
"Ya Tuhan, apa mereka semua begal?" tanya Stella kaget sekaligus takut.
"Kamu tunggu di dalam mobil dan jangan keluar dari dalam mobil," ucap Adrian melepaskan seatbeltnya.
"Bapak yakin bisa menangani mereka? Mereka tidak sendiri lho Pak," ucap Stella dengan rasa khawatir.
"Ck, kamu meragukan saya?" seru Adrian.
"Bukan begitu, tetapi mereka semua berbadan besar dan menyeramkan, aku tidak ingin Bapak pingsan begitu saja. Ini sudah malam, dan tidak ada orang. Sebaiknya kita pergi dari sini, ayo mundur lagi saja," ucap Stella.
"Tidak bisa Stella, lihat mereka semua menghadang mobil kita dari segala arah," ucap Adrian.
"Kita minta bantuan yang lain, aku akan menghubungi Lenna." Stella mengeluarkan handphonenya.
"Dan selama kita menunggu mereka datang, kita akan mati karena di keroyok. Apalagi perjalanan dari sana ke sini tuh jauh dan kita gak tau dimana ini," ucap Adrian membuat Stella menghela nafasnya.
"Sudahlah, jalan satu-satunya tuh kita hadapin mereka. Kamu tenang saja di sini, diem. Ingat Pendek, jangan coba coba untuk keluar dari dalam mobil!" peringatan Adrian sebelum akhirnya dia keluar dalam mobil meninggalkan Stella yang tampak khawatir dan gelisah.
"Aduh itu Dosen Boboho itu benar-benar bisa melawan para preman itu, jangan Cuma badannya yang gede mirip gorilla," gumam Stella memperhatikan Adrian yang sedang berdebat dengan preman preman itu.
"Itu Pak Adrian gak samain berantem sama bedah pasien yang di bius kan? Aduh ya Allah bagaimana ini? Kalau kami di rampok, dan sampai terlantar di jalan berduaan gimana ini?" gumamnya tidak karuan.
"Eh dia berantem," ucapnya saat melihat Adrian mulai berkelahi meladeni para preman itu satu persatu. "Ayo pak Dosen iya pukul sana pukul sini, tenjok ayo tendang selangkangannya sekalian biar tuh burung bengkak kagak sembuh-sembuh," ucap Stella penuh semangat melihat Adrian berkelahi hingga ia tak sadar kalau 2 orang dari preman itu sudah berada di sisi pintunya.
"Ah!" teriaknya saat pintu penumpang mobil di buka dengan paksa. "Kalian mau apa, pergi!" teriak Stella berusaha berpindah tempat dan menendang mereka berdua tetapi terlambat karena mereka sudah menangkap tangan Stella dan menariknya keluar.
"Ahhh pak TMII tolong!" teriak Stella saat sudah di seret keluar dari mobil. Mendengar itu, fokus Adrian teralihkan dan itu menjadi kesempatan bagi preman untuk meninju Adrian hingga tersungkur.
"Pak Adrian!" teriak Stella sangat ketakutan.
Karena Adrian sudah tersungkur, kelima preman itu langsung menerjang dan memukuli tubuh Adrian dengan di keroyok.
"Tidak! hentikan itu!" jerit Stella merasa khawatir melihat tubuh Adrian meringkuk di tanah, di tendang dan di pukuli.
"Ah!"
Pekik kedua preman yang memegang Stella saat Stella menggigit tangannya dan menendang ************ salah satunya. Ia berlari mendorong kelima tubuh preman lalu memeluk tubuh Adrian yang meringkuk di tanah.
"Kamu tidak apa-apa?" tangis Stella membuat Adrian menoleh dan tetap tersenyum walau wajahnya sudah babak belur dan berdarah.
"Kamu tidak pernah mau mendengarkan ucapanku, Pendek. Aku bilang kunci pintu mobilnya," ucap Adrian.
__ADS_1
"Maaf, aku lupa, hikzz..."
"Ck kamu ini selalu saja teledor dan ceroboh," seru Adrian. "Sudah jangan di tangisi lagi, semuanya sudah terjadi kan."
"Iya tetapi aku bukan menangisi itu, aku menangisi wajah Bapak jadi chubby." Seketika Adrian terkekeh mendengar ucapan Stella yang menurutnya konyol tetapi mampu mencairkan suasananya.
"Yang jelas aku masih tampan," kekehnya.
"Sudah puas mengobrolnya?" seruan itu membuat Stella dan Adrian berpaling, ternyata mereka berdua sudah di kepung ke 7 preman itu.
"Enak sekali kalian berbincang saat kami di sini," seru yang lain.
"Sekarang serahkan semua barang berharga kalian, dompet, handphone, jam tangan, perhiasan!"
Adrian dan Stella saling memandang. "Stella bersiaplah untuk lari," gumam Adrian.
