Marriage With Dosen

Marriage With Dosen
Episode 21


__ADS_3

Stella dan 3 orang teamnya sudah sibuk menyiapkan diri untuk khoas di Ami Hospital. Akhir-akhir ini dia begitu sibuk begitu juga dengan Adrian hingga mereka jarang bertemu dan bercakap.


Ini sudah 3 minggunya dia dan Adrian tak saling mengobrol dan bertengkar karena kesibukan mereka berdua.


"Huft, kapan penderitaan ini berakhir," keluh Stella yang sudah lelah mengurus segala hal untuk Khoasnya.


"Sabar, minggu depan kita akan langsung terjun ke rumah sakit dan ngecengin Dokter Dokter muda dan dokter khoas dari universitas lain. Ah gak sabar," ucap Lenna begitu antusias.


"Seru sih memang, tapi bagaimana gue bisa ikut nyari dokter muda tampan kalau pembimbing kita Dosen TMII itu." Stella malah tampak sebal.


"Ya lagian udah punya laki masih mau ngecengin cowok lain lagi."


"Buat persiapan kan, kalau nanti kita bercerai, gue ada selingan buat gantiin dia."


"Pemikiran loe astagah!"


"Aduh! Apaan sih loe, sakit tau!" Keluh Stella mengusap keningnya yang di sentil Lenna.


"Gue gemes sama loe!" Seru Lenna dengan nada geram.


"Gue tau gue lucu," ucap Stella merapihkan poninya.


"Serah loe deh."


***


Tepat pukul 8 malam Adrian baru sampai di kampus untuk mengambil beberapa berkas mahasiswa bimbingannya. Tetapi langkahnya terhenti saat segerombolan mahasiswa dan siswi keluar dari kampus dengan canda tawa.


Tetapi bukan itu yang membuatnya berhenti, tetapi keberadaan Stella yang ada di antara mereka begitu juga Lenna.


Lenna tampak berjalan berdampingan bersama seorang pria yang Adrian ketahui sebagai mahasiswanya di fakultas kedokteran tetapi di kelas yang berbeda dengan Stella dan Lenna. Stella tampak berjalan bersama seorang perempuan, tetapi di belakangnya ada seorang pria yang tatapannya pada Stella membuat Adrian menaruh curiga.


Mereka semua menyapa Adrian kecuali Stella yang hanya menatapnya sebentar dan kembali memalingkan wajahnya.


Adrian meneruskan langkah kakinya menuju ruangannya dengan perasaan tak menentu.


"Kenapa anak itu menatap Stella seperti itu?"gumamnya.


"Ah sudahlah, mungkin hanya perasaanku."


Adrian meneruskan langkahnya menuju ruangannya.


Stella bersama keenam temannya mendatangi sebuah tempat karaoke family. Mereka sepakat untuk bersenang-senang sebelum khoas yang cukup memusingkan.


Bip bip


Stella yang baru saja mendaratkan pantatnya di atas sofa yang ada di ruang karaoke segera membuka handphone nya saat ada notif pesan masuk.


Dosen TMII Boboho


Kemana?


'Apa sih dia? Kepo deh. Dia juga gak pernah bilang dan laporan ke gue kalau dia akan pergi.' Batin Stella segera membalas pesan.


Me


Karaoke...


Dosen TMII Boboho


Dimana? Aku jemput.


Me


Tidak usah pak TMII, aku bisa pulang sendiri. Lagipula, kami baru sampai.


Dosen TMII boboho


Katakan saja dimana.


Me

__ADS_1


Di Karaoke Marvel, jangan kesini! Aku tidak mau yang lain mencurigai kita dan aku gak mau sampai di tanya-tanya tentang hubungan kita.


Tak ada lagi balasan dari Adrian membuat Stella semakin kesal. 'Awas saja kalau tuh Dosen sampai nyusul.'


"Hei, kenapa diem saja?" Pertanyaan itu membuat Stella menoleh ke sampingnya dimana seorang pria duduk di sampingnya. "Kamu kelihatan begitu kesal."


"Aku tidak apa-apa, Sa." Jawab Stella pada pria yang bernama Lexa di sampingnya.


"Bernyanyi dengan yang lain, yuk." Ajak Lexa.


"Tidak, nanti saja," seru Stella bersandar ke kepala sofa seraya menatap Lenna, Ariana dan Devi tengah bernyanyi dengan seru.


