Marriage With Dosen

Marriage With Dosen
Episode 37


__ADS_3

"Hai,"


"Eh?" Stella kaget karena tiba-tiba saja seseorang memeluknya dari belakang. "Bee suami?"


"Hmm, memang kamu ingin di peluk siapa?" tanya Adrian.


"Tidak ada," jawab Stella yang sedang sibuk membereskan beberapa berkas medis di atas mejanya. Kebetulan ia sedang berdiri memunggungi pintu hingga tak menyadari kedatangan Adrian.


"Jangan seperti ini, Bee. Nanti bagaimana kalau ada orang masuk, aku kan sedang bekerja." Stella berusaha melepaskan pelukan dari Adrian yang sangat sulit.


"Ini sudah waktunya makan siang, kamu tidak lihat jam musangmu itu, Pendek." Adrian berucap seraya menatap jam doraemon di atas meja.


"Ck, itu jam doraemon bukan musang."


"Ck, sama saja bentuknya seperti musang," ucap Adrian melepaskan pelukannya dan berjalan untuk duduk di atas blangkar yang berada tak jauh dari meja kerja Stella.


"Berhenti menghina Doraemonku, Dasar Boo."


'Bee, Pendek!"


"Boo, Bobohooooo!" kekehnya membuat Adrian mencibir.


"Ayo makan," Adrian menarik tangan Stella begitu saja.


"Aduh Bee, aku harus mengantarkan berkas itu ke Dokter Ivan," seru Stella.


"Jangan menemuinya, aku tidak suka."


"Apa?" Stella melongo mendengar jawaban acuh dari Adrian dan tetap menariknya keluar dari klinik. Beberapa mata tertuju kepada mereka berdua termasuk Dara yang menatap mereka dengan tatapan terluka.


"Duduklah," perintah Adrian mendudukan tubuh Stella di atas kursi meja makan yang ada di dapur wisma.


"Kamu masak?" tanya Stella.


"Duduk sebentar, akan ku buatkan sesuatu yang spesial untukmu. Kamu harus banyak makanan yang bergizi supaya tumbuh kembangmu baik. Badanmu akan semakin tinggi nanti," ejek Adrian hingga ia melihat apel melayang ke arahnya dan dengan sigap ia tangkap dengan sebelah tangannya. Ternyata apel itu di lemparkan oleh Stella yang menatap tajam ke arahnya.


"Bee TMII yang tengil, menyebalkan, idiot dan ih nyebelin pokoknya!" sembur Stella.


"Durhaka lho ngejek suami sendiri," goda Adrian.


"Bodo!"


Adrian mulai membuka jas dokternya dan melipat kemejanya hingga siku dan mulai menyiapkan segalanya. Stella bangun dari duduknya dan berjalan mendekati Adrian yang sibuk memotong sayuran dan menyiapkan bahan masakan.


Stella duduk di dekat tempat memasak hingga ia dapat dengan jelas memperhatikan Adrian memasak.


"Oh iya telurnya kasih irisan cabe rawit yah," ucap Stella.


"Baiklah Queen."


"Wow Queen, Bee king seneng deh," kekeh Stella membuat Adrian tersenyum.


"Saat kembali ke Jakarta, aku tidak mau memasak lagi. Kamu yang harus memasakkan makanan untukku," ucap Adrian.


"Aku tidak bisa memasak Bee, kamu mau apartementmu terbakar," ucap Stella.


"Jangan berlebihan dan banyak alasan. Kamu harus private dulu sama Mama Lita. Dia jago mengajarkan memasak," ucap Adrian.


"Ya baiklah, untung Mama Lita bukan seperti mertua mertua lain yang suka nyinyir," kekeh Stella membuat Adrian menggelengkan kepalanya.


Stella memperhatikan Adrian yang sedang fokus memasak, bibirnya tak bisa ia tahan untuk tidak tersenyum dan terpesona. Wajahnya pun tampak merona, dan hatinya seperti di taburi bunga bunga, sungguh bahagia.


"Emm masalah perjanjian itu," seru Stella membuat Adrian menoleh padanya.


Stella dan Adrian saling menatap satu sama lainnya. "Aku tidak akan pernah menceraikanmu, Stella."


Stella dapat menangkap perubahan raut wajah dari Adrian yang mengeras.


"Kenapa?" tanya Stella.


Adrian menghentikan aktivitasnya dan menatap ke arah Stella. "Apa kamu begitu ingin terlepas dariku?" tanya Adrian begitu serius.


Stella di buat termangu di tempatnya karena tatapan tajam dari Adrian. "Kalau begitu jangan pernah meninggalkanku dan membuatku pergi darimu," ucap Stella.


Adrian berjalan mendekati Stella dan berdiri di hadapannya. Ia menangkup wajah Stella dengan kedua tangannya dan membelai pipinya lembut.


"Aku tidak pernah ingin meninggalkanmu, Stella. Aku yang sebenarnya ketakutan kamu memilih meninggalkanku. Jadi ku mohon jangan pernah memintaku untuk melepaskanmu,"


"Akan aku pikirkan," ucap Stella tersenyum manis. "Tetapi Bee, aku sudah sangat lapar."


