
"Hai Kak," sapa Adrian masuk ke dalam ruangan Leonna. Leonna tampak sedang menbaca berkas laporan medis pasien.
"Kau datang?" Tanya Leonna memicingkan matanya.
"Aku bawakan makan siang, ayo makan bersama." Adrian duduk di sofa yang ada di ruang kerja Leonna seraya membuka bungkus cup makanan yg dia pesan.
"Kenapa tidak makan siang dengan istrimu?" Tanya Leonna yg kini berjalan mendekati Adrian.
"Dia jaga malam," jawab Adrian menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Aku tau pasti ada masalah, tidak biasanya kau datang ke rumah sakit ini," ucap Leonna yg kini duduk di hadapan Adrian dan membuka makanannya. Ia mengambil sumpit dan mulai memakan makanan yang di bawa Adrian.
"Aku bingung," gumam Adrian menyimpan sumpitnya di samping bungkus makanannya.
"Aku tau semuanya tak baik-baik saja," ucap Leonna seraya menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Dia mengajukan lagi perjanjian," ucap Adrian menghela nafasnya dan Leonna masih diam menunggu kelanjutan cerita adiknya itu. "Dia ingin bercerai setelah selesai koas, dia akan melanjutkan study nya ke Jerman."
"Lalu apa kamu menyetujuinya?" tanya Leonna.
"Iya Kak, karena aku tak punya pilihan. Dia inginkan kehidupan bebas sesuai keinginan dia. Bersamaku dia merasa di kekang," ucap Adrian.
"Kamu sangat mencintainya?" tanya Leonna.
"Entahlah, tetapi aku tak ingin kehilangannya," ucap Adrian.
"Yang Kakak lihat baik kamu maupun Stella kalian sudah memiliki perasaan yang besar. Hanya saja kalian tak menyadarinya dan tak ingin mencari tau rasa yang tumbuh itu. Kalau kamu memang mencintainya maka lakukanlah apapun untuk membuatnya tetap di sampingmu," ucap Leonna.
"Tapi dia tersiksa di sampingku, Kak. Dia inginkan kebebasan dariku, dia tidak bahagia bersamaku."
"Kalau begitu ikhlaskan dan lepaskan dia," seru Leonna dengan begitu santai.
"Apa?" Pekiknya.
"Adrian, ada banyak cara untuk memperjuangkan cinta. Kalau kamu ingin tetap bersamanya maka buatlah dia menyadari perasaannya dan buatlah dia tetap di sisimu. Kalau kamu mencintainya tetapi tak ingin menyiksa dan mengekangnya, maka berkorbanlah. Mengorbankan perasaanmu sendiri dengan melepaskannya."
"Adrian cinta itu tak sesimple namanya, cinta juga tak semudah mengucapkannya. Cinta itu satu kata yang memiliki banyak makna. Hanya saja semuanya kembali pada diri kita, akan bagaimana kita mengartikan cinta itu. Apa dengan melakukan pengorbanan atau dengan memperjuangkannya, dan semuanya itu tak semudah membalikkan telapak tangan." Jelas Leonna.
"Aku belum tau apa yang harus aku pilih. Jalan mana yang harus ku tempuh, aku hanya ingin melihatnya bahagia. Dan aku juga tak memiliki keberanian untuk mengatakan aku sudah menyukainya sejak awal. Terlalu banyak ketakutan dalam hatiku," ucap Adrian.
"Apa yang membuatmu takut?" Tanya Leonna.
"Alu takut dia menolakku, aku takut dia semakin merasa terkekang olehku. Dan aku juga takut dia memilih menjauhiku."
"Kalau begitu kau hanya butuh sebuah kepastian untuk bisa menentukan langkah yang akan kau tempuh."
__ADS_1
"Menurut Kakak, aku harus bagaimana?" Tanya Adrian.
"Koas baru saja di mulai, maka kamu masih punya cukup waktu untuk meyakinkannya. Meyakinkan hatimu, perasaanmu dan juga perasaan dia. Supaya kamu bisa menentukan jalan mana yang akan kau tempuh." Adrian terdiam membisu mendengar penjelasan dari Leonna.
***
Stella baru saja sampai di Ami Hospital, dia mendapatkan jadwal jaga malam di ugd bersama beberapa teman satu kampusnya yang lain.
Ia bergegas menyimpan tasnya dan memakai jas dokter khusus untuk anak koas dan ia segera menuju UGD.
