
...Gak ada yang salah jika kita memberikan orang lain kesempatan bukan?...
...Ghea Virnafasya...
...****...
“Thanks, ya, Ham, lo udah mau nemenin gue semalam. Walau gak ada tanggapan sedikit pun dari Gery. Tapi lo benar, itu semua membuat perasaan gue jadi lebih baik.” Bersama koper yang ada di tangannya, Dita menghela nafas berat. Namun sekarang senyumannya lebih terlihat tulus dari sebelumnya.
Tangan Ilham menyentuh bahu Dita. Memberikan kekuatan pada sentuhan itu. “Lo gak perlu berterimakasih sama gue. Karena gue sahabat lo. Gue cukup senang karena lo mau berusaha berubah.” Ilham tersenyum. “Lo gak usah peduliin Gery atau siapa pun. Gak usah peduli mereka mau percaya atau tidak. Yang pasti sekarang yang harus lo pikirin kesembuhan lo, biar lo gak ketergantungan lagi sama obat penenang! Ingat nyokap lo. Yang selalu ingin lo kembali seperti dulu!”
Mulut Dita seakan terasa kelu. Walau dalam hatinya tidak dapat dipungkiri jika Dita kecewa pada kenyataan Pak Gery yang tidak ingin memaafkannya. Apalagi percaya padanya. Dita hanya tersenyum menanggapi ucapan Ilham yang jelas memang benar itu.
Mungkin wajar Pak Gery berlaku demikian. Karena apa yang sudah Dita lakukan memang tidak bisa dimaafkan. Namun untuk ukuran manusia seperti kita. Pantaskah menyimpan sebuah dendam?
“Yaudah. Gue masuk sekarang. Bantu jaga Ibu,ya, Ham!” Ilham mengangguk. Seraya menyeret gagang kopernya, Dita melangkahkan kakinya untuk masuk ke bandara.
Pagi ini adalah keberangkatannya ke Singapore. Setelah beberapa lamanya Dita berpikir keras dengan apa yang selalu Ilham ingatkan padanya. Jika hidup tidak akan pernah tenang selama kamu masih berada dalam genggaman masa lalu yang tentu saja membuat kamu tidak akan maju apalagi berubah untuk sesuatu yang sudah tidak mungkin lagi ia dapatkan.
“Kasihan banget sih, lo, Ta,” ujar Ilham tepat di depan pintu masuk bandara bersama tatapan matanya yang mengarah pada punggung Dita. “Semoga lo bisa cepat sembuh, deh, ya. Dan kembali bersama-sama nyokap lo. Gue yakin sih lo bakal dapetin cowok yang lebih baik dari tuh anak kuda,” katanya mencibir Pak Gery.
**
Di meja makan rumah Pak Gery biasanya akan terdengar sangat hangat dengan obrolan yang tidak masuk akal atau hanya sebuah candaan. Terlihat sangat romantis dengan semua itu. Saling menyuapi, atau saling melempar makanan ringan pada wajah satu sama lain. Namun, di pagi ini terlihat semuanya berbeda. Ghea yang diam dengan sarapan di depannya. Dan Pak Gery yang sesekali menatap wajah Ghea bersama desahan beratnya.
“Kamu gak akan bicara sama aku?” Pak gery membuka suara setelah ia lihat Ghea menggeser piring ke samping lalu berdiri. “Cuma karena aku yang gak percaya sama cewek gila itu.” Bersedekap seraya menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi makan. Wajahnya mendongak, menatap Ghea.
Ghea diam. Tidak bersuara apalagi menatap. Ia berjalan dengan tertatih menuju tangga.
Pak Gery lagi-lagi mengesah. “Ghe …” panggilnya putus asa. Lalu berdiri hingga terdengar suara decitan kursi makan yang mundur. “Aku takut itu cuma sebagian dari rencana dia aja untuk nyakitin kamu. Lalu bisa dengan mudah dia merusak kepercayaan kamu sama aku,” ujarnya menahan tangan Ghea yang sudah akan menginjakkan kakinya di undakan tangga pertama.
Ghea masih diam. Mulutnya terlalu rapat terkunci.
“Sayang …” Pak Gery memanggil lagi. Kali ini kepalanya menunduk untuk melihat raut wajah Ghea yang ditekuk.
Sebelum mendongakkan wajahnya, Pak Gery melihat Ghea menarik nafasnya dalam-dalam. “Kamu tahu kenapa aku marah banget sama kamu waktu aku lihat kamu dipeluk Dita?” Ghea bertanya. Dengannya yang menatap Pak Gery dalam.
“Karena kamu cemburu,” jawab Pak Gery dengan jemawa.
“Ya. Itu benar. Aku gak terima kamu yang dipeluk-peluk cewek lain. Terus kamu tahu alasannya kenapa aku mau maafin kamu? Harusnya nggak kan? Apalagi kamu udah bohong sama aku.”
