
Stella perlahan membuka pintu kamar mandinya dan menjulurkan kepalanya ke arah ranjang. Adrian tampak asyik bermain game di atas ranjang. Ia kembali masuk ke kamar mandi dengan menghela nafasnya dan menatap ke bawahnya yang hanya menggunakan jubah handuk. Ia sungguh tidak mungkin tidur dengan pakaian yang sejak pagi ia gunakan beraktivitas,
Stella mendengus dan merasa bodo amat, ia akhirnya keluar dari kamar mandi dan berpura-pura santai walau sebenarnya ia berdebar-debar dan merasa salting. Adrian melirik ke arah Stella yang terus membenarkan jubah handuk yang hanya sebatas paha itu. Ia hanya tersenyum kecil dan kembali fokus bermain game.
Stella berjalan mendekati ranjang tetapi karena ia begitu canggung sampai ia tidak melihat kakinya menyandung karpet lantai dan ia tersungkur ke arah tubuh Adrian.
"Ah!"
Bruk
Stella tersungkur cukup keras menghantam tubuh Adrian hingga ranjang mereka ambruk.
"Astaga!" Adrian sungguh merasa kaget dan Stella mengangkat kepalanya hingga tatapannya beradu dengan mata tajam Adrian. Stella segera mengangkat tubuhnya dari atas tubuh Adrian dan melihat sekeliling, begitu juga dengan Adrian. Keduanya kembali saling menatap dan sama-sama tertawa terbahak-bahak karena ranjangnya ambruk.
"Hahahahahahaha!"
"Sebegitu bernafsunya kamu menerjang aku, sampai ini ranjang ambruk," ejek Adrian.
"Apaan sih, orang kaki aku kesandung," kekeh Stella.
Keduanya masih puas tertawa terbahak hingga kembali bertatapan satu sama lainnya penuh arti hingga tawa itu semakin lama semakin lenyap.
"Aku mencintaimu, Stella."
Deg
Stella merasa hembusan angin dan taburan kelopak bunga menerpa dirinya.
"Emm-"
"Aku mencintaimu, mungkin ini konyol sih. Aku menyukai dan jatuh cinta pada mahasiswaku sendiri. Tetapi aku sungguh mencintaimu, Stella."
Stella masih diam membisu dengan badan yang kaku dan tegang. Ia bahkan tak sadar kalau kedua tangannya telah di genggam oleh tangan Adrian.
"Stell apa kamu marah? Aku tidak sedang bercanda, aku mengatakan yang sesungguhnya. Entah sejak kapan cinta ini tumbuh, aku tidak tau. Yang jelas aku mencintaimu." Adrian mengatakan dengan tulus.
"Stell-"
Adrian mematung saat Stella beranjak dan memeluk lehernya. Stella membungkam bibir Adrian dengan bibirnya. Stella mencium Adrian dengan kaku dan tidak karuan. Adrian membiarkan apa yang di lakukan Stella, hingga Stella menjauhkan kepalanya dan tatapan mereka beradu satu sama lain.
"Aku hanya ingin memastikan kalau ini bukan mimpi," ucap Stella.
"Ini bukan mimpi," ucap Adrian dan Stella langsung memeluk Adrian dan menyembunyikan wajahnya yang memerah di lekukan leher Adrian.
"Aku juga mencintaimu," bisik Stella.
"Apa?" Adrian kaget mendengarnya dan menarik lengan Stella tetapi Stella masih menahan diri dengan memeluk leher Adrian.
"Apa yang kamu katakan barusan, lihat aku Stell."
"Nggak mau, aku malu. Pokoknya aku udah ngomong," ucap Stella dengan wajah yang merona merah.
"Stella tatap mata aku dan katakan sekali lagi," perintah Adrian.
"Nggak mau ih aku malu tau."
"Kalau begitu katakan sekali lagi," perintah Adrian.
"Wani piro?"
"Sudah aku bayar dengan membalas cinta kamu, kurang istimewa apa coba. Cinta lebih utama daripada harta," seru Adrian.
"Dua duanya juga istimewa untuk aku. Hidup itu kan harus realistis. Kan perut juga harus di isi, masa ia harus makanin cinta sih," jawab Stella.
"Gimana kalau perut kamu, aku isinya benih cinta saja."
"What?" Stella melepas pelukannya dan menatap Adrian dengan tatapan horornya."Kamu mau iya iyain aku?"
Adrian terkekeh mendengar ucapan Stella dan gemas melihat ekspresi wajah Stella. "Kenapa memangnya, toh aku suami kamu," ucap Adrian meraba leher Stella dengan gerakan perlahan membuat Stella bergidik kegelian.
__ADS_1
"Jangan lakuin yang iya iya dulu, a- aku aku kan masih di bawah umur!" pekik Stella begitu saja seraya menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Bukan di bawah umur, tapi di bawah rata-rata tingginya," kekeh Adrian.
"Ih dasar Gorilla, TMII, Boboho!" pekik Stella. "I Hate You!"
"But Saranghae."
"Wuaaaa Opahh," kekeh Stella yang merasa lucu mendengar kata-kata Adrian sekaligus merona.
"Opa, bukan Opah. Kamu pikir Kakekmu," gerutu Adrian.
"Lebay kamu, Pak." Stella terkikik.
"Jangan memanggil Bapak, aku bukan Bapakmu ataupun Pak Eko," ucap Adrian membuat Stella semakin terkekeh.
"Kamu mau aku panggil apa? Opa? Biar kayak Opa Opa korea, sarangmnida!" Stella menundukkan kepalanya sedikit.
"Tidak, nanti di kira aku Opahmu," seru Adrian. "Bagaimana kalau Honey?"
