Marriage With Dosen

Marriage With Dosen
Episode 34


__ADS_3

"Hai Pak," sapa Stella diiringi senyumannya membuat Adrian menatap Stella tanpa berkedip. Hari ini Stella terlihat begitu cantik dengan rambut yang di gerai dan wajahnya yang tampak cantik dengan polesan makeup natural.


"Pak!"


"Eh?" Adrian mengerjapkan matanya beberapa kali dan segera memalingkan wajahnya. "Ada apa?" tanya Adrian.


"Bapak sendirian? tumben tidak bareng sama dokter Dara?" tanya Stella.


"Tumben kamu menyapaku terlebih dahulu," tanya Adrian. "Memang kenapa, ada yang salah?" tanya Stella. "Ngomong-ngomong aku belum mengucapkan terima kasih mengenai kejadian beberapa hari yang lalu."


"Tidak apa-apa, santai saja," ucap Adrian.


"Emm kalau boleh aku tau, kenapa Bapak menyelamatkan aku dan membawaku berjalan kaki sejauh itu, padahal Bapak bisa saja meninggalkanku, atau kita menginap di sana sampai ada kendaraan," seru Stella.


"Itu tidak mungkin melihat kondisimu," jawab Adrian.


"Memang kenapa dengan kondisiku, toh kalau aku matipun itu bukan salah Bapak." jawab Stella.


"Aku tidak mungkin meninggalkan istriku," jawab Adrian dengan pasti.


"Tetapi kenapa?" tanya Stella begitu penasaran.


"Cukup Stella, yang jelas aku tidak akan pernah meninggalkanmu, paham?" seru Adrian dengan pasti membuat Stella mengedikkan bahunya seraya merenung.



"Hai Stell," sapa seseorang.


"Hai Dr. Ivan," ucap Stella diiringi senyuman lebarnya tampak sedang berbahagia.

__ADS_1


"Kau tampak senang, bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Dr. Ivan.


"Aku sudah merasa sangat baik, Dokter." jawab Stella.


"Ngomong-ngomong aku baru tau kalau kau dan Dokter Adrian ternyata suami istri," seru Dokter Ivan.


"Aku pikir Dokter sudah mengetahuinya, karena dulu hampir semua pekerja di rumah sakit di undang dan juga mengetahuinya," seru Stella.


"Dulu aku bekerja di AMI Hospital Balik Papan dan baru pindah ke Jakarta 1 bulan yang lalu. Tetapi kenapa kalian tidak terlihat seperti suami dan istri?" tanya Dokter Ivan memicingkan matanya membuat Stella kebingungan untuk menjawab.


"Begitukah?" ucap Stella terkekeh kecil seakan kebingungan.


"Kami menjaga sikap dan profesionalisme dalam bekerja, Dokter Ivan. Apa ada masalah untuk anda?" tanya Adrian yang tiba-tiba saja datang membuat Stella dan Dr. Ivan menoleh ke arahnya.


"Dokter Adrian?" gumam Dr. Ivan tampak kaget.


"Ada apa dokter Ivan, kau begitu ingin mengetahui hubunganku dengan istriku?" tanya Adrian seraya merangkul pundak Stella membuatnya kaku dan dadanya terus berdebar-debar.


"Apa maksudnya barusan?" gumam Stella.


"Bukan apa-apa, jangan terlalu di pikirkan Pendek," ucap Adrian.


"Apanya yang sayang?" tanya Stella menengadahkan kepalanya menatap Adrian yang kini melepaskan rangkulannya.


"Ya dia bilang sayang banget aku mendapatkan wanita pendek sepertimu menjadi istriku," goda Adrian.


"Ck, kau pikir aku beruntung memiliki suami kayak Bapak! Sudah songong, narsis, mesum, dan mirip gorilla, wleee," ejek Stella berlalu pergi meninggalkan Adrian begitu saja.


"Ck, kurasa Dr. Ivan memiliki maksud tertentu pada Stella," gumam Adrian.

__ADS_1



"Kenapa tuh muka di tekuk aja?" tanya Lenna saat melihat Stella hanya bermalas-malasan di atas ranjang dengan wajah di tekuk.


"Lu bilang pak Adrian ada perasaan sama gue, ternyata kenyataannya gak ada. Jelas banget dia hanya bisa mengejek gue," keluh Stella.


"Ck jangan menyerah gitu aja dong Non, baru juga di mulai. Gimana perasaan lu mau terbalaskan kalau baru segini aja udah nyerah. Bukankah lu itu sudah terbiasa di ejek pak Adrian," seru Lenna.


"Tapi apa benar yah dia mencintaiku?" tanya Stella.


"Nah makanya biar jelas, lu cari tau jangan hanya menyerah," uaap Lenna membuat Stella terdiam.



"Hei Pak Adrian," sapa Stella diiringi senyuman lebarnya.


"Tumben kamu menyapaku," ucap Adrian yang sedang menulis sesuatu di berkas pasien dalam ruang periksanya.


"Mau cofee?" tawar Stella menyodorkan satu cup coffe yang masih mengepulkan asap ke arah Adrian.


"Kau mencurigakan Pendek," ucap Adrian memicingkan matanya seraya meneguk kopinya membuat Stella tersenyum.


"Bapak mau ngomong apa kepadaku?" tanya Stella begitu saja seraya meneguk kopi miliknya.


"Apa maksudmu?" tanya Adrian bingung.


"Iya apa yang ingin Bapak katakan padaku? Aku yakin ada sesuatu yang sangat sangat rahasia yang ingin Bapak katakan padaku," pancing Stella membuat Adrian mengernyitkan dahinya.


"Jangan di pendam pendam deh pak TMII nan mesum, jujur saja. Aku akan siap mendengarkannya dan menjadi pendengar yang baik," ucap Stella tampak ceria.

__ADS_1


'Apa maksud Stella, apa dia ingin kejujuran tentang perasaanku kepadanya?' batin Adrian menatap Stella yang masih memperlihatkan senyuman terbaiknya.



__ADS_2