Marriage With Dosen

Marriage With Dosen
Episode 26


__ADS_3

Dosen vs Me Part 26


Adrian duduk di ruang rapat, dimana ada semua mahasiswa/i koas. Di sana juga ada beberapa Dokter dan perawat.


"Selamat Pagi," sapa Adrian yang di jawab serempak oleh semuanya.


"Terima kasih karena kalian bersedia berkumpul di sini pagi ini. Ada beberapa hal yang ingin saya umumkan kepada kalian." Adrian membuka sebuah map di hadapannya.


"Di rumah sakit ini ada kegiatan sosial, dimana setiap tahunnya akan mengirim beberapa dokter handal untuk terjun dan bersosialisasi langsung dengan masyarakat di daerah pelosok yang bidang kesehatannya kurang memadai." Adrian menatap semua mata orang yang ada di ruangan itu sebelum melanjutkannya.


"Dan untuk tahun ini, mahasiswa/i koas yang akan pergi ke suatu daerah yang ada di daerah NTT tepatnya kabupaten Manggarai Barat kampung Kumbuk. Itu adalah kampung yang cukup tertinggal dalam segala hal. Dan kita semua akan pergi ke sana untuk membantu mereka."


"Apa kami semua yang ada di ruangan ini berangkat?" Tanya salah seorang perawat.


"Iya kau benar, Dani. Kita semua berangkat, dan aku yang akan memimpin kalian. Apa ada yang ingin di tanyakan?" tanya Adrian.


"Berapa lama kami di sana?" Tanya Riska salah satu mahasiswi koas.


"3 bulan," ucap Adrian. "Kita akan berangkat senin ini, jadi persiapkan diri kalian dan kebutuhan kalian. Dan segala hal bisa kalian koordinasikan dengan Dokter Dara, dia adalah asistenku."


'Bahkan dalam hal ini mereka juga bekerja bersama. Apa sedekat itu mereka?' Batin Stella menatap Adrian dan Dara bergantian.


***


7 orang mahasiswa koas di antaranya Stella, Lenna, Riska, Sandi, Rijal, Mawar, Bagus. Dan 5 orang perawat di antaranya Mina, Arman, Sari dan Fadil. Dan 4 orang Dokter spesialis di antaranya Dr. Ivan adalah dokter spesialis kandungan, Dr. Dara spesialis Anestesi, Dr. Datan spesialis THT dan Dr. Adrian spesialis bedah Thoraks.


Ke 15 orang ini berangkat bersama pagi itu menggunakan pesawat milik Ami Hospital. Selama itu Stella melihat Adrian tampak sibuk dengan Dara entah membicarakan masalah apa.


Karena kesal, Stella memilih menutup matanya dan bersandar ke sandaran kursi.


"Ngantuk?" Pertanyaan itu membuat Stella membuka matanya dan melirik ke sampingnya.


"Dr. Ivan," seru Stella.


"Tidurlah, aku tidak akan mengganggu. Aku hanya ingin duduk di samping dokter cantik," godanya membuat Stella tersenyum.


"Masih calon," ucap Stella membuat Ivan membalas senyumannya.


"Tidurlah, perjalanan kita masih jauh. Kita akan pergi ke perbatasan Indonesia," ucapnya membuat Stella mengangguk setuju dan memejamkan matanya.


Ivan menatap wajah Stella dengan intens, Stella memang memiliki kecantikan natural dan tampak begitu imut.


Stella tampak sudah terlelap, kepalanya seketika jatuh ke samping tepat ke pundak Ivan. Bukannya terbangun, Stella malah mencari posisi nyamannya di sana membuat Ivan mau tidak mau tersenyum melihatnya.


Dari kejauhan Adrian melihat mereka berdua dengan sangat kesal, ia bahkan tak mendengarkan penjelasan dari Dara.


"Dr. Adrian!" Panggilan itu menyadarkannya.


"Iya," jawabnya.


"Kau mendengarkanku, bukan?" Tanya Dara.

