Marriage With Dosen

Marriage With Dosen
Episode 30


__ADS_3

Dara melihat Adrian tengah membaca sesuatu di dekat meja kerjanya. Ia menghela nafasnya cukup panjang sebelum akhirnya masuk ke dalam ruangan dan berdehem kecil hingga Adrian menoleh dan tersenyum kecil sebelum akhirnya kembali dengan aktivitasnya.


"Sibuk?" tanya Dara.


"Tidak begitu sibuk, kenapa Dar?" tanya Adrian.


"Kenapa cerita padaku?" tanya Dara membuat Adrian menghentikan aktivitasnya dan kini menoleh ke arah Dara.


"Cerita apa?" tanyanya.


"Ini." Dara mengambil tangan kiri Adrian dan mengangkatnya ke udara, ia menunjuk cincin yang bertengker di jari manis Adrian.


"Kamu sudah menikah dengan mahasiswi koas, kenapa tidak cerita padaku?" tanya Dara dengan wajah kesal yang di buat-buat.


"Memangnya kamu belum tau?" tanya Adrian dengan wajah polosnya.


"Ck, dasar kau ini. Kau ini menganggap aku apa, hah?"


"Maaf Dara, aku pikir kamu tau. Soalnya hampir semua orang-orang yang bekerja di rumah sakit mengetahuinya," kekeh Adrian.


"Kau ini sungguh jahat! Kau tau kalau aku bukan tipe perempuan yang suka bergosip dan mudah kemakan gosip." Adrian hanya terkekeh saja.


"Seharusnya kamu memberitahuku," rajut Dara.


"Maafkan aku," ucap Adrian mengusap kepala Dara.


"Baiklah jadi bagaimana rasanya setelah menikah? apa menyenangkan? Dan kenapa di sini kalian berlaga seperti tidak saling mengenal?" tanya Dara sungguh kebingungan.


"Panjang ceritanya, aku dan dia menikah karena di jodohkan. Dan hubungan kami memang belum dekat," ucap Adrian mengedikkan bahunya.


"Di jodohkan? Aku baru tau lho Om Dhika yang sangat bijak bisa menjodohkan anaknya," ucap Dara.


"Aku yang menginginkannya, dia-" Adrian terdiam sesaat dengan senyuman yang sangat berbeda dan di sana Dara menyadari sesuatu dari cara Adrian membicarakan tentang dia.


Dara memalingkan wajahnya sebentar menahan rasa sakit di dalam dadanya sebelum ia kembali melihat ke arah Adrian dengan senyumannya.


"Dia itu berbeda dengan wanita biasanya, dan dia juga sangat lucu," seru Adrian diiringi senyumannya, ia mengingat setiap saat tingkah laku Stella yang di luar prediksinya.


"Begitu kah? Dia sangat beruntung bisa di cintai kamu, Rian."


"Entahlah siapa yang beruntung di sini, sepertinya dia belum mencintaiku."


'Sepertinya hubungan mereka tidak berjalan dengan baik. Apa ini berarti aku memiliki kesempatan?' batin Dara.


"Sudahlah jangan membahasnya lagi, sebaiknya kembali bekerja," ucap Adrian kembali mengerjakan pekerjaannya.


"Aku gak nyangka jagoanku sudah menikah," kekeh Dara mendekati Adrian dan mencubit pipinya diiringi kekehannya.


"Sakit Dara, rasain nih!"


"Aduh!" Dara memekik kesakitan saat Adrian mencubit kedua pipi Dara.


Dara dan Adrian saling cubit diiringi kekehan mereka, dan di depan pintu Stella berdiri dengan membawa berkas. Saat melihat itu ia berbalik dan bersembunyi di balik dinding ruangan dekat pintu. Hatinya terasa di guyur lahar panas dan rasanya ia ingin meledak.


"Ada yang mau meledak nih," goda seseorang membuat Stella kaget.

__ADS_1


"Astaga!" Stella sungguh di buat kaget karena tiba-tiba saja kepala Datan muncul di sisinya. Ternyata dia baru keluar dari ruangan sebelah. "Kak Datan ada keturunan demit apa sih? Astaga benar-benar bikin jantungku mau copot!"


Datan terkekeh mendengarnya. "Lebih parah mana jantung mau copot apa hati yang di guyur lahar panas?" ejeknya membuat Stella kesal.


'Ini orang benar-benar keturunan dedemit!' batin Stella.


"Labrak gih labrak, kamu kan istri sahnya yang lebih berhak. Jangan mau berbagi suami lho," seru Datan mengompori.


"Senang banget yah kak Datan mengomporiku," ujar Stella.


"Eh bukan mengompori tetapi menyemangati," serunya.


"Aku tuh gak butuh di semangati! udah ah aku pergi!" ujar Stella semakin kesal, tetapi Datan yang jahil dengan sengaja mendorong punggung Stella ke arah pintu Adrian.


"Aww!"


Pekikan Stella membuat Dara dan Adrian menoleh, Stella di buat kikuk di depan pintu dan menatap kesal ke arah Datan yang terkekeh. Datan melambaikan tangannya dan dengan santai berlalu pergi meninggalkan Stella yang kikuk sendiri.


"Dasar Kokodil!" gerutunya dengan sangat kesal.


"Stella? Ada apa?" tanya Adrian membuat Stella kini melihat ke arah Adrian dan Stella.


