
"Gimana?" tanya Stella yang kini berdiri di hadapan Adrian.
"Apa?" goda Adrian.
"Suaraku tadi, terus nyanyiannya. Bee gak marah lagi kan?" tanya Stella.
"Sedikit," jawab Adrian.
"Ck, Bee sengaja yah mengerjaiku," tuduh Stella.
"Astaga pengharum ruangan, pan udah di kasih tau tadi." ucap Datan.
"Apa?" tanya Stella bingung.
"Itu si semprotan beku."
"Apa itu semprotan beku?" tanya Adrian bingung.
Stella sempat termangu di tempatnya, ia memikirkan ucapan Datan. Haruskah sekarang dia menyerahkannya? Bukankah Adrian adalah suaminya. Stella merasa bersalah karena telah membuat Adrian menunggu terlalu lama. Adrian sudah begitu sabar menunggu dirinya. Stella berpikir dia tidak boleh egois.
"Kenapa melamun?"
Stella tersadar dari lamunanya karena suara Adrian itu. "Eh? aku tidak apa-apa kok Bee," kekehnya.
"Ah gue udah ngantuk, gue ke kamar duluan yah sekalian mau video call sama si kembar yang nakal," ucap Datan.
"Iya Bang," jawab Adrian.
"Bye pengharum ruangan!" kekeh Datan.
"Ck ih dokter Kokodil itu," gerutu Stella dengan gemas.
"Sudahlah biarkan saja, dia memang seperti itu."
Malam semakin larut dan mereka semua kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Stella tengah berjalan bersama Adrian menuju kamar mereka yang bersebelahan. Selama perjalanan Stella terus memikirkan apa yang akan ia lakukan selanjutnya.
"Sudah sampai,"
"Eh?" Stella bahkan tak sadar kalau mereka sudah sampai di depan pintu kamar mereka.
"Kamu melamun sejak tadi? Ada apa Pendek?" tanya Adrian memegang kedua pundak Stella hingga mereka saling berhadapan.
"Tidak apa-apa Bee," kekeh Stella.
"Stell, ayu masuk." Lenna sudah berdiri di sampingnya dan berjalan menuju kamar mereka.
"Lennong tunggu!" Stella segera menarik tangan Lenna yang hendak masuk ke dalam kamar.
"Eh ada apa Stell?"
"Bukankah kamu mau tidur di kamar Riska? Sudah pergi sana," ucap Stella.
"Apa maksud kamu? Aku tidak-"
"Sudahlah pergi saja sekarang Lenna." Stella mendorong-dorong tubuh Lenna yang kebngungan.
"Tapi Stell?"
"Pergi Lennong," bisik Stella memberi kode dan akhirnya Lennapun berlalu pergi.
"Ada apa?" tanya Adrian setelah Lenna pergi dan membuat Stella sedikit kaget dan gugup. Ia menghela nafasnya dan berbalik ke arah Adrian. Ia berjalan mendekati Adrian yang masih berdiri di tempatnya yang tadi.
"Tidak ada, ayo kita ke kamar." Stella merangkul lengan Adrian dan membawanya ke kamar yang di tempati Stella dengan Lenna.
__ADS_1
"Kenapa kamu mengajakku kemari?" tanya Adrian masih binggung dan Stella terlihat menutup pintunya dan ia berbalik ke arah Adrian dengan senyuman yang tampak gugup.
Dengan penuh keberanian, Stella mengambil kedua tangan Adrian dan mengecupnya.
"Bee suami, aku sudah siap menyerahkan segalanya. Aku sudah siap melaksanakan kewajibanku sebagai istrimu." Adrian masih tidak paham dengan maksud dari ucapan Stella.
"Stella, maksud kamu?"
"Ambilah hakmu atas diriku, Bee suami."
"Apa kamu yakin?" Adrian membelai pipi Stella dengan lembut. "Jangan memaksakan diri kalau kamu belum siap."
"Tidak, ini bukan masalah siap atau tidaknya. Ini masalah hak dan kewajiban. Dan mungkin aku sudah mendzolimimu sebagai suamiku." Stella mengusap dada Adrian dengan lembut.
"Sekarang kita sudah saling mengungkapkan perasaan kita masing-masing dan aku sudah siap memberikannya untuk suami yang aku cintai."