__ADS_1


"Hm," jawab Adrian dengan pandangannya yang masih tertuju pada Ivan dan Stella.


"Kau melihat apa sih?" Tanya Dara sangat penasaran dan menoleh mencari apa yang di lihat Adrian.


"Bukan apa-apa," ucap Adrian menghentikan niat Dara. Dara menatap Adrian yang kini kembali fokus pada dokumen di depannya.


***


"Sepertinya kau menikmati bahu lebarnya Dr. Ivan," sindir Adrian saat mereka sampai dan menuruni pesawat.


Stella yang sedang menarik kopernya menoleh ke arah Adrian dengan mata memicing. "Haruskah aku menjawabnya?" tanya Stella.


"Tidak, kejadian tadi sudah menjawab semuanya." Setelah mengatakan itu Adrian berlalu pergi meninggalkan Stella yang kebingungan.


"Dasar Dosen TMII yang aneh," gerutu Stella.


Mereka di sambut oleh kepala desa di sana, tampaknya masyarakat di sana begitu antusias dan menyambut kedatangan para Dokter juga perawat itu. Mereka di bimbing menuju ke sebuah vila sederhana bahkan menyerupai rumah warga biasa yang memiliki kapasitas kamar terbanyak.


Mereka semua masuk ke dalam dan vila itu benar-benar sederhana, hanya ada 1 ruang tamu yang menyatu dengan ruang keluarga, ruang makan, dapur, dan beberapa kamar. Vila itu juga memiliki 2 lantai dan halaman belakang yang cukup luas. Satu keistimewaan dari Villa itu, yaitu udaranya yang sejuk dan halaman belakang yang penuh dengan pohon pohon hijau.


"Wah sejuk sekali," seru Dara saat membuka pintu penghubung antara ruang makan dan halaman belakang.


"Di Villa ini terdapat 8 kamar, kalian ada yg berdua ada yang bertiga dalam satu kamar.


Adrian masuk ke dalam kamarnya bersama Datan.


"Ternyata tempatnya tidak menakutkan," ucap Datan.


"Ah aku harus bertanya ke kepala desanya, apa dari sini ke pulau Komodo jauh. Aku ingin memelihara Komodo untuk teman berduel si Conel. Seru kan kalau di rumah ada 2 jenis binatang predator," seru Datan.


Adrian yang mendengarnya hanya bergidik aneh. "Orang yang memelihara ular cobra meninggal karena di patuk ularnya. Dan nanti akan masuk berita juga, tubuh seorang Dokter terkenal Mr. Datan Aguero Mahya meninggal karena tubuhnya di cabik-cabik Komodo dan buaya," ucap Adrian.


"Ck, jangan baperan Rian. Lagian si Conel kagak bakalan berkhianat sama gue. Kan gue udah kawinin dia sama buaya bule yang kece badai, makanya sekarang tuh buaya betina terus aja bertelur. Si Conel demen ngawininnya, 3 kali sehari," kekehnya membuat Adrian menggelengkan kepalanya.


"Sudah ah, aku akan pergi ke klinik dulu dan melihat apa obat-obatan dan alat medis yang kita bawa sudah di tata rapi dalam klinik," ucap Adrian.


"Oche," jawab Datan membuka kaos yang di gunakannya.


Adrian keluar dari kamarnya dan melihat Dara juga keluar dari kamarnya yang ternyata bersebelahan dengan Adrian.


"Kau akan kemana?" Tanya Dara.


"Klinik," jawab Adrian. " aku akan memeriksa obat-obatan dan alat medis yang kita bawa."


"Aku akan menemanimu," ucap Dara yang di jawab anggukan kepala oleh Adrian.


Mereka berjalan bersama hingga sampai di kamar ke 4 di lorong itu. Dan saat itu juga pintu itu terbuka dan menampakan sosok Stella hingga langkah Adrian terhenti begitu juga dengan Dara. Stella dan Adrian saling menatap satu sama lainnya.