"Anu-"


Adrian dan Dara masih menunggu kelanjutan ucapan dari Stella. 'Ya Tuhan ini semua karena Dokter Kokodil itu, awas saja kak Datan aku kirim 1000 kecoa ke kamarmu!' batin Stella.


"I- ini saya mau memberikan berkas ini!" Stella mengangkat berkas di tangannya ke udara dengan gugup.


"Baiklah kalau begitu aku pergi dulu yah, dah Rian, dah Stella." Dara tersenyum kecil ke arah Stella dan berjalan melewatinya. Kini hanya tinggal Adrian dan Stella. Stella sedikit bingung dengan senyuman Dara, setaunya sebelumnya Dara gak pernah tersenyum ke arahnya bahkan bisa di hitung dengan jari berapa kali dia tersenyum.


Stella masuk ke dalam ruangan mendekati Adrian. "Ini berkas yang anda minta, Pak." Stella menyerahkan berkas yang ada di tangannya.


Adrian langsung menerimanya. "Kamu sudah makan siang?" tanya Adrian seraya membuka berkas itu dengan menyandarkan pantatnya ke meja di belakangnya.


Posisi Adrian seperti itu kenapa begitu menawan di mata Stella. Posisinya sungguh gagah dan menarik.


"Stella," panggil Adrian yang sadar kalau Stella tengah mengamatinya dengan kekaguman dan entah kenapa itu membuat Adrian merasa senang sekaligus malu sendiri. "Stella!"


"Eh?"


"Kamu ini malah melamun di siang bolong, kerasukan tau rasa lho," goda Adrian.


"Tidak kok," jawab Stella segera memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Kamu belum jawab pertanyaan dariku," ucap Adrian.


"Apa?"


"Kamu sudah makan siang belum?" tanya Adrian.


"Tumben Bapak nanya? biasanya juga acuh. Ah dan bagaimana bisa mood Bapak langsung berubah 180 derajat. Kemarin Bapak marah-marah sampai semuanya terkena semprot dan sekarang malah cengar cengir kek iklan pepsoden," ucap Stella.


"Makan siang bersamaku," ucap Adrian.


"Tidak mau, aku mau makan siang sama Lenna," jawab Stella.

__ADS_1


"Tidak ada bantahan, Stella."


"Ck pemaksa, otoriter!" serunya dan Adrian hanya tersenyum saja. Tetapi jauh di dalam lubuk Stella ia juga merasa senang sekali.


***


Malam menjelang dan semuanya tampak bersantai di tempat penginapan mereka dan melakukan acara barbeque. Ini adalah acara kecil-kecilan untuk mereka nikmati.


"Minum," tawar Dara pada Adrian yang tampak duduk melihat anak-anak lain menyiapkan alat pembakaran.


"Terima kasih," ucap Adrian menerima sodoran dari Dara dan membuka tutup kaleng itu dan meneguknya.


"Kau pintar dengan merencanakan acara kecil-kecilan ini, jadi mereka semua tak akan merasa kelelahan lagi dan jenuh karena pekerjaan yang menumpuk," ucap Dara.


"Aku ingin anak-anak merasa nyaman dan bekerja dengan senang, acara seperti ini penting dalam pekerjaan. Selain untuk menghilangkan rasa jenuh karena pekerjaan tetapi juga untuk menjalin tali silaturahmi yang kuat sesama karyawan," ucap Adrian.


"Benar sekali," kekeh Dara.


Dari kejauhan Stella merasa kesal melihat Adrian dan Dara.


"Sepertinya panasnya api unggun tak sepanas hati nona Stella," bisik seseorang membuat Stella kaget dan menoleh ke sampingnya dimana Datan berdiri seraya meneguk minuman kalengnya.


"Benar-benar demit yah kak Datan ini, muncul dimana saja untuk menggoda manusia," ujar Stella membuat Datan terkekeh.


"Ayo ikut, aku akan guyur kamu pake air es biar adem tuh hati," ejek Datan.


"Boleh, tapi sebelum itu temani dulu aku berburu kecoa," ujar Stella dengan wajah serius.


"Waduh berniat balas dendam yah nih anak kecil,"


"Aduh, sakit ih!" Stella memegang hidungnya sendiri yang terasa sakit karena di cubit Datan.


Stella dan Datan memang sudah cukup akrab saat Stella koas dan Datan selalu saja menggodanya tetapi kadang juga saat sedang sadar dan kerasukan malaikat baik, Datan suka membantu Stella dan menjelaskan beberapa hal mengenai beberapa hal.


"Heh Stell,"


"Apa?" tanya Stella meneguk minumannya.


"Menurut kamu apa Dara ada perasaan pada Adrian?" tanya Datan.


"Ada, malah banyak banget," ucap Stella.


"Ck bagaimana bisa kamu sok menilai dan peka dengan perasaan oranglain, sedangkan kamu sendiri tidak peka dengan perasaanmu sendiri," sindir Datan.


"A-apa?" tanya Stella tak paham.


"Dasar tak peka," seru Datan menoyor kening Stella.


"Ck dasar Kokodil!"


"Sebenarnya aku penasaran kenapa kamu terus memanggilku Kokodil?" tanya Datan.


"Kan kak Datan punya mata sipit kayak Koko koko gitu, terus dil itu kecil kayak kerdil jadi pas kan Kokodil," tawa Stella.


"Sesama kerdil gak boleh berseteru," ucap Datan membuat Stella terkekeh.

__ADS_1


***


__ADS_2