Marriage With Dosen

Marriage With Dosen
Episode 20


__ADS_3

Adrian baru saja masuk ke dalam kamar Stella. Pemakaman Naani Stella sudah di lakukan tadi siang.


Tatapan Adrian tertuju pada gadis yang meringkuk di atas ranjang. Ia berjalan mendekati ranjang dan duduk di sisi ranjang.


Ia menatap Stella yang terlelap nyenyak, wajahnya sembab dan merah. Bahkan masih tersisa air mata di sela-sela matanya juga pipinya. Adrian ikut merebahkan tubuhnya dengan posisi menyamping menghadap ke arah Stella.


Tangannya terulur merapihkan helaian rambut Stella yang jatuh ke wajahnya. Gadis ini begitu cantik, gadis petakilan, ceria, cerewet dan satu-satunya wanita yang selalu melawan Adrian. Tetapi entah kenapa saat ini Adrian merasa sedih dan merasa kehilangan sosok Stella yang seperti biasanya. Sejak kemarin mereka kembali dari rumah sakit, Stella menjadi sosok yang sangat pendiam dan tak berhenti menangis karena kehilangan Naaninya.


Setelah membelai dan menghapus air mata di pipi Stella, Adrian menautkan tangannya pada telapak tangan Stella dan ikut terlelap di sisinya.


Matahari pagi menerobos masuk ke dalam celah jendela kamar. Stella mengerjapkan matanya berkali-kali yang terasa perih juga panas karena kemarin dia terus saja menangis.


Stella mengernyit saat pandangannya yang masih sedikit buram. Ia kembali menutup matanya dan membuka matanya, ia kaget saat di hadapannya ada wajah Adrian yang berjarak beberapa senti dari dirinya. Begitu dekat sampai hembusan nafas hangat nan halus menyapu wajah cantiknya.


Ia juga kaget saat mencoba menggerakan tangannya tetapi di genggam erat oleh Adrian, membuatnya sulit bergerak. Akhirnya Stella memilih diam tak bergerak. Hanya matanya saja yang bergerak menyapu wajah tampan di hadapannya. Wajah bersih Adrian, kini mulai di tumbuhi bulu bulu tipis sekitar rahangnya membuatnya semakin gagah dan tampan.


'Ternyata Dosen TMII ini sangat tampan. Aku akui, dia adalah pria ideal yang begitu di inginkan para wanita. Dan begitu juga dengan aku,' batin Stella.


Stella segera menutup matanya saat ia melihat Adrian bergerak dan sepertinya akan bangun.


Adrian mengerjapkan matanya dan membukanya. Wajah cantik di depannya yang menjadi pemandangan pertamanya. Ia tersenyum tipis bahkan begitu samar melihat Stella di depannya.


Deru nafas Stella begitu cepat dan matanya terlihat bergerak gelisah dalam pejamannya.


"Kau sudah bangun?" Tanya Adrian, tetapi tak ada jawaban dari Stella. "Berhentilah beracting Stella, aku tau kau tidak tidur."


"Aduh!"


Stella memegang hidungnya yang di jepit Adrian. "Sakit," keluh Stella mengusap hidungnya perlahan.


"Bagaimana kabarmu?" Tanya Adrian.


"Kau tau aku tidak sakit kan, dan sejak kemarin aku bersamamu. Kenapa bertanya seakan-akan kita tak bertemu selama setahun?"


"Ck, dasar bodoh! Maksudku bagaimana perasaanmu sekarang, apa sudah membaik? Tetapi melihat jawabanmu barusan yang sewot membuatku yakin kamu sudah sangat membaik."


Stella mendengus mendengar jawaban dari Adrian.


"Dan Stell," ucap Adrian menggantung di udara.


"Apa?" Jawab Stella.


"Sampai kapan kau akan menggenggam tanganku?" tanya Adrian mengangkat tangannya yang di genggam Stella.


Dengan segera Stella melepaskan genggamannya dengan sedikit kasar. "Kau yang memegangku!"


"Dan kau yang tak ingin melepaskannya," ucap Adrian dengan senyuman tipisnya dan bangun dari rebahannya.


"Tidak! Jangan memfitnahku, Pak Dosen!" Ucap Stella.


"Aku berkata jujur Stella, saksinya para reader yang membaca cerita ini. Mereka tau aku tak bersalah dan kamu yang sengaja mengambil kesempatan dalam kesempitan untuk menyentuhku."


"Apa?! Itu tuduhan paling kejam!" Stella kini sudah duduk di atas ranjang tepat di samping Adrian dengan menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Sudahlah, aku mau mandi."

__ADS_1


"Ya sudah, pergi sana! Menjauh dariku, dasar menyebalkan!" Stella semakin kesal dan Adrian berjalan santai menuju kamar mandi.


"Aku menarik kembali pemikiranku tentangnya tadi. Dia bukan tipeku, dia sangatlah menyebalkan, dan rasanya aku ingin sekali mencekiknya!" Gerutu Stella yang begitu kesal.


"Puisi yang bagus Stell," teriak Adrian dari kamar mandi.


"Dasar kelelawar, tajam sekali pendengarannya," gerutu Stella beranjak dari ranjangnya dan berjalan menuju balkon kamarnya.


Angin pagi menyejukkan wajahnya, Stella berdiri di sisi pagar menatap ke hamparan taman belakang juga kolam renang di bawahnya.


"Naani," gumamnya saat kenangan dirinya bersama neneknya itu memenuhi kepalanya.


Stella memang lebih dekat dengan neneknya, ibu dari ayahnya. Dia begitu menyayangi Naani yang bukan hanya sekedar Nenek baginya tetapi juga sahabat. Stella hanya berani bercerita pada Naani di banding Ibunya sendiri. Dan sekarang Naani telah pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.


