Marriage With Dosen

Marriage With Dosen
Episode 23


__ADS_3

Hari ini para little Brotherhood pergi mendaki gunung Semeru di Jawa Timur. Sebuah gunung berapi kerucut di Jawa Timur, Indonesia. Gunung Semeru merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa, dengan puncaknya Mahameru, 3.676 meter dari permukaan laut (mdpl). Gunung Semeru juga merupakan gunung berapi tertinggi ketiga di Indonesia setelah Gunung Kerinci di Sumatera dan Gunung Rinjani di Nusa Tenggara Barat[1]. Kawah di puncak Gunung Semeru dikenal dengan nama Jonggring Saloko. Gunung Semeru secara administratif termasuk dalam wilayah dua kabupaten, yakni Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur. Gunung ini termasuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.


"Haruskah kita mendaki sebelum koas?" Tanya Stella saat mereka semua ke 9 pasangan little brotherhood sampai di tempat.


"Kenapa? Kau belum pernah mendaki?" Tanya Adrian.


"Belum pernah, apa menyenangkannya? Cape yang ada," keluh Stella.


"Jangan banyak mengeluh, Nona. Kau pasti akan menikmatinya," ucap Adrian mengusap kepala Stella.


"Baiklah guys, semuanya sudah siap yah?" Seru Verrel. "Perjalanan awal sampai tempat kita berkemah akan terasa mudah, mungkin untuk selanjutnya akan terasa lebih sulit."


"Lindungilah pasangan kalian masing-masing," ucap Percy.


"Sebelum berangkat mari kita berdoa bersama menurut kepercayaan masing-masing," ucap Leon dan mereka semua berdoa.


Setelahnya mereka berjalan bersama, Jen mengajak Stella untuk berjalan bersama dengan para perempuan dan biarkan para lelaki di belakang, kecuali Verrel, Vino dan Percy berjalan memimpin di depan.


"Sudah lama sekali rasanya tidak menghirup aroma segar dan sejuk seperti ini," ucap Leonna diiringi senyumannya.


"Iya, dulu kita sering sekali berlibur ke tempat seperti ini."


"Sekarang kita semua sibuk dengan kehidupan masing-masing," ucap Rasya.


"Bagaimana keadaan tante Dewi?" Tanya Leonna.


"Masih begitu, Ayah menyarankan dia di rawat saja di rumah sakit," ucap Rasya.


"Kasian," ucap Leonna. "Bahkan kabarnya Papa Farel juga sakit."


"Papa sakit terkena serangan jantung. Makanya saat ini Papa di larang lagi ke kantor," ucap Jen.


"Stella, katanya sebentar lagi kamu koas?" tanya Leonna.


"Iya Kak, aku di bawah bimbingan dosen Adrian," ucap Stella.


"Wah enaknya di bawah bimbingan suami sendiri, kita gak perlu susah untuk dapat nilai bagus," kekeh Jen.


'Hah yang benar saja, yang ada aku repot sekali di bawah bimbingannya.' Batin Stella.


Mereka berhenti berbicara dan kembali berjalan mendaki gunung yang semakin gelap karena kabut, waktu sudah mendekati petang dan mereka akan mencari tempat untuk mendirikan kemah.


Mereka akhirnya menemukan tempat untuk mendirikan tenda. Para pria sibuk memasang tenda di bantu para istrinya.


Sebagian lagi sibuk mencari kayu bakar dan beberapa lagi menyiapkan bahan makanan.


Stella sibuk membantu Leonna menatap minuman kaleng, makanan dan beberapa cemilan di atas meja lipat. Datan, Adrian, dan Leon sibuk membuat api unggun dan sisanya mendirikan 2 tenda besar.


"Bagaimana hubunganmu dengan Adrian, Stella?" tanya Leonna.


"Maksud Kak Leonna?" Tanya Stella seakan tak paham.


"Aku tau hubunganmu dengan Adrian. Stella, memang tak mudah menikah dengan seseorang yang tak kita cintai, bahkan kau baru mengenalnya." Leonna menyerahkan satu minuman kaleng yang di terima Stella.


"Tetapi percayalah cinta itu akan muncul karena terbiasa, asal kamu mau membuka hatimu untuknya," Leonna tersenyum penuh arti sebelum akhirnya berlalu pergi meninggalkan Stella sendirian dengan membawa 2 kaleng minuman.


Stella melihat Leonna menghampiri suaminya dan duduk di sisinya, ia mengalihkan tatapannya ke arah lain dan terlihat Leonard sedang memakaikan mantel di tubuh Azalea.


Di sekeliling Stella penuh pasangan romantis penuh cinta, hanya dirinya dan Adrian yang seperti memiliki jarak.


Tatapan Stella kini lurus ke depan dan beradu tatapan dengan Adrian yang juga menatapnya dari sebrang sana terhalang api unggun. Adrian berdiri bersandar pada sebuah pohon dengan melipat tangannya di dada, sebuah senyuman muncul di bibirnya. Senyuman tipis yang jarang sekali ia tunjukkan.


