Marriage With Dosen

Marriage With Dosen
Episode 15


__ADS_3

Adrian baru saja pulang dari rumah sakit, saat ini ia pulang ke rumah orangtuanya karena semua anak dari Pradhika menginap dan berkumpul di sana. Tadi ia mendapat pesan dari Stella kalau dia sudah di rumah orangtua Adrian.


"Baru pulang Rian?" tanya Leonna yang berjalan menuju dapur.


"Iya Kak, belum tidur?" tanya Adrian.


"Kirana pengen susu, ya sudah sana ke kamar dan beristirahatlah. Kau terlihat lelah sekali," ucap Leonna yang di angguki Adrian.


Adrian berjalan menuju ke kamarnya. Ia melihat Stella tengah asik menonton drama korea sambil menikmati cemilannya. Stella hanya melirik ke arah Adrian sebentar dan kembali menikmati cemilannya dan fokus ke layar persegi di depannya.


Adrian yang lelah pun malas menyapa Stella dan langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


15 menit berlalu dan Adrian sudah keluar dari kamar mandi dengan tampilan tidur yang lebih segar. Ia berjalan mendekati ranjang.


"Sudah malam, kenapa belum tidur?" tanya Adrian.


"Masih seru, lagian besok tanggal merah." Stella berucap tanpa menoleh ke arah Adrian, bayangan tadi siang dimana Adrian memeluk wanita masih terngiang di kepalanya.


"Aku tidur duluan," ucap Adrian merebahkan tubuhnya di samping Stella dengan posisi memunggungi Stella dan memeluk bantal guling.


Stella melirik ke arah Adrian, lalu dengan sengaja mengencangkan suara filmnya. "Huh dasar pria, matanya langsung hijau kalau liat yang bening main serobot aja."


"Dimana-mana tuh cewek gak salah, mau pelakor sekalipun. Cowoknya saja yang ganjen dan mesum. Huh dasar, mending kamu sama si pengacara itu saja, keliatannya baik daripada Dokter. Huh apaan tuh!" seru Stella sedikit teriak.


"Berisik Stella, aku ngantuk!" ucap Adrian.


"Ya tidur saja, abaikan aku," ucap Stella tidak perduli.


"Wah mampus! ketauan kan, emmm selingkuhnya gak cantik tuh. Ayo pukul mukanya sampe jelek dan bonyok, arahkan kepalannya begini." Stella menirukan menonjok udara di depannya.


"Stella!" Adrian yang kesal bangun dari tidurnya dan menatap Stella kesal.


"Apa?" tanya Stella dengan tampang polos.


"Matikan televisinya," ucap Adrian.


"Enak saja, kalau ingin tidur pindah sana. Jangan mengganggu kesenangan orang," ucap Stella kembali memakan keripiknya hingga berbunyi krauk krauk.


"Nah benar ayo tampar terus pria peres itu. Sok kecakepan, sok laku juga tebar pesona kemana-mana! Ke laut aje cowok yang begini!"


Adrian mendengus kesal, ia beranjak dari atas ranjang dengan membawa selimut dan bantal. Tanpa kata ia beranjak menuju pintu penghubung antara balkon dan kamar.


"Husss," gumam Stella tersenyum puas.


Adrian terpaksa tidur di balkon, ia menata 3 buah kursi dan ia merebahkan tubuhnya di sana dengan posisi menyamping. Stella mengintip dari balik pintu penghubung yang pembatasnya dari kaca. Ia terkikik puas berhasil mengerjai dosennya itu.


"Rasakan!" kekehnya dan berjalan santai menuju ranjang dan merebahkan tubuhnya di ranjang king size. "Merdeka!" gumamnya dan terlelap.


***


Pagi-pagi Adrian terbangun dengan meringis karena tubuhnya kram semalaman tidur menyamping. Ia terbangun perlahan dan memegang leher kanannya.


"Sakit sekali," gumamnya ia kesulitan menoleh dan malah miring ke kanan.


