Marriage With Dosen

Marriage With Dosen
Episode 29


__ADS_3

"Gak tidur?" tanya Datan saat melihat Adrian hanya duduk termangu di atas ranjang dengan bersandar ke kepala ranjang.


"Belum mengantuk," jawab Adrian dengan malas.


"Masalah Stella lagi?" tanya Datan yang kini duduk di samping Adrian.


"Dia terlihat semakin dekat dengan Ivan, dan itu membuat gue sangat kesal." Adrian tampak tersulut emosi karena itu.


"Kenapa tidak lu coba untuk mengatakan kejujuran perasaan lu padanya, Rian."


"Entahlah, gue hanya takut dia akan menghindar dan malah mejauhi gue. Dan yang paling gue takutkan dia memilih mempercepat perceraian kami karena perasaan ini, sudah jelas dalam perjanjian yang dia buat, dia ingin bebas dari gue."


"Lu akan menuruti keinginannya begitu saja?" tanya Datan.


"Maybe, gue hanya takut langkah gue malah membuatnya semakin menjauh," jawab Adrian.


"Berarti sebelum itu lu buat dia jatuh cinta sama lu dan buat dia semakin tak ingin kehilangan lu, dengan begitu dia tak akan punya alasan lagi untuk pergi dari lu."


"Apa mungkin gadis seperti dia bisa jatuh cinta?" tanya Adrian mengingat sikap Stella yang ceroboh, petakilan, semaunya, tidak pernah memperdulikan sekitar. Bagaimana mungkin dia bisa memperdulikan perasaan cinta.


"Ck, Kakak lu aja yang model begitu, lebih parah gilanya dari Stella bisa bertekuk lutut sama abang gue," seru Datan. "Lu inget kan gimana nggak maunya si Ona sama bang Verrel, tetapi karena usaha bang Verrel yang tak pernah putus asa meluluhkan perasaan Ona, akhirnya dia jatuh cinta ke abang gue sampai klepek klepek juga." Datan berucap panjang lebar. "Kalau lu gak ingat, baca lagi cerita Kakak lu A Second Chance, ambil hikmahnya dah dari sono."


"Tapi begitu begitu juga kak Ona itu orangnya peka'an, lu ingat kan sama kasusnya kak Leon, kalau gak ingat buka dan baca lagi cerita Destiny. Kak Ona sangatlah peka sama kak Leon."


"Dan sekarangpun dia sangat peka dengan perasaan gue, bahkan dia orang pertama yang menyadari perasaan gue ke Stella."


"Mmmmm, waktu lu masih lama sih Bro, sampai Koas berakhir. Kalau Stella lu lulus Koas dalam waktu 2 tahun maka waktu lu mungkin singkat sedangkan waktu Koas ini sudah hampir 1 tahun. Di pikir-pikir juga pernikahan lu dengan Stella sudah mau 1 tahun, tetapi belum ada perkembangan apa-apa," ucap Datan.


"Entahlah," keluh Adrian memilih merebahkan tubuhnya memunggungi Datan.


"Hah cinta itu memang memusingkan," ucap Datan ikut merebahkan tubuhnya.


***


Ivan melihat Stella terlelap di atas meja kerjanya saat pasien tak ada.


Tok tok tok


Stella membuka matanya saat mendengar itu karena kaget dan langsung mengerjapkan matanya.


"Eh Dokter Ivan," serunya.


"Lelah yah," tanya Ivan yang kini duduk di atas blangkar yang berada tepat di samping meja kerja Stella.


"Begitulah, semalam aku jaga malam karena banyak pasien yang berdatangan," kekehnya seraya menguap.


"Mau aku buatkan kopi?" tawar Ivan.


"Tidak perlu, aku bisa membuatnya sendiri," seru Stella bergegas bangun menuju pantry tetapi tubuhnya oleng karena masih pusing dengan cepat Ivan menahan tubuh Stella hingga mereka berpelukan. Bertepatan dengan itu Adrian masuk dengan membawa sebuah buku.


Adrian mematung di tempatnya melihat pemandangan di depannya yang sangat menyakiti hatinya dan melukai ego nya sebagai seorang pria juga suami. Ia harus melihat istrinya berpelukan dengan pria lain.


Stella melihat kehadiran Adrian dan dengan cepat ia mendorong dada Ivan hingga pelukan mereka terlepas. Adrian dan Stella saling bertatapan satu sama lainnya. Entah kenapa tatapan Adrian membuat Stella merasa bersalah dan takut.