"Wah, ternyata kita bersebelahan calon dokter cantik," seruan itu membuat ketiga orang itu menoleh ke belakang mereka dan terlihat Ivan berdiri santai di pintu kamarnya.


"Oh iya Dok," ucap Stella dengan senyumannya tetapi senyuman itu lenyap saat tatapannya kembali terpaut dengan Adrian yang terlihat kesal.

__ADS_1


"Stella ikut denganku ke klinik sekarang!" Ucap Adrian.


"Apa Dok? Tapi kita baru saja sampai dan saya bahkan belum berganti pakaian!" Protes Stella.


"Kau di sini untuk bekerja, bukan liburan. Sekarang ikut bersamaku dan bawa buku catatanmu," perintah Adrian tak terbantahkan.


Stella menghela nafasnya kesal dan kembali masuk ke dalam kamarnya untuk membawa buku catatannya.


"Dara, sepertinya kau tetap di sini dan periksa anggota yang lain, takutnya ada yang tidak kebagian kamar." Perintah Adrian.


"Tapi Rian," protes Dara.


"Tolong bantu aku," ucap Adrian menatap ke arahnya.


"Baiklah." Jawab Dara dengan lesu.


Stella berjalan mengikuti Adrian menuju klinik yang berada tak jauh dari Villa mereka, hanya berjarak beberapa meter.


"Apa harus kau seperti ini di saat kita baru sampai? Ah kau memang pembimbing yang kejam," gerutu Stella.


"Berhenti memprotes Stella," ucap Adrian.


"Aku bahkan belum mandi, Dosen TMII." Stella tampak kesal sekali. "Bilang saja kalau kau ingin berduaan denganku."


"Apa?" Adrian berbalik begitu saja hingga Stella yang tidak tau menabrak dada bidang Adrian.


"Kasih kode kek kalau mau berhenti dan berbalik!" Keluh Stella mengusap keningnya. "Kalau dalam aturan kendaraan, ulahmu ini bisa membuat kecelakaan berantai, Pak Dokter!" Gerutu Stella dan entah kenapa itu tampak lucu bagi Adrian.


Stella yang mengomel dengan bibirnya yang sedikit manyun karena kesal, itu sungguh menggoda dan ingin sekali Adrian mencium bibir itu hingga benar-benar monyong.


"Tatapanmu itu menandakan kau sedang berpikir mesum, Dosen TMII," tuduh Stella membuat Adrian menaikkan sebelah alisnya.


"Sok tau kamu," ucap Adrian.


"Stella," panggil Adrian.


"Apa? Ayo sambil jalan, ini panas. Kau ingin kulitku terbakar," ucap Stella berjalan melewati Adrian, Adrian berjalan berdampingan dengan Stella.


"Kenapa kamu memilih kamar di sana? Tepat di samping Dr. Ivan?" Tanya Adrian.


"Memang kenapa? Yang lain sudah lebih dulu memilih kamar di lantai 2. Dan kamar itu yang tersisa. Apa ada masalah? Ah jangan katakan anda cemburu, Pak Dokter," seru Stella dengan tatapan mengejek.


"Aku? Cemburu pada wanita petakilan sepertimu? Haha jangan ngarep," seru Adrian membuat Stella manyun karena kesal. "Aku hanya ingin melindungi istriku supaya tak salah memilih pria untuk di ajak kencan, dokter Ivan itu playboy, sudah banyak suster dan Dokter korban dari PHP nya." Adrian mencoba menjelaskannya.


"Memang aku bagaimana dengannya? Kami tak ada apa-apa, lagian perhatian sekali SUAMIku ini mencoba menjagaku," ucap Stella.


"Seperti yang tertulis di perjanjian, sebelum kita bercerai maka kita bisa berteman. Dan karena itu juga aku masih berhak menjaga dan melindungimu," ucap Adrian.


"Berteman? Sebenarnya aku keberatan, tetapi baiklah. Sepertinya itu bagus," ucap Stella dengan senyuman lebarnya membuat Adrian ikut tersenyum.


***

__ADS_1


__ADS_2