Ia beranjak dengan memegang pinggang juga lehernya memasuki kamar dan Stella tampak baru terbangun bak tuan putri merenggangkan kedua tangannya ke udara dan tersenyum. Sepersekian detik Adrian terpana melihat kecantikan natural dari Stella.

__ADS_1


"Pagi pak Dosen," sapa Stella denaan senyuman menawannya. "Bagaimana tidurmu?"


"Aku tau maksud dari sapaanmu itu," ucap Adrian kembali kesal dengan leher kaku yang sulit menoleh dan bergerak.


"Lho leher kamu kenapa? Apa sedang tren kepala miring ke kanan yah sekarang? Atau kepintaran anda sedang berat ke kanan jadi kepala anda miring." Tawa Stella pecah membuat Adrian semakin kesal.


Tanpa memperdulikan Stella, ia berjalan memasuki kamar mandi. "Eh tunggu pak Dosen! aku duluan yang mandi, aku ingin buang air." Stella langsung loncat dari atas ranjang menuju kamar mandi.


"Tidak!" ucap Adrian yang sudah menutup pintu kamar mandi.


"Aduh pak Dosen, aku kebelet." Stella menggedor pintu kamar mandi.


"Di kamar mandi bawah saja," teriak Adrian.


"Tidak mau! aku belum cuci muka, bagaimana kalau ketemu Leonard? mau di taruh di mana mukaku? Buka pak Dosen!" teriak Stella menggedor pintu kamar mandi.


Adrian hanya mendengus kesal dan mengguyurkan tubuh juga kepalanya ke air shower tanpa perduli gedoran pintu dari Stella.


"Sial! aduh mana gak tahan lagi," gumam Stella.


Stella terus menggedor, menendang dan berteriak. Syukurlah kamar Adrian kedap suara, kegaduhan itu tak sampai membuat orang rumah terganggu.


"Whoaaa!" Stella tersungkur ke depan saat pintu kamar mandi di buka dari dalam dan tubuhnya langsung jatuh ke dada bidang polos milik seseorang.


Tatapan Stella dan Adrian beradu satu sama lainnya, dengan tangan Adrian memegang pinggang Stella dan kedua tangan Stella berada tepat di dada bidang polos milik Adrian yang basah karena rembesan air dari rambutnya tetapi juga hangat.


Cukup lama mereka saling menatap satu sama lainnya, hingga Stella tersadar lebih dulu dan semakin melotot saat tau Adrian hanya memakai handuk yang di lilitkan di pinggangnya dan tangannya yang menyentuh dada bidangnya.


"Eh?" Stella segera mundur hingga Adrian melepaskan oegangannya di pinggang Stella.


Stella mendadak gugup dan membeku di tempat, Adrian tak ambil pusing. Ia segera beranjak melewati Stella keluar kamar mandi. Setelah Adrian keluar, Stella langsung menutup pintu kamar mandi seraya memegang kedua pipinya yang memanas.


***


"Lho, Adrian kepala kamu kenapa?" tanya Thalita yang kaget melihat kepala Adrian yang miring ke kanan.


"Salah bantal," jawab Adrian mengambil duduk di samping Leon diikuti Stella.


"Salah bantal apa karena kebanyakan menghadap ke arah Stella," goda Leonna terkikik.


Adrian hanya melirik saja dan menikmati sarapannya.


"Nanti di rumah sakit di tanya dong, kok kepala pak Dokternya miring gitu," tawa Azalea yang diikuti tawa yang lain.


"Nanti saat ada yang manggil dia gak bisa noleh," goda Leonna memperagakan kepala miring yang sulit menoleh karena kaku dengan sedikit ejekan membuat semuanya terkekeh kecuali Adrian. Thalita hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Kamu sangat cocok sekali dengan kepala miringnya, kesempurnaanmu turun 60 derajat," bisik Stella dengan kekehannya membuat Adrian mendengus.


Kali ini Adrian membiarkan dirinya menjadi bahan tawaan, ia bukannya tak bisa menjawab. Tetapi kepalanya masih memikirkan kejadian kemarin dan juga dia sangat kelelahan.


"Kamu ke rumah sakit sekarang?" tanya Dhika.


