Married With Teacher

Married With Teacher
Di Bawah Langit Hitam


__ADS_3

...Ku akui dirimu begitu sangat menarik. Selalu mampu membuat senyumku terukir lebar...


...Gery Mahardika Putra...


...***...


Pak Gery tampaknya sangat enggan untuk melewati malam ini tanpa bercinta dengannya. Di bawah langit yang hitam dan cahaya bulan yang menjadi penerang malamnya. Memberikan dua pilihan pada Ghea, apa mereka akan melakukannya di sana atau akan turun ke lantai dua, menuju kamarnya?


Ghea membulatkan matanya tentu saja. Tapi sepertinya Ghea belum memberikan jawabannya, Pak Gery sudah lebih dulu mencumbunya. Mencium sisi wajahnya dengan kecupan-kecupan kecil. Dari mulai pipi, turun ke rahangnya. Di sana Pak Gery memberikan gigitan-gigitan mungilnya hingga berhasil membuat Ghea mendesah nikmat. “Mas …” 


“Hem …” Cowok itu hanya bergumam pelan. Kemudian bibirnya turun lagi pada dagunya sebelum Pak Gery melabuhkan bibirnya di atas bibir ranum Ghea. Dengan tangan kanan yang mengusap sisi tubuhnya dari pinggang sampai ke sisi dadanya naik turun bersamaan ia yang memberikan hisapan lembut di bibir bawahnya, dan saat Ghea sedikit membuka bibirnya. Di saat itu pula Pak Gery menelusupkan lidahnya. Mengakses semua rongga di dalam sana. Saling memberikan sesapan panasnya sebelum kemudian saling menuntut hal yang lebih lagi.


“Apa  kita akan melakukannya disini?” Ghea bertanya dan cewek itu tidak mampu lagi untuk membuka kedua matanya walau hanya sekedar melihat tatapan mata abu-abu itu yang mungkin sekarang sedang menyeringai.


Lalu ini jawaban yang diberikan oleh Pak Gery, “Menurut kamu?”


Ghea menyusupkan jari-jarinya masuk ke sela-sela rambut tebal Pak Gery. Mendongak ketika bibir itu kembali mencumbu bawah dagunya. “Sepertinya nggak deh, Mashh …” desahnya lagi saat Pak Gery menyesap kulitnya hingga memberikan ruam merah. Bukti jika dirinya hanyalah milik cowok yang sekarang sedang berada di atas tubuhnya. Mengungkung tubuh Ghea yang tergeletak pasrah di atas karpet yang berbulu tebal.


Pak Gery terkekeh sebentar menghentikan cumbuannya di leher Ghea. “Suasana baru, Ghe,” katanya. Oh astaga. Lalu kembali lagi bibir merah alami itu berkeliaran di leher sampai tengkuknya.


Ghea pasrah. Benar-benar pasrah. Karena mungkin gairah yang sudah menyapu kedua insan itu tidak mampu lagi ditahan apalagi hanya untuk sekedar turun ke kamar.


Ghea pun tidak sadar saat kapan tubuhnya itu tergeletak pasrah bersama dengan Pak Gery tepat berada di atas tubuhnya, hanya memberikan sedikit jarak agar dada Ghea tidak terhimpit oleh dada bidangnya.


Sampai pada di detik-detik berikutnya Ghea sudah tidak lagi bisa merasakan bahkan menyadari jika dirinya sedang berada di tempat yang terbuka ketika Pak Gery benar-benar melakukan cumbuan nikmat padanya. Lalu setelah merasa sekujur tubuhnya lemas dan kedua mata yang tidak mampu lagi terbuka. Sayup-sayup Ghea merasakan gerakan tangan menyelimutinya. Menyibak anak rambut yang menutupi sebagian wajahnya. Keningnya pun turut dikecup lama. Siapa lagi yang melakukan hal romantis itu jika bukan suaminya.


Hal romantis yang tidak harus memberikan buket mawar besar setiap pagi setelah bangun tidur atau setiap malam menjelang tidur. Namun, sebuah perlakuan kecil pun cukup membuat Ghea merasa terbang melayang. Seperti yang dilakukan Pak Gery saat ini untuknya. Menyelimuti tubuhnya lalu mengecup keningnya sebelum cowok itu memejamkan mata. “Makasih, sayang,’ ungkap cowok itu.

__ADS_1


Dan ketika suara adzan terdengar berkumandang. Setelahnya fajar yang mulai nampak menunjukan indahnya langit pagi. Pak Gery menggeliat. Mengerjapkan matanya pelan-pelan. Beringsut lalu mengangkat tubuh ramping yang masih terlelap sangat keletihan itu untuk memindahkannya ke dalam kamar.


**


Menggeliat dalam baringnya, Ghea ingat jika semalam ia tidur setelah melakukan hal indah yang entah sudah yang keberapa kalinya dengan Pak Gery di tempat yang terbuka namun benar-benar memberikan kesan yang berbeda.


