
"Stell," seruan itu membuat Stella menoleh.
"Bagaimana, sudah dapat yang pas di facebook?" tanya Lenna.
"Sudah, namanya Nicho anak Jakarta Selatan. Dia udah kerja katanya seorang manager di salah satu perusahaan makanan."
"Serius? seorang manager?" tanya Lenna yang di angguki Stella.
"Wait!" Stella membuka Iphone nya dan membuka akun facebook miliknya. "Nah ini."
Lenna melihat picture dari Nicho. "Ini yah, kok berasa aneh."
"Anehnya?" tanya Stella.
"Fotonya kok keliatan ganteng banget, kayak artis."
"Nah makanya gue langsung setuju karena dia keliatan ganteng banget apalagi seorang manager, pastilah sudah cukup menjadi saingannya Dosen TMII itu."
"Loe percaya ini wajah aslinya?" tanya Lenna.
"Iya, dari kata-katanya juga dia cukup pintar dan bijak, keliatan deh seorang managernya," ucap Stella dengan bangga.
"Jadi kapan rencananya loe akan bertemu dengannya?" tanya Lenna.
"Belum tau sih, tetapi gue masih coba mengenal dia dulu lewat chatingan. Oh iya ngomong-ngomong gue ketemu Pandu weekend kemarin."
"Pandu?"
"Iya, Pandu Anggara ketua Osis waktu kita SMA dulu lho."
"Oh ketua Osis paling narsis itu?" tanya Lenna yang di angguki Stella. "Terus gimana? bukannya dulu dia pernah nembak loe?"
"Heem, kemarin dia minta nomor telpon dan line gue. Nah udah beberapa kali ini dia terus ngechat gue nanyain banyak hal. Bahkan sampai nanyain gue udah punya pacar atau belum."
"Terus loe jawab apa?" tanya Lenna.
"Gue bilang aja udah tunangan."
"Loe ngakuin? kok bisa?"
"Lah masa iya gue jawab udah merid? bahaya kan, seumuran gue udah nikah." Stella berucap dengan memekik.
"Ya maksud gue kenapa gak jawab lagi jomblo aja, bukannya loe lagi nyari temen kencan." Lenna membenarkan maksud ucapannya.
"Entahlah, Pandu kan masih kuliah juga dan tampangnya tidak setampan dosen TMII. Kalau aku sama Pandu yah yang ada di ketawain tuh Dosen nyebelin. Mana cewek dokter yang jadi pacar dia cantik lagi, blasteran gitu. Makin dah tuh dosen ngbully gue," ucap Stella memicingkan matanya.
"Loe yakin dokter itu pacarnya pak Adrian? masa sih pak Adrian selingkuh, kan dia suami loe."
"Ya kan kita nikahnya kepaksa, apalagi kita punya peraturan nikah. Kita bebas memiliki pacar lagi dan gak harus mencampuri urusan kami masing-masing."
"Loe sama dia mau sampai kapan kayak gini? mau sampai Kakek Nenek, nikah pake peraturan?" tanya Lenna.
__ADS_1
"Ya tidak, gue juga punya impian nikah sama cowok yang gue cintai dan dia mencintai gue. Lalu kita hidup bahagia selamanya, happy ending."
"Terlalu termakan drakor, lagian hidup tuh terus berjalan dan gak akan bahagia terus, pasti ada cobaannya juga. Apalagi nikah, pacaran aja ada putus nyambung dan belum tentu sampai menikah."
"Iya kan itu impian gue, kalau hidup gue selamanya sama dosen nyebelin itu. Bisa mati muda," ucap Stella.
"Tetapi bisa jadi sebaliknya juga kan. Loe hidup bahagia bersama pak Adrian." Stella mengernyit menatap Lenna saat mendengar penuturan Lenna yang terakhir.
"Gue gak tau, yang jelas gue hanya ingin hidup dengan pria yang mencintai gue dan gue juga cinta dia." Stella memalingkan wajahnya menatap kedepan mengakhiri obrolan mereka berdua.
