
"Stella, kerjakan laporannya sekarang. Akan aku bantu," ucap Adrian masuk ke dalam kamar Stella.
Stella yang awalnya tengah bermain handphone segera menyembunyikan handphone nya. "Nanti saja," ucap Stella.
"Ayo Stella, tidak akan ada dosen yang mau membantu kamu seperti aku. Apalagi mengingatkan kamu untuk mengerjakan laporannya, cepat akan aku bantu." Stella menghela nafasnya dan beranjak mengambil laptopnya dan berjalan mengikuti Adrian ke ruang tengah.
Stella duduk di lantai dengan alas karpet bulu tepat di depan laptop sambil mengetik sesuatu, dan Adrian duduk di sampingnya seraya memberi arahan dengan sebuah laporan di tangannya yang terbuka.
Stella merasa lelah sekali karena semuanya harus di ketik ulang dan Adrian sangatlah detail. Dia ingin segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil bermain game di handphone nya, game yang baru tadi siang dia download.
Seketika ide jahil terlintas di kepalanya yang sangat cerdik.
"Huacim!" Adrian sedikit menjauh saat Stella bersin tepat ke arahnya. "Aduh hidungku," gumam Stella memencet hidungnya sendiri supaya memerah.
"Huacim!" sekali lagi Stella bersin ke arah wajah Adrian membuat Adrian memalingkan wajahnya dan menghela nafasnya.
"Jangan berpura-pura, cepat kerjakan!" ucap Adrian.
"Aku tidak berpura-pura, memang benar flu. Sudah mampet daritadi siang, ini karena kedinginan dan aku kelelahan," ucap Stella. "Huacim!" sekali lagi Adrian memalingkan wajahnya dan Stella menahan senyumannya.
Adrian beranjak dari duduknya dan berlalu pergi meninggalkan Stella. Saat ada kesempatan, Stella memencet hidungnya kencang dan menggosok matanya hingga berair. Lalu ia memegang bagian bawah laptopnya yang panas hingga panas itu menular ke telapak tangannya, dengan segera ia tempelkan telapak tangannya di dahi dan itu ia lakukan selama 3 kali.
"Huacim!" sekali lagi dia bersin saat melihat Adrian kembali datang.
"Minum ini," ucap Adrian menyodorkan segelas air berwarna orange.
"Apa ini?" tanya Stella dengan nada lemah.
"Obat untuk meredakan flu, minum saja," ucap Adrian membuat Stella meneguknya.
"Aduh kepalaku migren," gumamnya memegang kepalanya dan menyandarkan kepalanya ke sofa di belakangnya.
Adrian memegang kening Stella dan terdiam sesaat. "Kau demam," ucap Adrian.
__ADS_1
"Huacim!" Stella masih dengan sengaja bersin ke depan wajah Adrian membuat Adrian memalingkan wajahnya dan hanya mampu menghela nafasnya.
"Pak Dosen, aku sudah sangat lemas dan migren," rengek Stella.
"Baiklah, sekarang kita ke kamar saja."
"Kyaaaa!"
Tanpa di duga, Adrian memangku tubuh Stella membuat Stella sepontan mengalungkan kedua tangannya di leher Adrian. Dan matanya tertuju pada wajah Adrian yang terlihat menatap lurus ke depan.
"Huacim!" Stella berpura-pura kembali bersin saat ketahuan Adrian, ia tengah memperhatikan pria itu.
"Kalau memang sedang mengagumi wajahku lakukan saja, tanpa perlu malu. Aku sudah terbiasa di tatap penuh kekaguman seperti itu oleh seorang wanita," ucap Adrian seraya merebahkan tubuh Stella di atas ranjang.
"Huacim!" Stella kembali bersin tetapi kali ini ke kaos yang di pakai Adrian, dan dengan sengaja ia menahan tubuh Adrian supaya tetap membungkuk ke arahnya dan mengusapkan kaos Adrian ke hidungnya membuat Adrian meringis ngeri.
Setelahnya Stella langsung berguling membelakangi Adrian dengan senyuman puasnya, sedangkan Adrian menatap ngeri kaos bagian depannya yang basah.
