
"Jadi bagaimana semalam?" Bisik Datan pada Stella yang kini sedang memunguti sampah dan memasukannya ke dalam kantong keresek hitam.
"Maksud kak Datan?" Tanya Stella menghentikan gerakannya.
"Apa dia datang?"tanya Datan tampak kepo.
"Siapa?" Stella semakin mengernyitkan dahinya.
"Ck, kau ini calon dokter tetapi sungguh pelupa."
"Siapa? Pak Adrian maksudnya?" Tanya Stella.
"Jadi dia datang?" tanya Datan dengan nada geli.
"Emm iya," jawab Stella dengan polos dan seketika tawa Datan pecah. "Ada apa sih Kak?"
Stella sungguh di buat bingung. Pria di depannya ini memang Gaje, kalian tau kan apa itu Gaje alias Gak jelas.
"Tidak ada, ku pikir si hantunya yang datang," kekeh Datan. "Kalian ternyata masuk dalam perangkap," gumam Datan.
"Apa?"
"Tidak, bukan apa-apa. Di lanjut bersih-bersihnya," seru Datan menepuk pelan kepala Stella dan berlalu pergi.
"Dia sungguh aneh, bagaimana bisa orang seperti itu menjadi Dokter," gumam Stella dan meneruskan pekerjaannya mengumpulkan sampah.
Bukankah bersih itu indah. Maka jangan pernah rusak keindahan alam dengan sampah yang bisa merusak keindahannya tersendiri.
Selesai bersiap-siap, semuanya kembali berkumpul sesuai arahan dari Verrel.
"Kita akan lanjut pendakian hingga puncak gunung, dan setelah ini jalurnya akan lebih curam dari sebelumnya," seru Verrel.
"Kita harus saling menjaga satu sama lainnya," ucap Percy.
"Jaga pasangan kalian, nanti ada yang embat," kekeh Datan.
"Loe yang embatnya," seru Adrian.
Mereka semua melanjutkan perjalanan mereka dan kali ini berjalan berpasangan. Stella menatap sekeliling dimana mereka semua sungguh romantis.
Ada suami membawakan tas milik istrinya, ada juga yang mengusap peluh di kening istri, ada juga yang memberi minum pada istri, ada yang saling berpegangan tangan, ada yang saling merangkul, ada juga yang saling berfoto mesra.
Tanpa sadar Stella melirik ke sampingnya dimana Adrian berjalan acuh dengan memegang tongkat kayu untuk membantu perjalanannya. Tanpa bisa di tahan, Stella merasa iri dan kesal karena Adrian sama sekali tak ada perduli sedikitpun pada dirinya.
Dengan kesal Stella berjalan cepat dengan berpegangan pada kedua tali tas ranselnya. Ia berjalan dengan kesal mengikuti yang lain.
Mereka melewati area dimana kanan kirinya jurang. Dan jalanan itu cukup sulit karena berbatu yang licin.
"Ah!"
Semuanya menoleh ke sumber suara. "Stella!"
Para wanita berteriak kaget karena tubuh Stella merosot ke jurang cukup dalam tetapi ia berhasil menggapai akar pohon hingga tak sampai jatuh ke dasar jurang.
"Stella!" Semuanya berteriak kaget dari atas sana.
"Tolong aku!" Jerit Stella ketakutan.
Tanpa pikir panjang, Adrian mengeluarkan taliĀ tambang dan mengikatkannya pada batang pohon tak jauh darinya dan ia mengikatkan ujung lain talinya ke pinggangnya.
"Hati-hati Rian," ucap Leon yang di angguki Adrian.
Adrian menuruni jurang dengan gesit karena dia sudah terlatih dan terbiasa melakukan turun tebing.
"Lepaskan tanganmu dan pegang tanganku," ucap Adrian saat sudah berdiri di dekat Stella.
"Apa kau gila, Dosen TMII? Aku tidak mau mati karena ide bodohmu!" Teriak Stella kesal.
Bagaimana mungkin dia melepaskan pegangannya, sedangkan posisinya dengan Adrian tak begitu dekat.
"Cepat Stella, kali ini menurutlah," ucap Adrian.
"Aku tidak mau, aku takut," isak Stella. "Sudah aku katakan, aku tidak mau ikut mendaki, kenapa kamu memaksaku!" Pekiknya dengan sangat kesal diiringi tangisannya.
__ADS_1
"Stella bukan saatnya kamu menumpahkan amarahmu, sekarang lepaskan peganganmu dan tangkap genggamanku," ucap Adrian.
"Bagaimana kalau kamu tidak menangkapku? Aku bisa jatuh ke bawah!" Jeritnya emosi.
"Kau tidak percaya padaku?" Tanya Adrian.
"Aku takut," isaknya.
Adrian melunakkan suarannya dan tatapannya begitu teduh. "Stella tatap mata aku, dan tangkap tanganku," ucapnya penuh keyakinan.
Stella menatap mata Adrian cukup lama. "Apa kau yakin?" Serunya.