***
"WHAT!!!!!!!!"
Seisi kelas terpekik kaget mendengar pekikan Stella yang berdiri di mejanya. Semuanya menatap ke arah Stella bingung dan sebagian acuh, karena sudah terbiasa dengan keributan yang di buat miss cerewet Stella.
"Dosen TMII itu benar-benar kebanyakan makan micin!" ucapnya berapi-api.
"Lihat Lennong, laporan loe di terima dengan mulus dan punya gue! Loe lihat banyak coretan merah!" pekiknya menunjukkan Laporan miliknya.
"Sabar Stell, mungkin penulisan loe banyak yang salah," ucap Lenna.
"Salah darimananya! Gue kerjainnya kan bareng sama loe! Dosen itu benar-benar harus gue sumpel pake bh mak erot biar nyaho!" ucapnya meraih tas selempangnya dan beranjak pergi.
"Loe mau kemana Stell?" tanya Lenna.
"Nemuin dia!"
Stella mencari Adrian di ruangannya tetapi tidak ada. Dia lalu menghubungi Adrian dan Adrian berucap dia sedang di cafe dekat kampus tengah makan siang. Dengan emosi yang memuncak, Stella berjalan dengan kedua tangannya yang mengepal hingga laporan yang dia pegang lecek.
Ia masuk ke dalam cafe yang tak terlalu ramai pengunjung itu dan melihat Adrian tengah duduk bersama seorang pria di salah satu meja tak jauh darinya.
"Apa-apaan ini!" pekik Stella melempar laporannya ke atas meja seraya menggebraknya membuat seseorang yang merupakan teman Adrian memekik kaget hingga berdiri, tetapi berbeda dengan Adrian yang masih duduk santai di tempatnya menatap Stella yang emosi.
"Kenapa laporanku di tolak? Apa yang salah! Seenaknya melakukan ini sesukamu!" pekiknya. "Kamu melakukan ini karena ingin balas dendam padaku kan, karena kemarin aku membuat kepalamu miring!"
"Dasar tidak dewasa, kalau ingin balas dendam lakukan dengan sportive, jangan main tolak laporan! kamu pikir membuat laporan begini tanpa pake otak dan tenaga? Aku sampai harus bergadang karena ini!" ucapnya berapi-api membuat para pengunjung menatap ke arahnya.
"Sudah di periksa?" tanya Adrian.
"Sudah jelas coretan ada dimana-mana, kamu sengaja melakukan ini karena dendam padaku!" ucapnya. "Pokoknya aku ingin laporanku di terima!"
Setelah melampiaskan segalanya, Stella berbalik kesal dan hendak beranjak tetapi gerakannya terhenti karena tasnya tertarik dari belakang.
"Sekarang kau menyesal bukan? dan ingin meminta maaf padaku," ucap Stella dengan pedenya.
"Lepaskan tas-" ucapan Stella terhenti saat ia berbalik ke arah Adrian yang duduk santai dengan melipat kedua tangannya di dada. Dengan gerakan matanya Adrian menunjukkan kalau tas Stella menyangkut di kepala kursi tak jauh darinya seraya menahan senyumannya.
Kesal bercampur malu, Stella menarik tasnya dan berbalik pergi karena sudah terlanjur malu.
Dug
__ADS_1
Stella menendang kursi yang tak sengaja ia senggol hingga hampir membuatnya jatuh dan ia berjalan cepat keluar cafe yang hening dan semua mata tertuju padanya.
Adrian tersenyum sendiri melihat kelakuan Stella. "Dia Stella kan, mahasiswi Kedoteran?" tanya temannya yang syock juga merasa geli.
"Ya, dia siswi kesayanganku," ucap Adrian dengan senyumannya.
"Gadis itu sungguh bar bar dan tak punya sopan santun! Dia sungguh seperti orang gila." Suara seseorang membuat Adrian menoleh.