Stella membalikkan tubuhnya memunggungi Adrian saat melihat senyuman itu dadanya berdesir dan berdetak hebat.


'Ada apa dengan jantungku?'


"Stella kemarilah," teriakan itu membuat Stella menoleh dan Datan melambaikan tangannya dari tempat duduknya. Ternyata semua orang sudah duduk berpasangan mengelilingi api unggun dengan minuman dan makanan yang sudah di sediakan.


Stella mengangguk dan berjalan mendekati Adrian, ia tidak tau harus duduk dimana. Jadi mau tak mau ia duduk di samping Adrian.


"Sudah lengkap yah," ucap Datan.


"Jangan mengoceh yang tidak-tidak, Kunyuk!" Seru Chella yang tau tabiat Datan.


"Kali ini gue akan bercerita serius dan kisah nyata. Ini kisah seorang putri berkerudung merah yang tinggal di gunung," ucap Datan dengan nada yang sangat serius.


"Berhenti mengoceh yang tidak-tidak kalau tidak ingin gue tendang dari sini," seru Percy.

__ADS_1


"Ck, kau sangat penakut Kakak Ipar. Dengarkanlah," ucap Datan.


"Seharusnya tak mengatakan hal hal seperti itu saat kita di hutan, pamali." Azalea berusaha menegurnya.


"Itu tak akan membuat Kunyuk Datan berhenti, Lea sayang." Kini Leonlah yang berucap.


"Lanjutkan saja Datan, daripada sepi," ucap Leonna memantang.


"Kalau sampai terjadi sesuatu, loe tanggung jawab Ona, Kunyuk!" Seru Chella semakin mengeratkan pelukannya pada lengan Vino.


"Dasar penakut," ejek Leonna.


"Jadi gimana kak Kunyuk?" Seru Jen yang ternyata sejak tadi menanti kelanjutan kisah dari Datan.


"Kau tidak takut?" Tanya Joe.


"Tidak," seru Jen diiringi cengiran lebarnya.


"Jadi begini, dahulu kala di sebuah desa tinggallah seorang wanita yang sangat cantik namanya Maya, dia selalu di puja-puja seorang pria. Dia juga termasuk bunga desa. Wanita ini kemana-mana selalu memakai kerudung merah. "


Semuanya tampak serius mendengarkan cerita Datan yang menegangkan.


"Tetapi hanya ada satu pria yang dia cintai dan juga mencintainya, nama pria itu Satya seorang gembala. Mereka harus menjalani hubungan secara sembunyi-sembunyi karena orangtua Maya tidak merestuinya. Hingga suatu hari datang seorang tuan tanah dan berniat melamarnya dan menjadikannya istri nya yang ke 4."


"Tuan takur," kekeh Leonna.


"Diamlah kak Leonna, trus kak Datan," ucap Jen.


"Jadi-" Datan menggantungkan ucapannya.


"Hah tukang php," ucap Percy karen jeda terlalu lama.


"Cieee pada nungguin kelanjutannya," kekeh Datan membuat yang lain sebal.


"Selalu begitu," keluh Pretty.


"Dalam cerita tuh selalu ada Tbc alias To be continue, jadi yah terima saja." Datan membuat alasan.


"Bilang saja gak tau kelanjutan ceritanya," ucap Adrian.


"Jangan meremehkanku," seru Datan.


"Cieee pada penasaran. Wani piro?" Datan menengadahkan telapak tangannya membuat yang lain mengeluh kesal.


"Dasar tukang php," keluh Azalea.


Di saat yang lain kesal, Stella malah terkekeh. "Kenapa tertawa?" Tanya Adrian.


"Tidak, lucu aja lihat kejahilan kak Datan," ucap Stella.


"Begitukah?" Adrian menaikkan sebelah alisnya.


"Iya," jawab Stella memalingkan wajahnya.


"Oke ku lanjut," ucap Datan akhirnya diiringi kekehannya. "Harap bersabarlah para fansku."


"Najis banget," ucap Chella.


"Jijay," ucap Leonna.


"Sebaiknya kita tidur saja," seru Percy.


"Oke kali ini serius," ucap Datan. "Jadi si Maya ini menolak mentah-mentah lamaran si tuan tanah. Ia bahkan mengancam akan bunuh diri kepada orangtuanya."


"Maya di kurung di dalam kamarnya karena ayah Maya mata duitan dan menginginkan uang yang di janjikan si tuan tanah. Dalam kesendirian dan kesedihannya, dia terus mengingat Satya. Dan menuliskan mengenai perasaannya pada Satya di dalam buku catatan miliknya."


Datan menatap semua orang yang tampak antusias mendengarkannya kecuali para pria yang tampak enggan mendengarkannya.


