Marriage With Dosen

Marriage With Dosen
Episode 27


__ADS_3

Hari ini mereka semua mulai bekerja di klinik, dan sejak pagi juga Stella tak melihat keberadaan Adrian. Stella terus saja di perintah oleh salah seorang perawat untuk mendata obat-obatan yang di suplier ke Klinik di sana.


Stella sibuk dengan mencatat setiap obat yang berada di dalam kardus ke etalase kaca yang tersedia di sana. Tak jauh darinya terdapat seorang apoteker yang juga sibuk membaca daftar obat yang akan di butuhkan di sana.


Tak lama masuklah Datan dan menyerahkan sebuah berkas ke apoteker perempuan itu dan ia tersenyum jahil saat melihat keberadaan Stella. Ia berjalan mendekati Stella yang sibuk menata obat obatan ke dalam etalase.


"Kau di sini ternyata," seru Datan membuat Stella menghentikan aktivitasnya dan menoleh ke arah Datan.


"Dokter Datan? ada apa?" tanya Stella mengernyitkan dahinya.


"Aku mencarimu sejak tadi," seru Datan bersandar ke dinding seraya memasukan kedua tangannya ke dalam saku jas dokter yang di gunakannya.


"Ada apa?"


"Apa kau tau sekarang dimana suamimu, eh maksudku Adrian," ucap Datan membuat Stella terdiam.


"Kenapa memangnya, dia pasti sibuk dengan pekerjaannya sendiri. Lagian di sini kami bukan sepasang suami dan istri," ucap Stella mencoba acuh.


"Ck jangan begitu, kau harus terus awasi suami kamu kapanpun juga," ucap Datan dengan santai.


"Kenapa harus begitu, toh dia bukan anak kecil lagi. Lagian yah ngapain Kak Datan di sini? Apa tidak bekerja?" tanya Stella mengernyitkan dahinya.


"Aku sedang bekerja, tetapi aku tak begitu sibuk. Dengar yah Stell, Kau harus tetap berhati-hati, banyak sekali wanita di sini termasuk pasien yang mengincar suamimu itu. Tak lain juga dokter Dara." Mendengar kata Dara, Stella langsung menoleh ke arah Adrian.


"Sejak tadi dia menempel terus lho dengan Adrian," goda Adrian menggulum senyumnya menatap perubahan raut wajah Stella.


"Biarkan saja," ucap Stella dengan cepat merubah raut wajahnya, ia tau Datan hanya menggodanya. Stella lalu berpamitan pergi meninggalkan Datan yang terkekeh.


"Aduh!" Stella menabrak seseorang saat ia keluar dari ruangan itu dan ia tak sengaja menabrak seseorang. "Ma-"


Ucapan Stella menggantung di udara saat pandangannya tertuju pada seseorang yang di tabraknya. Di hadapannya ada Adrian bersama Dara, dan barusan Stella menabrak tubuh Adrian.


"Kau di sini rupanya, Stell. Bantuin yang lain di depan yah, pasien banyak yang datang," seru Dara tanpa menyadari tatapan Adrian dan Stella.


"Emm baiklah," jawab Stella melewati tubuh Adrian begitu saja. Setelah 5 langkah ke depan, Stella kembali berbalik dan Adrian tampak kembali berjalan dan berbincang akrab dengan Dara tanpa canggung. Ada rasa sesak di dada Stella melihat pemandangan itu.


"Ada apa denganku," gumamnya dan melanjutkan langkahnya menuju ke depan.


Di sana Lenna dan para mahasiswa lainnya sibuk melayani para pasien yang datang tanpa henti. Stella mengambil stetoscop dan mengambil buku agenda. Ia ikut membantu memeriksa kondisi pasien.


"Stell, darimana saja?" tanya Lenna yang kini sibuk memeriksa seorang anak kecil.


"Tadi gue beresin obat-obatan," jawab Stella yang juga memeriksa pasien di blangkar sebelahb pasien Lenna.


"Stell, Dokter Dara sejak tadi ngintilin laki loe mulu," bisik Lenna membuat Stella hanya menatapnya sekilas.

__ADS_1


"Biarkan saja," seru Stella walau bertentangan dengan hatinya. Ia sempat merenung karena hatinya terasa sesak.


***


Malam menjelang dan Stella tengah meneguk air mineral dari dalam botol dengan berdiri di teras rumah yang kini di tempati mereka semua.


"Belum tidur?" pertanyaan itu membuatnya menoleh dan mendapati Adrian berdiri di belakangnya.


"Belum mengantuk, Bapak sendiri belum tidur?" tanya Stella kembali meneguk minumannya.


"Belum."


"Eh?" Stella kaget saat ia hendak menutup kembali botol itu Adrian begitu saja merebutnya dan meneguk sisa air dalam botol itu dalam sekali tegukan. Dan Stella mematung saat ia melihat jakun Adrian yang naik turun di hadapannya. Terlihat begitu seksi.


