Marriage With Dosen

Marriage With Dosen
Episode 14


__ADS_3

Sabtu pagi Stella pergi ke lapangan olahraga untuk jogging bersama Lenna sahabatnya.


"Loe serius akan menemukan pria di sini?" tanya Lenna yang berjalan di samping Stella.


"Yakin, menurut pengamatan gue. Banyak cewek atau cowok yang cari gebetan di tempat seperti ini saat lari pagi."


"Pengamatan apa pengalaman?" tanya Lenna.


"Entahlah," jawabnya dengan santai seraya merenggangkan kedua tangannya dengan mata yang berpencar ke setiap penjuru mencari sosok pria yang diinginkannya.


"Banyak kan anak muda yang nongkrong di sini seraya olahraga, mereka tuh kalau gak buat janji ketemuan sama cowok ya sambil ngecengin cowok-cowok di sini," ucap Stella.


"Sotoy," seru Lena.


"Seenggaknya lari satu keliling aja Stell, ngapain kita daritadi Cuma jalan dan diem begini gerak-gerakin tangan. Seenggaknya nyelam sambil minum air gitu, jadi sehatnya dapat, cowoknya juga."


"Bahasa loe, ya udah."


Mereka berdua lari bersama seraya mengobrol dan menunjuk pria yang menurut mereka oke.


"Tunggu!" seru Stella menghentikan larinya seraya mengatur nafasnya.


"Cape," keluh Lenna ikut berhenti dan mengatur nafasnya.


"Jalan aja deh, lelah gue."


"Huuh, keliatan banget kita jarang olahraga," kekeh Lenna. "Ngomong-ngomong gimana? udah nemu yang menurut loe sempurna?"


"Belum ada, gitu-gitu aja."


"Masih cakepan laki loe pan," kekeh Lenna. "Lagian ngapain nyari lagi sih, udah di kasih yang sempurna juga sama Tuhan. Pak Adrian itu selain cakep, tampan, tajir, dokter juga dosen. Apa yang kurang darinya, coba? Loe kagak bersyukur banget dah."


"Dia itu nyebelin, mesum, seenaknya, pokoknya banyak banget kekurangannya dan gue gak mau sama dia."


"Yakin? awas kemakan omongan sendiri, mulutmu harimaumu lho." Lenna tertawa melihat wajah Stella yang cemberut kesal.


"Eh, cowok itu oke kayaknya." Stella menunjuk seseorang memakai jaket putih dan celana tranning sedang jogging di depannya. "Postur tubuhnya oke tuh walau dari belakang."


"Dia mengingatkan gue sama seseorang," gumam Lenna.


"Ah pasti dia cakep, ayo kita susul dia." Tanpa perduli dengan Lenna, Stella langsung saja berlari.


"Eh tunggu!" teriak Lenna mengikuti Stella.


'Keluarkan jurus rayuanmu, Stell.' batin Stella berusaha menyusul pria itu.


Stella berlari sedikit menyamai pria itu dan berpura-pura keseleo. "Aduh!"


Tubuh Stella oleng dan hampir saja menyentuh tanah kalau saja sepasang tangan kekar tak menahannya, hingga Stella jatuh ke dalam pelukannya. 'Berhasil,' batin Stella perlahan membuka matanya.


"OMG!" pekiknya hingga matanya melotot sempurna saat melihat wajah pria di depannya itu yang tampak datar saja.


"Ternyata selain cerewet, kau juga sangat ceroboh," ucapnya.


Lenna sampai di antara mereka, dan Stella langsung mendorong dada pria itu dan berdiri tegak.

__ADS_1


"Pak Adrian?" pekik Lenna melihat pria yang tadi di tunjuk Stella, dan seketika Lenna tertawa melihat wajah merah Stella.


"Ada apa?" tanya Adrian tampak kebingungan.


"Tidak apa-apa, Pak." kekehnya.


"Kaki kamu tidak apa-apa?" tanya Adrian saat melihat Stella berdiri tegak tanpa kesakitan.


"Tidak! ayo Lennong kita pergi." Stella menarik pergelangan tangan Lenna dan berlalu pergi meninggalkan Adrian.


"Hahaha bibir gue masih basah sama ucapan gue sebelumnya. Loe kagak usah gengsi, ngaku aja kalau suka sama pak Adrian. Nyari cowok aja harus yang mirip pak Adrian, liat dari belakangnya saja udah demen, apalagi liat dari depan, iyakan!" goda Lenna.


"Diamlah Lennong! loe tau, tadi itu kesalahan teknis. Mata gue kelilipan!" seru Stella melipat kedua tangannya di dada. "Lagian tuh orang udah mirip demit deh, dimana-mana ada."


Lenna masih saja terkikik melihat wajah bete Stella. "Harusnya loe terima apa adanya suami loe, toh dia juga termasuk tipe pria idaman loe kan," godanya.


"Idih amit-amit tujuh turunan! Berhenti tertawa Lennong! Tadi itu beneran kesalahan, gue gak inget ciri-ciri manusia TMII itu, makanya gue gak bisa ngenalin itu dia."


"Boong banget," kekehnya.


"Gue balik!" seru Stella dengan kesal berjalan cepat meninggalkan Lenna.


"Gak jadi nih nyari cowoknya? Tadi udah dapet malah di lepas," kekeh Lenna.


"BODO!" Lenna semakin terkekeh sambil terus berjalan mengikuti Stella.


