
"Ada apa?" tanya Datan saat melihat Adrian merenung menatap keluar jendela kamar. "Masalah Stella lagi yang dekat dengan Dr. Ivan?"
"Bukan," jawab Adrian berbalik ke arah Datan yang duduk di atas ranjang. "Stella bersikap aneh," ucap Adrian.
Adrian menghela nafasnya dengan menyandarkan bokongnya ke daun jendela dengan melipat kedua tangannya di dada. Kakinya ia silangkan dan tampak begitu relax.
"Aneh bagaimana?" tanya Datan.
"Ya aneh tidak seperti biasanya. Dia terus memaksa gue untuk mengatakan sesuatu yang gue tidak paham," seru Adrian tampak bingung dan Datan masih diam. "Sepertinya dia sedang mencoba mencari sesuatu dari gue."
"Menurut loe kira-kira apa yang dia ingin ketahui?" tanya Datan.
"Entahlah, apa mungkin dia sedang mencoba mendekatiku untuk mendapatkan nilai terbaik untuk Koasnya." Adrian berusaha berpikir keras.
"Menurut lu begitu?" tanya Datan.
"Maybe. Menurut lu gimana Bang?" tanya Adrian.
"Aduh susah yah kalau kalian berdua sama-sama gak peka. Kapan dapat ******* nya kalau gini. Kapan ***** dan belah belahannya."
"Maksud lu Bang?" tanya Adran yang semakin pusing dengan ucapan Datan.
"Gimana kalau lu ungkapkan saja perasaan lu yang sebenarnya," seru Datan membuat Adrian merenung.
"Gue takut dia memilih menjauh dan pergi, Bang. Lebih baik gini aja sih, supaya kami bisa tetap dekat."
"Haduh Rian, si Stella mancing-mancing begitu berarti dia sedang mencari tau perasaan lu padanya. Kalau dia ingin nilai paling bagus, dia gak akan bertanya-tanya atau mencari tau seperti ini. Dia akan langsung merayumu atau menawarkan sesuatu padamu. Astaga kawinin juga nih kalian berdua, gemes bener gue," keluh Datan.
"Iya gitu?" gumam Adrian.
"Astaga Rian, ternyata lu lebih **** dari si Leon," seru Datan membuat Adrian mencibir.
"Apa gak akan apa-apa gue ungkapin segalanya?" tanya Adrian.
"Coba saja lu ungkapin semuanya ke dia dan lihat respon dari dia gimana. Gak perlu takut, cowok sejati itu gak takut sama apapun kayak gue," seru Datan dengan bangga.
"Tetapi takut kecoa," ejek Adrian.
"Itu pengecualian, udah ah gue mau bogan dulu. capek seharian periksa pasien, hoammm!" Datan merebahkan tubuhnya dan terlelap meninggalkan Adrian yang masih merenung dalam kediamannya.
∞
"Stella!" seru Lenna dengan nafas terengah.
"Kenapa Lennong? teriak-teriak aja," jawab Stella seraya membereskan peralatan medis ke dalam tas medis setelah ia gunakan tadi siang.
"Pak Adrian, Stell."
__ADS_1
Stella menghentikan gerakannya dan menatap Lenna dengan serius. "Ada apa dengannya?" tanya Stella.
"Kata Dokter Datan dia sakit dan sekarang ada di dalam kamarnya," jawab Lenna.
"Apa? Sakit? Masa sih?" seru Stella entah kenapa merasa tidak percaya.
"Lu gak percaya sama gue?" tanya Lenna.
"Tidak bukan lu, tetapi Dokter Datan alias si Kokodil itu. Gue gak percaya dengan ucapannya. Tadi pagi gue bertemu dengan pak Adrian dan dia baik-baik saja tidak terlihat sakit," seru Stella dengan santai.
"Iya karena baru beberapa jam lalu pak Adrian sakit dan bahkan dia sulit bangun," jawab asal Lenna.
"Memangnya dia sakit apa?" tanya Stella dan itu membuat Lenna kebingungan.
'Mampus! Gatot nih yang ada.' batin Lenna.
"Sakit apa yah, asam lambung yah asam lambungnya kambuh," ucap Lenna.
"Benarkah dia punya penyakit asam lambung? setauku dia tidak pernah mengeluh sakit asam lambung," gumam Stella.
"Udah sebaiknya lu pergi saja lihat kondisinya," ucap Lenna merebut tas medis yang di pegang Stella dan mendorong tubuh Stella untuk pergi.
"Tapi-"
"Sudah sana pergi, pak Adrian ada di dalam kamarnya," ucap Lenna membuat Stella akhirnya menurut dan berlalu pergi.
