Marriage With Dosen

Marriage With Dosen
Episode 28


__ADS_3

"Hai Pendek," sapa Adrian membuat Stella mendengus.


"Jangan memanggilku seperti itu, setidaknya di sini Pak Boboho," jawab Stella kembali sibuk membereskan peralatan medisnya ke dalam tas medis. "Emm tumben kau menghampiriku, biasanya kau tak lepas dari Dokter Dara."


"Jadi kau mengakui kau cemburu sekarang," goda Adrian yang duduk di atas blangkar tepat di samping Stella yang berdiri.


"Ck, aku itu memiliki segalanya jadi aku tidak perlu cemburu pada Dokter Dara, Wlee," ucap Stella menarik rilsleting tas kecil itu.


"Eh Pendek!" Adrian menarik tangan Stella membuat Stella kaget. "Kemana cincinmu?"


"Cincin?" Stella mengernyitkan dahinya bingung.


"Cincin pernikahan kita, kau sengaja melepaskannya yah!" tuduh Adrian.


"Ck, jangan asal menuduh. Cincinnya hilang kemarin saat aku mandi, mungkin terkena air jadi jatuh ke pembuangan."


"Kau mencoba membohongiku?" tuduh Adrian menatap wajah Stella dengan memicingkan wajahnya.


"Tidak," Stella menarik tangannya sendiri karena takut ada yang datang dan akan menjadi salah paham. "Aku tidak berbohong, cincinnya sungguh jatuuh."


"Kita harus membeli yang baru, lihatlah aku sendiri masih memakainya," ucap Adrian mengangkat tangannya dan itu membuat Stella merona. Entah kenapa ia merasa bahagia mendengar Adrian tak pernah melepaskan cincin pernikahan mereka walau pernikahan ini akan segera berakhir.


"Kemarikan tanganmu." Adrian menarik tangan Stella membuatnya sadar dari lamunannya. Lalu Adrian tampak mengambil balpoin dari sakunya dan melukis sesuatu di jari manis Stella.


"Apa yang kau lakukan?"


"Diamlah," ucap Adrian. "Selesai!"


Stella melihat jari manisnya terlukis sebuah cincin yang di gambar dengan balpoin. "Untuk sementara itu dulu dan jangan sampai terhapus. Nanti setelah kita kembali ke Jakarta, aku akan belikan cincin yang baru."


"Ta-"


"Jangan membantah, statusmu masih istriku, Pendek!" Adrian tersenyum seraya mengusap kepala Stella dan berlalu pergi meninggalkan Stella yang mematung sendirian.


Deg


Stella menatap jari manisnya dan jantungnya kembali berdebar cepat sekali. Sudut bibirnya berkedut membentuk senyuman tanpa bisa ia tahan lagi.

__ADS_1


***


Adrian, Stella, Dara, Ivan, Sandi dan Riska pergi menggunjungi pasien di kampung sebelah menggunakan mobil ambulance.


Sesampainya di sana mereka masuk ke dalam sebuah romah posyandu dan membuka klinik gratis. Perlahan lahan pasien mulai berdatangan hanya untuk memeriksakan diri. Dari yang mulai benar-benar sakit, atau hanya ingin memeriksakan dirinya.


"Stella, tolong periksa pasien ini," ucap Adrian yang di angguki Stella lalu memeriksa pasien di dampingi Adrian.


"Apa yang Ibu rasakan?" tanya Stella.


"Perut saya sering sekali sakit, dan kadang mual muntah," seru wanita berusia 35an itu. Stella menekan perut Ibu yang sedang rebahan itu. "Apa sakit?" tanya Stella menekan perut dari pusar ke bagian kanan.


"Iya Dok, sakit sekali." keluh Pasien. Stella memeriksa tekanan darah pasien dan suhu tubuhnya.


"Pak," ucap Stella bingung menjelaskannya tetapi Adrian memintanya untuk mengatakannya. Adrian yakin Stella tak akan salah memprediksi.


