Marriage With Dosen

Marriage With Dosen
Episode 40


__ADS_3

"Stella!" seru Lenna dengan kernyitan di dahinya. Stella datang dengan isakan tangis dan badan yang menggigil karena basah kuyup. "Astaga Stell, lu kenapa?"


Lenna segera menggiring Stella untuk masuk ke dalam dan mengambil handuk menyelimuti tubuh Stella. "Sebaiknya lu langsung bersih-bersih di kamar mandi, gue akan siapkan baju buat lu."


Stella bergegas masuk ke dalam kamar mandi di kostan Lenna. Lenna menyiapkan baju bersih untuk Stella. Setelah menyerahkannya ke Stella, ia membuatkan teh hangat.


5 menit berlalu, Stella keluar dengan wajah yang pucat dan begitu sembab. "Sini gue udah buatkan teh hangat buat lu," ucap Lenna.


Stella menurut dan duduk di kursi meja makan. Ia menggenggam mug berisi teh hangat itu. Rasa hangat menyalur ke seluruh tubuhnya. Lenna dengan penuh perhatian mengusap rambut Stella yang basah dengan handuk.


"Gue gak akan nanya, gue tau keadaan lu sangat tidak baik. Jadi gue akan nunggu lu bicara," ucap Lenna.


"Makasih," gumam Stella tanpa terasa air matanya kembali mengalir mengingat kejadian beberapa jam yang lalu. Kenapa? Kenapa Adrian setega itu mengkhianatinya, mengkhianati pernikahan mereka. Apa semua ini hanya kebohongan dia dan kepura-puraan dia. Apa dia begitu dendam karena dulu Stella sering melawan dan mengerjainya. Apa harus sesakit ini balasannya?


"Di minum dulu teh nya," perintah Lenna yang di angguki Stella. Stella meneguk minumannya dan menghela nafasnya cukup panjang.


Lenna menyimpan handuk ke dalam keranjang, ia melihat ada pesan masuk dalam handphone nya. Ia berjalan mengambil handphone nya dan terlihat ada chat dari Adrian. Sebelum membuka pesannya, Lenna menoleh dulu ke arah Stella yang masih diam melamun dengan menggenggam mug minumannya. Lenna kembali fokus pada layar handphone nya.


Mr. Adrian


Lenna, saya tau Stella ada di tempat kamu. Saya mengikutinya tadi. Tolong jaga dia, dengarkan apapun yang dia katakan. Kalau dia menghina saya, maka kamu jangan menyangkalnya. Ini hanya kesalah pahaman, tetapi Stella sepertinya butuh waktu sendiri. Saya titip dia, saya menunggu di luar tak jauh dari kostanmu. Hubungi saya kalau ada apa-apa padanya.


Lenna menjawab pesan itu dan mengatakan kalau Stella baik-baik saja, ia meminta Adrian untuk pulang saja.


Setelah membalas chat itu, ia berjalan mendekati Stella dan duduk di kursi tepat di depan Stella.


"Lu lapar? mau gue buatkan sesuatu?" tanya Lenna tetapi Stella hanya menggelengkan kepalanya.


Tadi siang Lenna melihat Stella begitu bahagia, dia mengatakan akan merayakan hari aniversarry dirinya dengan Adrian. Dan entah apa yang terjadi dengan mereka. Kini Stella terlihat begitu terluka dan hancur, Lenna sampai tak tega melihatnya.


"Len," gumam Stella menyadarkan Lenna yang sibuk berkutat dengan pikirannya.


"Iya Stell," jawab Lenna.


"Gue-" Stella tampak menghela nafasnya karena air matanya kembali luruh membasahi pipinya. "Gue harus apa sekarang, hikzz...."


Lenna berpindah duduk di samping Stella dan menarik kepala Stella untuk bersandar kepadanya. "Semuanya akan baik-baik saja, kalau lu belum siap bercerita maka tenangkanlah diri lu dulu. Sebaiknya sekarang lu istirahat."


Stella mengangguk menuruti Lenna. Lenna menggiringnya ke atas ranjang dan ia menyelimuti tubuh Stella yang sudah merebahkan tubuhnya di atas ranjang. "Istirahatlah," ucap Lenna.