Adrian tersenyum seraya mengusap kepala Stella. "Jadi sekarang Pendeknya aku sudah dewasa yah."
Stella tersenyum lebar dan sedikit memekik saat Adrian begitu saja menggendong Stella ala bridal. Dengan cepat Stella mengalungkan kedua tangannya di leher Adrian.
Adrian merebahkan tubuh Stella perlahan di atas ranjang seakan Stella adalah sesuatu yang rapuh kalau di perlakukan kasar. "Jadi apa ranjang di sini tidak akan ambruk?" ucap Adrian yang sedikit menundukkan kepalanya hingga tatapan mereka beradu.
"Mungkin tidak," jawab Stella yang masih mengalungkan kedua tangannya di leher Adrian.
Adrian menaikkan kedua kakinya ke atas ranjang dan menindih tubuh Stella. "Jadi tadi kamu sengaja mengusir Lenna," goda Adrian.
"Ya masa kita mau iya iya di depan Lenna. Bisa bisa dia syock," kekeh Stella.
Kekehan Stella terhenti saat tangan Adrian membelai wajahnya dengan begitu lembut, sangat lembut membuat Stella terbuai. Gerakan Adrian turun ke arah bibir tipis Stella dan mengusapnya menggunakan ibu jarinya.
"Kamu cantik," puji Adrian membuat Stella merona dan tersenyum malu.
Adrian mengecuk kening Stella cukup lama, lalu kecupannya turuk ke arah hidung mancungnya dan terakhir ke bibir Stella. Adrian mencium, menghisap dan menggigit bibir Stella dengan begitu lembut. Tangannya mulai bergerak turun membelai leher Stella dan turun terus ke bawah.
Dengan berani tangan Adrian menelusup masuk ke balik bra saat semua kancing kemeja Stella telah ia buka. Adrian mulai membelainya, memelintirnya dan mencubit kecil ****** Stella, membuat Stella tidak bisa untuk tidak menggeram antara nikmat, geli dan rasa perih.
"Be-bee," gumam Stella.
"Sebut namaku terus, Pendek." bisik Adrian yang kini tengah mencumbu bagian dada dari Stella.
"Be-bee ah!" teriak Stella membuat Adrian kaget dan mengangkat kepalanya.
"Ada apa?"
"Sakit jangan di gigit," gerutunya membuat Adrian terkekeh karena terlihat lucu.
"Pendek, ruangan ini gak kedap suara lho. Jadi jangan teriak-teriak nanti tetangga sebelah kepanasan," kekeh Adrian yang paham tetangga sebelah adalah Datan.
"Oh iya yah, kasian juga udah hampir 6 bulan gak ketemu sama lubangnya," kekeh Stella.
"Ssstt kata-katamu," tegur Adrian membuat Stella terkekeh. "Sudahlah sekarang diam dan nikmatin saja."
"O-oke."
Adrian melanjutkan aksinya dan cumbuannya mulai turun ke bagian perut rata Stella dan kedua tangan Adrian sibuk membuka celana yang di gunakan Stella. Setelah terbuka, Adrian menariknya ke bawah, keluar dari kaki Stella begitu juga dengan underware nya. Stella menutup bagian intimnya dengan kedua tangannya karena malu.
"Jangan di tutupin," ucap Adrian setelah melempar celana yang di gunakan Stella asal. Ia juga menarik kaosnya melewati kepala hingga memperlihatkan tubuhnya yang sixpack.
"Buka Pendek," ucap Adrian.
"Ma-lu."
"Kamu punya rasa malu juga yah?" kekeh Adrian. "Aduh!" Stella menendang kaki Adrian karena kesal.
__ADS_1
"Nyebelin!"
"Udah sini aku buat kamu melayang layang." Adrian menarik kedua tangan Stella dari intimnya dan ia termangu di tempat melihat pemandangan begitu indah di hadapannya.
"Ke-kenapa liatnya begitu? A-apa jelek yah. A-apa menji-"
"Sungguh indah," ucap Adrian membuat Stella merona seraya memalingkan wajahnya. "Ini sangat indah, Pendek."
