
Semua Dokter bersama suster dan perawat kembali pulang ke Jakarta dan akan mulai bekerja di AMI Hospital. Setelah kembali ke Jakarta, anggota Khoas semakin sibuk bekerja di AMI Hospital tanpa libur seperti para Dokter yang juga bersama mereka. Walau Adrian libur, ia tetap ke rumah sakit untuk menemani Stella, mengantar jemputnya juga.
"Hai," sapa Adrian saat menjemput Stella dari rumah sakit. Stella duduk di kursi penumpang setelah di bukakan pintu mobilnya oleh Adrian.
"Astaga lelah sekali rasanya," keluh Stella menyandarkan kepalanya ke sandaran jok.
"Sabar, sebentar lagi kamu akan melewati masa terberat ini," ucap Adrian mengusap kepala Stella diiringi senyumannya.
"Kapan sih UGD di sini sepi," keluh Stella membuat Adrian terkekeh.
"Kalau sepi, aku gak bisa nafkahin kamu dong," ucap Adrian.
"Oh iya juga yah," kekeh Stella.
"Nanti di rumah aku pijitin kammu," ucap Adrian.
"Serius nih?"
"Iya Pendekku sayang, kapan sih aku bohong sama kamu," kekeh Adrian.
"Tapi bakalan plus plus gak nih?" tanya Stella.
"Tergantung," ucap Adrian.
"Tergantung apa?"
"Tergantung apa juniorku bangun atau nggak," goda Adrian.
"Ck, semprotan benih gak ada habis-habisnya yah," kekeh Stella.
"Semprotan banget Pendek," keluh Adrian membuat Stella terkekeh.
∞
2 bulan telah berlalu, hubungan Stella dan Adrian semakin dekat dan mesra, bahkan kini mereka tidak malu lagi untuk memamerkan kebahagiaan mereka di hadapan umum, begitu juga di rumah sakit. Dan tetap saja mereka juga seringkali bertengkar seperti dulu layaknya tom and jerry yang akhirnya akan bermesraan. Baik Stella maupun Adrian menikmati perasaan dan kebahagiaan ini. Tidak ada keinginan lain lagi selain kebahagiaan bersama.
Hari ini Adrian sudah menyiapkan acara anniversarry penihakan mereka di apartementnya. Adrian pulang lebih dulu untuk menyiapkan segala persiapan di apartement mereka untuk acara mereka malam nanti. Adrian ingin memberikan kejutan pada Stella.
"Ini indah sekal," ucap Leonna yang datang bersama Azalea, Jen dan Michella untuk menghias apartementnya.
"Penuh banget balon doraemonnya," ucap Jen.
"Ini lucu dan bagus," kekeh Leonna. "Balon ini mengingatkanku pada Mr. Emon."
"Apa yakin Stella akan suka?" tanya Chella.
"Sepertinya dia akan sangat suka," ucap Adrian menatap sekeliling dimana balon-balon kepala doraemon ada di setiap sudut dan lampu ruangan. Langit-langit di hias dengan lampu lampu indah hingga saat gelap, lampu akan menyala seperti bintang. Lilin ada di setiap meja. Lampion indah menggantung di balkon apartement dan kamar yang di hias indah dengan ranjang yang di hilangkan. Hingga hanya kasur saja di biarkan di lantai, sekelilingnya di penuhi lilin berbentuk hati dan taburan kelopak bunga di atas kasur itu. Kasur itu di arahkan ke arah balkon kamar dimana lampion menggantung indah. Dan nanti malam Adrian telah meminta beberapa orang sewaannya untuk menyalakan kembang api.
"Aku juga bakalan seneng banget kalau di siapkan seperti ini sama Leon," ucap Azalea merasa iri, sayangnya suaminya itu begitu cuek dan dingin.
"Aku juga mau di giniin," sahut Jen.
"Ini hanya untuk Stella, kalian jangan meniru," ucap Adrian membuat Jen dan Azalea mendumel.
"Sudah, kalian juga kan mendapatkan sesuatu yang spesial dari pasangan kalian dengan cara yang berbeda tetapi begitu berkesan di hati," ucap Leonna.
"Sudah dewasa sekarang Inces," ejek Chella membuat Leonna menggerutu.
__ADS_1
Adrian tersenyum puas dengan hasil semua ini, ia tidak sabar untuk memperlihatkannya kepada Stella.
"Sebaiknya kalian segera pulang, aku akan mandi dan bersiap-siap," seru Adrian.
"Kamu mengusir Kakakmu, Rian?" sewot Leonna.
"Dengan tanpa mengurangi rasa hormat, pergilah kalian semua dan jangan mengganggu. Oke," ucap Adrian diiringi senyumannya.
"Ck tidak tau terima kasih," ucap Jen.
"Iya," sahut Chella.
Akhirnya keempat wanita itu berlalu pergi meninggalkan apartement Adrian.
∞
Stella baru saja keluar dari salon langganannya dengan penampilan yang begitu cantik. Ia tampak menggunakan dres berwarna merah dengan blazer abu. Rambutnya ia biarkan terurai curly dengan begitu cantik. Wajahnya sudah di poles natural dan tampak begitu cantik. Ia sengaja pulang cepat dari rumah sakit dan pergi ke salon untuk mempersiapkan dirinya. Ia ingin tampil secantik mungkin di hadapan suami atau kekasih barunya itu.
Stella juga membawa bucket bunga dan hadiah di tangannya untuk di berikan kepada Adrian. Ia tidak terbiasa hanya menerima saja. Dia juga harus memberikan sesuatu yang berarti di hari yang berarti ini.