***


"Pintar juga caramu untuk menggaet seorang pria," seru Adrian memasuki dapur dimana Stella tengah meneguk minuman.


"Aku tadi benar-benar kesandung," kilah Stella.


"Terserah apa katamu, yang jelas aku tidak sedang mencoba merayu apalagi kepada orang sepertimu!" Dengan kesal, Stella berlalu pergi meninggalkan Adrian yang tersenyum kecil melihat tingkah Stella.


***


"Masih ngambek aja neng, gara-gara kejadian hari sabtu," goda Lenna di dalam kelas.


"Berhenti menggoda gue, Lennong!" ucap Stella.


"Oke, gue ada ide nih buat loe."


"Apa?" tanya Stella.


"Loe seriusan mau nyari cowok yang lebih dari pak Adrian? Kagak bakalan nyesel?" tanya Lenna.


"Iya Lennong! akan gue buktikan kalau gue mampu, jadi dia gak akan seenaknya lagi sama gue!" ucap Stella.


"Begini, kenapa loe gak coba buka lagi facebook loe atau twiter loe buat nyari kenalan cowok tampan di sana. Kan bisa ngobrol-ngobrol dulu via chatting, nah kalau cocok baru dah ketemuan. Gimana?" ucap Lenna.


"Tapi akun gue udah 4 tahun gak gue buka," ucapnya.


"Ya coba di buka lagi dan share foto loe yang sekarang bukan yang masih SMA. Siapa tau ada banyak yang nyantol."


"Lu kira ikan, banyak yang nyantol!" ucap Stella.

__ADS_1


"Kan bener, kita lagi mancing cogan." kekehnya.


"Entar deh gue coba buka lagi akun facebook dan twiter gue."


"Sip."


***


"Dokter, ruang 188 darurat!" seru seorang suster membuat Adrian berlari menuju ruangan tersebut.


"Adrian!" panggil Dara saat mereka bersamaan telah sampai di depan ruangan 188.


Adrian hanya melihat sekilas lalu masuk ke dalam ruangan diikuti Dara. Adrian segera mendekati brangkar dan memeriksa deyut nadi pasien.


"Siapkan fibrilator dan ampul f1!" perintahnya yang langsung di ambilkan suster. Dara membantu Adrian memasangkannya.


"Isi 50, shock!"


Detak jantung pasien masih belum kembali, Adrian menyimpan alat itu dan melakukan CPR dengan menumpukan kedua tangannya di dada pasien dan menekannya berkali-kali.


Keadaan mendadak resah saat keluarga pasien datang dan menjerit histeris karena salah satu keluarganya dalam keadaan kritis. Adrian masih berusaha memancing kembali detak jantung pasien, tetapi tetap tidak bisa. Keringat seukuran biji jagung memenuhi dahi Adrian.


"Adrian cukup! Pasien ini telah meninggal," ucap Dara menyentuh lengan Adrian membuat Adrian menghentikan gerakannya dan menatap Dara dengan sedih.


"Aku masih bisa menolongnya," ucap Adrian hendak menekan dadanya kembali tetapi Dara menarik lengan Adrian.


"Denyut nadinya telah hilang," serunya membuat Adrian menghela nafas frustasi dan mengusap wajahnya kasar.


"Suster, tolong bereskan semuanya," perintah Dara.


"Baik Dok," ucap salah satu suster.


Dara menarik lengan Adrian keluar dari ruangan itu. Setelah memberikan kabar pada keluarga pasien, Dara menghampiri Adrian yang tengah duduk di taman rumah sakit.


"Minumlah." Dara menyodorkan sebotol minuman kepada Adrian yang di terima Adrian lalu meneguknya cukup banyak.


Andara mengambil duduk di samping Adrian dan menatap ke depan, mengikuti arah tatapan Adrian.


"Ini pertama kalinya aku gagal menyelamatkan pasien," gumam Adrian terdengar lesu.


"Kita memang dokter, tetapi kita bukan Tuhan yang bisa mengatur hidup dan mati manusia. Kita hanya di beri amanat lewat tangan kita untuk membantu mereka." Adrian menundukkan kepalanya mendengar ucapan Andara.


"Kamu benar, tetapi aku selalu ingin menyelamatkan mereka dengan tangan ini." Adrian menatap telapak tangannya.


Dara memegang tangan Adrian hingga Adrian menoleh kepadanya. "Itu keinginan semua dokter, tetapi kita tak memiliki kuasa untuk mengatur hidup dan mati mereka," ucapnya tersenyum manis.


"Kamu sudah melakukan yang terbaik, Adrian. Kematian pasien, bukanlah kesalahan kita. Itu sudah kehendak dari Tuhan."


"Kamu tau, aku senang kamu kembali. Kamu selalu bisa membuatku tenang," ucap Adrian ikut tersenyum.


Mereka berdua saling menatap satu sama lain diiringi senyuman mereka, tanpa ada yang tau kalau Stella berdiri tak jauh dari mereka dan menatap mereka dengan penasaran dan penuh kekagetan.


"Terima kasih," ucap Adrian menarik Andara ke dalam pelukannya.


Stella menutup mulutnya dan matanya membelalak lebar melihat Adrian memeluk wanita itu. Iya merasa sakit yang tak bisa ia pahami.

__ADS_1


Tanpa bisa berbuat apapun, ia berbalik dan memilih di balik dinding seraya menutup mulutnya.


***


__ADS_2