
Ghea menghabiskan beberapa hari berikutnya dalam kesendirian di Bandung. Ghea tahu jika Gery terus menghubungi hand phonenya yang mati daya dan Ghea malas untuk mengisi daya hand phone itu. Ghea juga tahu dari Mama Sora jika Gery terus menanyakan bagaimana kabar Papa dan juga dirinya. Pernah beberapa kali Ghea menerima telepon dari suaminya lewat nomor Mama.
Dan Ghea kira setelah Ghea mengatakan jika dirinya akan terus menemani Papa sampai kondisi Papa membaik, Gery akan menyusulnya. Tetapi sampai malam tiba pun cowok itu tidak datang untuk menyusul. Menemuinya.
Jadi, jangan salahkan Ghea jika ia tidak lagi mengisi daya hand phone hanya untuk sekedar saling bertukar kabar dengan cowok yang sialnya Ghea rindukan itu.
Ini adalah hari keempat Ghea berada di Kota Kembang tersebut. Cuaca masih saja mendukung untuk bergulat dalam selimut. Andai Ghea tidak sendiri, pasti di cuaca seperti ini akan begitu sangat memikat dirinya untuk tetap memeluk tubuh cowok yang selama empat hari ini dirindukan. Bukan hanya itu saja, tiba-tiba saja Ghea jadi rindu dengan aroma maskulin suaminya.
Wanita itu gelisah dalam duduknya di antara deretan kursi panjang depan ruang ICU. Menggigit kuku jari jempol dengan kedua siku bertumpu pada lutut yang ia rapatkan, sambil terus memandang nanar lantai putih rumah sakit. Sudah lima belas menit Ghea duduk di sana. Sementara Mama menjaga Papa di dalam ruangan.
Untuk yang kesekian kali pula Ghea menilik benda mungil yang melingkari pergelangan tangan kiri. Tanda panahnya sudah menunjukan pukul sebelas siang. Bukan tanpa alasan Ghea gelisah di sana. Ia ingat akan hasil pemeriksaan laboratorium sebelum berangkat ke Bandung empat hari yang lalu.
Semua kemungkinan berputar di dalam kepala.
Bagaimana jika hasil buruk terjadi pada kandungannya dan hasilnya itu dikirim ke rumah, lalu Gery yang menerima hasil pemeriksaan tersebut?
Bagus, jika hasilnya menunjukan tidak terjadi masalah dalam kandungannya. Lalu, kalau positif terjadi? Akan bagaimana nanti reaksi suaminya itu?
“Ghe, kok di sini? Kenapa?” tanya Alvin. Ghea mendongakan wajah. Entah sengaja atau tidak cowok itu menghampiri Ghea.
“Vin…”
“Ngelamun aja, lo? Gak kuat nahan rindu apa?” Kalimat Alvin tidak lebih dari sebuah ejekan semata. Cowok itu terkekeh setelah mengucapkannya. “Lagi juga, suami lo kenapa gak nyusulin lo ke Bandung, sih?”
“Suami gue orang sibuk,” ungkap Ghea dengan mata yang berkilat-kilat kesal.
“Gue juga tahu kalau itu.” Lalu didudukan Alvin tubuhnya di kursi kosong samping Ghea. Tidak terlalu dekat dan bahu keduanya pun berjarak.
Tiba-tiba saja Ghea mendapat pencerahan. Beruntungnya Ghea karena Alvin menghampiri wanita yang tengah duduk itu. “Eh, Vin?”
__ADS_1
“Ya…” Wajah Alvin menoleh. “Kenapa?” Lalu ditekuk Alvin pundaknya. Siku cowok itu menyentuh lutut.
“Gue boleh minta tolong gak?”Sejujurnya Ghea ragu. Takut jika cowok tampan dengan setelan jas putih kedokteran itu menolak membantunya.
Dahi Alvin berkerut. “Apa?” Dan rasa penasaran pun tidak bisa ia bendung.
“Gue minta tolong lo jaga Papa sama Mama gue dulu! Gue mau ke Jakarta. Kalau ada apa-apa sama kondisi Papa lo bisa langsung hubungi gue!”
**
Pada akhirnya, Gery tidak bisa hidup sendiri. Terlihat dari wajahnya yang kusut dan tak bersemangat. Ini adalah kali pertama dalam hidupnya setelah menikah, Gery berada jauh dari Ghea.
Dan sejujurnya! Gery tidak tahan. Rindu di dalam sanubarinya sudah membeludak ingin bertemu. Namun, bagaimana bisa cowok itu meninggalkan berkas-berkas berbagai warna dan berbagai isinya yang berbeda pula yang menumpuk di meja kerjanya?
Bukan Gery lebih mementingkan berkas-berkas sialan itu dari pada Ghea. Tentu saja, Ghea lebih utama dari segalanya. Namun, di satu sisi, Gery harus bertanggung jawab sebagai ahli waris satu-satunya.