"Kau ini mengganggu keromantisan kita, baiklah 10 menit lagi tunggu yah." Adrian mengecup kening Stella dan berlalu untuk kembali menyelesaikan masakannya.


10 menit berlalu dan Adrian menata makanan di atas meja tepat di hadapan Stella yang sudah berdecak tergiur dan ingin segera melahapnya.


"Aku ambilkan ini yah," ucap Stella menuangkan makanan ke dalam piring untuk Adrian dan dirinya.


"Makan sayurannya yang banyak, biar cepat tumbuh. Aduh!" Adrian terkekeh seraya mengusap lengannya yang di pukul Stella.


"Dasar Dosen TMII," gerutu Stella yang kini sudah duduk berhadapan dengan Adrian. "Selamat makan." Stella mulai mencicipi makanan itu.


"Ini enak," serunya dan semakin lahap menikmati makanannya membuat Adrian tersenyum senang.


"Habiskanlah," ucap Adrian.



"Stella."


Panggilan itu menghentikan langkah Stella yang hendak menuju ke ruang IGD.


"Dokter Ivan, ada apa?" tanya Stella berjalan menghampiri dokter Ivan.


"Ini ada beberapa hal baru mengenai masalah kandungan. Kamu mau bantu memeriksanya?" tanya Dokter Ivan.


"Aku mau melihatnya," seru Stella penuh semangat.

__ADS_1


"Kemarilah," ucap Dokter Ivan.


Selang beberapa menit Adrian berjalan melewati ruangan Ivan dan terdengar suara canda tawa perempuan dan laki-laki. Adrian mengernyitkan dahinya dan menghentikan langkahnya. Ia mengenal suara ini. Dengan penuh kecurigaan Adrian berjalan mendekati pintu ruangan Ivan yang terbuka sedikit. Ia mengintip dari celah itu.


Di dalam sana terlihat Stella dan Ivan tengah mengamati sesuatu, entah apa karena mereka memunggungi Adrian. Stella dan Ivan terlihat tertawa bersama dan begitu akrab.


Melihat itu semua, sungguh membakar hati Adrian. Wajahnya mengeras dan tampak murka. Tetapi Adrian tampak enggan menegur mereka, ia memilih pergi dengan penuh kekesalan.



"Heh pengaharum ruangan!"


Stella mendengus kesal dengan panggilan dari Datan. Ia menoleh dengan kesal dan juga sebal. "Apa sih Kokodil?"


"Kamu ini benar-benar cuek yah. Tuh laki mu lagi merajuk,"


"Merajuk? Kenapa?" tanya Stella dengan polos.


"Ck, dasar pengharum ruangan tak peka."


"Berhenti memanggilku pengarum ruangan, dasar dokter Kokodil nyebelin!" Stella kembali terpikir ucapan Datan sebelumnya. "Tetapi Dokter Adrian memangnya kenapa?"


"Meneketehe, dia amuk-amukan di ruangannya. Butuh asupan kali, makanya cepat-cepat kasih dia jatah biar gak beku punya dia," kekeh Datan membuat Stella melongo.


"Apanya yang beku?" tanya Stella dengan polos dan Datan terkekeh.


"Semprotan benih," kekeh Datan berlalu pergi.


"Ih tuh dokter Kokodil gak jelas banget. Tapi kenapa yah dengan Bee? Kalau di ingat-ingat juga sejak tadi dia gak ada whatsapp aku,"


"Mungkin sebaiknya aku ke ruangan dia," gumam Stella beranjak menuju ruangan Adrian.


Stella tersenyum saat pintu ruangan terbuka dan terlihat punggung lebar suaminya sedang memunggungi pintu. Dengan mengendap-ngendap Stella masuk dan langsung memeluk Adrian dari belakang membuat Adrian sedikit bereaksi kaget.


"Kamu sibuk yah?" tanya Stella menyandarkan kepalanya di punggung Adrian yang lebar dan begitu nyaman. "Sampai tidak mengirimkan pesan padaku."


"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu," jawab Adrian terdengar sinis.


"Maksud kamu apa?" tanya Stella melepaskan pelukannya dan Adrian berbalik menghadap ke arahnya dengan wajahnya yang datar. "Abis tanam benang yah tuh wajah kamu? Tegang amat," kekeh Stella mencubit pipi Adrian.


"Senang yah abis berduaan dan bercanda sama dokter Ivan," sindir Adrian.


"Oh jadi Bee suami lagi cemburu nih ceritanya, lucu banget sih mukanya tegang tegang kayak abis tanam benang," kekeh Stella mencubit kedua pipi Adrian.


"Berhenti menggoda," seru Adrian berjalan menjauhi Stella.


Stella berjalan mendekati Adrian dan memeluknya dari samping seraya menyandarkan dagunya ke pundak Adrian.