"Apa benar dia sakit asam lambung? Kenapa aku tidak mengetahuinya," gumam Stella berjalan menuju wisma.
"Pak Adrian!"
Stella mematung di tempatnya saat berhadapan dengan seseorang yang baru saja berbalik ke arahnya, Dan bukan itu saja yang membuat Stella merona sendiri. Adrian tampak berdiri tak jauh darinya hanya dengan lilitan handuk putih di pinggangnya dan bertelanjang dada.
"Stella?"
Bruk
"Eh?"
Stella berbalik ke arah pintu saat pintu di tutup dari luar. Dengan cepat ia mendekati pintu dan menekan knop pintunya.
"Eh kok di kunciin sih! Woy buka!" teriak Stella menggedor pintu. "Astaga siapa sih yang jahil!"
"Ada apa?" tanya Adrian yang kini berdiri di samping Stella.
"Eh kenapa belum pake baju juga sih!" pekik Stella menjauh dari Adrian.
"Memang kenapa? aku sudah pake handuk," seru Adrian dengan santai dan mencoba menekan nekan knop pintu yang tetap saja tidak terbuka.
__ADS_1
"Astaga siapa yang jahil sih, hey buka pintunya!" teriak Adrian mencoba membuka pintu.
"Dobrak Pak," seru Stella dengan santai dan sontak Adrian menoleh ke arahnya dengan tatapan aneh. "Ke-kenapa menatapku sepertiku?" seru Stella mendadak gugup.
"Aku meragukan kamu sudah lulus kuliah kedokteran," seru Adrian meremehkan.
"Maksud Bapak?"
"Mana bisa di dobrak kalau dari dalam, astaga Stella. Sampe tulang remukpun gak akan bisa ke dobrak," seru Adrian.
"Ya siapa tau kan," jawab Stella dengan enteng.
"Yang anteng aja kalian berdua di dalam yah, dan selesaikan segalanya. Ranjangpun boleh di pake buat tempur malam ini. Pintu akan gue buka besok pagi untuk menyaksikan bukti pergulatan kalian sang Mr. dan Mrs Gapek," seru Datan dari luar.
"Astaga Dokter Kokodil! buka!" teriak Stella geram. "Sudah aku kira ini pasti hanya akal-akalan kamu saja. Kamu sengaja memperalat Lenna untuk menjebakku," teriak Stella.
"Pelankan suaramu," seru Adrian meringis.
"Kenapa Bapak santai sekali, apa gak masalah kita di kunci begini, hah?" tanya Stella.
"Kenapa harus jadi masalah sih, toh kita suami dan istri. Kita juga sudah biasa tidur bersama dan satu kamar. Jadi apa yang harus di permasalahkan," seru Adrian berjalan menuju lemari dengan santai.
"Kau enak berkata seperti itu, bagaimana mungkin aku tidur dengan pakaian ini! Aku bahkan harus mandi setelah bekerja seharian ini," seru Stella seraya memegang jas dokternya.
"Pakai saja jubah handuk di kamar mandi atau tidak pperlu memakai pakaianpun aku tak masalah," jawab Adrian tanpa menoleh sedikitpun tetapi ia ingin tertawa dengan perkataannya sendiri.
"WHAT?"
Stella berjalan mendekati Adrian dengan meradang. "Dasar kau pria mesum!"
"Yang jelas bukan keong racun," kekeh Adrian.
"Ih Nyebelin!" Stella melemparkan bantal ke arah punggung Adrian tetapi itu menjadi malapetaka baginya karena handuk Adrian jatuh ke lantai dan memperlihatkan sesuatu yang dulu selalu terbayang-bayang.
"AAAAA Pantat!" teriak Stella menutup matanya dengan kedua tangannya.
"Bilang saja kalau ingin melihat, jangan pura-pura syok," goda Adrian.
"CEPAT PAKAI BAJU DAN CELANA!!!!!"
"Iya." Adrian terkekeh seraya menggunakan kolor dan kaos oblong putihnya.
'Astaga, kenapa harus menatap pantat itu lagi? Itu adalah godaan yang sangat berat untuk mata dan pikiran ini! Pantat Seksi sialan!' batin Stella.
"Sudah selesai," ucap Adrian membuat Stella membuka matanya dan melihat Adrian sedang menyisir rambutnya dan sudah berpakaian lengkap.
Stella mendengus kesal dan masuk ke dalam kamar mandi. Ia berdiri menatap pantulan dirinya di depan cermin, bayangan pantat seksi itu terus.
__ADS_1
"Astagfirulloh!" keluhnya seraya membasuh wajahnya berkali-kali.
∞