Mendengar itu membuat penyesalan Pak Gery kembali.
“Karena aku tahu. Jika aku terus menerus melihat kesalahan kamu tanpa melihat perasaan kamu.” Ghea menunjuk dada Pak Gery seolah itu Ghea sedang menunjuk perasaan Pak Gery. “Hidup aku gak akan maju. Dan aku mungkin saja gak bisa mempertahankan pernikahan kita.”
“Gak ada salahnya bagi seseorang untuk mencoba berubah, Mas.”
Pak Gery diam mendengarkan.
“Seperti aku yang memberimu kesempatan.” Ghea menghela. “Aku juga mau kamu memberikan kesempatan itu pada Dita!
Ingin memberikan kesempatan berpikir pada suaminya, Ghea pun berlalu dari hadapannya. Memberikan kesempatan untuknya sendiri lebih dulu sampai pada dimana Pak Gery kini memarkirkan mobilnya di sebuah gedung yang warna putih mendominasinya terlalu kental.
__ADS_1
Masih diam dan tidak keluar dari dalam mobil. Justru cowok itu dengan antengnya bersandar pada sandaran kursi kemudi seraya menghisap benda bernikotin bersama harum tembakau menguar di dalam sana. Tidak munafik, jika Pak Gery juga suka dengan benda berbahan tembakau itu. Jika hanya dirinya sedang berada dalam keadaan yang galau, tidak tanggung-tanggung satu bungkus saja habis dalam sehari.
Seraya meniupkan asapnya ke udara lalu mematikan rokok yang masih menyala dan kepalanya berpikir cukup lama, Pak Gery lantas menyalakan AC mobil sebelum ia keluar dari dalamnya untuk menghilangkan wangi tembakau tersebut.
Pak Gery sangat benci dengan aroma yang selalu ia hindari ini. Dan sialnya kakinya itu harus melangkah lebih dalam sampai kakinya berhenti di depan ruangan yang bertuliskan nama dokter yang khusus menangani Dita.
Mungkin bagi dokter itu sudah tidak asing lagi ketika pandangannya mendongak dari balik meja kerja, mendapati seseorang masuk tanpa mengetuk pintu lebih dulu. Kemudian bersamaan dengan Pak Gery kembali menutup pintunya, dokter itu pun kembali pada sebuah kertas-kertas yang bertumpuk di atas mejanya seraya mengangsurkan kacamatanya naik.
“Dia sudah memutuskan untuk berobat di Singapore.” Tidak perlu menunggu untuk Pak Gery bertanya, dokter tersebut sudah tahu apa yang akan dipertanyakannya.
Pak Gery menarik kursi di seberang dokter tersebut kemudian duduk. “Jadi benar?”
Dokter itu mengangguk tanpa melihat ke arahnya.
“Kapan?” Maksudnya kapan Dita berangkat ke Singapore.
“Mungkin sudah.” Dokter itu menjawab seraya mendongak. “Kenapa gak nanyain ke Ilham aja langsung. Dia yang urus semuanya.”
Pak Gery nampak diam. Seperti sedang berpikir sesuatu. Kemudian tanpa lebih banyak duduk di dalam ruangan itu Pak Gery memutuskan untuk pergi saja.
**
Tidak ada yang dilakukan Ghea selain hanya menonton drama kesukaannya di dalam kamar sampai pada handphonenya berdering menandakan sebuah pesan masuk.
Ocy
Buka pintu, Ghe! Gue di depan udah hampir karatan nih. Lo lagi apa emang di dalam? Masih sore, oyyy!!!
“Astaga, Oneng. Kaki gue hampir aja dipaku gara-gara lo kelamaan buka pintunya.” Ocy protes saat pintu rumah itu terbuka dengan lebar. “Ngapain aja sih lo? Buka pintu lama bener?” Lalu keduanya masuk dan Ghea kembali menutup pintu itu lagi. “Kaki lo kenapa?”
“Kemaren keserempet motor.”
“Dimana?” tanya Ocy sembari duduk di sofa ruang tamu samping kiri Ghea.
“Pantai.” Ghea menjawab seadanya.
“Cie abis ngedate …” goda Ocy dengan colekan di pinggang Ghea. “Gak dikasih minum nih gue btw? Haus banget abis diri setahun di depan rumah lo."
Ghea terkekeh. “lebay amat lo. Ambil aja sono sendiri di dapur. Kaki gue masih aduhai nyerinya.”
“Elahh .. udah ke dokter belum, Neng?” Ocy bertanya lagi ketika ia kembali dari dapur dengan dua gelas berwarna oranye di tangannya. “Gue ambil minuman ini di kulkas. Yang ikhlas lo ya!” ujarnya sembari menyerahkan satu gelas pada Ghea yang disambut olehnya dengan senang hati.