Adrian mengusap bagian intim Stella membuat Stella menahan nafasnya. Perlahan tetapi mampu membakar darah di seluruh tubuh Stella. Adrian menunduk dan meniupinya sebelum akhirnya menciumnya. Stella terengah saat Adrian bermain dengan bagian intimnya.
"Be-e"
Adrian tetap fokus pada kegiatannya, walau Stella susah kesulitan untuk bernafas dan terengah cepat. Bulir-bulir keringat bercucuran membasahi kulit putihnya.
Setelah puas di bagian sana, Adrian segera melepaskan celananya dan kini tak ada sehelai benangpun yang menempel di tubuhnya. Stella memalingkan wajahnya dan merona melihat bukti kejantanan Adrian. Ia merasa malu sekaligus terpesona dengan kegagahan Adrian.
Adrian mulai memposisikan dirinya dengan Stella. "Ini akan terasa sakit, tetapi-"
"Aku sudah tau dan aku sudah membawa obat pereda sakitnya juga salep iritasi untuk bagian sensitive ku. Jangan menjelaskan kepada sesama Dokter," seru Stella dengan cengirannya.
"Kamu sungguh menyiapkan segalanya," ucap Adrian ikut terkekeh. "Baiklah, berarti kamu sudah benar-benar siap yah Pendek."
Adrian mulai menyatukan mereka dan Stella meringis menahan rasa sakit sekaligus perih dan ngilu di pangkal pahanya. Ia tidak menyangka akan seperti ini rasanya. Adrian terdiam untuk beberapa saat supaya Stella mulai menerima dan terbiasa dengan dirinya. Setelah cukup lama, dan Stella sudah mulai relax, Adrian kembali menggerakan tubuhnya seirama dan menghentak ke Stella. Stella hanya mampu meremas rambut Adrian dan mencakar punggung Adrian saat rasa aneh itu mulai menyengat dan terasa lebih ngilu.
Mereka akhirnya bisa menyatukan segala perbedaan mereka, meredam ego mereka, dan saling menyerahkan diri juga hati satu sama lainnya. Stella masih tidak menyangka ia memberikan seluruh diri dan hidupnya kepada sosok pria yang dulu begitu ia benci dan masuk dalam kategori orang paling akhir untuk di kenal Stella, Cinta itu memang misteri, cinta berlabuh tanpa pandang bulu.
Keringat sudah membanjiri tubuh mereka berdua, menyatu menjadi satu tanpa ada halangan dan jarak di antara mereka. Baik Adrian maupun Stella keduanya sudah mencapai batas. "Kita keluarkan bersama-sama, Pendek." Stella hanya mengangguk mematuhi Adrian.
"Pendek!"
"Bee"
Yang awalnya menegang kini tubuh mereka mulai melemas. Mereka masih menyatu dan Adrian merebahkan dirinya di samping Stella seraya menarik Stella untuk merebahkan kepala di dada bidangnya. Tanpa harus di minta, Stella langsung merebahkan kepalanya di dada bidang Adrian.
"Terima kasih," bisik Adrian mengecup kepala Stella. "Aku mencintaimu, Pendek."
"Aku juga Bee."
∞
"Jadi kini si semprotan benih gak beku lagi," goda Datan saat mendapati Adrian bersama Stella keluar dari kamar mereka.
"Ck, Mr. Kokodil yang super kepo," seru Stella.
"Pengharum ruangan sebaiknya kau menggunakan syal," ucap Datan.
"Kenapa memangnya?"
"Lihat lehermu, penuh bukti gairah," kekeh Datan.
"A-apa masih kelihatan?" tanya Stella resah menunjukkan lehernya ke arah Adrian.
"Tidak, jangan percaya padanya. Aku tidak memberikan tanda di bagian yang terlihat," seru Adrian.
"Ck, dasar Mr. Kokodil kerdil," amuk Stella.
"Sesama Kerdil jangan saling mengejek," goda Adrian.
"Ih Bee apaan sih jangan menghinaku!" Stella tampak kesal.
"Sudah kembali bekerja sana pengharum ruangan. Rian kita harus mempersiapkan kepulangan kita lusa nanti," ucap Datan berlalu pergi meninggalkan keduanya.
"Ayo kita ke klinik," ajak Adrian merangkul Stella.
__ADS_1
***