Married With Teacher

Married With Teacher
Tak Semudah Rumus Matematika


__ADS_3

Ghea tidak tahu apa dan kenapa Pak Gery akan menyewa bodyguard untuknya. Ditanya pun Pak Gery hanya menjawab sekedar untuk penjagaan biasa saja. Namun, Ghea tidak percaya jika hanya sekedar itu. Ghea terus mendesak. Meminta jawaban dan alasan yang tepat dari sang suami.


Tapi ya begitulah. Pak Gery masih tetap bungkam. Entah kenapa, cowok itu ragu untuk jujur.


Awalnya, Ghea ingin mengajak suaminya itu untuk jalan bersama. Karena selama kebersamaan itu terjalin, Ghea dan Pak Gery tidak pernah jalan-jalan ke Mall atau hanya sekedar menonton. Kalau bukan cuma makan di restoran seafood waktu itu.


Dan ini hari minggu. Tadinya Ghea ingin berkencan dengan Pak Gery. Namun, karena semalam cowok itu membuatnya kesal. Jam segini pun Ghea masih tidur.


Bayangkan, ini jam sembilan pagi, tapi Ghea masih berada di atas kasur. Meringkuk dengan tubuh yang tertutup selimut. Ghea ngambek.


"Ghe, ayo dong bangun!" Pak Gery sudah wangi. Ia baru saja keluar dari kamar mandi, hanya dengan handuk yang melingkar, menutupi tubuh bagian bawahnya. Sedangkan dada dan perut sixpack cowok itu dibiarkan terkena angin yang masuk ke dalam jendela kamar yang terbuka. Pun dengan handuk kecil yang berada di tangannya. Ia gunakan itu untuk menggosok rambutnya yang basah.


Walau wajahnya tertutup dengan selimut. Ghea masih bisa mencium wangi sabun yang maskulin dari sang suami.


Ghea mendengar Pak Gery yang berbicara padanya. Karena sebenarnya Ghea sudah bangun. Karena kesal, ia masih ogah untuk beranjak.


"Ghe, udah siang loh."


Iya tahu.


Ingin sekali Ghea menjawab seperti itu dari balik selimut. Ghea hanya bergumam-gumam kecil sambil mengikuti Pak Gery yang terus mengoceh di depan lemari pakaian.


Pak Gery menarik satu celana kain pendek selutut dari tumpukan. "Ghe." Serunya. Lalu membuka lemari tempat menggantung pakaian. Dan mengambil satu kaos polos berwarna abu tua dari sana. "Bangun, yuk!" Masih menyuruhnya bangun dengan nada yang super lembut.


Sedangkan di balik selimut, Ghea menggerakan bibirnya. Mengikuti apa yang Pak Gery bicarakan.

__ADS_1


"Sayang!"


Ah, Ghea tersentuh lagi hatinya saat mendengar Pak Gery memanggilnya dengan satu kata yang mampu membuatnya terbang melayang. Ghea kalah. Lali ia menyibak selimut. Beranjak untuk duduk. Bersamaan dengan itu, Pak Gery membuka handuknya. Ia ingin memakai celana.


"Aahhh … astaga, Mas. Kamu gak punya malu apa?" Jerit Ghea saat sesuatu dari bawah Pak Gery terlihat jelas menggantung. Ghea tutup wajah dengan kedua tangannya.


Pak Gery mengedikkan bahunya. Dengan santai cowok itu memakai celana dalam dan celana santainya di depan Ghea. "Apanya yang perlu dimaluin? Bukannya kamu udah tahu? Udah pernah lihat kan? Bahkan udah ngerasain nikmatnya." Seloroh Pak Gery tanpa dosa. Lalu memakai kaos polos itu setelah kancing celananya ia kaitkan.


Tak menggubris celetukkan suaminya itu, Ghea justru bertanya, "udah belum pake celananya?" Kedua tangannya itu masih menutupi wajahnya.


"Hem." Pak Gery bergumam. Tapi Ghea merasa kok suaranya begitu sangat dekat, ya?


"Astaga." Ghea tersentak. Kaget. Tahu-tahu Pak Gery sudah ada di depannya.


Cowok itu sudah rapi banget, dengan gaya rambut dan pakaiannya yang casual. Tidak Ghea pungkiri, jika Ghea selalu lemah melihat Pak Gery yang berpenampilan demikian. Ghea menyukainya. Makanya dari itu, saat ke sekolah Pak Gery memakai celana jeans, ia sangat ambek. Cemburu.


Ghea celingukan. Selalu saja salah tingkah jika pak gery melihatnya secara intens seperti saat ini.


Kenapa, sih, Ghea selalu kalah? Ia seolah tidak bisa ngambek terlalu lama pada Pak Gery. Ghea lembek.


Ya. Dia memang seperti itu. Cintanya pada Pak Gery yang membuatnya demikian.


Seseorang tolong sadarkan dirinya. Jangan terlalu payah jadi cewek!


"Apanya?" tanyanya, dengan nada yang dibuat jutek. Sejutek mungkin. Agar Pak Gery tahu jika Ghea masih marah. Walau dalam hati tidak bisa juga.

__ADS_1


"Ck. Lupakan saja!" Kemudian Pak Gery berdiri. "Ayo, sarapan!" ajaknya pada Ghea.


"Gak!" sahut Ghea melipat kedua tangannya di depan dada. Wajahnya berpaling melihat ke luar jendela kamar yang terbuka.


Ck, jika dipikir, Ghea ini drama sekali.


"Ya udah!" Pun Pak Gery pura-pura tidak peduli. Justru malah melangkah ke luar kamar.


Dan Ghea, cewek itu hanya bisa membuka rahangnya tidak percaya. "Iihhh, sumpah, ya, nyebelin banget jadi cowok," jeritnya gemas, bersama kedua tangannya yang bergerak seakan ingin mencekik suami tampannya itu.


Di luar sana, Pak Gery terkikik. Ia menggelengkan kepalanya sambil menarik kedua sudut bibirnya. Ternyata cowok itu sengaja membuat Ghea tambah kesal.


Beranjak dari tempat tidur, Ghea membuka pintu kamar mandi dan menutupnya dengan hentakan. Tak lupa bibirnya yang terus mencebik itu mengoceh, mengumpati Pak Gery dengan sangat kesal.


Di ruang makan.


Pak Gery menyiapkan sarapan di atas meja makan. Sebelum mandi, ia sempat membuat nasi goreng untuknya dan untuk Ghea.


Bukan ingin memanjakan istri kecilnya itu. Namun Pak Gery harus mengajarkan semuanya dengan secara pelan-pelan. Karena Pak Gery tahu, mengajarkan sebuah rumah tangga pada cewek seusia Ghea tidaklah mudah seperti ia sedang mengajarkan muridnya di dalam kelas. Dan seperti ia sedang menerangkan sebuah rangkaian rumus matematika.


TBC


Note Seizy


Semangati aku guys dengan like kalean. Huhuhuuuuaaaa aku menangis kalau gak ada tanda cinta kalean buat aku ... Bantu promosiin juga dong cerita aku ke grup sosial media kalean. Bagiin link nya, biar mereka pada tahu cerita ini. Biar makin rame juga.. Wkwkk maaf banyak maunya aku tuh. Btw yang mau tahu visual Pak Gery dan Ghea cek Instagram aku aja ya. Seizyll_koerniawan nama akunnya. Eh BTw aku punya cerita baru judulnya DEALOVA tapi di K-B-M. seru loh guys. Ramein ya.

__ADS_1


Love Seizy


__ADS_2