Di sisi lain, Adrian duduk di dalam mobil menatap sebuah bangunan bertingkat dimana Stella berada, ia tadi melihat Stella menaiki taxi dan ternyata ia datang kemari. Adrian tampak kacau dan lelah, ia menyandarkan kepalanya ke jok mobilnya. Kejadian tadi terus terngiang di kepalanya.


Brengsek...


Kata-kata itu bagai cambuk untuk dirinya. Baru juga hubungannya dengan Stella berjalan dengan baik. Mereka berdua sudah merencanakan sebuah hubungan rumah tangga yang indah dan jauh lebih baik ke depannya. Adrian memijit pangkal hidungnya. Ia tidak menyangka kalau Milner bisa kembali dan masalah password apartementnya Adrian juga lupa menggantinya. Dulu ia dan Milner memang menjalin hubungan cukup serius walau masih dalam batas normal karena Adrian selalu di ajarkan dan di didik oleh orangtuanya untuk menjaga kehormatan seorang wanita. Milner memang sering datang ke apartementnya sekedar untuk menyimpan makanan dan mengisi makanan di kulkas karena Adrian paling jarang memperhatikan makanannya.


"Ya Tuhan," keluh Adrian menghela nafasnya.



Stella terbangin dari dari tidurnya, ia berkali-kaili mengerjapkan matanya yang terasa perih dan panas. Ia duduk bersandar ke kepala ranjang dengan begitu lemas.


"Lu sudah bangun?" suara itu mengalihkan perhatian Stella.


"Iya," jawab Stella diiringi senyumannya.


"Gue sudah buatkan sarapan, kita sarapan bareng yuk," ajak Lenna yang terlihat sudah rapi dengan pakaiannya.


"Lu berangkat pagi?" tanya Stella.


"Iya, lu akan gue mintain ijin pada Dr. Hanum kalau hari ini lu ijin. Sebaiknya lu istirahat saja di sini." tambah Lenna.


"Thank ya Lenn," ucap Stella diiringi senyumannya.


"It's oke, ayo sarapan dulu."


Stella beranjak dari ranjangnya dan menuju ke kamar mandi. Setelah merasa segar, ia bergabung dengan Lenna dan ikut menikmati nasi goreng yang di buat Lenna juga segelas susu.


"Stell, lu jangan pergi kemana-mana, lu istirahat di sini aja yah. Gue khawatir sama lu kalau lu keluar dari rumah. Seenggaknya di sini ada gue," ucap Lenna membuat Stella tersenyum.


"Lu emang sahabat terbaik gue," ucap Stella.


"Gak di raguin lagi kalau itu," kekeh Lenna membuat Stella ikut terkekeh.


Setelah kepergian Lenna, Stella memilih duduk di atas kursi menghadap ke jendela kamar dengan pikiran yang melayang memikirkan hubungannya dengan Adrian. Ia sungguh tak rela dan tak ikhlas di khianati seperti ini.


Kenangan demi kenangan indah dirinya dan Adrian lalui kini mulai memenuhi pikirannya. Saat mereka bertengkar, saling menjahili, saling menggoda, tertawa bersama, dan kebahagiaan mereka. Banyak sekali kenangn selama satu tahun bersama dengan Adrian. Bagaimana bis dia melupakan semua itu, rasanya sangat sakit saat tau kalau Adrian tidak bersungguh-sungguh mencintainya.

__ADS_1


Di sisi lain Adrian duduk di atas kap mobilnya bersandar ke kaca mobil menatap ke arah jendela kamar Lenna yang tidak terlihat jelas orang di dalamnya.


Ia tidak pernah merasakan perasaan cinta sebesar ini pada seorang wanita selain pada Stella, mahasiswanya sendiri. Terlalu besar sampai Adrian sendiri tak bisa membayangkan kehilangan Stella. Sejak awal itulah ketakutannya, Adrian takut Stella memilih pergi darinya. Dan ia sudah bersumpah pada dirinya sendiri, tidak akan pernah membiarkan Stella untuk pergi darinya.



3 Hari sudah berlalu dan Stella masih betah di kostan Lenna. Adrian tidak bisa terus menunggu di depan kostan Lenna karena aktifitasnya dan pekerjaannya yang memaksanya untuk kembali ke rumah sakit dan melakukan operasi.