__ADS_1


"Maaf mengganggu kalian, ini bahan ujian lisanmu siang nanti," ucap Adrian dengan sangat dingin. Stella menerima buku itu,


"Terima Ka-" belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya, Adrian sudah berlalu pergi meninggalkan Stella yang mematung di tempatnya.


"Jadi membuat kopi?" seru Ivan menyadarkan Stella dari lamunanya.


"Ah iya," jawab Stella dan berjalan bersama dengan Ivan.


***


Adrian bersama dengan Dara baru saja keluar dari ruang rawat pasien.


"Pasien ini sepertinya tak bisa lagi menunggu lama. Dia harus segera di operasi," ucap Dara.


"Kau benar, tetapi di sini fasilitasnya tidak memadai. Aku sudah berkomunikasi dengan kepala Klinik dan meminta pasien itu di kirim segera ke pusat kota dan menjalani operasi di rumah sakit besar." Adrian tampak tak fokus.


"Kamu yang akan mengoperasinya?" tanya Dara.


"Entahlah."


"Rian, kau baik-baik saja?" tanya Dara menyentuh lengan Adrian.


"Ya, aku harus pergi melakukan tes lisan anak-anak," ucap Adrian berbalik hendak pergi tetapi gerakannya terhenti saat ia berpapasan dengan Stella dan Ivan.


Baik Adrian dan Stella sama-sama saling menatap, Stella sempat bingung kenapa Adrian memandangnya sedingin itu. Tatapannya lalu teralihkan pada tangan Dara yang berada di lengan Adrian.


Dara menangkap kejanggalan itu, tatapan Adrian dengan Stella yang menurutnya berbeda sekali. Ia merasa harus mencari tau sebenarnya dengan siapa Adrian menikah.


***


Stella bersama beberapa mahasiswa lain menunggu di luar ruangan. Satu per satu dari mereka masuk ke dalam ruangan untuk melakukan tes lisan. Mereka mendengar amukan Adrian dari dalam sana memarahi mahasiswa yang sepertinya tak mampu menjawab pertanyaan darinya.


"Ya Tuhan kok sepertinya begitu menegangkan di dalam sana," seru salah satu mahasiswi yang menunggu di luar. Mereka kasak kusuk membicarakan bagaimana mereka akan menghadapi Adrian di dalam sana. Sudah cape bekerja, bahkan tak ada waktu untuk tidur. Sekarang mental merekapun harus di uji dengan amukan seperti ini.


"Tidak biasanya Pak Adrian mengamuk seperti itu saat melakukan tes pada kita, kok hari ini sepertinya dia berbeda," ucap Lenna membuat Stella mengalihkan pandangannya dari buku ke Lenna di sampingnya.


"Gue tidak tau, biarkan saja. Mungkin moodnya sedang jelek," ucap Stella masa bodo.


Setelah menunggu begitu lama kini akhirnya tiba giliran Stella. Stella sebenarnya sudah sangat kesal karena Adrian membuatnya menjadi peserta yang terakhir dan ia harus menunggu cukup lama. Stella menyuruh Lenna untuk pergi ke klinik dan kembali bekerja. Dan kini hanya tersisa Stella sendirian, ia berjalan santai ke dalam ruangan.


"Permisi Pak," ucap Stella masuk ke dalam, dan wajah dingin Adrian yang pertama kali ia lihat.


Stella berjalan mendekati meja dan berdiri bersebrangan dengan Adrian yang duduk angkuh di atas kursi.


Adrian masih menatap Stella dengan tatapan menyelidik membuat Stella jengah. Cukup lama Adrian mendiamkan Stella hingga akhirnya Stella membalas tatapan Adrian dengan tatapan tajam juga, ia membuktikan kalau dia tak akan kalah ataupun takut pada Adrian.


"Hanya kamu yang berani menatap Dosen pembimbingmu seperti itu, apa kamu tidak takut aku memberikan nilai buruk untuk koasmu ini? Bukankah koas ini menentukan kamu untuk menjadi seorang Dokter atau tidak."


Stella memalingkan wajahnya ke arah lain. "Jadi apa yang sudah kau dapatkan selama di sini?" tanya Adrian.


"Saya melakukan hal yang biasa saya lakukan di rumah sakit, hanya di sini lebih banyak pasien yang menderita sakit di banding di UGD rumah sakit yang terkadang pasien yang masuk adalah pasien kecelakaan," jawab Stella. "Di sini juga saya mendapatkan pelajaran baru mengenai beberapa penyakit pencernaan. Di sini memang 70% pasien menderita penyakit pencernaan," ucap Stella.