"Mboh!" tolah Stella.
"Abi?"
"Abimanyu," kekeh Stella. "Aku belum pantas di sebut umi," jawabnya.
"Apa dong? Sayang?"
"Jangan lah, itu pasaran." Stella dan Adrian sama-sama berpikir keras.
"Bee," seru Adrian.
"Hmm?"
"Kenapa harus Bee?" tanya Stella.
"Dih udah bangkotan juga," kekeh Stella.
"Dan kamu adalah bunga yang akan selalu aku hinggapi, kamu adalah kebutuhan pokok dalam hidupku," jawab Adrian.
"Kenapa kamu jadi kayak om Andre jadi suka ngegombal," seru Stella.
"Aku gak gombal, Pendek. Aku mengatakan yang sejujurnya," jawab Adrian.
"Kok kamu panggil aku masih pendek sih?" protes Stella. "Panggil aku Pinky."
"Ck nggak cocok, lebih cocok pendek," seru Adrian.
"Gak mau, kamu pengen di panggil bagus lah aku di panggil pendek. Jelek banget," gerutu Stella.
"Pendek itu ada artinya bagiku," ucap Adrian.
"Apa?"
"Pengen deket kamu terus," jawab Adrian.
"Dih juniornya om Andre nih, pinter gombal." Stella terkekeh puas.
"Kemarilah.
Adrian merangkul Stella dan membawanya merebahkan tubuh mereka di atas ranjang yang sudah ambruk itu. Stella merebahkan kepalanya di dada bidang Adrian dan memeluk tubuh kekar Adrian.
"Kamu gak jadi iya iyain aku?" tanya Stella.
"Aku tidak ingin memaksa, aku ingin keikhlasan darimu," ucap Adrian.
"Maaf yah Bee suami," ucap Stella dan itu membuat Adrian geli sekaligus gemas.
"Tidurlah Pendekku sayang," goda Adrian.
__ADS_1
"Pendek, hmm."
"Pengen deket istriku terus kan," godanya membuat Stella tersenyum.
"Pintar banget sih kamu," kekeh Stella.
Mereka diam untuk beberapa saat. "Pasti besok dokter Kokodil bakalan heboh karena ranjang ini ambruk," kekeh Stella membayangkan ekspresi syock Datan.
"Biarkan saja mereka menyimpulkan sendiri, sekarang kita tidur."
"Bee suami, kenapa jatuh cinta sama aku. Kan katanya dulu kamu gak mungkin jatuh cinta sama aku," tanya Stella.
"Sekarang aku tanya balik, kenapa kamu jatuh cinta padaku? Apa karena akhirnya kamu sadar dan terpesona karena ketampananku?" goda Adrian.
"Apaan sih kamu, enak banget kalau ngomong," ujar Stella. "Harusnya kamu mulai terapi penyakit Pede akut itu."
"Durhaka kamu sama suami, harusnya kamu dukung suami kamu," seru Adrian.
Stella menengadahkan kepalanya dengan menyandarkan dagu di tangannya di atas dada Adrian
"Ck suami TMII, aku sebagai istrimu yang manis dan lucu ini hanya akan menuruti dan mendukung yang baik baik saja. Selain itu jangan harap yah," seru Stella.
"Dasar Pendek!"
"Dasar Boboho mesum, wlee"
"Tidur," perintah Adrian.
"Nina boboin," ucap Stella.
"Biasanya juga tidur sendiri," seru Adrian.
"Itu memaksakan diri karena tidak mau melihat Dosen killer," kekeh Stella.
"Sini aku tepuk-tepuk," seru Adrian merangkul Stella hingga kini Stella merebahkan kembali kepalanya di dada Adrian.
"Bahu yah tepuk tepukin."
"Kenapa gak pantat saja," seru Adrian.
"Berhenti mengatakan pantat!" gerutu Stella kembali terbayang pantat seksi itu.
"Ya sudah tidurlah."
∞
"Oh God!"
Pekikan itu membuat Adrian dan Stella terbangun, Stella mengucek kedua matanya dan sedikit mengernyit menatap ke arah Datan yang berdiri menjulang di ambang pintu.
"Astaga sebenarnya apa yang telah kalian lakukan? sampai ranjang gue ambruk?" serunya.
Stella baru menyadari sesuatu dan ia menengadahkan kepalanya hingga tatapannya beradu dengan mata tajam Adrian.
"Jadi semalam bukan mimpi? Bapak eh Bee suami bilang cinta padaku?" tanya Stella dengan polos membuat Adrian tersenyum dan membelai pipi Stella.
"Iya Pendek, aku mencintaimu," seru Adrian mengecup kening Stella membuat Stella tersenyum bahagia.
"Oh God! dan sekarang kalian menganggap gue gaib di sini! Oh come on, siapa yang membuat kalian seperti ini dan saling mengungkapkan cinta. Tidak adakah ucapan terima kasih?" seru Datan.
"Kau berisik sekali Dokter Kokodil, lebih baik Dokter keluar saja dan kembali kunci kami di sini berdua," ucap Stella membuat Adrian terkekeh dan Datan yang melongo.
"Astaga wanita seperti apa yang kau cintai ini Rian? lebih kamvret dari Kakakmu si Ona," ucap Datan.
"Tetapi dia snagat spesial buat gue, Bang." Adrian tidak tau mau memeluk Stella dan sebaliknya Stellapun memeluk tubuh Adrian dengan erat dan mereka mengacuhkan Datan.
"Astaga pasangan ini." Datan sampai tak bisa berkata-kata tetapi dia tetap tersenyum melihat mereka berdua.
∞
__ADS_1