Married With Teacher

Married With Teacher
Mwt bab 25


__ADS_3

“Penyebaran virus penyakit tetanus Pak Jordan sudah menyebar ke syaraf dan otak, Ghea,” sahut Alvin menatap mata Ghea yang juga menatapnya dengan serius. “Kamu harus sabar, ya! Karena kemungkinan penyembuhannya cukup lama. Dan… itu juga kalau Pak Jordan bisa bertahan dengan kondisinya yang sekarang krit—“


“Papa gue orang yang kuat, Vin.” Ghea menyela. Terlebih dengan ia yang tidak ingin mendengar kata-kata yang akan membuat dirinya down. “Jadi gue yakin, kalau Papa pasti akan sembuh.”


Dianggukkan Alvin kepalanya pelan. “Ya. Gue tahu, Pak Jordan orang yang kuat. Dia hebat. Karena, gue yang nyaksiin sendiri gimana hebatnya dia bertahan selama beberapa hari ini, sampai tadi siang Pak Jordan dipindahkan ke ICU karena kondisi dan darahnya yang menurun,” jelas Alvin bersama kedua bahu yang mengedik. “Semangatnya… luar biasa.”


Sebelumnya Ghea tidak menyangka jika Dokter yang merawat Papanya adalah Alvin.


Si Alvin—yang dulu pernah menjebaknya karena sebuah kebencian dan dendam pada Pak Gery. Dan membuat Ghea berakhir koma karena sebuah kecelakaan itu. Namun, Ghea perlu berterimakasih juga padanya, sehingga Ghea tahu kebusukan sahabatnya.


“Terus, sekarang apa yang akan lo lakuin untuk Papa gue sebagai dokter yang nanganin penyakitnya Papa?” Tubuh Ghea bergerak gelisah di atas kursinya. Ngomong-ngomong sekarang Alvin dan Ghea sedang berada di sebuah kantin rumah sakit. Dan yang menjaga Papa tentunya adalah Mama.


“Gue dengan dokter yang lainnya bakalan berusaha semaksimal mungkin, Ghe. Tapi, gue juga gak janji kalau Pak Jordan…” Alvin menahan kalimatnya. Dan Ghea tahu kalimat apa yang akan cowok itu ucapkan.


Ghea menarik nafasnya sampai kedua bahunya pun ikut naik. Ghea belum siap dan bahkan tidak akan siap dengan sebuah kenyataan yang mana kapan saja bisa terjadi. Matanya mengarah pada Alvin, seolah dalam tatapan itu berkata ‘stop jangan lo terusin!’


“Yang sekarang Pak Jordan butuhin adalah do’a dari elo dan Mama lo, Ghe. Dan satu hal yang harus lo ketahui, kesadaran Pak Jordan sudah setengahnya hilang. Lo—“


“Tapi gimana bisa, Vin? Gue belum sempat tanyain apa penyebab Papa sampai kena penyakit itu ke Mama gue. Setahu gue, kalau orang kena tetanus itu kan karena luka yang parah. Iya ‘kan? Tapi, setahu gue, Papa gue gak punya luka apa pun,” sela Ghea dengan cepat. Membuat kedua bibir Alvin terkatup rapat.


“Bisa jadi luka yang Pak Jordan dapetin itu luka yang udah lama, dan luka itu gak dirawat bener-bener. Luka yang udah lama bisa menyebabkan infeksi dan bakterinya pun bisa menyebar sekarang.”


Ghea terdiam. Ia hanya menatap kosong pada cangkir teh di depannya sembari kedua tangan menangkup sisi cangkir tersebut. Untuk beberapa saat keduanya tidak saling mengeluarkan kalimat lagi. Alvin memandang Ghea. entah apa yang cowok itu pikirkan. Dan tanpa diundang, kejadian beberapa tahun lalu yang menyebabkan Ghea koma kembali berputar di kepala Alvin bagaikan sebuah kaset yang sudah rusak. Bayangan itu berpotong-potong dengan bayangan Kakaknya—Fara.


“Mmm … Ghe," panggil Alvin yang membuat Ghea refleks mendongakakan wajahnya, melihat cowok dengan tubuh terbalut jas putih di depannya ini. “Ya?”

__ADS_1


“Gue mau minta maaf soal waktu itu.” Alvin tertawa pelan. Dan malu. Ditundukan Alvin wajahnya dengan jari tangan sambil memainkan sedotan yang tenggelam di dalam gelas berisikan jus. “Gue gak nyangka dengan kejadian waktu itu… Gue sama sekali gak ada niatan buat lo celaka. Niat gue waktu itu Cuma mau balas Pak Gery aja. Dan Ocy, dia yang awalnya cari tahu tentang gue, tiba-tiba ngajakin gue kerja sama. Dia bilang kalau dia juga punya dendam sama Pak Gery. Dan dengan bodohnya gue percaya, lebih begoo lagi gue setuju-setuju aja buat diajak kerjasama sama cewek itu.” Tawa Alvin kembali terdengar. Tawa kosong yang penuh dengan penyesalan. “Lo mau kan maafin semua kejahatan gue?” tanya cowok itu menatap Ghea penuh dengan harap.


Ditarik Ghea kedua sudut bibirnya. Wajahnya kembali menunduk. Kedua tangannya memutar cangkir di atas meja. “Sebenarnya, kalau inget kajadian waktu itu…” Ghea menjeda. Untuk kemudian mengangkat kembali wajahnya. “Rasanya gue ingin cekik lo, Vin.” Dan mata Ghea berubah dingin. Ia menekan bibirnya dalam satu garis.