"Stel, ayo ikut." Lenna menarik tangan Stella membuatnya berdiri dan ikut bernyanyi juga menari bersama yang lain.


Teman Lexa yang tadi bersama Lenna ikut berdiri dan bernyanyi hingga hanya Lexa yang duduk sendirian di kursi.


Dengan waspada, Lexa memperhatikan semua temannya yang menari di depan sana seraya mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. Lalu ia mencampurkannya ke dalam gelas jus milik Stella dengan seringai di bibirnya.


"Cape ah, gue udah dulu." Stella mendaratkan pantatnya di atas sofa seraya meminum jus miliknya dengan rakus bahkan sampai tandas.


Lexa tersenyum puas melihat Stella meneguk semuanya. Di saat Lexa terus memperhatikan Stella, yang lain sibuk menyanyi, bercanda dan menikmati cemilan yang ada.


Stella memejamkan matanya saat kepalanya terasa berat, dan kembali membuka matanya. Matanya terasa berkunang-kunang.


"Kenapa aku tiba-tiba mengantuk yah," gumam Stella memegang kepalanya.


"Kau kenapa Stell?" Tanya Lexa.


"Tidak tau, mendadak kepalaku berat sekali." Stella berucap seraya memegang kepalanya.


"Mungkin kau kelelahan, sebaiknya kau pulang biar aku antar." Bujuk Lexa.


"Tidak Lex, acaranya belum selesai."


"Jangan memaksakan dirimu, Stell. Lihat keadaanmu sekarang, kamu butuh istirahat. Ayo sebaiknya kita pulang." Paksa Lexa.


"Tapi-"


"Mereka pasti paham, biar aku yang bilang." Lexa berdiri dari duduknya. "Guys!" Panggilannya menghentikan aktivitas yang lain.


"Loe kenapa Stell?" Tanya Lenna segera mendekati Stella dengan khawatir.


"Ah kepala gue sakit, rasanya mata ini ingin terpenjam."


"Kok tiba-tiba sekali," seru Lenna.


"Mungkin Stella kelelahan Len, kan sudah beberapa hari ini kita semua sibuk mempersiapkan diri untuk khoas," ucap Lexa dengan cepat sebelum Lenna curiga.


"Kalau begitu gue juga pulang bersama Stella," ucap Lenna.


"Jangan dong Len, kasian Haris."


"Aku akan mengantarmu, Lenna." Kali ini Haris yang berucap membuat Lenna menjadi bimbang.


"Ini kita juga sudah ambil paket 3 jam, dan kita baru memakainya 1 jam. Kan sayang," seru Devi.


"Oke begini saja, kalian tetap di sini dan nikmati acaranya. Biar Stella, gue yang antarkan. Kalian jangan khawatir, gue akan mengantar Stella hingga rumah."


"Tapi kan-?"


"Kenapa Lenna? Lihat Stella sudah tak berdaya," ucap Lexa menunjuk Stella yang bersandar memejamkan matanya seraya memegang kepalanya.


'Aduhh gimana yah, kan Stella tinggal sama mr. Adrian. Gimana kalau Lexa mengetahuinya.' Batin Lenna.


"Gue tau rumahnya," ucap Lexa membuat Lenna sedikit tenang. Setidaknya biarkan Stella pulang ke rumahnya.


"Baiklah, jaga dia yah Xa. Dan kabarin kalau ada apa-apa."


"Pasti Len," ucap Lexa. " ayo Stell." Lexa membantu Stella berdiri dan memapahnya keluar dari ruang karaoke.


Kini Lexa dan Stella sudah berada di dalam mobil milik Lexa. Stella sudah langsung jatuh pingsan tak sadarkan diri di dalam mobil membuat Lexa tersenyum puas.

__ADS_1


"Kau akan menjadi milikku saat ini, Stell. Akan ku buat kau tak akan pernah lepas dariku." Lexa membelai wajah cantik Stella dan mulai menjalankan mobilnya meninggalkan tempat itu.


Lexa membawa Stella memasuki area parkir basement hotel bintang 3 tak jauh dari tempat karaoke. Baru saja dia melepaskan seatbeltnya, ketukan di kaca jendelannya mengagetkannya.


"Siapa sih?" Geram Lexa saat ketukan itu semakin kencang dan ia langsung membuka pintu mobil. "Mr. Adrian?"


Belum sempat Lexa mengelak dan Adrian sudah menarik kerah bajunya hingga dia keluar dari mobil.