"Hai semua," sapanya pada 4 orang temannya dan 1 orang dokter UGD juga 2 orang perawat.
"Baru datang?" tanya seorang perawat dan hanya di jawab anggukan oleh Stella.
Stella duduk di kursi yang tersedia dan membaca beberapa rekap medis pasien yang pernah masuk UGD.
"Hari ini sepi sekali di UGD," ucap Rena salah seorang teman satu kampus Stella.
"Iya, berbeda sekali dengan kemarin," jawab Sandi yang juga salah satu mahasiswa koas.
'Lennong kebagian jaga pagi, dan gue sendirian sekarang. Tapi ngomong-ngomong apa Dosen TMII masih ada di rumah sakit?' Batin Stella.
"Stell, udah magrib nih. Mau ke mushola bareng?" tanya Rena.
"Oke kalau begitu, kita duluan yah," seru Riska yang juga mahasiswi koas.
Di sana hanya ada Stella dan beberapa perawat yang berjaga. Karena merasa jenuh, Stella berjalan keluar ruang UGD dan tatapannya tertuju pada dua sejoli tak jauh darinya.
"Adrian!" Panggilan itu menghentikan langkah Adrian yang hendak berlalu pergi.
"Dara?"
"Kau sudah mau pulang?" Tanya Dara.
"Tidak, aku hanya ingin keluar dan membeli kopi."
"Aku akan menemanimu yah, aku baru saja selesai melakukan operasi, sepertinya segelas kopi akan menenangkan."
"Baiklah," seru Adrian.
Stella berdiri tak jauh dari mereka dan melihat keakraban mereka, bahkan Dara tampak bersikap manja pada Adrian.
Stella memilih memalingkan wajahnya dan kembali masuk ke dalam ruangan UGD.
"Kenapa aku begitu kesal melihat mereka bersama? Apa yang salah denganku?" gumamnya duduk di balik meja yang ada di sana.
__ADS_1
Stella penasaran dengan sosok wanita itu, diam diam dia membuka handphone nya. Ia mencari akun media sosial milik Adrian tetapi tak menemukan.
"Ternyata Dosen TMII itu pria yang gak narsis, dia bahkan gak punya akun media sosial sama sekali, dasar payah." Gerutunya lalu ia mencari akun media sosial milik Dara dan menemukannya.
Ia melihat setiap foto yang di upload di sana, foto foto Dara yang begitu manis dan menawan.
"Wah, tubuhnya bagus sekali," gumam Stella saat melihat Dara di potret di bibir pantai dengan hanya memakai bikini.
Stella terus melihat lihat, hingga ia menemukan foto Dara bersama Adrian tengah bergandengan dan tersenyum lebar. Stella juga membaca caption di sana 'Bahagia itu saat menghabiskan waktu hanya bersamamu.'
"Sebenarnya apa hubungan mereka dulu? Apa mereka berpacaran?"
"Siapa yang berpacaran?" Seruan itu mengagetkan Stella.
"Ck, dasar Boboho, mengagetkan saja," gerutu Stella segera menutup akunnya dan menyimpan handphone nya ke dalam laci meja.
"Bukannya bekerja, kau malah asyik bermain handphone," ucap Adrian dengan menaikkan sebelah alisnya.
"Hanya ada chat masuk dari Lenna," dusta Stella. "Ada apa?"
"Kau sudah makan?" tanya Adrian.
"Sudah tadi sebelum ke rumah sakit," jawab Stella yang di angguki Adrian.
"Kopi untukmu, di luar cukup dingin," ucapnya seraya menyimpan cup kopi dengan kepulan asap di atas meja.
"Aku tidak memesannya," jawab Stella.
"Aku yang berinisiatif memberikannya, jadi terima saja jangan protes," ucap Adrian membuat Stella.
"Kalau begitu aku pulang lebih dulu," tambah Adrian.
"Pulang?"
"Kenapa? Kau keberatan aku meninggalkanmu sendirian?" Goda Adrian membuat Stella berdecak.
"Tidak, pulang saja sana." Usir Stella.
"Bekerjalah dengan baik, pagi nanti aku jemput," ucap Adrian mengusap kepala Stella dan beranjak pergi.
Stella masih mematung di tempatnya dan tangannya terangkat memegang dada kirinya.
"Jantungku," gumamnya.
***
__ADS_1