“Kulkas lo penuh banget, njirrr …” sahutnya lagi yang hanya ditanggapi oleh kekehan kecil Ghea.
Lalu keduanya hanya saling terdiam beberapa saat sampai gelas di tangan Ocy habis lebih dulu. “Lo kenapa? Ada masalah?” tanyanya sesaat setelah puas memandang wajah Ghea yang tidak biasa cerianya. “Cerita sama gue napa, Oneng! Diem-diem mulu ah. Gak asyik,” katanya lagi sembari menyimpan gelas kosong ke atas meja.
Ghea tidak langsung bersuara. Diam sebentar kemudian setelah menyimpan gelas yang masih penuh dengan isinya itu ke atas meja, terdengar dengusan dari nafas Ghea yang kasar.
“Kenapa-kenapa? Ada apa sih? Gak suka deh gue lihat wajah lo musam kaya yang belum pelepasan aja,” kata Ocy setengah bercanda.
“Sialan!” dengus Ghea memberikan satu senyum simpul pada sahabatnya itu.
__ADS_1
“Cy,”
“Hem …” Ocy menyandarkan satu tangannya pada sandaran sofa menghadap Ghea lalu melipat satu kakinya.
“Salah gak sih, Cy, kalau gue ingin Mas Gery memberikan kesempatan pada orang lain untuk berubah?”
“Nggak!” Spontan Ocy menjawab.
“Tapi--”
“Ghe …,” kalimat Ghea tertahan karena Pak Gery yang entah sejak kapan datang. Ghea maupun Ocy tidak menyadari kehadirannya yang sudah berdiri di ambang pintu dengan handphone di dalam genggamannya.
“Eh, Pak Gery,” sapa Ocy berdiri dari duduknya. “Baru pulang, Pak?” lalu tersenyum canggung.
Seraya melangkah ke arah Ghea yang tengah duduk, Pak Gery mengangguk.
“Kamu kenapa?” Ghea bertanya pada Pak Gery. Mendengar deru nafas cowok itu yang terengah layaknya seseorang yang baru saja menyelesaikan lari maratonnya.
Pak Gery tersenyum mengusak puncak kepala Ghea. “Nggak.” Jawabnya singkat. Sama sekali tidak melepaskan tatapannya dari Ghea.
“Kalau udah gini, gue berasa jadi nyamuk tahu, Ghe. Balik aja nih gue kalau gitu.” seru Ocy melipat kedua tangannya. Pura-pura ngambek.
“Eh ngapain balik?” Adalah Ghea yang bertanya.
“Kan udah ada yang nemenin lo, Oneng. Ngapain gue disini? Makin tambah jadi nyamuk aja gue jadinya. Masa iya gue cuma lihatin orang yang mau mesra-mesraan.” Lalu Ocy tergelak.
Ghea memukul bahu Ocy. “Dasar! Lo juga sono mesra-mesraan sama Reza!”
Harusnya Ocy langsung mengangguk mengiyakan candaan Ghea kan? Justru Ghea melihat Ocy diam bersama wajahnya yang ditekuk.
“Cy, kenapa lo?” Ghea bertanya sesaat setelah membiarkan sahabatnya itu terdiam.
Kepala Ocy kembali mendongak. “Gak papa elahhh …” sahutnya memberikan senyuman untuk Ghea. “Yaudah, gue balik dulu. Kalau gue tetep disini, ntar yang ada gue ganggu lagi.” Kemudian Ocy mengambil tasnya di atas sofa. “Selamat bersenang-senang, Oneng!”
Selanjutnya Ghea hanya melihat punggung Ocy yang semakin menjauh lalu hilang bersamaan dengan Pak Gery yang menutup pintunya.
“Kamu gak papa? Ocy mau ngapain kesini?” Langkah kaki yang kembali pada Ghea yang duduk di sofa. Pak Gery menangkup kedua sisi wajah cewek itu. Sehingga membuat Ghea menarik kepalanya mundur bersama kerutan di dahinya.
“Aku yang nyuruh. Kenapa?” Ghea menjawab lalu Pak Gery melipat bibirnya untuk menahan tawa. Karena melihat bibir Ghea yang maju disebabkan pipinya yang ia tangkup dalam.
“Kenapa, sih?” Ghea bertanya lagi karena Pak Gery yang hanya diam menatapnya dalam.
“Lucu.” Lalu di kecuplah bibir yang maju itu oleh bibirnya sekilas.
...TBC...
Hilauuu aku siangan ya update nya. gantiin kemaren yang bolong. Maafkeun dulu ya gengss, kemaren tuh ya gitu pokoknya.
Tetap semangat walau cuacanya gak menentu. Kadang hujan kadang panas bangettttt. Tetap jaga kesehatan juga buat kamu semuanya yang udah baca cerita sederhana ini. Semoga selalu bahagia.
Seizy
__ADS_1
si kang ngetik amatiran yang lagi merasa insecure