Tak jauh darinya seorang pria berucap kepada beberapa orang yang ada di sekitarnya. Ekspresi geli Adrian mendadak berubah menjadi seekor singa yang siap menerkam mangsanya. Adrian berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati pria yang berucap tadi.
"Apa yang kau katakan tadi?" tanya Adrian membuat pria itu terdiam bingung dan ketakutan.
Bug
Adrian meninju rahang pria itu hingga tersungkur ke lantai. "Tarik kembali ucapanmu tadi, sekali lagi kau menghina wanita tadi, kau berhadapan denganku!" ucap Adrian dengan sangat menyeramkan dan berlalu pergi meninggalkan cafe yang menyisakan keheningan dan ketegangan.
***
Adrian baru saja sampai di apartementnya, ia kaget mendengar suara musik yang begitu kencang dari kamar Stella.
"Astaga, gue berasa punya anak petakilan," gerutu Adrian yang harus extra sabar menghadapi Stella, dulu dia bisa menghandle Kirana dan si kembar anaknya Datan. Tetapi dengan Stella, dia merasa pusing sendiri.
Adrian berjalan menuju kamar Stella dan menekan knop pintunya tetapi terkunci dari dalam. "Stella buka pintunya!" ucap Adrian menggedor pintu kamar.
"Stella!" ucap Adrian yang tak kunjung di buka dan tak ada sahutan selain suara musik yang kencang. Ia lalu berlalu pergi mengambil kunci serep dan membuka pintu.
Pintu terbuka lebar dan Adrian mengernyit melihat kamar wanita itu yang berantakan bak kapal pecah, Stella juga sedang menari-nari di dekat ranjang.
"Stella!" panggil Adrian membuat Stella menoleh dan menghentikan gerakannya. "Kecilkan suara musiknya."
"Kenapa bisa masuk?" tanya Stella tanpa perduli perintah Adrian.
"Ini apartementku jadi aku bebas masuk kemana saja," ucap Adrian berjalan mendekati Stella.
"Kenapa berjalan kesini?" ucap Stella mendadak gugup dan waspada. Ia berjalan mundur saat Adrian terus berjalan mendekatinya.
"Kamu masih mau merajuk karena laporanmu?" tanya Adrian.
"Ti-tidak, tetapi aku juga tak akan mengerjakannya lagi." sahut Stella memalingkan wajahnya dan terus berjalan mundur menghindari Adrian yang terus berjalan mendekat.
Stella terpojok saat punggungnya bersentuhan dengan dinding dan Adrian berdiri di depannya sangat dekat. Stella mencoba mengambil jalan ke kiri tetapi dengan cepat tangan kirinya menghalangi Stella dengan memegang dinding tepat di samping kepala Stella. Stella mencoba mengambil jalan sebelah kanannya dan dengan cepat Adrian juga menghalanginya dengan tangan kanannya hingga kini Stella tak bisa kemana-mana karena di kungkung oleh Adrian. Ia yang tadinya menunduk, kini mengangkat wajahnya hingga tatapannya beradu dengan mata tajam milik Adrian.
Gadis bar bar itu mendadak membeku karena tatapan Adrian yang tajam dan nafas mintnya yang begitu dekat dengannya. Adrian semakin mendekatkan wajahnya mendekati Stella membuat Stella semakin gugup dan berdebar-debar.
"Ah!" pekik Stella langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya saat bayangan Adrian menciumnya dulu terbayang begitu saja.
Adrian menggulum senyumnya karena berhasil membuat Stella membeku. Tangan kanannya meraih remote yang terselip di saku celana hot pants Stella dan menekan tombol off hingga musik berhenti dan Stella menurunkan wajahnya hingga bawah mata dengan kenyitan di dahinya.
"Lain kali gunakanlah otakmu untuk hal yang positive," ucap Adrian masih dengan senyuman khasnya yang mempesona seraya mengusap kepala Stella dan berlalu pergi meninggalkan kamar Stella.
"Dosen itu," gumam Stella dan tubuhnya merosok ke lantai dengan wajahnya yang kaku dan debaran di dadanya.
__ADS_1
***