"Pasien mengalami usus buntu, ini sudah cukup parah dan harus di operasi," ucap Stella.


"Di operasi Dok?" seru pasien.


"Tenanglah Ibu, ini bukan seperti operasi besar kebanyakan. Kalau tidak di operasi maka Ibu akan terus merasakan rasa sakit," seru Stella.


"Lakukan persiapan untuk operasinya," perintah Adrian yang di angguki Stella.


"Dokter Adrian, bisa tolong bantu aku," ucap seseorang membuat Stella dan Adrian menoleh dimana Dara berdiri di ambang pintu.


"Oh baiklah," ucap Adrian berlalu pergi begitu saja meninggalkan Stella yang mematung sendirian menatap kepergian Adrian.


"Adrian, ada pasien dengan penyakit jantung yang cukup serius," ucap Dara.


"Baiklah, ayo kita periksa," ucap Adrian yang di angguki Dara.


***


Stella membawa nasi kotak miliknya dan memilih duduk di bawah pohon yang berada di belakang rumah posyandu yang teduh dan sejuk. Ia menyimpan nasinya di depan kakinya yang di lipat.


Kalau di klinik, ia tak akan makan sendirian karena ada Lenna. Di sini dia merasa tak ada teman sama sekali. Apalagi mahasiswa koas yang di ajak hanya dia sendiri, sedangkan yang lain sibuk di klinik bersama Dr. Datan.

__ADS_1


"Boleh ikut bergabung?" tanya seseorang membuat Stella menoleh ke sumber suara.


"Dr. Ivan?"


"Aku melihatmu makan siang sendirian, kebetulan aku juga sendirian. Mau makan bersama?" tanya Ivan sekali lagi karena Stella belum memberi jawaban.


"Oh iya silahkan Dok," ucap Stella dan Ivan duduk di hadapan Stella dengan menyilangkan kakinya.


Adrian baru saja keluar dari pintu keluar rumah, ia tampak celingak cellinguk kesana kemari mencari seseorang dengan kedua tangannya yang membawa dua buah nasi kotak.


"Dimana Stella," gumam Adrian celingak celinguk hingga pandangannya berhenti pada satu titik. Ia melihat Stella makan bersama Ivan dan tampak mereka sesekali tertawa.


"Mereka tampak akrab sekali," ucap Adrian.


"Siapa?" tanya Dara yang entah datang darimana.


"Tidak apa-apa," ucap Adrian tetapi Dara ikut melihat arah pandang Adrian dan menyadari keberadaan Stella dan Ivan.


"Kau sudah makan?" tanya Adrian membuat Dara memalingkan pandangannya dari Stella Ivan ke arah Adrian.


"Belum," ucapnya diiringi senyumannya.


"Untukmu," Adrian menyerahkan nasi kotak itu yang di terima Dara. Tatapan Dara tertuju pada jari manis Adrian, ia baru menyadari kalau Adrian menggunakan sebuah cincin di jari manisnya.


"Ada apa?" tanya Adrian menyadarkan Dara dari lamunanya.


"Ah tidak, terima kasih," ucap Dara segera menerima nasi kotak dari tangannya. Dan aktivitas itu tertangkap oleh pandangan Stella dari tempatnya.


****


Dara baru saja selesai mandi dan bercermin dengan rambut yang di lilit handuk dan memakai jubah handuk yang menutupi tubuhnya.


Ia merenung mengingat cincin yang bertengker di jari manis Adrian.


"Sejak kapan cincin itu ada di sana? Bukankah pria yang memakai cincin di jari manis tangan kirinya itu berarti dia sudah menikah. Apa benar Adrian sudah menikah?" gumam Dara.


"Tetapi sejak kapan dan dengan siapa?"

__ADS_1


"Ah itu tidak mungkin! Adrian harus menjadi milikku, dia tidak mungkin sudah menikah!" ucap Dara terus membantah segala persepsi di kepalanya.


***


__ADS_2