Bug


Lexa tersungkur ke lantai saat mendapatkan pukulan di rahangnya.


"Pak?"


"Stella, bangun!" Adrian sudah membuka pintu penumpang dan mencoba membangunkan Stella. "Stella bangun! Buka matamu!" Adrian menepuk pelan kedua pipi Stella tetapi tak ada respon.


"Kau mau berbuat apa pada Stella, hah?" Amuk Adrian dan kembali memukuli Lexa tanpa ampun. "Dasar bocah mesum! Kau memanfaat situasi!"


Lexa hampir saja mati di tangan Adrian kalau beberapa security datang memisahkan mereka berdua.


***


Kini Adrian dan Lexa berada di kantor polisi, Adrian tak bisa membuktikan kalau Lexa memberikan obat tidur pada Stella karena tak ada bukti yang jelas. Kini Adrian terpojok karena dirinya yang seorang dosen dan memukuli mahasiswanya begitu saja tanpa bukti yang jelas.


Dan ternyata keluarga Lexa bukanlah orang biasa, ayahnya adalah seorang menteri RI. Dan itu cukup memberatkan Adrian.


Hingga langkah seseorang membuat mereka semua menoleh, dan Adrian mampu mengukir senyuman lebar.


"Siapa anda?" Tanya polisi.


"Saya Daniel Orlando, wali sekaligus pengacara dari Adrian." Daniel yang kini sudah semakin tua walau tetap tampan dan gagah meski rambutnya kini sudah tidak hitam semua.


Dan Adrian tersenyum puas karena tak sampai 5 menit, Daniel berhasil menjamin kebebasannya.


"Tak sia-sia aku menghubungi Om," kekeh Adrian.


"Apa Papamu tau?" Tanya Daniel saat mereka berdua berjalan keluar dari kantor polisi.


"Tidak dan tolong jangan memberitahunya."


"Tidak kau, tidak Leonna juga Leon selalu saja ingin menyembunyikan segalanya dari Papa kalian."


"Om tau kan bagaimana Papa kalau marah, bisa rontok semua buluku menghadapi Papa yang marah," kekeh Adrian.


"Jadi apa yang membuatmu memukuli muridmu sendiri?" Tanya Daniel saat mereka sudah hampir sampai di tempat mereka parkir mobil.


"Bocah itu mencampuri sesuatu pada minuman Stella dan membawanya ke sebuah hotel."


"Karena cinta," ucap Daniel.


"Bukan cinta, kau tau aku tak mencintai Stella, Om. Aku hanya melindungi istriku, bukankah sudah kewajibanku sebagai suami."


"Benarkah? Tetapi ini seperti bukan dirimu, Rian. Bocah tadi memiliki luka yang sangat parah, bahkan tangannya patah. Kau bisa saja membunuhnya kalau security tak segera datang," jelas Daniel.


"Bocah itu berani menyentuh wajah Stella, dan itulah hukumannya. Bukan jarinya yang patah melainkan kedua tangannya," ucap Adrian tanpa pikir panjang.


"Ck, kekuatan cinta memang menyeramkan. Apalagi amarah dari kecemburuan," seru Daniel.


"Aku tidak cemburu padanya, Om."


"Jangan terus mengelak, Om pernah muda dan Om lebih berpengalaman mengenai hal cinta." Daniel menepuk pundak Adrian. "Dan kau sangat mirip Papamu saat sedang cemburu dan berhubungan dengan pujaan hatimu. Istilahnya itu, singa sekalipun akan di lawan saat ia mengusik kekasihnya." Daniel terkekeh pelan, Adrian begitu mirip dengan Dhika.


"Om terlalu berlebihan," kilah Adrian.


"Sudahlah, Om pulang lebih dulu. Kau bawa pulang istrimu," ucap Daniel.


"Iya, dan Om ingat yah jangan sampai ada yang tau mengenai kejadian ini."


"Baiklah," ucap Daniel dengan senyuman khasnya dan berlalu pergi.


Adrian masuk ke dalam mobilnya dan duduk di kursi pengemudi. Ia melihat Stella yang masih terlelap di kursi penumpang.

__ADS_1


"Kau ini kenapa selalu ceroboh dan seenaknya sendiri. Aku harus benar-benar tak boleh lengah untuk menjagamu." Adrian mengusap kepala Stella dan melajukan mobilnya.


***


__ADS_2