"Percayalah," seru Adrian meyakinkan.
"Ah!" Teriak Stella saat melepaskan genggamannya dan dia semakin memekik kaget saat tangannya di tarik seseorang hingga tubuhnya menabrak sesuatu yang keras.
"Sudah aku katakan, aku akan menyelamatkanmu," bisik Adrian tepat di dekat telinga Stella membuatnya membuka mata dan tatapan mereka berdua beradu satu sama lain.
Para pria di atas menarik tambang membantu Adrian dan Stella naik ke atas. Stella memeluk erat leher Adrian dan menyembunyikan wajahnya di lekukan leher Adrian.
Setelah cukup lama, mereka akhirnya sampai di atas dan Stella langsung terduduk di tanah dengan nafas yang terengah.
"Minumlah ini," ucap Leonna menyodorkan sebotol minuman. Stella meneguknya.
"Apa kalian baik-baik saja?" Tanya Verrel.
"Iya," jawab Adrian.
"Sebaiknya kita beristirahat dulu di sini sebentar," ucap Rasya yang di setujui yang lain.
***
Bayangan saat mendaki terus mengusik kepala Stella, bahkan jantungnya terus berdetak kencang.
"Apa yang terjadi padaku? Kenapa dengan jantungku?"gumamnya memeluk boneka doraemon kesayangannya dan menyembunyikan wajahnya pada boneka itu.
Percayalah padaku
Sudah aku katakan aku akan menyelamatkanmu...
"Bagaimana ini? Tolong aku Tuhan."
"Tunggu! Apa aku perlu di ruqyah, mungkin saja dia meminta jin untuk menaburi sesuatu padaku, ah itu pasti benar." Stella terus berspekulasi sendiri.
***
3 hari berlalu dan Stella masih memikirkannya. Bahkan saat koas perkenalan di Ami Hospital, ia berusaha menghindari Adrian.
"Permisi Pak," seru Stella mengetuk kamar Adrian saat Adrian tengah melepaskan jas yang di gunakannya.
"Ada apa?" Tanya Adrian.
"Bisa kita bicara," ucapnya.
"Baiklah," Adrian berjalan mengikuti Stella menuju meja bar dan duduk di sana.
Mereka duduk saling berhadapan, dan cukup lama saling terdiam.
"Ada apa?" tanya Adrian.
"Aku sudah memikirkan semua ini, dan aku mengambil keputusan untuk hubungan kita," ucap Stella.
"Apa maksudmu?" tanya Adrian.
"Kita sudah pernah membuat perjanjian, dan sekarang aku ingin memperbaharui perjanjian itu." Stella menghela nafasnya. "Pak, aku memiliki cita-cita dan impian dalam hidupku, aku juga ingin bebas dan menikmati hidup ini. Jujur status pernikahan ini membelengguku dan seakan menahanku dalam satu ruang. Aku tidak bisa melakukan sesuatu sesuai keinginanku."
Adrian hanya diam menanggapi ucapan Stella dan berusaha mencari sesuatu di mata Stella.
"Ini perjanjian baru kita, dan tolong tanda tangani."
Adrian menerima surat perjanjian itu dan membacanya.
__ADS_1
Ceraikan pihak pertama setelah pihak pertama wisuda.
"Apa maksudnya ini?" tanya Adrian.
"Aku ingin melanjutkan kuliahku ke Jerman, dan mencapai cita-citaku di sana. Aku ingin memulai hidupku sendiri di sana." Adrian hanya diam mendengar alasan Stella.
Selama belum bercerai, di waktu yang tersisa mari kita berteman.
Pihak pertama dan kedua bebas melakukan apapun yang mereka mau selama tidak membuat malu keluarga kedua belah pihak.
Pihak pertama dan kedua tidak bisa memiliki pasangan lain sebelum perceraian.
Sebelum perceraian berlangsung, pihak kedua wajib membiayai semua kebutuhan pihak pertama.
Pihak pertama tidak akan pernah merepotkan pihak kedua.
Pihak pertama atau kedua wajib menjaga nama baik mereka dan keluarga.
Setelah perceraian, tak akan ada lagi hubungan di antara pihak pertama dan kedua.
Setelah perceraian, tak ada alasan lagi untuk mereka bertemu. Dan mulailah menjalani hidup masing-masing.
"Point ke 10 aku kosongkan, itu untukmu, siapa tau kamu memiliki persyaratan lain," ucap Stella.
"Apa kau yakin?" tanya Adrian.
"Iya Pak, ini adalah impianku, hidup sendiri dan bebas." Stella berucap dengan senyuman lebar.
"Baiklah."
Adrian menandatangani surat itu dan menyerahkannya pada Stella.
"Aku akan menyerahkan copyannya untukmu," ucap Stella dengan senyumannya.
Tak ada yang sadar kalau jauh di dalan lubuk hati ada bunga yang baru mekar dan kini kembali mati.
__ADS_1
***