"Saat ada kesempatan, Satya datang untuk menyelamatkannya. Diam diam mereka berdua berhasil kabur dan berlari memasuki hutan pegunungan. Mereka bersembunyi hutan dari para pesuruhnya tuan tanah."


"Di dalam hutan mereka merajut bahtera cinta, dalam persembunyiannya mereka saling menyatu dan bersumpah untuk bersama sehidup semati. Hingga keesokan harinya anak buah tuan tanah menemukan mereka." Datan menatap mata para wanita yang tampak penasaran.


"Dan To be continue," ucap Datan.


"Sialan!"


"Aww, kau kasar sekali Ona peak!" Datan mengaduh saat lengannya di lempari buah apel oleh Leonna.

__ADS_1


"Jangan di gantungin!" Protes Leonna.


"Cape gue, kalian enak cuma ngedengerin, lah gue yang kerja. Mulut gue kering karena bicara terus, Pipit suapin buah kek," keluh Datan.


"Manja," ucap Pretty tetapi tetap menyuapi potongan apel ke mulut Datan.


"Terua gimana lagi," seru Azalea.


"Jangan buat kami penasaran, Datan." Randa ikut menimpali.


"Wani piro, kagak ada yang gratis," seru Datan.


"Udah punya 2 anak, masih saja gak berubah," ucap Leon.


"Kalian juga pake penasaran segala, itu hanya cerita fiksi. Kalau kalian butuh bacaan, baca aja novel karya author ini. Banyak kok, daripada nunggu cerita Kak Datan yang kurang berbobot," seru Adrian.


"Jangan meremehkanku, Rian. Aku bahkan lebih handal dari author ketjeh Indriani Sonaris." Datan berucap dengan bangga.


"Jangan begitu, di buat mati tau rasa," ucap Jen.


"Astagah jangan dong, entar gak ada lagi yang imut, kece dan menggemaskan kayak gue little Crocodile."


"Serah apa kata loe," ucap Leonna.


"Iya jadi saay itu mereka di sergap dan para anak buah tuan tanah mengeroyok Satya, hingga Satya meninggal. Saat itu Maya berteriak dengan mengambil cerurit. Dia bilang saat cintanya pergi, maka tak ada gunanya lagi dia hidup. Tetapi sebelum dia menusuk dirinya sendiri, dia bilang akan selalu datang pada siapapun mereka yang merendahkan cinta dan tak menghargai pasangannya."


"Miris banget," ucap Rasya.


"Mana ada yang begitu, Kak?" Tanya Stella.


"Kau tidak percaya? Tunggu saja sampai dia datang mendatangimu," ucap Datan.


"Apaan sih," seru Stella tanpa sadar memegang erat lengan Adrian.


"Sudah ah, aku mengantuk." Rindi bangun dan masuk ke dalam tenda untuk para perempuan diikuti yang lainnya.


Malam semakin larut, semuanya tampak sudah terlelap kecuali Stella yang memikirkan ucapan Datan.


"Astaga ada denganmu, Stella." Stella bolak balik dalam tidurnya hingga dia melihat bayangan dari balik tendanya.


"A-apa itu," gumamnya ketakutan.


Ia menarik selimut menutupi wajahnya tetapi tetap gelisah dan merasa ketakutan sendiri.


"Tidak!" Stella membuka selimut dengan kesal. "Aku bukan wanita penakut!"


Dengan sedikit keberanian, Stella mengambil senter kecil dan keluar dari dalam tenda. Ia celingak celinguk ke kanan dan kiri seraya memeluk dirinya sendiri karena takut.


"Sedang apa?"


"Huaaaaaa!!!"


Saking kagetnya Stella sampai terjatuh ke tanah dan ia menyorotkan senter ke seseorang yang menjulang tinggi di depannya.


"Singkirkan sentermu, ini silau," serunya.


"Dosen TMII?" Seru Stella dan segera berdiri. "Sedang apa kau di sini? Kau sengaja menakutiku, huh?" Pekiknya.


"Kau mempecayai ucapan Datan?" Tanya Adrian.


Whuuuuuussss...


"Ah!" Stella melompat ke dalam gendongan Adrian karena suara itu. Adrian dengan spontan menyanggah pantat Stella supaya tidak jatuh.


"Kau ingin memcekikku?" Seru Adrian karena Stella memeluknya dengan kencang.


Stella sadar posisi mereka dan bergegas turun, tetapi belum kakinya mendarat di tanah angin kencang menerpa mereka membuat stella kembali meloncat pada gendongan Adrian dan memeluknya erat.


"Aku tidak perduli lagi dengan posisi seperti ini, pokoknya aku gaj mau turun!"


"Kau sungguh penakut," kekeh Adrian.


Stella tak perduli dan semakin menyembuhkan wajahnya di lekukan leher Adrian.


"Kau membuatku geli, Stella."


"Aku gak perduli!"

__ADS_1


"Huft!" Adrian hanya bisa pasrah dengan posisi mereka. Ini semua karena si buaya Datan.


***


__ADS_2