Adrian baru saja selesai melakukan operasi bersama tim nya dan juga dokter Dara. Ia tampak lelah karena sejak semalam ia sudah melakukan 3 operasi jantung yang cukup rumit dan beresiko.


"Mau ngopi bareng?" ajak Dara diiringi senyumannya.


"Aku-" ucapan Adrian terhenti saat tatapannya bertemu dengan mata indah yang begitu ia rindukan. "Stella."


Stella yang tengah berjalan memegang beberapa berkas medis menghentikan langkahnya tak jauh dari posisi Adrian dan Dara berdiri sekarang.


Cukup lama mereka saling menatap hingga akhirnya Stella memalingkan wajahnya dan berjalan menjauhi mereka. Adrian ingin mengejarnya tetapi tampaknya Stella masih sangat emosi padanya.


"Ada apa dengan kalian? Kalian baik-baik saja kan?" tanya Dara membuat Adrian menoleh padanya.


"Ya begitulah. Dar, sepertinya aku tidak bisa menemanimu minum kopi, aku harus ke ruanganku," ucapnya dan berlalu pergi meninggalkan Dara begitu saja.



Adrian berjalan menuju jendela di ruangannya dengan memasukkan kedua tangannya pada saku celananya. Ia menatap padatnya jalanan ibu kota. Ia ingin mendekati Stella dan berbicara dengannya, ia juga begitu merindukan Stella. Tetapi Lenna melarangnya untuk menemui Stella terlebih dulu karena kondisi Stella yang masih jauh dari kata baik-baik saja.


"Assalamu'alaikum Dokter Adrian." Adrian menoleh saat pundaknya di sentuh oleh seseorang.


"Mama,"


"Kamu baru menoleh setelah Mama panggil daritadi tidak juga menyahut," seru Thalita. "Apa semuanya baik-baik saja?"


"Ya Ma," ucap Adrian.


"Kamu ini putra bungsu Mama, kamu yang lebih lama tinggal bersama Mama dan Papa. Dan juga kamu yang lebih lama Mama urus dalam segala hal. Kamu tidak akan bisa membohongi Mamamu ini," ucap Thalita mengusap pipi Adrian.


Adrian memejamkan matanya merasakan sentuhan hangat penuh kasih sayang dari Mama kesayangannya.


"Kemarilah," ajak Thalita menarik tangan Adrian dan duduk di sofa yang ada di ruangannya.


"Ma, saat kesalahpahaman melanda, Mama atau Papa melakukan apa?" tanya Adrian.


"Sudah Mama duga kamu dan Stella sedang ada masalah. Tadi juga di depan saat Mama menyapa Stella, dia terlihat sedih."


"Dia salah paham pada Adrian, Ma. Dan kini dia menjauh dariku, aku merasa sangat takut kehilangnnya," ucap Adrian.


"Rian, permsalahan dalam rumah tangga itu biasa terjadi, dan itu kembali lagi pada kalian berdua, sekuat apa cinta kalian. Kalau kamu ingin segalanya selesai maka cepatlah selesaikan, kecuali sebaliknya."


"Dia menjauh dan pergi dari apartement, dan setiap aku mencoba datang, dia mengusirku," ucap Adrian.


"Maka lakukan cara lain, dulu Mama dan Papa sering sekali bertengkar karena kesalahpahaman. Tetapi akhirnya kami bisa menyelesaikannya, karena satu hal dalam hubungan itu adalah kepercayaan."


"Kamu harus tanamkan Kepercayaan pada diri kamu dan Stella, karena itu adalah salah satu dari 4 kekuatan untuk keutuhan rumah tangga."


Adrian terdiam dan merenungkan apa yang di katakan Thalita padanya.



Stella sengaja pulang cepat ke apartement sebelum Adrian. Ia hendak mengambil semua pakaian dan beberapa kebutuhannya. Ia masuk ke dalam kamar dirinya bersama Adrian. Memang setelah mereka kembali dari kegiatan Baksos itu, mereka memutuskan untuk menempati satu kamar bersama dan kamar yang dulu di tempati Stella, kini di jadikan ruang kerja.