"Aku hanya belajar mengenai kandungan padanya. Entah kenapa aku ada keinginan untuk menjadi seorang dokter Kandungan nantinya. Aku sama sekali tidak memiliki perasaan pada dokter Ivan. Hatiku seutuhnya Bee suami, Dosen TMII ku yang sangat nyebelin."


Adrian menahan kedutan di bibirnya yang tak kuasa untuk tersenyum.


"Kalau begitu rayu aku sampai aku kembali luluh," ucap Adrian masih berpura-pura marah.


"Ck dramatis banget sih," ejek Stella.


"Astaga ternyata dosen Killer itu masih belum dewasa," gumam Stella.



Malam menjelang, semua anak-anak tidak ada yang jaga malam ataupun lembur. Kini mereka semua mengadakan acara api unggun di belakang wisma dan bercanda tawa bersama. Mereka memang selalu melakukan ini di akhir pekan hanya untuk menghilangkan rasa penat dari pekerjaan.


"Khemm, selamat malam semua."


Suara itu membuat semua orang menatap ke sumber suara. Adrian yang sedang berbincang dengan Datanpun ikut menoleh ke sumber suara. Ternyata Stella sedang duduk di atas kursi tepat di sebrang Adrian terhalang api unggun. Ia sudah memangku gitar milik salah satu teman koasnya.


"Aku mau menyanyikan lagu spesial untuk orang yang sangat spesial. Intinya tolong percaya dengan hati ini dan berhenti marah padaku," ucap Stella sedikit malu-malu membuat semuanya menyorakinya heboh kecuali Ivan yang merasa tak suka mendengar kata-kata Stella. Adrian tersenyum simpul mendengarnya.


"Dengarkan baik-baik lagu ini dan makna dari lirik lagi ini yah," ucapnya dan mulai memetik gitar acustiknya.


Biasa sa cinta satu sa pinta


Jang terlalu mengekang rasa


Karna kalau sa su bilang


Sa trakan berpindah karna su sayang


Stella tersenyum ke arah Adrian yang menatapnya dengan meneguk minuman kalengnya.


Jangan kau berulah sa trakan mendua


Cukup jaga hati biar tambah cinta


Karna kalau sa su bilang


Sa trakan berpindah karna su sayang


Dan ini semua tentang hati


Jadi coba pikir kembali


Janji tra mungkin sa ingkari


Karna alasan tra kabari


Kasih ko begitu curiga


Berubah kini ko berbeda


Ikat sa kuat atas nama cinta


Sa tra suka paksa itu masalahnya


Stella mengedipkan sebelah matanya ke arah Adrian membuat Adrian tersenyum lebar dan ia tidak menyangka Stella memiliki suara yang merdu.

__ADS_1


Biarkan cinta tumbuh sebisanya


Cinta dan resah itu pelengkapnya


Jang hanya datang dan tinggalkan lara


Sa tetap cinta walo tra bersuara


Biasa sa cinta coba ko pahami


Sa su bilang sayang jaga sap hati


Tra mendua sa berhenti mencari


Cukup ko dalam mimpi, kini dan nanti


Biasa sa cinta satu sa pinta


Jang terlalu mengekang rasa


Karna kalau sa su bilang


Sa trakan berpindah karna su sayang


Jangan kau berulah sa trakan mendua


Cukup jaga hati biar tambah cinta


Karna kalau sa su bilang


Sa trakan berpindah karna su sayang


Bilang pada sa kalo rindu


Pasti sa ada jangan ragu


Tetapi bukannya begitu


Ko malah marah sampe lupa waktu


Tra balas sa pu pesan


Jujur sa sayang ko membingungkan


Sa cuma butuh sedikit sandaran


Ko pikir semua itu cuma jalan


Sa dekati selingkuhan


Dan coba renungkan kembali


Sap rasa tumbuh dan tra mati


Ko masih jadi kekasih


Jadi jang takut sa ke lain hati


Biasa sa cinta satu sa pinta


Jaga hati biar sa makin cinta


Percaya rasa jang dengar cerita


Pegang sap janji sa tra coba berpindah


Biasa sa cinta satu sa pinta


Jang terlalu mengekang rasa


Karna kalau sa su bilang


Sa trakan berpindah karna su sayang


Jangan kau berulah sa trakan mendua


Cukup jaga hati biar tambah cinta


Karna kalau sa su bilang


Sa trakan berpindah karna su sayang


Biasa sa cinta satu sa pinta


Jang terlalu mengekang rasa


Karna kalau sa su bilang


Sa trakan berpindah karna su sayang


Jangan kau berulah sa trakan mendua


Cukup jaga hati biar tambah cinta


Karna kalau sa su bilang


Sa trakan berpindah karna su sayang


"Ohooo hooooooo."


"Aku mencintai kamu, Pendek." gumam Adrian tanpa suara tetapi bisa tertebak oleh Stella yang tersenyum lebar ke arah Adrian.


"Si pengharum ruangan suara bagus juga," ucap Datan dengan santai.


"Aku tidak menyangka akan jatuh cinta seperti ini pada seorang wanita," ucap Adrian.

__ADS_1


"Ya cinta memang misteri, susah di tebak," ucap Datan.



__ADS_2