Married With Teacher

Married With Teacher
Mwt bab 54


__ADS_3

Langkah lebarnya mendekati brankar. Membuat semangat di dalam diri Airin kembali tumbuh. Dan senyum haru sampai ia meneteskan air bening dari kelopak matanya ketika langkah anggun dari punggung belakang pria itu mengikuti.


“Pak Adi … anda—" Airin tidak menyangka jika Adi akan melihat dirinya di sana. Selama yang Airin tahu jika cowok itu sama sekali tidak menyukainya. Sampai ia pula tidak bisa berkata-kata.


Senyum Adi tersungging. Lalu berdiri di samping kanan Airin. “Kamu harus semangat!" katanya sembari menenggelamkan kedua tangan pada saku celana. Kesan yang masih terasa dingin Adi tampilkan.


“Hai …” sapa wanita yang mempunyai langkah anggun itu. Rambut panjang hitam terurainya diselipkan ke belakang telinga bersama kedua sudut bibir terangkat. Membentuk sebuah senyum manis. Kakinya berdiri di samping kiri Airin.


Ditolehkan Airin wajah ketika mendapat sapaan itu. Airin membalas senyum.


“Aku Indah. Istrinya Adi,” katanya manis. Diraih tangan Airin oleh tangannya. “Kamu harus kuat, ya! Semangat juga, biar bisa cepet ketemu sama dedenya.”


Sungguh pula, Airin tidak menyangka akan dikunjungi oleh Indah. Meski ini pertemuan pertama dengan istri Adi, namun Airin yakin jika wanita yang tengah menggenggam tangannya sekarang adalah wanita baik.


“Terimakasih, Bu," ujar Airin. Nafasnya kembali berantakan. Lalu rasa mulas itu datang lagi. Airin menjerit. Ini terlalu sakit dari sebelumnya.


“Aaahhh …" jeritnya, menggerakkan tangan untuk kemudian mencengkeram sisi brankar.


“Sedikit lagi, Bu. Kepala dedenya udah setengahnya keluar.” Dokter memberitahu sembari terus memberikan semangat untuknya.


“Kamu bisa, Rin," ujar Indah membungkukkan punggung. Membisikkan kata-kata itu tepat di dekat telinganya.


Dianggukkan Airin kepala. Air bening dari ujung kelopaknya keluar. Turun. Membasahi tulang pipi kemudian.


Sungguh pun, Adi bangga pada istrinya ini. bibirnya tersungging membentuk senyum dengan mata menatap lurus pada Indah yang terus menerus memberikan Airin semangat. Jika bukan Indah yang menyuruh dan menyadarkannya, Adi tidak akan masuk ke dalam ruang bersalin dan malah menemani Airin pula di sana.


Di saat Indah mendapatkan kabar tentang Ghea dan Airin dari Adi, wanita itu bergegas menuju rumah sakit tentu saja.

__ADS_1


“Kasihan dia loh, sayang. Kamu kan tahu gimana dulu perjuangan aku waktu ngelahirin Ajeng? Hemm?!”


Kemudian rasa itu mencuat. Apalagi saat kepala Adi memutar kembali bagaimana kesakitannya Indah. Jeritan Indah dan kedua tangan Indah yang mencengkeram tangannya erat. Adi pun berfikir, membenarkan perkataan Indah dengan Airin juga yang pasti merasakan hal sama.


Tidak sengaja di turunkan penglihatan Adi. Di keluarkan kedua tangan yang tenggelam dalam saku kemudian. Kakinya semakin mendekati brankar lalu diraihlah tangan yang berupa putih bersih dengan urat-urat menonjol itu oleh kedua tangan besarnya. “Kalau kamu butuh pegangan … pegang saja tangan saya, Rin!” kata Adi pelan dan serius. “Kamu juga boleh cengkeram lengan saya jika kamu merasa kesakitan!” Lanjut cowok itu lagi lalu mengambil tangan wanita itu dari mencengkeram sisi brankar.


Airin terhipnotis. Melirik pada Adi, dilemparkan pandangannya pada Indah. Seolah ingin mendapat persetujuan dari istrinya Adi.


Dianggukkan Indah kepalanya sebagai jawaban. Kepekaan lembut dari perasaannya sebagai seorang wanita lah yang mendorong Indah menyetujui tangan wanita lain meraih tangan suaminya. Indah pernah ada di posisi ini. Di mana Indah sangat beruntung karena ada suami seperti Adi. Ada teman serta sahabat yang menemani meski di  luar ruangan. Sewaktu ia melahirkan Ajeng dulu. Tetapi, melihat Airin sekarang, jiwa keibuan meronta. Rasa iba menyerang.


Sekarang tidak ragu bagi Airin menggerakkan tangan untuk kemudian lebih mencengkeram genggaman Adi. Ditarik nafasnya dan Airin berteriak menahan kesakitan.


Meski sejujurnya, Airin berharap cowok beristri itu yang menemani. Tak apa. Airin patut bersyukur untuk hal ini karena Tuhan mengirimkan dua orang manusia yang benar-benar peduli padanya. Dan Airin akan mengucapkan banyak terimakasih nanti.