Stella menatap ranjang yang tampak rapi di depannya. Ranjang itu adalah saksi mereka berbagi cinta, saling bercumbu dan menyalurkan hasrat cinta mereka. Banyak kejadian lucu dan indah yang tak bisa Stella lupakan. Air mata itu kembali mengalir tanpa bisa di cegah lagi. Stella memalingkan wajahny dan mengusap air mata di pipinya. Ia berjalan menuju ruangan pakaian dirinya dan Adrian. Ia menatap deretan kemeja Adrian yang tertata rapi dalam lemari. Tak bisa ia pungkiri kalau ia sangat merindukan suaminya itu. Kini mereka seperti dua orang asing yang tidak memiliki hubungan apapun.


Stella mengambil koper miliknya dan memasukan semua pakaian miliknya ke dalam koper, ia juga mengambil satu buah kemeja putih milik Adrian untuk mengusir rasa rindunya. Setelah siap semuanya, ia melihat mantel dirinya dan ia mengambilnya dan sesuatu jatuh menggelinding ke lantai. Ia mencari sumber suara hingga matanya tertuju pada kilauan indah dari suatu barang. Stella berjongkok dan mengambil barang berkilau itu, Itu adalah cincin pernikhan miliknya yang dia kira telah hilang.


Bayangan saat Adrian melukis jari manis tangannya dengan bentuk cincin. Kenangan itu sungguh indah hingga tak mungkin rasanya untuk ia lupakan. Stella menyimpan cincin itu di dadanya dan menangis kembali, mengingat semu yang terjadi dan pengkhianatan dari Adrian.


Setelah merasa lebih baik, Stella segera menderek koper miliknya dan mengusap air matanya. Semuanya telah berakhir.


Langkah Stella terhenti saat matanya beradu pandang dengan Adrian yang baru masuk ke dalam kamar mereka. Situasi menjadi canggung seketika karena keduanya hanya bisa saling menatap satu sama lain.


"Kamu pulang?" tanya Adrian membuat Stella menundukkan kepalanya.


"Aku hanya membawa barang-barangku, aku sudah memutuskan akan tinggal sendirian."


"Apa maksud kamu Stell?" tanya Adrian mengernyitkan dahinya.


"Aku sudah memustuskan untuk hidup sendirian dan mencapi cita-citaku seperti rencana awal. Jadi aku ingin Bapak mengurusi surat surat perceraian kita."

__ADS_1


Adrian membeku mendengar ucapan Stella barusan.


"Apa ini mental dari seorang wanita petakilan yang pemberani?" tanya Adrian, dan kali ini Stella yang mengernyitkan dahinya. Adrian mengunci pintu kamar dan berjalan santai menuju sofa di dalam kamar mereka.


"Aku tidak memiliki banyak waktu, jadi sekarang kembalikan kunci kamarnya," ucap Stella begitu dingin.


"Duduklah, ada yang perlu kita bicarakan dan luruskan," ucap Adrian masih dengan nada tenang.


"Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi, semuanya sudah jelas dan aku ingin kita gak melanjutkan lagi hubungan kita," ucap Stella.


"Apa kamu begitu yakin dengan keputusnmu itu?" tanya Adrian kini berjalan mendekati Stella yang mulai bergerak menjauh menghindari Adrian.


"Iya," jawab Stella memalingkan wajahnya.


Stella hendak beranjak pergi saat Adrian sudah dekat dengannya. Tetapi sebelum ia berhasil pergi, Adrian lebih dulu merengkuh pinggang Stella.


"Lepaskan aku!" teriak Stella memberontak. "Lepaskan aku, Brengsek! jangan menyentuhku!" jerit Stella memukuli dada Adrian.


"Aku tidak akan pernah melepaskanmu, aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi, Pendek." bisik Adrian memeluk Stella dengan erat.


"Lepaskan aku! Kau pikir kau siapa, hah? Kau pikir kau siapa bisa berbuat sesukamu padaku! Kau pikir kau siapa bisa menyakiti dan berselingkuh!" jerit Stella diiringi tangisannya.


Adrian masih membiarkan Stella menjerit dan memukulinya, bahkan mencakar Adrian hingga ia merasa lelah dan hanya menangis di pelukan Adrian.


"Kenapa? hikzzz... Kenapa kamu mengkhianatiku, apa salahku padamu, hikzzz..." isak Stella.