"Ya Pa," jawab Adrian.


"Stella, sekarang kita ke salon dan belanja yah," ajak Leonna.

__ADS_1


"Siap Kak," ucap Stella dengan semangat. Hari ini dia sangat senang sekali, bukan hanya bisa mengerjai Dosennya, tetapi dia juga bisa bersenang-senang tanpa melihat wajah menyebalkan dari dosennya itu.


***


Stella banyak sekali beli pakaian, sepatu dan tas kesukaannya dengan menghabiskan kartu yang di berikan Adrian. Dia masih kesal karena Adrian dengan seenaknya mendekati wanita lain di belakangnya.


"Sekarang lebih baik kita cari makan dulu sebelum ke salon langganan kita," ucap Leonna yang di angguki Azalea dan Stella.


"Hari ini kita merdeka sekali, berkat Kak Leonna akhirnya Leon mau menjaga si kembar," kekeh Azalea merasa sangat merdeka.


"Dan kamu tau sekarang yang paling kesusahan siapa?" tanya Leonna.


"Siapa?" tanya Azalea.


"Datan, dia yang menjadi asisten Leon menjaga si kembar," tawa Leonna.


"Plus Kirana?" tanya Azalea.


"Nggak, Kirana sama opa Daniel dan Oma nya entah di ajak kemana, yang jelas selama 3 hari ke depan aku dan Kakak jadi pengantin baru lagi tanpa ulah aktif dan keberisikan Kirana." Leonna berucap dengan bangga.


"Apa seorang anak itu sangat merepotkan?" tanya Stella.


Kini mereka bertiga sudah duduk di salah satu restaurant Korea dan memesan menu makanan pilihan mereka.


"Merepotkan? emm tidak sih, malah menyenangkan," sahut Azalea. "Apalagi Leon walaupun dia dingin dan datar tetapi dia begitu perhatian dan menjaga kedua anaknya. Awalnya aku pikir Leon tidak akan bisa berbaur dengan akrab bersama si Kembar, tetapi ternyata dia yang paling dekat dengan mereka, apalagi Nabila begitu dekat dengannya."


"Hot Daddy yah," ucap Stella tanpa sadar dengan senyumannya yang di angguki dengan antusias oleh Azalea.


"Tidak ada yang merepotkan, Stell. Kebahagiaan memiliki anak itu tidak bisa di ungkapkan dengan kata-kata. Apalagi mendapatkannya tidak semudah membalikkan telapak tangan." Leonna termenung mengingat dulu dirinya menginginkan kehadiran seorang anak di dalam kehidupannya dengan Verrel.


"Nanti juga kamu akan mengetahui bagaimana bahagia," ucap Azalea.


Obrolan mereka terhenti karena pesanan mereka datang dan mereka semua makan pesanan mereka.


"Kak, aku ke toilet dulu yah." Stella beranjak dari duduknya dan berlalu pergi menuju kamar mandi.


5 menit sudah berlalu, Stella sudah melakukan ritual di kamar mandinya. Ia berjalan keluar dari kamar mandi dengan sedikit merapihkan rambut panjangnya yang di gerai indah.


"Stella!"


Ia menghentikan langkahnya saat ada yang memanggilnya, ia menoleh dan matanya membelalak lebar.


"Pandu?"


"Hai, apa kabar?" tanya pria bernama Pandu itu.


"Kabarku seperti yang kamu lihat."


"Kemana saja? setelah kelulusan SMA, kamu menghilang begitu saja."


"Aku ada, saat itu aku sakit jadi aku tak bisa ikut hadir di acara Prom Night waktu itu."


"Begitu yah,-"


"Aku harus segera pergi Pan, duluan yah." Stella segera memotong ucapan Pandu, ia tak nyaman kalau kepergok mengobrol dengan seorang pria oleh Kakak iparnya.

__ADS_1


"Tunggu, bisa minta nomormu atau id line." Pandu mencegah Stella yang hendak beranjak pergi, dengan segera Stella memberikan nomor telponnya dan berpamitan pergi.


***


__ADS_2