"Beristirahatlah," ucap Adrian menyelimuti tubuh Stella dan ia berlalu pergi meninggalkan kamar Stella setelah mematikan lampu kamar.
Stella bangun dari rebahannya dan terkikik dengan menutup mulutnya sendiri, ia berhasil mengelabuhi dosen TMII nya itu. Puas sekali rasanya.
Ia segera mengeluarkan handphone dari saku celananya dan kembali bermain game tanpa suara.
***
Stella baru saja bangun dari tidurnya dengan mata perih dan rasa kantuk yang teramat, ia bermain game hingga pukul 3 dini hari dan al hasil kepalanya pening karena kurang tidur. Jam becker doraemon kesayangannya terus saja berbunyi menandakan dia harus segera bangun kalau tak ingin kesiangan ke kampus. Dengan lemas, ia turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi.
30 menit berlalu dan Stella keluar dari kamar tampak sudah segar dengan setelan casualnya, celana jeans, kemeja, sepatu kets juga tas selendangnya. Ia melihat Adrian sudah rapi dengan kemeja dan celana kainnya, dan tampak sibuk di dapur.
"Sudah bangun?" sapa Adrian yang di angguki Stella.
Stella mengambil duduk di sana, dan meneguk sedikit susu hangat di dalam mug doraemonnya. Peralatan dapur hampir semuanya bermotif doraemon dan itu membuat Adrian kesal, hingga dia membeli 1 set alat makan dari gelas, piring hingga sendok dan garpu untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
"Ini laporanmu sudah selesai, nanti di kampus serahkan padaku saat kelas berlangsung." Adrian menyodorkan laporan ke arah Stella.
"Serius?" pekik Stella bersemangat membuat Adrian mengernyit melihat perubahan Stella.
"Aduh kepalaku," ucap Stella segera merubah raut wajahnya menjadi lemas. Adrian memicingkan matanya menatap ke arah Stella penuh kecurigaan, membuat Stella salting.
"Aku berangkat lebih dulu, Lenna janji akan menjemputku. Terima kasih pak Dosen, bye." Daripada menerima amukan Adrian karena ketahuan ia berbohong, lebih aman dia kabur menjauh dari dosen TMII itu.
***
Stella merasa lelah sekali karena hari ini kuliahnya full hingga pukul 8 malam. Lenna sudah pulang terlebih dulu di jemput Kakaknya dan Stella harus menunggu taxi atau bus untuk pulang.
Stella berdiri di halte bus, sejak tadi ia mencoba memesan taxi online tetapi aplikasi itu sedang eror hingga sulit mendapatkan driver. Ia pun memutuskan menggunakan bus, dan saat ini sedang menunggu di halte bus.
Hujan turun seketika dengan deras, membuat Stella menghela lelah. Ia tak membawa jaket ataupun payung. Kenapa hujan harus turun di saat cuaca tadi siang cerah?
Stella segera menaiki bus saat bus yang akan berhenti di halte tak jauh dari apartementnya sudah datang. Di dalam bus tak banyak orang, hanya beberapa saja dan kebanyakan pegawai kantoran. Stella memilih duduk di barisan tengah di dekat jendela menatap keluar jendela dimana rintik hujan membasahi kaca jendela.
Tak butuh waktu lama dia sampai di halte yang dekat dengan apartementnya. Hujan masih juga turun dengan derasnya, membuat Stella terpaksa menerobos hujan dan sedikit berlari.
Adrian hendak membelokkan mobilnya ke area apartement, tetapi tatapannya tertuju pada Stella yang berlari di sebrang sana. Kini Stella tampak hendak menyebrang jalanan.
"Stella awas!"
Stella memekik saat hampir sampai ke trotoar, tubuhnya tertarik ke belakang dan badannya menabrak tubuh seseorang dengan keras.
"CARI MATI< KAMPRET!"
Amukan itu terdengar di telinganya, hampir saja Stella keserempet motor kalau saja Adrian tak segera menariknya.
Stella menengadahkan kepalanya hingga tatapannya beradu dengan mata tajam Adrian. Rintikan hujan mengguyur tubuh mereka berdua. Baik Adrian maupun Stella, keduanya merasakan sesuatu yang bergetar di dalam dada mereka berdua.
***
__ADS_1