Memang benar, kehidupan itu selalu ada yang datang dan pergi, tetapi Stella tak menyangkan Neneknya meninggalkannya secepat ini. Stella benar-benar kesepian dan begitu kehilangan Naani.


Air mata kembali jatuh membasahi pipi, dan ia kembali menangis dengan isakan pelan.


"Kenapa Naani begitu cepat meninggalkan Stella? Bukankah Naani ingin melihatku bahagia dulu."


Adrian berdiri di ambang pintu pembatas kamar dan balkon, ia menatap Stella yang menangis terisak. Bahunya terlihat bergetar hebat.


"Wah pagi yang cerah," seru Adrian, dan mendengar itu Stella segera menghapus air matanya dan merubah raut wajah sedihnya menjadi datar.


"Mumpung aku sedang baik, kau mau ikut nonton bersamaku?" Tanya Adrian berdiri di samping Stella dengan sudah memakai kaos dan celana jeansnya.


"Tidak, aku sedang malas."


"Jangan pernah menolak ajakan dari pria tampan, kau akan menyesal." Stella menatap Adrian dengan sengit.


"Kau terlalu percaya diri pak Dosen!" Ucap Stella dengan sinis dan beranjak pergi tetapi Adrian segera menarik lengannya hingga Stella kembali berbalik dan menabrak dada bidang Adrian.


"Aku tidak mau berkencan dengan Dosen menyebalkan sepertimu," ucapnya.


"Benarkah? Jarang-jarang lho demi kamu, aku membatalkan kencanku dengan seorang model cantik nan seksi." Stella memutar bola matanya.


"Baiklah, tetapi aku ingin pergi ke pantai, tidak ingin menonton."


"Baiklah, aku free seharian ini untukmu."


"Manis sekali, ucap Stella dengan senyum yang di buat-buat. Adrian melepaskan pegangannya dan Stella langsung berlalu pergi.


***


Kini mereka berdua sudah sampai di pantai, suasana di sana cukup sepi karena ini bukan weekend.


Stella yang memakai dress berwarna putih tampak begitu cantik di mata Adrian.


Stella berlari meninggalkan Adrian menuju ujung pantai hingga ombak mampu menerpa kaki telanjangnya. Ia seperti anak kecil yang lupa diri, bermain air dengan menendang-nendang air dan berlarian menghindari ombak. Adrian berdiri tak jauh darinya dengan melipat tangan di dada, ia tersenyum menatap Stella.


"Gadis bodoh itu, benar-benar masih kekanakan," gumamnya.


"Heh pak Boboho, kenapa berdiri di sana. Kemarilah," teriak Stella dengan berkacak pinggang melihat ke arah Adrian.


"Dasar pendek," ucap Adrian.

__ADS_1


"Hey siapa yang pendek?" Pekik Stella berjalan cepat menghampiri Adrian yang masih berdiri di tempatnya.


"Kau Stella, siapa lagi. Ketinggianmu itu hanya manipulasi dari sepatu high heelsmu. Dasar pendek!"


"Enak saja mengataiku pendek! Aku tuh hanya-"


"Hanya apa Pendek? Hanya tingginya di bawah normal," ejek Adrian membuat Stella kesal.


"Gak apa-apa, yang penting imut. Cewek pendek itu imut dan lucu, wlee." Bela Stella.


"Iya saking imutnya sampai tak terlihat," ejek Adrian.


"Dasar Boboho!" Stella memukuli lengan Adrian membuatnya menghindar dan sedikit berlari untuk menghindari pukulan Stella.


"Dasar pendek!"


"Boboho, mesum, TMII!" Teriak Stella terus mengejar Adrian.


"Pendek, pendek, pendek!" Adrian terus menghindar sambil tertawa puas.


Stella kesal dan melempari pasir yang di bulat-bulat seperti bola ke arah Adrian yang terus saja berhasil menghindar.


"Bogel," tawa Adrian.


"Apa? Dasar Boboho! Aku gak bogel!" Amuk Stella kembali mengejar Adrian yang berlari menghindar.


Stella meloncat ke punggung Adrian membuat Adrian spontan menahan pantatnya.


"Rasakan ini!"


"Aduh!"


Adrian mengaduh kesakitan saat Stella menggigit telinganya.


"Lepaskan Pendek! Sakit!"


Adrian mengaduh tetapi Stella tak juga melepaskannya.


"Awwwww!" Stella memekik hingga melepaskan gigitannya. Matanya melotot lebar saat merasakan tangan Adrian meremas pantatnya.


"Boboho!" Pekik Stella. "Turunkan aku!"


Adrian segera menurunkannya hingga pantat Stella mencium pasir dan membuatnya mengaduh.


"Kau ini keturunan tikus yah, suka sekali menggigit," keluh Adrian mengelus telinganya yang terasa panas dan memerah.


"Kau!" Pekik Stella. "Dasar dosen mesum! Kau sudah melecehkanku!"


"Kau juga menodaiku, Pendek!" Ucap Adrian dengan santai.


Stella menatap tajam penuh kekesalan pada Adrian. Adrian mengulurkan tangannya ke hadapan Stella yang hanya diam dan menatap uluran tangan Adrian.


"Kenapa? Aku hanya ingin membantumu, Pendek."


"Aku tidak butuh," ucap Stella menepis tangan Adrian dan bangun dari posisi duduknya dan berlalu pergi meninggalkan Adrian.

__ADS_1


"Hey Pendek! Kau marah padaku?" Ucap Adrian berjalan membuntutinya.


****


__ADS_2