"Maaf aku kehausan," ucap Adrian diiringi kekehannya setelah meneguk minuman itu.


"Emm tidak apa-apa," ucap Stella mendadak salting, ia segera memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Bagaimana hari pertamamu di sini, pasiennya lebih banyak dari perkiraan bukan?" tanya Adrian kini berdiri di samping Stella membuat Stella sesekali mencuri pandang pada Adrian yang menatap lurus ke depan.


"lumayan melelahkan tetapi juga menyenangkan," ucap Stella.


Kini keduanya sama-sama terdiam membisu, dan hanya terdengar suara binatang.


"Emm tanyakanlah," jawab Adrian.


"Apa hubunganmu dengan dokter Dara begitu dekat?" pertanyaan Stella membuat Adrian menoleh dengan menaikkan sebelah alisnya.


"Ku pikir kau akan menanyakan masalah pekerjaan," seru Adrian tersenyum simpul.


"Tidak usah menjawabnya, lupakan saja!" Stella bergegas ingin berlalu pergi tetapi Adrian menarik lengan Stella hingga Stella tertarik dan tubuhnya membentur dada bidang Adrian dengan tatapan mereka berdua saling bertautan dengan jarak yang sangat dekat.


Keduanya masih saling menatap satu sama lainnya dengan jarak yang begitu dekat hingga hidung mereka hampir saja bersentuhan. Aroma mint dari nafas Adrian mampu menerpa wajah Stella.


"Kami hanya berteman," ucap Adrian mengeratkan rengkuhannya pada pinggang Stella hingga tubuh mereka saling menempel. "Apa kau mulai cemburu, My Wife?"


Deg


Adrian tersenyum simpul dan begitu tampan membuat Stella tak bisa berkutik sama sekali.


"A-apa? A-aku cemburu?" seru Stella sedikit terbata-bata. "Jangan bermimpi, Pak TMII!" Stella mendorong dada Adrian hingga tubuh mereka menjauh dan ia bergegas pergi meninggalkan Adrian.


Stella merasa wajahnya begitu panas, ia berlari menuju kamarnya. Sesampainya di dalam kamar, Stella mengibaskan wajahnya dengan kedua tangan.


"Kenapa muka loe merah gitu?" tanya Lenna yang memperhatikan Stella dari atas ranjang.

__ADS_1


"Jantung gue," gumamnya. "Lennong, apa penyakit jantung bisa menyerang anak muda?" tanya Stella berjalan mendekati Lenna.


"Iya, kau ini dokter tetapi hal seperti itu bertanya padaku, Dasar aneh," seru Lenna.


"Len, apa gue terkena penyakit jantung yah?" gumam Stella kini duduk di samping Lenna.


"Apa? Loe sakit? kenapa gak bilang sih?" seru Lenna dengan nada khawatir.


"Gue tidak tau, gue merasa baik-baik saja, tetapi jantung gue enggak. Apa mungkin gue terserang penyakit jantung yah?" tanya Stella.


"Masa sih? Apa keluarga loe punya riwayat penyakit jantung?" tanya Lenna.


"Setau gue nggak, tapi kenapa gue bisa terserang yah. Jantung gue sering kali berdebar cepat begitu saja," ucap Stella.


"Sepertinya loe harus memeriksakan kesehatan loe, coba periksa ke suami loe. Dia kan dokter Jantung," ucap Lenna.


"Gue gak mau, dan gue juga takut ternyata gue beneran sakit. Ngeri banget sih penyakitnya," ucap Stella dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Jangan gitu, gue yakin loe sehat. Sebaiknya loe periksa, mungkin loe hanya sedang tak fokus atau tak enak badan makanya jantung loe berdebar cepat," ucap Lenna.


"Tidak Lennong, jantung ini selalu saja berdebar-debar akhir-akhir ini, apalagi saat berada di dekat Adrian," ucap Stella dan seketika tawa Lenna pecah.


"Astaga gue udah khawatir setengah mati, kirain bener loe sakit jantung," kekeh Lenna.


"Apa yang lucu?" seru Stella merasa kesal di tertawakan.


"Itu bukan karena penyakit jantung, Stell."


"Lalu karena apa?" tanya Stella merasa bingung.


"Cari tau jawabannya sendiri," kekeh Lenna. "Udah ah gue mau bobo, badan gue berasa remuk seharian ini gak diem dan duduk," ucap Lenna.


"Jelaskan dulu apa, jangan tidur aja." rengek Stella.


"Bodo ah, cari tau sendiri dong Nyonya Adinata," kekeh Lenna.


"Ih Lennong jenong, jelasin dulu!" Stella berusaha menahan Lenna supaya tidak tidur.


"Udah ah gue ngantuk." Lenna menarik selimut hingga kepalanya.


"Dasar Lennong jenong!" gerutu Stella kesal dan kembali sibuk memikirkan ucapan Lenna itu.


Ada apa dengan dirinya?


***

__ADS_1


__ADS_2