"Ada yang lain?" tanya Adrian.

__ADS_1


"Oh iya, saya juga belajar banyak hal mengenai kandungan, kehamilan, dan proses melahirkan. Saya sudah cukup memahami dan tau mengenai KIA."


"Oh begitukah?" tanya Adrian yang kini bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Stella. "Jelaskan apa yang kau ketahui pengenai KIA?" tanya Adrian kini duduk di atas meja di depan Stella. Dengan lancar Stella menyebutkan berbagai kondisi, penyakit dan beberapa gejala yang terjadi pada seorang wanita hamil, Ibu, Bayi dan Anak. Bahkan Stella juga mengetahui bagaimana cara melakukan persalinan bayi secara normal, bagaimana mengurus bayi saat berhasil di keluarkan dan selamat.


"Wow, Amazing!"


Ucapan Stella terhenti karena ucapan Adrian itu. Ia mengernyit bingung menatap Adrian di depannya.


"Kau memang cerdik, Stella." Adrian terkekeh dan bangkit dari duduknya. "Kau mengambil kesempatan koas ini dengan mencoba mendekati Dokter Ivan!"


Stella mengernyitkan dahinya bingung. "Sebenarnya ada hubungan apa antara kau dan dia? Apa hubungan kalian sudah menjadi sepasang kekasih?"


"Apa maksudmu? Aku dan Dr. Ivan hanya sebatas Dokter pembimbing dengan mahasiswa didiknya." Tawa Adrian seketika pecah dan semakin mendekati Stella membuatnya mundur.


"Jangan Berbohong!" bentak Adrian membuat Stella kaget. "Aku selalu melihat kedekatan kalian! Dan lihatlah sekarang, bahkan kau tak menyebutkan sekali saja mengenai operasi jantung atau penyakit jantung! Jelas kau begitu menyukainya!"


Stella semakin di buat ketakutan oleh sikap Adrian yang berubah. "Ingat Stella Anindita, kau ini masih istri sah ku!" bentaknya sampai terdengar keluar ruangan dimana Dara berdiri dan mendengarkan itu. Dara tampak syock dan sangat kaget mendengarkan semua itu.


"Kau tidak bisa seenaknya berpacaran dengan lelaki lain, bukankah kau sendiri yang menulis perjanjian itu kalau selama belum ada perceraian maka kau tak berhak menjalin kasih dengan pria manapun! kau paham?" bentak Adrian.


"Sudah puas membentakku?" lawan Stella meninggikan suaranya, ia tak ingin di sudutkan seperti ini. "Kau menuduhku seperti itu, lalu bagaimana denganmu dengan dokter Dara, hah? Apa hubungan kalian sebenarnya?" Stella akhirnya meluapkan amarahnya.


"Dara itu temanku, sudah aku katakan sebelumnya, bukan?"


"Kau ingin aku mempercayai itu?" Stella tersenyum sinis dan hendak berlalu pergi tetapi Adrian kembali menarik lengan Stella. "Lepaskan aku!" amuknya.


"Kau pikir kau bisa pergi begitu saja, hah?" bentak Adrian masih memegang lengan Stella.


"Lepaskan tanganku!"


"Tidak akan pernah!" ucap Adrian.


Baik Stella maupun Adrian, keduanya saling menatap tajam dan sangat kesal.


"Jadi sekarang apa maumu, Bapak Adrian yang Terhormat?" tanya Stella merendahkan suaranya.


"Kau menyukai Ivan?" tanya Adrian semakin membuat Stella mengernyit bingung.


"Aku tidak ingin menjawabnya, lepaskan aku!"


"Jawab aku Stella, kalau tidak-"


"Kalau tidak apa?" tantang Stella.


"Kau menantangku, baiklah."


"Emm!"


Stella membelalak lebar saat Adrian menarik kepala Stella dan bibir mereka beradu, dengan cepat Adrian melumat bibir Stella yang terasa begitu manis. Tubuh Stellapun merasa lemas dan tak bertenaga untuk melawan Adrian. Ia juga sangat syock mendapatkan perlakuan yang Adrian yang mendadak itu.


Di balik pintu Dara memandang mereka dengan tatapan kaget, kesal juga sakit hati. Hatinya hancur melihat Adrian yang mencium Stella.


***

__ADS_1


__ADS_2