Ia sampai di lobby apartement dan berjalan memasuki lift dengan senyuman yang merekah. Ia yakin Adrian akan terkesima dengan dirinya sekarang, sebelumnya Stella tidak pernah memakai gaya sefeminim ini. Stella tersenyum merona di dalam lift menatap pantulan dirinya dan bucket bunga di tangannya. Ia sungguh seperti orang gila yang terus tersenyum sendiri. Sesungguhnya Stella tidak mampu menahan kebahagiaan dan kasmaran di dalam hatinya.
Ting...
Pintu lift terbuka lebar dan Stella berjalan keluar dari lift. Ia berjalan menyusuri lorong hingga sampai di depan pintu apartemennt. Dengan senyuman merekah, ia hendak membuka password pintu apartement itu.
"Dia sedang apa yah? apa aku kesorean?" gumamnya menekan tombol password hingga berbunyi klik.
"Tidak apa-apa deh, aku tidak sabar untuk bertemu dengannya." Stella membuka pintu dan mengernyit saat seluruh ruangan itu gelap.
"Kenapa harus gelap gini sih," gumamnya berjalan perlahan takut menyenggol sesuatu.
"Aku sangat mencintaimu," ucap Adrian.
Dan seketika lampu ruangan itu menyala karena Stella menekan sikring ruangan.
Deg
Stella menjatuhkan bucket bunganya saat melihat pemandangan di depannya. Adrian berpelukan dengan seorang perempuan seksi yang tidak Stella ketahui.
"Aku mencintaimu," ucap Adrian membuat Stella begitu terluka mendengarnya. Sangat sangat terluka.
"Aku juga sangat merindukan dan mencintaimu, Rian."
Adrian terlihat melepas pelukannya dan matanya melotot lebar menatap wanita di depannya. "Milner?"
Keterkagetan Adrian tak sampai di situ saat ia melihat Stella yang berdiri dengan tatapan sangat terluka tak jauh di belakang Milner.
"Stella!" gumam Adrian.
Milner menoleh ke belakangnya dan tatapannya bertemu dengan tatapan terluka milik Stella. Air mata terlihat berlinang membasahi pipinya. Tanpa menunggu lama lagi, Stella langsung berbalik dan pergi.
"Stella tunggu!" Adrian segera mengejar Stella. "Sayang ini salah paham!" Adrian terus membututi Stella yang berjalan cepat.
"Aku kira wanita tadi itu kamu," tambah Adrian menghadang langkah Stella.
Stella menatap tajam ke arah Adrian dengan air mata yang tak juga berhenti mengalir.
__ADS_1
"Itu tidak seperti yang kamu bayangkan, tadi itu aku-"
Plak
Adrian mematung saat tangan mungil Stella melayang ke pipinya.
"Brengsek!" umpat Stella dan berlari meninggalkan Adrian yang masih mematung di tempatnya.
"Hikzz....." isak Stella sejadi-jadinya di dalam lift. Ia terduduk di ruangan persegi itu dan memeluk kedua lututnya dengan tangis yang memilukan.
Sakit sekali rasanya, begitu menyakitkan. "Hikzzz......."
∞
Adrian berjalan lesu kembali ke apartementnya, di sana masih ada Milner yang tampak sedang menunggunya.
"Siapa wanita tadi, Hon?" tanya Milner.
"Kenapa kamu kembali lagi?" tanya Adrian dengan tajam.
"Aku? aku datang karena aku sangat merindukanmu, Honey. Tidakkah kau merindukanku?" tanya Milner merangkul lengan Adrian.
"Lepaskan aku!" bentak Adrian menepis tangan Milner membuatnya terpekik kaget.
"Kamu kenapa sih? Dan siapa wanita tadi sebenarnya? Kamu menduakan aku!" pekik Milner.
"Hubungan kita telah berakhir Milner!" ucap Adrian.
"Tidak Honeny, aku tidak pernah menerima itu," ucap Milner. "Kamu memutuskanku lewat telpon, dan aku tidak bisa menerima itu!"
"Kau pergi begitu saja untuk kariermu, dan sudah jelas saat itu juga aku memutuskan hubungan kita! Untuk apa kamu datang lagi kemari!" bentak Adrian.
"Aku tidak ingin putus denganmu, dan aku ingin kembali padamu sekarang!"
"Aku sudah menikah!"
"A-apa?" Milner fampak kaget.
"Ya, aku sudah menikah dan aku mencintai istriku, Sekarang sebaiknya kau pergi!" usir Adrian.
"Kau menikah tanpa memberitahuku?' tanya Milner.
"Kau sudah meninggalkanku sebelum aku menikah. Dan aku rasa kau tak cukup penting untukku beritahu kalau aku akan menikah!" seru Adrian dengan tajam.
"Apa? Honey, kau?" gumam Milner. "Aku sangat mencintai kamu."
"Dan aku tidak, sekarang pergi!" usir Adrian.
"Honey-"
"PERGI!" bentak Adrian membuat Milner takut dan berlalu pergi.
"Sialan!" amuk Adrian menendang meja hingga berbagai makanan di atasnya tumpah ruah ke lantai.
Stella berlari menerobos hujan, entah kenapa hujan turun begitu saja seakan merasakan kehancuran yang di alami Stella saat ini. Stella memilih duduk di taman dengan tubuh yang di guyur hujan. Ia menangis terisak karena rasanya begitu sesak dan sakit sekali.
Di sisi lain, Adrian sedang berusaha mencari keberadaan Stella karena malam semakin larut.
__ADS_1
***