Sedangkan untuk sekarang ini, Adi tidak bisa menjadi andalan. Masih kesal padanya, mungkin.
“Kamu revisi lagi. Data yang ini tidak valid dengan data yang ada pada saya!” Berkas itu dilempar ke atas meja di depannya. Kasar. Sedangkan seorang pria duduk gugup di kursi yang berseberangan dengan Sang Direktur.
“Saya mau hari ini juga semuanya sudah selesai!” Gery melanjutkan. Suaranya penuh dengan ancaman namuntetap terdengar elegan.
Pria lain yang duduk di seberangnya itu adalah menejer keuangan di Putra Grup. Entah di mana letak kesalahannya sehingga Sang Ice Direktur menyuruhnya harus merevisi ulang.
“Baik, Pak." Namun, tidak bisa menolak. Melihat sekilas sorot bola mata abu-abu itu padanya, seakan mengatakan ‘jika tidak selesai, saya akan pecat kamu’.
Tidak ingin berlama-lama bernafas satu ruang dengan sang pemilik kehidupan di perusahaan tempat dirinya bernaung, pria itu segera undur diri dari hadapan sang pemilik kehidupan maha sempurna. Bersama rasa gugup dan gelisah serta resah. Takut jika dirinya tidak bisa mengerjakan apa yang diinginkan Sang Direktur.
Ruang kantor yang luas dan di desain mewah itu kembali kosong dan sunyi setelah suara pintu tertutup dari luar. Gery menegakkan punggung sambil memijat pangkal hidung yang mancung. Lalu ditumpuhkan kedua siku Gery pada meja kerja berlapis kaca. Semua jarinya saling tertaut lalu disimpan dagunya Gery di atas kepalan jari yang saling tertaut itu.
__ADS_1
Cowok itu menerawang wajah Ghea dalam lamunan. Bibirnya yang indah jika tersenyum. Terasa manis begitu dilumaatnya. Suara Ghea yang merdu dan seksi ketika menyebut namanya saat klimakss. Wangi tubuhnya dan lembut rambutnya jika berada dalam genggaman tangan besarnya. Gery rindu itu semua. Terutama, ia rindu mengusap dan mencium perut Ghea. Seolah dengan gerakan yang dilakukannya adalah satu komunikasi Gery dengan bayi yang masih belum terlihat itu.
Pintu diketuk lalu terbuka, Airin berdiri di sana. “Permisi, Pak.” Dikerutkan Airin dahinya saat melihat Sang Direktur tidak merespon. Tubuhnya berdiri di ambang pintu.
Gery belum juga merespon. Entah cowok itu mendengar atau tidak, tetapi Airin malah terpana dengan ukiran indah di bibir cowok yang masih duduk memangku dagu itu.
Tanpa Airin sadari, malah sudut bibirnya yang ikut merespon melihat pemandangan menakjubkan di depan sana.
Wajah bak Dewa Yunani bagaikan siluet keren karena sinar surya yang meneranginya lewat kaca besar di belakang kepala cowok itu.
Airin semakin menarik bibirnya lebar. Betapa sangat mengagumi dirinya melihat ciptaan Tuhan yang satu ini.
Namun, itu hanya untuk beberapa detik saja, karena Airin harus segera menyadarkan diri dari gelombang yang kapan saja bisa menyakitkan hati.
Airin mengerjapkan bulu mata beberapa kali. Memukul kepala yang berani-beraninya memikirkan suami orang bersama gelengan agar akal sehatnya sadar kembali.
TOK TOK TOK …
Kepalan tangan mungil itu mengetuk pintu.
Kemudian ditautkan kedua alis Airin karena masih belum mendapat respon dari sang penguasa ruangan yang sekarang pintunya dibuka sedikit lebih lebar.
“Permisi, Pak." Airin bersuara lagi. Kakinya dengan pelan melangkah hati-hati. Suara hak sepatu yang tingginya lima centi pun masih tidak mampu menyadarkan Gery. Cowok itu sibuk dengan bayangan Ghea dalam lamunannya.
Bibir Gery masih menyunggingkan senyum, karena cowok itu justru malah berimajinasi liar dengan Ghea. Yang mana membuat gairah selama empat hari ini ia pendam, tidak bisa Gery tahan lagi.
Gery membutuhkan Ghea sekarang ini juga dan saat ini juga.
Imajinasi liar itu terus menggulati kepala Gery sampai sentuhan lembut di bahunya menghentikan keliaran di dalam kepala Gery kemudian.
__ADS_1
“Ghea!” Kursi kerja empuk dan berlapis kulit diputar tubuh Gery sampai terdengar suara pekikan pelan, lalu bokong seorang wanita yang tadi masuk ke dalam ruangan tanpa seizin dari cowok itu pun mendarat di pangkuannya, karena lutut Gery yang tidak sengaja menabrak kaki Airin dengan keras, sehingga membuat tubuh Airin oleng dan berakhir di pangkuan nyaman cowok berwajah bak Dewa Yunani itu.