Oh kalau kata Pak Gery mah suasana baru.


Ghea mengerjapkan matanya pelan-pelan sebelum beringsut kemudian. Menyandarkan punggungnya pada hearboad. Melihat ke sekeliling jika dirinya sekarang sudah berada di dalam kamarnya.


“Mas.” Panggilnya seraya menyibakkan selimut lalu menurunkan kedua kakinya. Hingga rasa dingin menyentuh telapak kaki telanjang tersebut.


“Lagi di kamar mandi ya?” Lalu berdiri sambil menggulung rambutnya dengan asal, berjalan ke arah kamar mandi. Mengetuk pintunya. Namun tidak ada jawaban apalagi suara di dalam sana. “Kamu lagi mandi nggak sih, Mas?” Kemudian tangannya itu memutar handle. Berdecak karena suaminya tidak ada di dalam sana.


Ghea melirik jam yang menggantung di dinding kamar. “Baru jam enam. Kemana sih Mas Gery?”


Mungkin setelah ini Ghea harus belajar memasak pada Mama Sora atau Mama Dian. Biar bisa membuatkan suami tercintanya sarapan atau pun makan malam.


Saat menyentuh gelas, Ghea rasa susu itu baru saja dibuatnya karena hangatnya masih terasa. Namun yang membuatnya penasaran, kemana suaminya itu sepagian ini? Memangnya gak siap-siap berangkat ke sekolah apa dia itu?


Meletakkan gelas, Ghea mengambil roti bakar yang tersaji di atas piring menggunakan tangan. Menggigitnya sambil berjalan. Ia mencari keberadaan sang suami.


Dibukalah pintu ruangan di bawah tangga yang selalu digunakannya saat pekerjaan kantor atau saat mengecek tugas-tugas sekolah yang ia berikan pada muridnya menempuk.


Pertama yang Ghea lihat saat tubuhnya masuk dengan sempurna adalah, tidak adanya siapa pun di sana. Hanya suara AC dan jam saja yang terdengar berdenting nyaring. Pun dengan laptopnya yang tertutup rapat.


Mengedarkan pandangannya sambil menghabiskan roti bakar isi kejunya yang masih tersisa. Ghea berjalan ke arah pintu berbahan kaca yang lebar. Berdiri di depan kacanya itu kemudian terkekeh dengan mulut yang mengunyah sisa rotinya.

__ADS_1


Lalu Ghea menggeser pintu kaca tersebut yang memang tidak terkunci itu. "Rupanya disini. Aku cariin juga." Ghea melangkahkan kakinya ke tepi kolam berenang yang memang terdapat di samping ruang kerja Pak Gery.


Di samping kolam ada taman kecil dengan rumput-rumput hijau yang nampak terawat dengan apik. Tidak ada banyak pot-pot bunga seperti yang terdapat di taman rumah lainnya. Hanya ada beberapa saja yang tertanam bunga mawar merah dan putih. Dan jika berjalan ke taman itu, di sampingnya ada pintu kaca seperti pintu kaca yang menjadi sekat antara ruang kerja Pak Gery dan kolam berenang. Yang langsung menghubungkannya ke samping dapur.


"Kok belum siap-siap ke sekolah sih, Mas?" Ghea bertanya pada Pak Gery yang baru saja menepikan tubuhnya ke tepi kolam. Menyangga kedua telapak tangannya setelah menyugar rambut basahnya itu ke belakang.


Jika mengingat, cewek itu juga masih dengan piyamanya belum siap bahkan mandi pun belum.


"Bentar lagi," sahutnya mencipratkan air pada Ghea. Yang refleks membuat tubuhnya mundur beberapa langkah. Menjauh dari tepi kolam. "Basah, Mas." Protes cewek itu akhirnya, membuat Pak Gery tergelak tidak lama.


"Sini. Berenang bareng!" Ajaknya. Sesekali menggerakkan tubuhnya di dalam air sebatas dada tersebut.


"Nggak. Mau mandi aja aku mah. Mau sekolah, ntar kesiangan. Bisa kena hukum Pak Ghani dong akunya."


...TBC...


Ini aku sengaja dibagi dua bab gitu gengss. Supaya gak pegel bacanya. hihiii


Biar nanti aku ada bahan buat update lagi.


Dear kamu.


Buat kamu yang baca note ini jangan lupa untuk tetap bahagia dan tersenyum.


semoga selalu suka ya dengan cerita sederhana ini dan jangan bosan dulu. Kalau udah bosan katakan saja biar cepet aku tamatin. hihi


Seizy

__ADS_1


si kang ngetik amatiran yang malas ngapa-ngapain. Dan harusnya ini di update tadi jam 10 pagi. maaf. terimakasih kalau udah ada yang nunggu. ILY


__ADS_2