"Maafkan aku karena kejadian waktu itu, tetapi aku berani bersumpah demi Tuhan aku tidak pernah mengkhianatimu, aku serius dengan ucapanku kalau aku mencintaimu."


"Kamu bohong," jawab Stella.


"Aku berkata jujur, saat itu aku menyiapkan kejutan untuk perayaan anniversary kita, aku pikir dia adalah kamu karena lampu di matikan," ucap Adrian.


"Kamu pasti bohong, kamu mengenalnya dan bagaimana mungkin dia bisa masuk. Kamu ingin berusaha menipuku!" pekik Stella memukuli punggung Adrian.


"Iya aku mengenalnya, dia Milner mantanku."


"Tuh kan!"


"Ssssttt dengarkn aku dulu," ucap Adrian merenggangkan pelukannya dan menunduk hingga tatapan mereka beradu. "Tetapi kami sudah lama berpisah dan tidak saling menghubungi, bahkan sebelum aku menikah dengan kamu, Pendek."


"Tapi password?" tanya Stella.


"Itu kesalahanku karena aku tidak pernah mengganti password apartement ini, ya dia memang mengetahuinya karena dulu kami bersama. Tetapi aku berani bersumpah kalau kami sudah putus sebelum kita menikah. Dan aku juga tidak tau kalau dia akan kembali dan datang kembali. Ku mohon percayalah padaku, Pendek."


Stella hanya diam dengan masih terdengar isakannya, ia menundukkan kepalanya, seakan penjelasan Adrian belum puas untuk dirinya.


Stella memekik saat tubuh Adrian luruh dan duduk rengkuh di hadapannya. "Hanya kamu wanita yang membuatku gila seperti ini, hanya kamu wanita yang membuatku begitu takut kehilanganmu sampai aku begitu berhati-hati mengambil langkah. Kamu wanita pertama yang mampu mengisi hatiku. Bahkan sejak kita menikah, aku sudah menyukaimu. Sejak pertama kita menikah, bahkan aku tidak pernah sedikitpun menggoda atau mendekati seorang wanita manapun."


"Aku mencintaimu, Pendek. Dan aku bersumpah di hadapan Tuhan dan kamu. Aku tidak pernah mengkhianati kamu dan aku juga begitu mencintaimu."


"Berhentilah bersikap begini, jangan mempersulitku," ucap Stella.


"Beri aku kesempatan lagi, Pendek." Adrian menatap Stella dengan mata berkaca-kaca dan memerah. "Aku sungguh tidak ingin kehilanganmu dan aku sangat mencintaimu."


Stella memalingkan wajahnya, ia tidak tahan dengan tatapan Adrian yang terlihat begitu tulus. Stella berdehem untuk menyamarkan suaranya dan menahan air mata yang siap meluncur membasahi pipinya.


Stella kembali menatap ke arah Adrian yang masih berlutut di hadapannya dengan kepala menunduk. Dan tanpa pikir panjang lagi Stella langsung memeluk tubuh Adrian diiringi tangisannya.


"Jangan lakukan ini lagi, hikzzz..." isak Stella membuat Adrian kaget. "Aku begitu hancur dan terluka mendengar kamu mengungkapkan cinta pada wanita lain. Hati ini hancur lebur saat membayangkan kamu tidak mencintaiku dan mencintai wanita lain. Rasa takut ini membuatku sulit bernafas, karena aku takut kehilanganmu, Bee..."


Adrian tersenyum bahagia dan memeluk Stella penuh kerinduan, ia mengecup kepala Stella sekilas. "Aku adalah pria paling bodoh kalau melakukan itu semua, Pendek. Aku tidak akan sebodoh itu melepaskan dan menyia-nyiakan wanita yang ku cintai."


"Aku sangat mencintai kamu, Pendek."


"Aku juga Bee, sangat mencintai kamu."


"Jangan pernah meninggalkanku dan berpikir untuk pergi dariku, aku tidak akan biarkan itu,"


"Maafkan aku juga karena begitu tidak mempercayaimu," jawab Stella. "Aku begitu mencintaimu."


"Sarangheo, Pendek."



Untuk Extra Part sudah tersedia di versi ebook dan cetaknya.


__ADS_1


__ADS_2