"Tidak, sebaiknya kita beri yang mereka mau, Pak. Biar kita selamat, dan wajah Bapak juga gak makin bonyok," seru Stella.
"Ck kamu ini, sebaiknya kita lari," ucap Adrian.
"Jangan berpikir untuk lari kalian!" gertak preman itu.
"Stella ayo!" Adrian menarik Stella untuk berlari. Mereka akhirnya berhasil berlari menjauh dan para preman itu tetap berlari mengejar mereka berdua.
"Ck, dasar pak Boboho! Aku tau aku pendek dan punya kedua kaki yang pendek juga berbeda dengan punyamu yang panjang!" seru Stella.
"Punyaku memang panjang Stella, tidak bulat," ucap Adrian dan membuat Stella dongkol.
Setelah cukup lama berlari dan mereka terjebak dengan hutan di pinggir jalan juga jurang yang tak begitu curam. "Kemana inni?" gumam Stella.
"Bersembunyi!" ucap Adrian menarik Stella bersembunyi di balik semak semak dan Adrian tak bisa bersembunyi hingga dia kembali melawan para preman itu.
Tak lama seorang preman datang dengan kayu balok membuat Stella melongo kaget. Preman itu mengangkat baloknya ke udara.
"Awas Adrian!" teriak Stella berlari menerjang.
Bruk
pukulan itu mengenai kepala belakang Stella yang melindungi Adrian, dan karena tubuhnya yang kecil mendapat hentakan besar itu, tubuh Stella terdorong dan berguling ke jurang.
"Pendek!" teriak Adrian.
__ADS_1
Adrian semakin emosi dan membabi buta menyiksa para preman itu hingga mereka kabur menggunakan mobil yang di gunakan Adrian tadi. Adrian berlari menuruni jurang itu tak perduli walau sesekali ia terjatuh karena terpeleset hingga ia sampai di bawah dimana tubuh Stella tergeletak.
"Stella!"
Adrian menarik tubuh Stella dan menahan kepalanya di atas lututnya. "Stella!" Adrian berusaha membangunkan Stella hingga ia merasakan sesuatu di tangannya yang menyanggah kepala Stella. Ia mengangkat tangan kanannya dan memekik kaget saat ada darah di sana.
"Stella sadarlah!" ucap Adrian begitu khawatir.
"Stella bangun!" Adrian menarik Stella ke dalam pelukannya dengan perasaan yang sangat takut dan khawatir. Ia merebahkan kepala Stella di tanah dan ia berusaha melakukan pertolongan pertama sampai Stella sadar.
"Stella!"
"Adrian," gumamnya menatap Adrian dengan tatapan layu.
"Bertahanlah, aku akan membawamu ke klinik sekarang," ucapnya dan langsung memangku tubuh Stella.
"Klinik masih jauh," gumam Stella yang kini merebahkan kepalanya di dada Adrian. "Kita naik apa ke sana."
"Jangan pikirkan itu, kamu hanya perlu tetap membuka mata dan bertahanlah, demi aku." Adrian berucap dengan tegas dan berjalan dengan memangku tubuh Stella ala bridal.
Stella menatap wajah Adrian yang juga penuh darah, pasti tubuh Adrian juga sakit-sakit karena tadi di keroyok, tetapi dia tetap bertahan berjalan kaki menuju klinik dengan menggendong Stella. Melihat perjuangan itu entah kenapa Stella seketika menitikkan air matanya dan menelusupkan wajahnya ke dada bidang Adrian yang sangat nyaman. Adrian menunduk melihat Stella sebentar dan kembali menatap ke depan.
∞
Adrian sampai di klinik saat matahari akan keluar dari tempat persembunyiannya. Ia langsung di sambut para perawat, dokter Datan dan juga Dara. Stella yang sudah di bawa oleh para mahasiswa koas menoleh ke arah Adrian yang terduduk dengan kondisi yang tak baik-baik saja.
Semalaman Adrian berjalan dengan menggendong Stella.
∞
"Stella," panggilan itu membuat Stella membuka matanya dan tatapannya langsung beradu dengan Lenna sahabatnya. "Bagaimana keadaan lu?"
"Adrian," gumamnya.
"Apa?" tanya Lenna karena tidak mendengar dengan jelas.
"Lenna, gue harus melihat kondisi pak Adrian sekarang juga," ucap Stella bangun dari rebahannya. "Aduh!" Stella memegang kepalanya yang di perban.
"Lu masih sakit, tidur dulu saja. Pak Adrian juga sedang di periksa," ucap Lenna.
"Tidak, gue harus melihatnya."
__ADS_1
Stella yang keras kepala memaksakan diri untuk bangun dari blangkar dan menenteng infusannya. Baru saja ia membuka pintu, tatapannya beradu dengan Adrian yang juga berdiri di sana dengan pakaian pasien dan sama-sama menenteng infusan. Keduanya saling bertatapan penuh arti.
∞