
"Huacim!"
Stella terus bersin sejak tadi, padahal ia sudah berganti pakaian, mandi air hangat. Kini Stella tengah rebahan di atas ranjang dengan selimut tebal membelit tubuhnya yang menggigil. Inikah karma karena kemarin dia membohongi dan mengerjai dosennya? pikir Stella.
"Stell," panggil Adrian yang masuk ke dalam kamar Stella dan menyimpan nampan berisi segelas air dan kotak obat. Ia duduk di sisi ranjang dan memegang kening Stella. "Makin demam," ucap Adrian.
"Minum dulu obatnya," ucap Adrian.
"Hmmm," gumam Stella merasa tak mampu membuka matanya yang terasa panas dan perih.
Adrian mengangkat kepala Stella membuat Stella membuka matanya sedikit, Adrian menyuapi obat ke mulut Stella dan memberinya minum. Setelah itu ia kembali merebahkan kepala Stella di atas ranjang. Ia beranjak mengambil air untuk mengompres kepala Stella dan mengambil termometer untuk memeriksa kondisi Stella.
Saat kembali masuk ke dalam kamar Stella, ia mematikan AC dan menyalakan pemanas ruangan hingga terasa hangat. Adrian lalu kembali duduk di sofa single yang sudah ia pindahkan ke sisi ranjang Stella. Ia mengompres kening Stella beberapa kali dan mengecek suhu tubuh Stella.
Waktu bergulir, jarum jam terus berputar hingga tak terasa sudah pukul 4 dini hari. Adrian masih terjaga dan terus memantau kondisi Stella dan mengompresnya.
"Sudah turun panasnya," ucap Adrian. Ia merenggangkan otot tubuhnya dan menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa hingga tanpa sadar ia terlelap di sana.
Matahari sudah mulai naik dari tempat persembunyiannya hingga sinarnya masuk ke celah jendela. Stella mengerjapkan matanya berkali-kali hingga terbuka, ia mengambil sesuatu yang menempel di dahinya dan ternyata handuk. Ia mengernyit menatap handuk itu dan menoleh ke sampingnya.
Adrian masih terlelap di sana dengan beberapa peralatan kedokteran di sampingnya.
Deg
Deg
Deg
Stella memegang dada sebelah kirinya saat merasakan debaran itu semakin kencang. Ia sedikit mengernyit bingung menatap Adrian dan debaran di dadanya yang semakin cepat.
Adrian mengerjapkan matanya beberapa kali dan terbuka, pandangan pertama yang ia lihat adalah Stella yang termenung dengan memegang dada bagian kirinya.
"Ada apa? Apa dadamu terasa sakit?" tanya Adrian menyadarkan Stella yang kini menatap Adrian kembali.
__ADS_1
"Tidak tau," gumam Stella.
Adrian mengambil stetoscophe nya dan memeriksa denyut jantung Stella. "Denyut jantungmu lebih cepat dari normal," ucap Adrian kembali memeriksa suhu tubuh Stella, lalu kedua mata Stella dan lidah Stella.
"Semuanya sudah kembali normal," gumam Adrian lalu memeriksa tensi darah Stella.
"Apa kamu punya riwayat penyakit jantung?" tanya Adrian yang di jawab gelengan kepala oleh Stella. Adrian berpikir sebentar, ah mungkin itu karena efek sakitnya semalam, pikir Adrian.
"Istirahatlah, aku akan buatkan bubur untukmu," ucap Adrian beranjak dari duduknya.
Langkah Adrian terhenti saat tangannya di genggam seseorang membuat Adrian menoleh ke arah Stella. "Terima kasih, Pak Dosen." Stella tersenyum lemah yang di jawab anggukan kepala dan senyuman oleh Adrian lalu berlalu pergi untuk membuatkan bubur.
***
"Stell, loe yakin udah baikkan?" tanya Lenna saat Stella sudah kembali masuk kuliah. Dia ijin tidak masuk sudah 3 hari dan hari ini dia kembali masuk dengan lebih segar dan fit.
"Iya sudah, gue sudah sangat sehat," ucap Stella.
"Syukurlah, loe sih pake bohongin suami loe. Kena batunya kan," ucap Lenna.
"Baguslah kalau nyesel," ucap Lenna.
"Eh btw, si Nicho ajak gue ketemuan nih. Loe temenin gue yah," ucap Stella.
"Kapan?" tanya Lenna.
"Malam minggu ini, dia ngajakin ketemua di cafe Darma."
"Duh sorry Stell, bukannya gue gak mau tetapi beneran deh malam minggu ini gue sudah janji sama sepupu gue mau nemenin dia."
"Yah, masa gue sendiri sih."
"Ya gak apa-apa, kan kalian juga sudah lama chattingan."
__ADS_1
"Tapi gue takut," ucap Stella.
"Takut apa?" tanya Lenna.
"Takut di culik lah, cewek seimut gue pasti jadi incaran penculik," ucap Stella dan seketika Lenna tertawa puas.
"Kagak bakalan sanggup tuh orang nyulik cewek petakilan dan rakus kayak loe, rugi yang ada." Tawa Lenna membuat Stella mencibir kesal.
Kelas yang awalnya ricuh mendadak hening saat Adrian masuk ke dalam kelas.
Deg
Stella memegang dadanya sendiri saat jantungnya berdetak sangat cepat bersamaan dengan tatapannya dan Adrian beradu. Stella segera memalingkan wajahnya dan berpura-pura merapihkan rambutnya untuk menghilangkan kegugupannya yang takut di ketahui oleh Lenna temannya.
Adrian masih memperhatikan Stella seakan memastikan bahwa Stella sudah lebih baik. Setelahnya ia langsung menyapa semua mahasiswanya dan mulai ke materi pelajaran.
***
"Tumben tadi di kelas loe diem aja saat pak Adrian mengajar, biasanya loe tutupin telinga pake earphone atau nggak, loe main game di hp. Tapi tadi loe diam saja dan seakan fokus pada penjelasannya. Apa loe kerasukan kunti pengagum mr. Adrian?" pernyataan Lenna sontak membuat Stella menoleh padanya dan menoyor kepala sahabatnya itu.
"Kebanyakan micin," gerutunya dan berjalan lebih dulu.
"Awas!"
Teriakan Lenna terlambat, karena kini Stella sudah basah kuyup karena siraman seseorang dari balkon atas.
"Stell? Ma-af," teriak seorang perempuan yang berdiri di lantai atas seraya memegang ember kosong.
Stella berdiri kaku di tempatnya masih dengan keterkagetannya, tepat di dekat taman. Beberapa orang sudah melihat ke arahnya dan mentertawakannya.
"Stell, baju loe," ucap Lenna yang tak di gubris Stella. Kemeja putih Stella yang basah tercetak jelas hingga warna bra yang ia gunakan tampak.
Stella tersentak saat sesuatu menyentuh pundaknya. Ia menoleh ke sampingnya dan ternyata Adrian berdiri di sana dengan menyampirkan jas abu miliknya ke bahu Stella dan mengancingkan di bagian depan jasnya, Stella masih menatap wajah Adrian yang sedang mengancingkan jas miliknya yang kebesaran di tubuh Stella.
__ADS_1
Semua mata tampak melongo dan syock melihat aksi yang di lakukan Adrian. Setau mereka, dosennya itu walau ramah tetapi terkesan cuek dan acuh, apalagi pada mahasiswanya.
***