“Aarghhh …” Kepala wanita itu menjauh dari bantal. Dagunya hampir menyentuh dada. Kedua kelopak pun terpejam. Erat. Di saat-saat nyawa Airin akan terlepas dari raga, suara tangis kencang pun terdengar menggema. Suara kencang yang mendominasi ruang bersalin itu.


Kepala Airin terjatuh setelahnya. Terkulai lemah. Sungguh pun dengan nafasnya yang amat sangat berantakan. Tubuh Airin lemas dan kelopaknya seakan tidak dapat terbuka lagi. Dada Airin kembang kempis. Nyawa Airin seolah telah melayang. Satu-satunya organ yang berfungsi hanya pendengarannya saja. Itu pun karena telinga Airin mendengar suara ajaib bak malaikat. Suara yang mampu menenangkan jiwa Airin.


Merasakan kulitnya ada sentuhan hangat, Airin membuka kelopaknya. Senyum bercampur air mata haru ia torehkan sebagai ungkapan perasaan bahagia. Kedua tangan bergetar itu pula bergerak merengkuh kepala serta tubuh si kecil. Mengecup rambut lebat hitam itu dengan penuh perasaan nan kelembutan.


Sementara Adi sudah tidak ada di posisi semula. Ia berpindah menghampiri Indah. Merangkul pundak Indah sebelum kedua kelopak mereka saling bersitatap dengan kepala Indah sedikit mendongak.


Keduanya saling tersenyum. Bangga. Ikut merasakan kebahagian untuk kelahiran bayi Airin.


Bersamaan dengan bayi Airin terlahir ke dunia, lampu merah di atas pintu ganda ruang operasi pun mati. Disusul suara pintu terbuka.


Tubuh Gery yang tidak bisa diam itu menghampiri seseorang yang keluar dari sana. Hatinya pun sungguh cemas. Raganya dilingkupi oleh rasa campuran luar biasa. Cowok itu menggigit bibir dalam. Kedua tangan terjatuh di samping tubuh, lemah. Seolah tenaganya sudah tidak tersisa. Matanya berair memancarkan sejuta pertanyaan serta harapan.

__ADS_1


“Gimana operasinya, Dok? Berhasil, kan? Istri saya selamat, kan?” suara Gery bergetar saat meleparkan pertanyaan yang sungguh pula ingin segera Gery mendapat jawaban.


Alih-alih mendapatkan apa yang Gery tunggu, mulut dokter malah terkatup. Terdiam dengan hanya hela nafas saja sebagai jawaban.


Gery mengepalkan satu tangan lalu kepalan itu Gery angkat mendekati mulut. Ia menggigit sisi ruas jari telunjuk yang masuk ke dalam kepalan tangan itu. Hela nafas Gery putus asa. Jantungnya berdebar begitu kencang seakan ingin keluar dari dalam, ketika ujung brankar yang didorong dari sisi kanan dan kiri oleh beberapa perawat yang masih berseragam hijau itu terlihat oleh bola mata abunya. Dengan ujung kaki Ghea yang tertutup selimut, membuat tungkai Gery melemah.


Diraup Gery wajah kusut itu secara kasar. Mama Dian dan Papa Dika menghampiri, memegangi pundak Gery yang oleng ke belakang. Sunggguh pula, Mama Dian menangis. Menyandarkan kepala di bahu Gery. Keadaannya sama-sama lemah.


“Please, Tuhan ... Ghea harus baik-baik saja!” pintanya, menutup kelopak mata dengan wajah menengadah. Gery benar-benar menggantungkan harapan itu pada Sang Maha Pemberi kehidupan.


Dengan alasan dokter yang tidak menjawab, membuat Gery serta Mama Dian berfikir yang tak seharusnya fikiran itu singgah. Namun, ketakutan luar biasa tetap merayapi raga Gery. Ia benar-benar tidak siap jika harus kehilangan dua nyawa dalam satu waktu sekaligus. Gery benar-benar tidak sanggup.


Lalu, Papa Dika mendekati dokter. Bertanya, “bagaimana Ghea, dok?”


Lagi-lagi dokter yang mengoperasi Ghea menghela nafas kasar sebagai jawaban.


Papa Dika meraup wajah menggunakan kedua tangan. Menyesal. Langkah Papa mendekati sisi brankar kemudian, bersama degup jantung yang berdetak kencang. Memandang wajah damai Ghea yang pucat, seakan darah tidak mengalir lagi di sana. Tangan Papa bergerak mengusap pipi putih pucat itu dengan bergetar serta isak tangis yang tak terdengar. “Papa sayang kamu, Nak,” bisik Papa mengecup dahi Ghea kemudian.


Tidak sanggup Gery melihat itu semua. Ia pun ikut mendekati brankar. Matanya basah oleh cairan bening. “Sayang—“


.


.


TO BE CONTINUED …


Note Seizy

__ADS_1


Ini aku nuyisnya dak kelar-kelar karena masih belum kuat duduk depan layar laptop lama-lama. Sehat-sehat terus ya, sayang-sayang. Seriusan bab ini bikin esmosi jiwa banget. Maafkan kang ngetik amatiran yang selalu buat kamu menunggu terlalu lama. Harap maklum aja dong, ya.


Dan teruntuk kamu yang sudah memberikan komentar terbaik serta like, terimakasih. Meski aku gak balas komen satu-persatu. Tapi, percayalah jika yang like komen kamu itu adalah aku salah satunya.


__ADS_2