Seketika, Alvin tercengang. Tidak percaya jika Ghea akan mengatakan hal demikian padanya. Namun, sedetik kemudian. Wajah Alvin yang menegang berubah menjadi helaan nafas kasar. Ghea tertawa. Dan Alvin menggelengkan kepalanya.


“Ck ck ck,” decak Ghea disela-sela tawanya. “Lagian itu udah lama banget kejadiannya, Vin. Masih aja lo inget-inget.” Ghea memiringkan kepala ke satu sisi. “Ngomong-ngomong, gue belum tanya, nih… Kenapa lo bisa sampai jadi cowok sekeren ini?” Kedua bahu Ghea mengedik santai bersama garis bibir yang ia lengkungkan ke bawah. Seolah sedang mengejek Alvin.


Cowok yang terbalut jas putih di tubuhnya itu tertawa. “Dari sebelum gue jadi dokter juga gue mah udah keren, Ghe.” Oh rupanya cowok yang menjadi dokter itu juga bisa bercanda. Sehingga membuat Ghea terkekeh.


“Ya ya ya... Lo emang keren,” sahut Ghea dengan suara yang tidak lebih dari mengejek Alvin.


Alvin tertawa lagi. “Tapi, gue serius nih, Ghe. Gue bener-bener nyesel. Karena setelah kejadian itu gue di depak dari sekolah. Satu tahun gue berhenti sekolah dan setelah satu tahun itu gue coba daftar lagi ke sekolah lain. Gue fikir gak akan ada yang nerima gue di sekolah mana pun karena catatan alasan gue di keluarin. Tapi, keberuntungan masih mihak sama gue ternyata.” Alvin mangangkat gelas untuk kemudian menyedot isinya. “Gue lulus dengan nilai terbaik. Dan mendapat beasiswa kuliah.” Kedua bahu Alvin mengedik.


“Eh… Tapi gue serius yang tadi itu, Ghe,” kata Alvin meneruskan. Ghea terdiam. Sebenarnya Ghea tidak ingin membahas masa lalu yang penuh kejutan dan luka itu. “Lo maafin gak nih jadinya?”


“Gue hidup bukan untuk masa lalu. Hidup gue… Ya buat masa depan gue. So—“ Ghea mengambil cangkir dan menyesap tehnya. Lalu dengan gaya elegan ia mengembalikan cangkir teh itu lagi. “—jangan bicara masa lalu lagi kalau lagi sama gue!”


**


Sedangkan di waktu yang bersamaan.


Di Rumah Gery.


“Hahahaha…” Adi tertawa seolah ada hal yang lucu.

__ADS_1


“Eh, kampret! Dari mana lo bisa yakin kalau cewek itu hamil anak… Siapa tadi namanya?” Ilham bersuara. Dita dan Indah mengangguk pada Gery. Membenarkan pertanyaan yang terucap dari Ilham.


“Karena—“


“Karena lo gak mau disalahin disini. Itu sebabnya si Nandan lo jadiin kambing hitam. Bener kan gue?” Adi menyela. Dan sungguh. Demi Tuhan Gery rasanya ingin sekali menghantamkan kepalan tangannya yang menggantung di sisi tubuh itu pada mulut Adi dengan keras.


“Gue udah bilang... Terserah! Lo semua mau percaya sama gue atau nggak sekali pun. Yang pasti. Airin hamil bukan karena gue.” Diputarkan Gery tubuhnya. Ia melangkah. Ingin menjauh dari mereka semua yang sudah berbuat dan berfikir seenaknya padanya. Namun, Indah menangkap bahu Gery. Sehingga cowok itu berhenti dan berbalik pada Indah.


“Kalau lo gak jelasin semuanya, sedetailnya pada kita, kita gak bakal percaya sama lo.” Lalu Indah menurunkan tangannya dari atas bahu Gery. “Jadi, jelasin sejelas-jelasnya sama kita! Apa yang sebenarnya terjadi? Dan kenapa lo bisa kenal sama cewek itu? Dan satu lagi… Jelasin, kenapa lo yakin kalau cewek itu hamil karena cowok yang namanya lo sebut tadi!”


“Indah—“


“Kamu juga diem dulu deh, Di. Kita gak bakal tahu yang sebenarnya, kalau kamu terus menyela. Jadi, kasih Gery kesempatan buat ngejelasin. Biar gak ada salah paham diantara kita semua. Terlebih, Ghea. Kita tahu Ghea lagi hamil. Dan aku gak mau Ghea sampai setres. Apalagi sekarang Om Jordan lagi sakit, kita gak boleh nambahin beban pikiran pada Ghea. Kalian semua gak mau Ghea dan kandungannya kenapa-napa, kan? Termasuk juga lo, Ger.” Indah memandang Gery dengan wajah seriusnya. Seperti biasa, Indah selalu bisa menjadi penengah diantara kedua saudara itu. “Lo gak mau pernikahan lo hancur Cuma karena kesalah pahaman, kan?”


 


Note seizy:


Nanti di next bab bakal dijelasin gimana awal mulanya Gery kenal sama Airin sampai Mas Gery itu bisa ngebantu Neng Airin, ya. Sabar dulu, ya, mamen. Dan terimakasih buat yang sudah menunggu. Maaf juga suka telat ini cerita di updatenya.


Tetap jaga kesehatan, ya, kalian semua. maksud aku menyampaikan di bab ini yaitu jangan menyepelekan luka sekecil apa pun. Karena itu bisa mengakibatkan sesuatu yang fatal.  Dan aku udah ngalamin hal itu dari almr. Papa. Dan apalagi luka di hati, Dudududududu..... Tetap sehat semuanya. ILY


Dan next bab gimana banyaknya yang komen aja lah, ya... Hihiiii


Canda komen!

__ADS_1


__ADS_2