dada, sungguh cool.
"Sepertinya gue harus cek pasien yang di rawat di sini, permisi." Dengan cepat Lenna menyelamatkan diri dari keadaan itu dan tak ingin ada di antara mereka berdua.
Sial!
Stella mengumpat dalam hati karena Lenna kabur dan membiarkan dirinya terjebak dalam situasi seperti ini. Adrian tampak tersenyum dan berjalan mendekati Stella yang masih berdiri kaku di tempatnya.
"Barusan sungguh puisi yang sangat indah, Pendek." Adrian berdiri di hadapan Stella diiringi kekehannya.
"Aku harus pergi melihat pasien," ucap Stella ingin kabur tetapi Adrian lebih dulu menahan lengan Stella hingga Stella tidak bisa kemana-mana.
"Kan sudah ada Lenna yang memeriksa pasien, kamu sebaiknya di sini saja. Emm, bagaimana kalau kita bahas puisi kamu yang tadi," usul Adrian membuat wajah Stella memerah dan itu sungguuh lucu untuk Adrian.
"Di bagian awal, kamu bertanya tentang kecantikan dokter Dara, menurut pandangku sebagai seorang pria, dokter Dara itu cantik bahkan sangat cantik." Stella ingin sekali memukul Adrian karena dengan berani dia memuji wanita lain di depannya. "Tetapi sayangnya dia bukan tipeku."
Stella menatap Adrian dengan heran karena jawaban Adrian. "Dan kamu, kamu ini tidak cantik dan bahkan pendek," kekeh Adrian.
__ADS_1
"Hina saja, sudahlah sudah jelas semuanya," ucap Stella berbalik hendak pergi meninggalkan Adrian.
"Tapi kamu adalah tipeku."
Deg
Gerakan Stella terhenti mendengar penuturan Adrian barusan yang sangat mengagetkan. Stella bahkan tak bisa bergerak sama sekali dan syock mendengar ucapan Adrian barusan. Jantungnya berdetak cepat hingga membuat darahnya terbakar.
"Jadi jangan pernah merasa tersaingin dan cemburu lagi dengan Dokter Dara yah, My Wife."
Cup
Stella menoleh ke arah Adrian saat ia merasa pipi kanannya di kecup, ternyata wajah Adrian berada tepat di sampingnya dengan senyuman khasnya yang menggoda.
"Selamat bertugas," tambah Adrian mengusap kepala Stella dan berlalu pergi.
"Ya Tuhan!" Stella terduduk di kursi dengan wajah yang syock dan memerah. "Jantungku!" Stella memegang dadanya yang berdebar kencang. Dan tanpa sadar ia tersenyum sendiri bahkan tertawa senang.
Adrian yang belum keluar dari UGD masih memperhatikan Stella, dan ia tersenyum senang melihat Stella yang seperti wanita yang sedang kasmaran. Ia berlalu pergi setelah itu dengan perasaan yang juga sangat senang dan lega. Ia kini tau kalau Stella pun mencintainya.
***
"Stella," panggil Adrian mencari Stella ke ruang obat-obatan, tadi menurut salah satu perawat mengatakan kalau Stella berada di ruang obat-obatan.
Adrian berjalan mencari sosok itu dan langkahnya terhenti saat Stella sedang sujud di bawah meja seakan hendak mengambil sesuatu.
"Mengambil balpoinku yang jatuh," serunya. Adrian berjongkok di samping Stella.
Stella kaget saat kepalanya menyentuh sesuatu dan ia menoleh ke arah Adrian. Ternyata Adrian menahan kepalanya yang hampir saja terpentok meja.
"Tetap saja yah kau ini ceroboh," seru Adrian membuat Stella menatapnya dengan intens. Dengan gerakan perlahan Stella menarik kepalanya keluar dari bawah meja dan merubah posisi dengan duduk di hadapan Adrian. Stella dan Adrian saling menatap satu sama lainnya.
Cukup lama mereka saling menatap hingga suara pintu di buka menyadarkan mereka berdua. Adrian menarik tangannya dari kepala Stella.
"Sudah ketemu?" tanya Adrian.
"Eh? Su-sudah," jawab Stella dengan canggung.
"Ayo ikut," ajak Adrian menarik tangan Stella.
"Eh mau bawa aku kemana?" tanya Stella yang terus di seret Adrian keluar dari klinik.
"Kita kencan," ucap Adrian mengedipkan matanya dan membawa Stella menaiki mobil Jeep hijau yang terparkir tak jauh dari depan klinik.
__ADS_1
"Kencan?" tanya Stella sedikit bingung.
"Sudah jangan banyak tanya, sekarang naik saja," ucapnya membuat Stella naik ke dalam mobil.
Selama perjalanan suasana begitu hening, Adrian tampak fokus menyetir mobil.
"Kita akan kemana ini, Pak?" tanya Adrian.
"Berhenti memanggilku dengan sebutan Bapak, Pendek," ucap Adrian.
Stella sangat bingung dengan perubahan sikap Adrian yang berubah-ubah mirip bunglon.
"Kita ini mau kemana sebenarnya?" tanya Stella.
"Ke kota, aku harus mengecek ke rumah sakit di sana." Stella menghela nafasnya, dia pikir benar saja Adrian akan membawanya kencan. Bawa ke bioskop atau makan di restaurant kek, Stella jenuh dengan segala rutinitas dan kesibukannya ini.
Adrian sadar dengan helaan nafas Stella, ia tau Stella merasa sangat jenuh dengan segala rutinitasnya.
Setelah cukup lama menempuh perjalanan, Adrian menghentikan mobil mereka di depan kedai es krim.
"Kenapa berhenti di sini?" tanya Stella bingung.
"Kau mau makan es cream?" tanya Adrian yang langsung di angguki Stella. "Ayo turun."
Mereka masuk ke dalam kedai es cream dan memesan es cream kesukaan mereka. Adrian hanya memesan 1 cup sedang es cream sedangkan Stella memakan 1 cup besar mix es cream.
"Astaga udah berasa nemu sumber kehidupan," kekeh Stella dan menyuapkan es cream dengan porsi besar.
"Makannya biasa saja jangan sampai belepotan."
"Eh?" Stella tersentak karena ulah Adrian yang menghapus sisa es cream di sudut bibirnya. Ulah Adrian itu membuat jantungnya berdebar-debar tidak karuan.
∞
Seharian ini sungguh Stella di buat bingung dengan sikap Adrian, ia juga senang bercampur kesal karena ia terus di buat tak tenang, canggung dan jantungnya tak berhenti berdebar. Stella seperti sedang melakukan uji nyali saja.
Saat ini mereka sedang berada di dalam mobil Jeep untuk kembali pulang. Hari sudah semakin larut dan suasana di dalam mobil begitu hening dan juga canggung. Tiupan angin terus menerpa wajah mereka berdua.
"Eh apa itu, ada orang tiduran di tengah jalan," ucap Stella membuat Adrian menghentikan mobilnya dan saat itu juga beberapa orang keluar dari semak-semak.
"Ya Tuhan, apa mereka semua begal?" tanya Stella kaget sekaligus takut.
∞
__ADS_1
Cerita ini sudah tersedia versi ebooknya yah di playbook.
https://play.google.com/store/books/details?id\=sOeADwAAQBAJ